Kisah Asmara Secangkir Kopi


Kisah Asmara Secangkir Kopi


Rintik gerimis menyelimuti malam..
Sejak senja menyambut malam, mendung bergelayut dan rintik gerimis membasahi bumi.. Hawa dingin menyeruak menembus pori-pori hingga gigil tubuh berpacu bersama derai hujan...

Dengan langkah cepat, Karyo bergegas berjalan melalui lorong-lorong gang kecil menuju sebuah warung kopi yang ada di sudut jalan tak jauh dari tempat ia bekerja.
Jalanan yang becek membuat celana pemuda itu belepot tanah kotor yang tersiram gerimis malam.Karyo tak perduli walau rambutnya yang pirang karena terlalu sering terkena terpaan panasnya sinar mentari, malam itu basah kuyub.
Tujuannya, ia ingin segera sampai di warung kopi tempat langganannya itu untuk segera memesan kopi dan menyeruputnya agar hawa dingin yang menerpa tubuhnya sedikit berkurang.

Selain untuk minum kopi, tujuan Karyo ke warung kopi itu ia ingin bertemu juga dengan Surti gadis bahenol penjaga warung kopi tersebut.
Namun kekecewaan menyelimuti hati Karyo ketika ia sampai di warung kopi itu. Surti, gadis idamannya itu tak ada di situ. Hanya mak Sumi yang ada di tempat itu. Mak Sumi adalah teman kerja surti. Meski umurnya sudah tidak muda lagi, tapi mak Sumi masih suka berdandan menor ala gadis ABG.

"eh mas Karyo.. Tumben jam segini baru dateng mas...??" sapa mak Sumi ketika mengetahui Karyo datang..

"iya mak.. sebenernya dari tadi pengen ke sini, tapi gerimis tak kunjung reda....
O iya,, Surti mana mak... kok tumben malam ini mak yang jaga..?? biasanya kan yang jaga malam Surti..."
tanya Karyo pada mak Sumi dengan nada agak kecewa.

"Si Surti tadi katanya mau di ajak keluar sama Parjo.. tapi mak juga gak tau, kok sampai jam segini belum pulang.." jawaban mak Sumi membuat hati Karyo bagai tercabik tersayat pisau berkarat ketika mendengar kalau gadis idolanya itu keluar dengan Parjo.
Parjo adalah teman seperjuangan Karyo sebagai kuli bangunan. Tapi ia tak menyangka kalau ternyata Parjo juga menyukai Surti. Dan secara diam² Parjo telah mengajak Surti keluar untuk jalan² tanpa sepengetahuannya.
Malam semakin gelap, segelap hati Karyo yang menahan kekecewaan.. Hawa dingin tak lagi di rasakan oleh Karyo. Rasa panas dari hatinya telah mengalahkan dinginnya gerimis malam.
Dengan langkah penuh rasa kecewa, Karyo berjalan meninggalkan warung kopi itu setelah membayar secangkir kopi yang tak di minumnya. Masih terbayang jelas dalam ingatannya saat pertama kali ia bertemu dengan Surti di warung kopi itu. Saat pertama melihat Surti ketika menyuguhkan secangkir kopi untuknya, di hati Karyo terasa ada getaran asmara.
Namun getar asmara dalam secangkir kopi itu kini telah sirna. Berganti kepahitan dalam secangkir kopi yang tersuguhkan bersama kenyataan yang begitu menyayat perasaan.

Belum jauh Karyo meninggalkan warung kopi, ia melihat dua orang bergandeng tangan dengan mesra di bawah rintik gerimis malam.
Terlihat dengan jelas, Surti bergandeng tangan dengan Parjo saat Karyo berpapasan dengan keduanya..
"lhooo...kok udah pulang mas....??
Teman² yang lain mana.. kok sendirian aja...??"
dengan tersenyum manja dan tangan masih merangkul da bawah ketiak Parjo, Surti menyapa Karyo yang hatinya berselimutkan amarah dan kekecewaan.

"Teman yang lain sudah pada tidur.. Mungkin karena gerimis, mereka males keluar.."sambil berlalu tanpa gurat senyum di bibirnya, Karyo menjawab pertanyaan Surti yang menurutnya hanya sebuah basa basi saja.

Sementara Parjo yang sudah mengetahui kalau Karyo mempunyai rasa suka pada Surti, ia hanya menunduk dan diam. Ia merasa bersalah pada Karyo. Tapi dia sendiri juga suka sama Surti. Namun Parjo tak pernah cerita sama Karyo bahwa dirinya juga menyukai Surti.

Setelah mengantarkan Surti pulang, Parjo langsung bergegas pulang ke kost²an menyusul Karyo untuk menjelaskan semuanya.
Namun setelah sampai di tempat kost, Parjo tak menemukan Karyo. Meski sudah di cari ke sekitar kost²an, Karyo tak juga di temukan oleh Parjo..
Parjo semakin panik. Ia takut terjadi apa² pada sahabatnya.
Karena kepanikannya itu, Parjo membangunkan teman²nya yang lain untuk mencari Karyo.

Waktu telah melewati pertengahan malam, namun Karyo tak juga pulang. Meski semua teman²nya mencari kemana-mana, ke tempat² dimana mereka sering nongkrong saat malam, namun mereka tak mememukan Karyo.
*****

BERSAMBUNG 

0 Response to "Kisah Asmara Secangkir Kopi"

Posting Komentar