JERAT PELANGI DI TANAH ANARKI

  • Cerita di bawah ini mengisahkan tentang perjalanan cinta Admin seorang prajurit, di mana ia terjerat cinta seorang gadis saat ia bertugas di daerah lain.
    Ilustrasi diperankan oleh model MWB :-D .
    Nama-nama tokoh sudah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan.



JERAT PELANGI DI TANAH ANARKI


"Teek.. tek.. tekk.." Suara detak jarum jam terdengar begitu jelas. Mungkin karena malam itu begitu sunyi, maka detak suara jarum jam yang ada di pergelangan tangan Fariz, terdengar keras.
Diantara puing-puing bangunan yang hancur oleh ledakan geranat dan rudal, Fariz terduduk sambil memegang senapan. Sesekali ia melirik jarum jam di pergelangan tangannya.

"Masih memikirkan Nadia,?" Tanya Hanif yang tiba-tiba menghampirinya, "Aku paham dengan apa yang kamu rasakan." Lanjut Hanif.
Hanif sangat mengerti dengan keadaan Fariz, karena Fariz yang masih terbilang pengantin baru, harus berpisah dengan istrinya. Fariz baru dua minggu yang lalu menikahi gadis pujaanya. Namun ia harus rela meninggalkan sang istri, demi tugas sebagai seorang prajurit. Tugas berat sebagai seorang prajurit yang harus dipikulnya, saat ditugaskan menjadi pasukan khusus di negara konflik.

"Ya ... Pasti malam ini dia juga tidak dapat memejamkan mata. Pasti dia sangat khawatir dengan keadaanku." Sambil berdiri, lalu bersandar pada puing bangunan, Fariz menjawab pertanyaan Hanif, sahabatnya.

"Sudahlah. Pasti dia di rumah juga selalu berdo'a untuk keselamatanmu." Tandas Hanif menghibur.

"Kamu sendiri, bagaimana hubunganmu sama Desi.?" Fariz balik bertanya pada Hanif, tentang kelanjutan hubungannya sama kekasihnya, Desi.

"Aku belum tahu kelanjutan kedepannya." Jawab Hanif, "sepertinya ayah Desi tidak menyetujui hubungan kami." Lanjut Hanif, yang kemudian menghela nafas panjang.

"Aku memang pernah dengar dari Nadia, kalau ayahnya Desi tidak menginginkan anaknya menikah dengan seorang prajurit. Mungkin juga karena khawatir kalau anaknya sering ditinggalkan seperti Nadia." Tandas Fariz yang tiba-tiba teringat kembali sama Nadia. "Kamu ada rokok.?" Lanjut Fariz bertanya pada Hanif.

"Ah, kau ini. Kamu lupa dengan ketegasan Nadia? Waktu dia mematikan rokokmu, saat kalian masih pacaran.? Bukankah waktu itu dia bilang, "Aku lebih bangga suamiku gugur di medan perang dengan kepulan asap pertempuran, dari pada suamiku mati konyol gara-gara asap rokok." Tegas Hanif memperingatkan Fariz, dengan kata-kata Nadia.

"Ya ... Tapi sekarang nggak ada dia. Lagian, dengan merokok bisa sedikit mengurangi rasa suntuk dan ketegangan.. hahaha." Jawab Fariz yang disertai tawa. Hanif menyodorkan rokoknya pada Fariz dengan menggerutu, "Dasar bandel.!"

Semilir angin malam membuat suasana semakin dingin. Hanif segera menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkan badannya.
Suasana ketegangan sedikit berkurang di hati Fariz. Para prajurit yang lain pun ikut bergabung, dan mereka bernyanyi-nyanyi bersama untuk mengusir kejenuhan.
Api unggun semakin membesar, ramai nyanyian para prajurit membuat mengoyak malam. Hingga mereka lupa dengan posisinya yang dalam keadaan perang.

"Hey... Hey... Hey...! Siapa yang menyalakan api ini?" Bilal yang baru datang tiba-tiba marah. "Kalian tidak sayang dengan nyawa kalian? Ini dalam keadaan perang,! Bukan camping..! Lanjutnya dengan nada tinggi.
Para prajurit hanya saling pandang, tanpa berani menjawab sepatah kata pun dari kemarahan Bilal. Tanpa dikomando, api unggun yang sebelumnya menyala besar segera mereka padamkan, hanya asap sisa pembakaran yang membumbung tinggi di udara.

Suasana kembali hening. Tak lama kemudian, "DUAAARRR...." rentetan tembakan yang disertai ledakan mortir dan geranat memporak porandakan puing-puing bangunan. Beberapa prajurit rekan Fariz banyak yang terkena tembakan dan ledakan geranat.
Rupanya asap api unggun yang mereka buat telah mengundang musuh datang secara tak terduga.
Kepungan pasukan musuh membuat Fariz dan rekan-rekannya terdesak, dan akhirnya banyak yang gugur di malam itu. Fariz, Bilal dan Hanif tertangkap musuh, dan dibawa ke markas sebagai tawanan perang.
******

BERSAMBUNG

  1. Nadia oleh: Ahsana Nadia
  2. Fariz oleh: Cak Maman
  3. Desi oleh: Desy Latifa
  4. Hanif oleh: Hanip Junior
  5. Bilal oleh: Bilal Maulana

0 Response to "JERAT PELANGI DI TANAH ANARKI"

Posting Komentar