Cinta Untuk Kak Izz

Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bismillahirrokhmaanirrokhiim..
Berjumpa kembali, Sobat. Seperti pada posting sebelumnya, admin hanya akan memposting cerpen karya dari seorang teman admin.
Untuk cerpen dari admin sendiri, saat ini masih belum bisa admin posting, karena inspirasi lagi mampet. :-D

Untuk semua sobat ( Pembaca ), kami menyadari kalau cerita yang kami tulis masih banyak kekurangan, oleh karena itu dimohon Krisan-nya untuk cerita di bawah ini agar kami dapat belajar menjadi lebih baik lagi. :-)

CINTA UNTUK KAK IZZ
( Karya: Tsalis Q.)


"Menjadi pacar seorang Dosen." Waow ... Asyik kali ya, menjadi pacar seorang Dosen itu?. Sekilas dari nama Dosen saja, sudah bisa dibayangkan gimana bahagianya bisa berkomitmen dengan seorang Dosen. Pastinya perhatian, pengertian, bijaksana, dan tentunya kedewasaanya dijamin bisa menjadi pelindung, penuntun, dan tauladan anak sepertiku.
Sebagai Mahasiswi awal PBA (Pendidikan Bahasa Arab) yang manja sepertiku, yakinlah memiliki pacar seorang dosen itu bisa membuat hidup lebih berarti. Karena seorang dosen itu mempunyai wawasan dan ilmu yang sangat luas.
Eehhhh, tapi ... Dosen itu 'kan juga manusia yang tak bisa lepas dari sifat salah dan lupa. Hidup tak selamanya berjalan mulus. Setiap hubungan pasti mengalami gesekan yang kadang juga sangat rumit. Apalagi soal mencocokkan dua hati dan dua pikiran yang berbeda untk dijadikan satu.
Jika manisnya makan buah duren ada pahitnya, yaitu jika kebanyakan memakannya, maka bisa membuat penikmatnya mabuk hingga masuk rumah sakit.
Begitu juga dengan realita kisah cintaku dengan Dosen STIKIP Tulungagung itu.

Kak Izz, seorang dosen muda yang cukup lumayan ganteng dengan tubuh atletis seperti bintang film mandarin, Jacky Chan. Ciiieeehhh..... Coba bayangin. hahahahahaha....

Aku mengenal Kak Izz setahun yang lalu secara tak sengaja. Ketidaksengajaan perjumpaan kami di situs jejaring sosial Facebook, membuat aku tergila-gila dan mabuk kepayang hingga saat ini. hahaha....
Kisah cinta ini berawal dari rasa penasaranya terhadap akun facebook-ku yang kuberi nama "Anidarahayu Kartika". Entah dari sudut mana, Kata Kak Izz, Aku mirip mantan kekasihnya. Padahal Aku sama sekali tidak memajang foto selfi milikku. Bukan apa-apa, tapi malu saja.
"Takut jika banyak yang naksir.. hueheeeheee....."

Aku masih ingat saat itu ia yang paling aktif komentar di status facebook-ku.
Kemudian ia sering kirim pesan di inbok, meskipun jarang sekali aku merespon pesanya.
Tapi sepertinya ia juga tak lelah untuk lebih sering mencari kesempatan untuk mencuri perhatianku.
Ia update status yang sangat puitis dengan men-tag namaku, "Anidarahayu Kartika". Walau cuma puisi hasil copasan dari situs tetangga, namun cukup membuatku klepek-klepek dan akhirnya tergeraklah hatiku untuk berkomentar di statusnya.
Dengan hasil copasan yang sama, Aku juga tak kalah puitisnya dari dia.

Saat-saat seperti itu terus berjalan hingga tiga bulan lamanya.
Awalnya hanya iseng-iseng, saling canda dengan kata-kata puitis, namun lama kelamaan candaan itu semakin terasa melekat di hati.
Mulai dari merasa nyaman, cocok, dan asyik saat ngobrol di inbok dengannya.
Sering juga kami sharing dan berbagi cerita, berbagi ilmu dan pengalaman.
"Eemmmm ... ternyata asyik juga ya, Kak Izz". Dosen muda yang sangat jenius menurutku pada saat itu. Dia itu romantis, kocak, pintar, ganteng dan sangat dewasa menurut levelku.
"Aaachhh ... Benarkah Aku telah jatuh cinta pada Dosen muda itu.?" Pertanyaan itu yang selalu saja mengusik jiwaku, dan menjadi bunga di setiap tidurku. "Kak Izz, Aku padamu. Aku mencintaimu." Teriakku dalam hati.
Hari berganti, siangpun berlalu. Hatiku semakin berdegup kencang saat Aku mengingatnya. Setiap saat Aku selalu ingin membuka akun facebook-ku untuk segera mengintip status-status romantisnya, dan melanjutkan chatting dengannya.
Ternyata perasaanku tersambut hangat olehnya. Walau tak terucap, tapi dengan bahasa kata yang tertulis indah, dan juga dari sikapnya yang lembut, membuatku mengerti dengan isi hatinya.
Dari chatting inbox facebook pada saat itu, tiba-tiba Kak Izz meminta nomor phonselku. Aku pun dengan segera merespon pesanya, dan kami pun saling bertukar nomor ponsel. Setelah itu Kak Izz langsung offline dari facebook tanpa pamit terlebih dahulu. Perasaan gelisah tiba-tiba muncul dalam hatiku. Tidak biasanya Kak Izz mengakhiri chatt-nya tanpa ada kata pamit. "Ada apa dengan Kak Izz,?" tanyaku dalam hati.

"KRIIINNGGG.... KRIIINNGGG..." Tiba-tiba phonselku berbunyi tanda ada panggilan masuk. Aku sengaja memakai nada dering klasik, karena kalau pakai nada dering lagu, sering Aku tak tahu kalau ada panggilan masuk saat phonselku aku taruh di atas meja atau tempat lain yang agak jauh dariku, karena Aku kira itu suara mp3 dari phonsel teman atau saudaraku.
Ternyata siang itu juga, Kak Izz menelphonku. Kami saling bercanda, berbagi cerita dan tak lupa seputar pertanyaan pribadi tentang siapa Aku.
Konyol. Benar-benar konyol. Dari tulisan bisa membuatku semakin jatuh cinta pada lelaki yang sama sekali belum pernah kujumpai.*
Hari itu terik mentari begitu menyengat membakar ubun-ubun. Namun, meski dengan cuaca yang sangat panas, tetapi tak sedikitpun mengurangi rasa bahagianya hatiku, karena hari itu adalah pertemuan pertamaku dengan Kak Izz, pria idamanku.
Setelah beberapa bulan lamanya kami hanya bisa kontak via telephone dan pesan singkat saja, hari itu kami memutuskan untuk berbicara bertatap muka.
Pikiran mulai terbang dan hanya tertuju padanya. "Aach, seperti apakah pertemuan nanti siang dengan dia,? Aku harus dandan bagaimana ya untuk bisa membuat dia senang.?" Anganku terus melayang membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi, bahkan sampai hal yang belum tentu terjadi.*

Pukul 13.00 siang ponselku berbunyi. "Hallo ... Assalamu'alaikum, sayang. Jadi ketemu dimana kita.?" Kata Kak Izz dari phonsel.

"Wa'alaikumussalam... Kalau di Panjir saja gimana, Sayang,?" jawabku, "oh ya, ini Aku udah mau berangkat, sayang." Lanjutku, yang kemudian Aku bergegas berangkat ke tempat yang kami sepakati.

Akhirnya setelah kurang lebih lima belas menit perjalanan, kami pun berjumpa di rumah makan Iwak kali, kalangan. Lebih dari satu jam kami ngobrol di warung tersebut, dan di sanalah saksi bisu atas kata-kata dan niat kak Izz untuk menjalin hubungan lebih serius denganku.
Walau hatiku masih menyimpan perasaan ragu dan takut akan keyakinan untuk hidup bersamanya, tapi tak ada salahnya Aku mencoba membuka hati dan menerima niat baik Kak Izz.
Saat itu kami sepakat dan berkomitmen untuk saling menjaga hati masing-masing di kala kami sama-sama menjalankan tugas Akhir.
Kami berkomitmen untuk saling berjuang menuju hidup bersama-sama, baik saat duka maupun bahagia.

Betapa Aku bahagia di saat itu, karena bisa menjadi seseorang yang teristimewa di hati Kak Izz. Begitu pula Kak Izz, yang saat itu benar-benar tulus mencintaiku dan akan menikahiku kalau kami sudah sama-sama selesai melaksanakan tugas Akhir.***
*******
Januari 2014, Aku berangkat ke Asrama untuk melanjutkan studi dan melaksanakan tugas akhirku, Skripsi.
Langkahku teriring semangat yang baru, dan perasaan bahagia yang tak bisa terluahkan oleh kata-kata. Hanya ada kata "Mari berjuang untuk masa depan, Kau dan Aku menuju sakinah."

Di sana pun, Kak Izz dengan semangat baru akan kehadiranku, berjuang mati-matian untuk menyelesaikan Tesisnya.
Satu kata yang ia katakan padaku sebelum aku pamit ke asrama, " Calon bidadariku, kadomu untukku adalah kamu menjadi lulusan terbaik di kampusmu. Berjuanglah.
Aku benar-benar menunggumu." Pandangan dari sorot matanya menyimpan masa depan yang sangat indah.

"Kanda ... Aku akan berjuang, karena Aku ingin menjadi bidadarimu." Kataku spontan karena sungguh perpisahan saat itu sangat menghangatkan jiwaku. Memberikan pancaran kedamain akan sosok pribadi Kak Izz yang damai.
Sungguh saat itu Aku benar-benar yakin. Kak Izz adalah sosok pemimpin yang sangat Aku rindukan.*

Semenjak Kak Izz berada di Malang, sedangkan Aku di Asrama, Kontak kami pending sejenak. Hanya sesekali Kak Izz menyambangiku dan bertindak sebagai Kakak karena kampus Kak Izz tidak terlalu jauh dari asrama tempat Aku mukim. Selain sambang kami kosong kontak.
Walau berjauhan tetapi serasa dekat. Tutur katanya yang seperti ayah, tak mampu membuat laki-laki lain berkesempatan singgah di hatiku. Kak Izz selalu ada dalam angan dan mimpiku.
Kebahagiaanku terasa lengkap ketika orang tuaku dan orang tua Kak Izz mencium kedekatan kami. Aku yang awal mulanya ketakutan jika ketahuan dan tak mendapat restu mereka, namun sejak saat itu sudah tak ada rasa kekhawatiran lagi karena orang tuaku telah merestui hubungan kami. Begitupun dengan orang tua Kak Izz yang sudah lama merindukan kehadiran bidadari untuk putra kesayangan beliau.*
********
Mei 2015, usai sudah perjalanan dan perjuangan skripsiku dan Ia dengan tesisnya. Perjuangan yang sangat melelahkan, perjuangan yang penuh tantangan tapi cukup manis untuk dikenang.
Skripsiku yang penuh dengan cinta semoga barokah dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Aamiin Ya Robbal'alamin.

Kebahagiaan serasa lengkap ketika niat Kak Izz untuk Sowan ke rumah dan melamarku di bulan juli.
Rasa Syukur serta bahagia kian membuncah. Aku benar-benar bahagia karna mimpi untuk menjadi Nyonya Izzul akan segera terwujud.
Jalinan yang telah terbina akan berakhir manis dan sangat indah. Cintaku dan cintanya akan berlabuh dalam naungan cinta-Nya yang diridhoi.
Cinta yang akan membawa menuju syurgawi-Nya. "Kak Izz, kuserahkan apapun adanya diri ini, bimbinglah dan tuntunlah langkah ini dengan semakin cinta dan dekat dengan-Nya. Sesungguhnya Aku benar-benar menunggumu dan telah siap mengikuti langkahmu."*
Malam itu, pertemuan keluargaku dan keluarga Kak Izz benar-benar terlaksana dan telah mencapai mufakat, yaitu niat baik dan jalinan yang telah terbina tak bisa dilanjutkan.
Alasanya dia anak ketiga, sedangkan Aku anak pertama. Dalam adat Jawa itu disebut LUSAN.
Menurut adat jawa tersebut, jika ada orang yang akan menikah bertemu dengan hal itu, maka hubungan mereka tidak boleh dilanjutkan dan dipersatukan dalam sebuah pernikahan. Dikhawatirkan keluarga mereka kelak akan mengalami kegoncangan, cobaan dan ujian bertubi-tubi.
Padahal setiap langkah adalah ujian dan cobaan yang harus dihadapi.
Tanpa menikah yang LUSAN pun, tetap saja mengalami ujian.
Setiap keluarga pasti akan memiliki masalah dalam setiap langkahnya. Hanya saja jika lulus, maka semua akan terkenang indah.
Bahagia itu harus dijemput bukan dihindari.
Ujian harus dihadapi bukan dhindari.
Berilmu harus yakin akan Takdir-Nya. Bukan Adat yang dibuat manusia.
Bukannya Aku tak menghargai adat istiadat kami sebagai orang jawa, tapi kita harus yakin akan takdir Allah. Kita harus tetap berusaha dan berdoa meminta perlindungan dari-Nya.*
Siang yang gersang, panas terik mentari membakar bumi. Di tengah kegalauan dan kekalutan, Aku bertemu dengan Kak Izz. Dengan berbagai rasa yang menyelimuti hati, gundah lelah akan keputusan keluarga, membuat kami tertekan.

Bingung, linglung, tak tahu apa yang harus kami perbuat. "Kak Izz, Kakak jangan diam saja. Aku ingin tahu bagaimana sikap Kakak dengan keputusan keluarga ini.?" Kataku mengawali keheningan.

"Kakak bingung, Dik." Ucapnya lesu.

"Kak izzul ... Apakah Kakak akan menyerah sampai di sini perjuangan cinta Kakak terhadap Adik,? enggak 'kan, Kak.?
Kak Izz ... Bukankah kita orang yang beriman,? Kakak percaya dengan takdir Allah, kan...? Bahagia harus dijemput dan diperjuangkan. Setiap langkah adalah ujian yang harus dihadapi. Bukan dihindari." Imbuhku panjang lebar, tak terima dengan keputusan ini.

"Tapi, Dik......" Sahut Kak Izz ragu.

"Jika Kakak memang sayang dan cinta sama Adik, yakinkan keluarga kita. Jika tidak, cinta Kakak hanya seujung kuku." Ucapku marah, tak terima dengan semua ini.

"Baiklah, Dik. Kita perbanyak Doa dan sholawat. Jangan sampai bolos sholat malamnya ya, Dik. Usai sholat maghrib usahakan membaca surah Al-Kahfi dan Ar-Rahman. Sambil yakinkan keluarga Adik, dan Kakak meyakinkan keluarga Kakak. Insya Allah kita akan menikah atas ridho-Nya." Ucapnya sangat mendamaikan hatiku. "Sudah, nggak boleh cengeng. Nanti cantiknya hilang lho.." imbuhnya lagi sambil mengusap lembut air mata yang membasahi pipiku.*
Suatu hari setelah qiyamullail, Aku memberanikan diri berbicara pada Ayah dan Ibu tentang hubunganku dengan Kak Izz.
Di hari ke empat puluh, usai sholat malam Aku mendekati Ayah dan Ibu. Dengan hati tak yakin akan restu kedua orang tuaku, Aku ingin memperjuangkan cintaku. Apapun hasil dari perjuangan ini, Aku benar-benar pasrah. Aku duduk di samping Ibu pada malam itu. Kupegang erat tangan mulia Ibu, meminta kekuatan agar Aku bisa menyampaikan apa yang ada di dalam hatiku.
"Ayah, Ibu ... Maafkan Nadia sebelumnya. Nadia sangat yakin dengan Kak Izz. Karena itu, Aku mohon izinkan dan restui kami membangun dan meniti masa depan bersama." Kataku memohon akan restu mereka. Ayah tersentak, matanya melotot dan tasbih yang berada di tangannya dilemparkan kearahku. Aku menunduk dan merangkul lengan Ibu dengan sangat kencang. Ibu memelukku dan mengelus pundakku.

"Ayah 'kan sudah bilang untuk tidak melanjutkan hubunganmu dengan Izz.! Kamu masih saja ngeyel. Kamu mau Ayahmu meninggalkan dunia ini dengan cepat.!?" Kata Ayah sangat marah padaku. "Urus anakmu itu, Bu.! Ayah sudah lelah menasehatinya.!" Imbuh Ayah dan segera bangkit dari duduknya, lalu berlalu meninggalkan kami.

Aku menghambur memeluk Ibu dengan erat. "Sudahlah, Nduk... Belajarlah menerima kenyataan ini. Kita hidup di tanah Jawa. Kita harus patuh pada aturannya." Ucap Ibu menyesakkan kalbuku.

"Tapi, Bu... Kita ini orang beriman yang mempunyai Tuhan. Haruskah kita percaya selain Tuhan,? Bukankah jodoh, rizki dan kematian seseorang sudah dituliskan sebelum kita melihat dunia,? Maafkan Nadia, Bu. Bukan maksud Nadia menggurui Ayah dan Ibu. Tapi Nadia hanya mengingatkan bahwa percaya pada selain Allah itu musyrik, Bu." Kataku berusaha meyakinkan, bahwa Islam itu hanya punya satuTuhan. Selain itu bukanlah Tuhan. Ibu hanya terdiam saja melihatku yang tetap pada pendirianku.

Dalam ketegangan, tiba-tiba Ayah menghampiriku lagi di musolla keluarga. Dengan wajah yang murka, Ayah berkata padaku. "Kalau kamu tetap saja ngeyel dengan keputusanmu, menikahlah.! Lalu pergilah dari rumah ini. Dan kamu bukan putri Ayah dan Ibumu lagi.!" Ucap Ayah begitu menusuk hatiku.

Aku langsung berdiri, berlari mendekati Ayahku dan memeluk kaki Ayah dengan pandangan murkanya padaku.
"Ayah ... Ampuni Nadia. Nadia tidak ingin Ayah murka. Tapi renungkanlah, Ayah... Tiada Tuhan selain Allah. Tuhan yang maha besar dan satu-satunya Tuhan seluruh umat Islam. Barang siapa yang mengaku beriman, maka harus percaya akan Qodho' dan Qodar-Nya.
Ayah ... Bukankah Ayah yang selalu mengajariku untuk mengatakan bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah.? Tapi kenapa Ayah percaya dengan adat yang sesungguhnya itu hanya sabda manusia yang hanya makluknya Allah." Kataku panjang lebar dengan tetap bersimpuh di kaki Ayah.

"Astaghfirullahal'adzim...... Astaghfirullahal'adzim......" Ucap Ayah yang kemudian mengangkat bahuku, lalu ayah memelukku erat. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah khilaf. Benar kata-katamu. Besok suruh Kak Izul-mu datang ke sini. Ayah merestui kalian." Imbuh Ayah sembari memeluk dan mencium keningku. Di belakangku, Ibu memelukku dan meneteskan airmata hingga membasahi baju dan pundakku. Kami saling berpelukan. Ayah menyadari kekhilafanya dan merestui hubunganku dengan kak Izz.*
Kupikir malam sudah berganti Siang. Gelap telah diterangi cahaya.
Namun kabar yang dibawa Kak Izz telah membunuh perasaanku. Siang yang kusangka terang, justru terselimuti gelapnya mendung yang hitam mencekam, saat kutemui dia di siang itu di sebuah rumah makan yang ada di sebelah pasar Ngunut, sesudah Aku mengantongi restu orang tuaku.
"Maafkan Kakak, Dik. Kakak telah menjalani Ta'arufan dengan seseorang, putri dari teman Ayahku. Meskipun sebenarnya belum Kakak putuskan, tapi Kakak tidak bisa menolak karena gadis yang Kakak Ta'arufi adalah teman dan pilihan Ayah setelah keputusan keluarga kemarin." Kak Izz menatapku hampa.

Mataku berkaca-kaca. Bagai suara petir di cerahnya mentari. Ingin rasanya Aku berteriak, menangis sekeras mungkin. Aku tak terima setelah Aku mati-matian memperoleh restu orang tuaku, tapi Kak Izz justru mematahkan perjuanganku. Ia memutuskan dan menyudahi ikatan yang telah kami jaga selama ini.
"Kenapa Kak Izz tega.? Kakak sudah menjalani ta'arufan dengan yang lain, sementara belum ada keputusan dariku. Kenapa Kak..!?" Tak kuasa Aku menahan lelehan air mataku.

"Maafkan Kakak, Dik. Semua ini bukan keputusan Kakak. Tapi ini keputusan orang tuaku yang menganggap hubungan kita sudah selesai, karena orang tua kita sama-sama tak bisa merestui hubungan kita. Sebelum Kakak bicara pada orang tua Kakak tentang hubungan kita lagi, orang tua Kakak sudah memutuskan ta'arufan dengan putri dari salah satu teman orang tua Kakak. Maafkan Kak Izz, Dik." Imbuhnya menjelaskan.

Sejak pertemuan itu, Aku tak mau menemui Kak Izz lagi. Setiap pesan sms yang ia kirimkan sudah tak kuhiraukan lagi. Permohonan maafnya kuabaikan begitu saja. Hatiku sangat kecewa dengan keputusanya yang memenuhi permintaan orang tuanya, yang sebenarnya ia masih ada janji denganku. Aku sangat marah. Kenapa sebagai laki-laki yang nantinya sebagai pemimpin yang harus bijak dalam setiap keputusan, ia hanya berprinsip pasrah dan ngalah. Mana sifat kepemimpinanya yang akan selalu berjuang untuk rakyatnya.*
*****
Hari-hari kujalani dengan kehampaan. Aktifitas kujalani tanpa semangat. Hatiku masih lara dengan kejadian itu. Aku berusaha melupakan Kak Izz, dan apapun yang pernah terjadi.

Tiga minggu sudah Aku tak berkomunikasi dengan Kak Izz. Meski ia selalu menanyakan kabarku, tapi Aku tak pernah merespon. Bagiku, untuk apa berkomunikasi dengan orang yang tak menepati janji. Komitmen yang terjaga selama ini diabaikan begitu saja. Buat apa mempertahankan ia yang sebenarnya tak mengerti arti komitmen itu sendiri.
Sebuah komitmen bukan atas seberapa cinta ataupun seberapa kita dekat. Komitmen adalah sebuah perjalanan panjang yang tetap kokoh dengan berbagai terpaan yang menerpa.
Aku hanya menunggu seseorang yang siap berkomitmen dengaku, membangun cinta sejati denganku.
Bukan seseorang yang hanya membangun cinta atas nafsunya belaka.
Komitmen tidak mengalah dengan takdir. Melainkan menjemput takdir dengan mengubah nasib menjadi lebih baik.
Sebulan telah berlalu. Meski rasa lara masih membekas, tapi senyum sudah mulai terhias di bibirku. Malam itu di ruang keluarga, Ayah berkata padaku. "Nduk, besok malam ada yang mau datang ke sini untuk melamarmu. Ayah telah menyiapkan pangeran untukmu, yang Insya Allah, ia adalah Imam yang akan membawamu untuk lebih mencintai Tuhanmu. Ayah sangat mengharapkan sikap bijakmu terhadap keputusan Ayah." Kata Ayah dengan tatapan serius padaku. Ibu yang di samping Ayah, menatapku lembut dan menganggukkan kepala.
Dengan hati berdebar, Bismillaahirrokhmanirrokhiim... Aku menerima lamaran pilihan Ayah.

Esoknya, keluaragaku menyibukkan diri mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut keluarga calon imamku.
Budhe, Bulik, Pakdhe dan Pak Lik, semuanya ikut sibuk mempersiapkan segalanya untuk menyambut calon keluarga mereka.
Saat itu aku mulai menata hati, menata niat dengan sebaik-baiknya.
Aku yakin pilihan Ayah tak mungkin salah. Dan aku yakin pulihan Ayah pasti yang terbaik untukku.

Malamnya, seusai sholat Maghrib, kami sekeluarga telah siap menunggu calon suamiku yang untuk pertama kalinya Aku akan bertemu dan menatap wajahnya.
Ada perasaan takut dan lain sebagainya. Tapi kutepis semua rasa itu. Aku percaya saja, ini adalah jodohku dan aku siap dengan semua yang akan terjadi.

Malam itu kami telah siap dengan pakaian adat jawa yang dipadu dengan busana islami.
Aku pun juga telah siap dengan gaun kebaya yang dipadu dengan rok panjang lingkar dan dipadu juga dengan jilbab hijau muda berbunga, yang menambah cantik parasku yang biasa.

Kebahagian dan keceriaan bertambah manakala keponakan-keponakan berlari-lari saling canda.
Disudut-sudut ruangan, para tetangga ikut bahagia dengan senyum dan candaan mereka yang saling bersahutan.

Tepat pukul 19.00, dua rombongan mobil mengisi halaman rumahku. Para penumpang turun bergantian dengan senyum yang tersungging di bibir mereka. Kaluargaku pun segera menghampiri dan menyambut kedatangan mereka. Kemudian seorang pemuda yang belum terlihat olehku karena tertutup badan Ayah, ia menghampiri Ayah untuk bersalaman dan mencium tangan Ayah, lalu berlanjut dengan saling berpelukan.
Sedangkan Aku menunggu berdiri di teras dengan Budheku.

Rombongan para tamu dipandu keluargaku untuk memasuki rumah. Betapa terkejutnya Aku melihat sesosok pemuda yang tengah menggandeng tangan Ibunya yang berada di sebelah Ayah. Seseorang yang tak asing olehku .

"Kak Izz ... Njenengan.......???" Kataku dengan penuh tanda tanya atas apa yang aku lihat. Seluruh keluarga hanya diam sembari tersenyum padaku. Lalu tanganku digandeng Budhe untuk mengikuti rombongan.
Masih dalam tanya, Aku ikuti langkah semua hadirin. Kak Izz dan seluruh keluarganya menempati tempat duduknya. Sedangkan Aku duduk di samping Ayah dan Ibuku.

"Nduk... Maafkan Ayah. Ayah tidak jujur tentang siapa yang melamarmu. Hati Ayah sangat terpukul dengan kata-katamu malam itu. Kami sebagai orang tua, malu dengan lemahnya iman kami. Untuk itu, atas izin Ayah Izzul dan semua keluarga, Ayah diam-diam mengklarifikasi tanpa sepengetahuanmu. Dan dengan yakin, kami semua yang hadir merestui hubungan kalian." Kata Ayah panjang lebar. "Dan ketidak jujuran atas apa yang terjadi pada malam ini, adalah atas permintaan calon suamimu, yang menginginkan niat kamu menikah dengannya bukan atas cinta, melainkan benar-benar niat menjalin hubungan karna Allah." Imbuh Ayah menjelaskan.

Aku terdiam seribu bahasa. Entah kata apa yang harus terluah. Bahagiakah Aku,? ataukah harus marah karena telah mengobrak-abrik rasaku selama ini.?
Tak terasa melelehlah butiran kristal dari bola mataku.

"Dik Nadia... Maafkan Kakak atas semua yang terjadi. Masihkah Adik berniat menikah denganku, dan menjadi bidadariku,?" Kata Kak Izz menatapku penuh cinta.

Aku masih terdiam dan menunduk. Hatiku masih belum bisa menerima tentang rasa cinta dan kasih yang besar sempat kupaksa untuk hilang, kini kembali di hadapanku.
Belum sempat Aku menjawab pertanyaan Kak Izz, pe-rewang tiba-tiba datang mengantarkan makanan dan minuman untuk para rombongan. Seluruh rombongan pun dipandu dari wakil keluargaku untuk segera menikmati hidangan yang ada.

Tiga puluh menit kemudian, acara khitbah dimulai. Pembukaan diawali dengan pembacaan Kalam Illahi, yang kemudian dilanjutkan dengan acara inti khitbah dengan tradisi menukar cincin antara kedua calon pengantin.
Dengan dipandu oleh pembawa acara, Kak Izz mendekatiku, lalu berkata, "Dik Nadia... Bersediakah sampean menikah denganku sebelum kuhiaskan cincin ini sebagai bukti besarnya kasihku padamu." Kata dan tatapan Kak Izz begitu menggetarkan hatiku. Aku menatapnya lembut, kuanggukkan kepala, tanda aku telah bersedia sehidup semati dengannya. Kak Izz segera meraih tangaku dan memasukkan cincin di jari manisku.

Teriring air mataku yang meleleh, dan,... "Alhamdulillahirobbil'alamiin,.. Barokallah..." Ucap serempak seluruh anggota keluarga dan para rombongan. Aku tersenyum bahagia dengan rasa syukur atas segala limpahan rahmat dan nikmat-Nya.
'Ku aminkan setiap Doa yang dibacakan diakhir acara pada malam itu.
** WASSALAM *





Cerpen Kiriman: Tsalis Q.
Penulis: Tsalis Q.


"Nduk"= Panggilan sayang orang tua kepada anak perempuan. (sebagian masyarakat jawa. red)

0 Response to "Cinta Untuk Kak Izz"

Posting Komentar