Ramadhan Di Tanah Rantau

Assalamu'alaikum Wr. Wb


Gambar: Doc. arek garong't


Momen yang paling berkesan saat bulan Ramadhan adalah ketika kita bisa melaksanakannya bersama orang-orang terkasih, bersama keluarga kita.
Menikmati makan sahur dan berbuka puasa bersama orang tua dan saudara menjadi kebahagiaan tersendiri di bulan ramadhan.
Namun ketika kita akhirnya harus menjalankan ibadah puasa di tanah rantau, rasanya sungguh WOW..! Yang pastinya ada rasa rindu yang mendalam untuk berbuka bersama keluarga tercinta.

Akan tetapi, di balik sebuah kisah pasti ada hikmah dan ada cerita indah di bulan ramadhan yang penuh berkah.
Meski terkadang banyak 'ngenes'nya juga menjalani puasa di tanah rantau, tetapi nantinya ada kisah dan pengalaman seru yang dapat kita ceritakan kepada keluarga kita ketika sudah berkumpul di hari raya.

Aku ada sedikit cerita nih.
Pernah suatu ketika saat berbuka puasa, menu makanan yang aku santap terbilang sedikit mewah lah, untuk ukuran ekonomi orang seperti saya, (nasi putih dan sambel terong). haha.. Tapi ketika baru sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut, tiba-tiba mulutku terkunci dan nafsu makan mendadak terhenti, lenyap dan hilang. Bukan karena kepedesan atau pun keselek selonjor terong, tetapi, "Orang tuaku di kampung berbuka puasa sama apa?" Munculnya perasaan seperti itulah yang menyebabkan hilangnya nafsu makanku saat berbuka puasa.

Duh, Gusti... Begitu bahagianya berbuka puasa bersama keluarga di kampung. Meskipun menu makanannya hanya nasi jagung dengan lodeh rebung, tetapi rasa kebahagiaan berkumpul bersama keluarga saat berbuka puasa mengalahkan rasa gado-gado yang kita santap saat di tanah rantau.
Yang jelas, menjalankan ibadah puasa jauh dari keluarga itu dibilang enak yo ra penak, dibilang penak yo ra enak.
'Penak toh?' Yo penak...
'Enak toh?' enak gundulmu. :-D

Adapun hikmah yang dapat kita peroleh saat menjalankan ibadah puasa di tanah rantau, membuat kita lebih menghargai dan mengerti arti kebersamaan bersama keluarga.
Di tanah rantau, makan sahur sendiri, waktu berbuka 'pun, kita tanpa keluarga.
Jauh dari rumah seperti inilah yang akan membuat kita bisa lebih menghargai arti kebersamaan. Kita baru akan menyadari bahwa kebersamaan dengan keluarga yang dulu mungkin kita anggap biasa, ternyata adalah harta yang paling berharga.

Menjalankan ibadah puasa di tanah rantau membuat kita lebih mandiri.
Jika dulu waktu masih bersama keluarga, mungkin menu makan sahur dan berbuka sudah disiapkan oleh ibu, tapi kini di tanah rantau kita harus menyiapkannya sendiri.
Makan, makan sendiri. Masak, masak sendiri. Cuci baju sendiri. Tidur pun sendiri....
Lha kok malah nyanyi? hikz...

Ah ... Yo wis.. Ra popo...
Di tanah rantau kita juga menemukan keluarga baru. Sahabat di tanah rantau menjadi keluarga baru kita di tanah perantauan. Buka bersama sahabat sesama perantau juga punya cerita tersendiri. Canda tawa dan kekonyolan saat makan sepiring berdua akan menjadi cerita di hari tua.
Rindu pada keluarga pasti ada, namun akan sedikit terobati ketika kita bisa berbagi bersama sahabat saat menjalankan ibadah puasa di tanah rantau.

Tetap semangat menjalankan ibadah puasa, dan semangat bekerja demi masa depan yang lebih cerah.
Jangan jadikan puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb...

0 Response to "Ramadhan Di Tanah Rantau"

Posting Komentar