Header Ads

  • Breaking News

    Prahara Cinta Dewi Arum - 3

    PERHATIAN!
    Cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka.
    Persamaan nama dan tempat memang disengaja
    Dan cerita ini hanyalah cerita konyol
    Maka jangan heran jika mendapati adegan-adegan konyol dalam alur ceritanya.


    Prahara Cinta Dewi Arum - part 1

    Prahara Cinta Dewi Arum - Part 2


    Judul: Prahara Cinta Dewi Arum - 3
    Oleh: Djacka Artub
    Genre: Konyol


    Senja kian memerah. Jalan berkelok yang tertutup rimbun pepohonan yang tumbuh perkasa di pinggir jalan membuat suasana terlihat suram, sesuram hati prabu Fajar Gumelar. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. "Sudah dua hari putriku belum diketemukan." Gumamnya, "dan bahkan, Nyai Nifa juga tidak dapat menerawang keberadaan putriku. Dewi Arum."

    "Sebaiknya kita cari makan dulu, gusti." Ki Ronggo mencoba mengalihkan kegelisahan sang prabu. "Di depan sana ada warung nasi becek yang enak." Katanya sambil menunjuk ke depan.

    "Iya, gusti. Sebaiknya kita cari makan terlebih dulu. Seharian gusti prabu belum makan." Sahut Patih Santri Mbeling.

    "Bagaimana aku bisa menelan makanan. Sedangkan putriku belum juga ditemukan." Ujar prabu Fajar Gumelar dengan tatapan kosong.

    "Kita tunggu sampai besok, gusti. Besok kita disuruh datang kembali ke rumah Nyai Nifa. Katanya beliau akan meminta bantuan pada temannya." *

    Malam telah larut. prabu Fajar Gumelar berjalan mondar mandir di dalam istana kerajaan. Hatinya masih berselimutkan gelisah atas hilangnya putri Dewi Arum. Ia tak sabar menunggu kabar dari Nyai Nifa soal keberadaan putrinya.

    Di sudut ruang, Indah Prameswari dan Ki Ronggo duduk bersanding dengan patih Santri Mbeling. Tak banyak kata yang terucap dari mereka. Mereka hanya saling pandang menyaksikan rajanya berjalan mondar mandir mengelilingi ruang pertemuan.

    "Dari tadi kamu terlihat tenang-tenang saja, Nimas?" Patih Santri Mbeling bertanya pada Indah Prameswari. "Kelihatannya tidak ada kecemasan dalam hatimu tentang hilangnya tuan putri?"

    "Masalah yang datang tidak selalu harus dicemaskan. Tetapi harus dipikirkan." Bantah Indah Prameswari.

    "Apa mungkin,... Kamu ada di balik hilangnya tuan putri Dewi Arum?" Sang Patih berkata penuh curiga.

    "BRAAAKKKK....!" Indah Prameswari menggebrak meja. "Jaga ucapanmu, patih!" Pernyataan patih Santri Mbeling menyulut kemarahanya.

    "Sudah ... Sudah...." Ki Ronggo melerai, "seharusnya kalian itu berpikir, bagaimana caranya supaya tuan putri Dewi Arum secepatnya ditemukan. Bukan malah saling bentak seperti itu."

    "Dia yang mulai, Romo." Indah Prameswari mengadu pada ayahnya.

    "Aku 'kan cuma bertanya. Apa itu salah?"

    "Tapi pertanyaanmu menyudutkanku!"

    "Sudah...! Cukup..!" Ki Ronggo benar-benar marah.

    "Ayah,___" Indah Prameswari merajuk manja pada Ki Ronggo, ayahnya. "Maafin Nimas ya, ayah."

    "Maafkan saya juga, paman." Dan patih Santri Mbeling 'pun meminta maaf pada Ki Ronggo.**

    Malam telah melewati puncaknya. Nyai Nifa melakukan ritual untuk mengetahui di mana keberadaan Dewi Arum. Ia menatap tajam sebuah benda segi empat yang ada di depannya. Benda itu mengeluarkan cahaya terang, menyinari wajahnya.

    "Hello, how are you, Nifa?" Nampak kepala seorang wanita muncul di layar monitor dan menyapa Nyai Nifa.

    "Hello, Ramsey ... I would like to ask for help." Nyai Nifa menjawab sapaan itu, dan segera menyampaikan maksudnya.

    "What about?"

    "Eng ... Nganu... Eee..." Nyai Nifa berpikir sejenak, mengingat-ingat percakapan dalam bahasa inggrisnya.

    "Wes... Ngomong coro jowo wae..." Ramsey mengerti keadaan Nyai Nifa yang kurang fasih berbahasa inggris, kemudian ia mengajaknya bercakap menggunakan bahasa jawa.

    "Lho? kowe yo iso ngomong boso jowo toh, cah ayu?" Nyai Nifa bertanya heran.

    "Yo jelas iso toh, jeng Nifa." Ternyata, Ramsey, seorang gadis bule itu juga sangat fasih berbahasa jawa.

    "Oalahhh...."

    Dan akhirnya mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa jawa melalui video call. Nyai Nifa menyampaikan maksudnya pada Ramsey, temannya. Dan maksud Nyai Nifa pun disambut baik oleh Ramsey, untuk membantu mencari Dewi Arum melalu alat ciptaannya yang disebut 'Mata Tuhan'.
    Dengan cekatan, Ramsey menjalankan monitor untuk melacak keberadaan Dewi Arum melalui alat yang dapat terhubung dengan beberapa CCTV yang tersebar diseluruh negara di dunia.****
    Keesokan harinya, sang prabu Fajar Gumelar kembali datang ke rumah Nyai Nifa dengan ditemani oleh Ki Ronggo dan patih Santri Mbeling. Kedatangan sang prabu kembali ke rumah Nyai Nifa untuk menagih janji pada Nyai Nifa yang akan memberitahukan keberadaan Dewi Arum, esok hari.

    Nyai Nifa terlihat gelisah melihat kedatangan prabu Fajar Gumelar. Ia tak tahu apa yang harus dikatakannya, karena Ramsey pun tidak dapat melacak keberadaan Dewi Arum melalui chip mata tuhannya itu.

    Prabu Fajar gumelar sangat marah. Namun ia sadar karena memang tidak semua wilayahnya telah terpasang kamera CCTV untuk memantau daerah kekuasaannya.

    "Maafkan hamba, gusti." Nyai Nifa meminta maaf kepada sang prabu Fajar Gumelar. "Hamba tidak sanggup membantu. Bahkan teman hamba yang mempunyai alat pelacak yang disebut 'mata tuhan' pun, tidak sanggup melacaknya."

    "Tidak apa, Nyai. Saya juga sadar, belum memasang cctv dibeberapa titik untuk memantau keadaan wilayah di kerajaan Sampar Banyu ini."

    Sungguh usaha yang sia-sia. Namun prabu Fajar Gumelar tetap akan berusaha mencari putrinya yang pergi dari istana.**
    Di lereng bukit Boto, seorang wanita paruhbaya sedang sibuk memetik sayuran di ladangnya. Ditemani seorang Putri yang cantik jelita, wanita itu terlihat begitu bahagia karena dirinya tak lagi merasakan kesunyian. "Den Ayu duduk saja di 'dangau'." Saran wanita itu, "Den Ayu nggak usah ikut simbok memetik sayuran. Nanti kulitnya gatal, lho". Wanita itu melarang Putri Dewi Arum ikut membantunya memetik sayuran. Ia takut jika tuan putrinya menderita gatal-gatal karena digigit serangga atau terkena ulat bulu.

    "Ah, nggak apa-apa, Mbok. Aku suka dengan kebebasan alam yang luas." Bantahnya dengan suara halus. "Aku sangat bosan dengan kehidupan di istana yang penuh dengan kedisiplinan dan berbagai aturan. Di sini aku merasakan kedamaian dan kebebasan." Pungkasnya.

    Datin Tya tersenyum mendengar perkataan Dewi Arum. Namun seketika wajahnya terlihat murung. "Seandainya tragedi itu tidak melanda desa ini, mungkin putriku akan tumbuh dewasa seusia tuan putri." Batinnya. Ia teringat peristiwa bencana banjir bandang yang melanda desanya beberapa tahun silam. Saat itu suami dan anaknya turut terbawa arus banjir. Sang suami yang ingin menyelamatkan putrinya yang terjebak di dalam rumah, jutru turut menjadi korban keganasan air bah yang datang tiba-tiba dari lereng perbukitan. Beruntung saat itu Ki Ronggo berhasil menyelamatkan Datin Tya.

    "Ada apa, Mbok? Kenapa tiba-tiba wajah Simbok mendadak sedih?" Tanya Dewi Arum, menyelidik.

    "Ah, nggak apa-apa, Den Ayu. Simbok hanya ingat mendiang suami dan Putri Simbok."

    "Memangnya ... Kemana mereka pergi, Mbok?"

    Datin Tya menceritakan tragedi yang merenggut nyawa suami dan putrinya, kepada Dewi Arum. Mereka berdua duduk bersanding di bangku kecil yang ada di dalam dangau. Semilir embus angin membawa kenangan masa silam antara Datin Tya dan Suami.
    Di dangau kecil itu, ia dan sang suami biasa melepas lelah setelah bekerja menggarap ladang miliknya. Dan putri kecilnya biasa ditidurkan dalam ayunan yang menggantung di antara tiang dangau. "Betapa bahagianya hidupku saat itu." Gumam Datin Tya.

    Dewi Arum yang merasa iba mendengar cerita Datin Tya, ia mengalihkan perhatian wanita itu. "O'iya, Mbok. Bagaimana ya, keadaan Nimas Ayu saat tiba di istana kerajaan? Aku takut ada yang mengetahui dia membawaku ke sini dan melaporkan pada Ayahanda prabu."

    "Nimas Ayu Indah Prameswari, orangnya sangat lincah dan cerdik. Sebagai telik-sandi kerajaan, pasti sang prabu lebih mempercayai dirinya." Datin Tya mencoba menghilangkan kecemasan Dewi Arum.

    "Apakah Nimas Ayu sering menemui Simbok?"

    "Dulu dia sering datang ke gubuk Simbok. Tapi setelah diangkat menjadi telik-sandi kerajaan, dirinya sudah jarang datang." Jawab Datin Tya menjelaskan. "Ya ... Simbok tahu, tugas seorang telik-sandi tidak mudah. Dan Simbok juga mengerti dengan tanggung-jawab tugas yang diembannya."

    "Jadi ... Simbok juga tahu kalau Nimas Ayu seorang telik-sandi?"

    "Nimas Ayu banyak bercerita kepada simbok. Dia juga sangat percaya pada Simbok." Datin Tya mengemasi barang-barangnya. "Sudah sore. Ayo kita pulang, Den Ayu."

    "Iya, Mbok. Aku bantu bawa barangnya ya?"

    "Ah, nggak usah, Den Ayu... Biar simbok saja yang bawa."
    Melewati lereng perbukitan, Datin Tya dan Dewi Arum berjalan menuruni jalan setapak. Bunga-bunga liar bermekaran bergerombol di antara semak belukar. Dewi Arum memetik setangkai bunga, dan memainkannya sambil berjalan.

    "Hati-hati jalannya, Den Ayu..." Teriak Datin Tya pada Dewi Arum yang keasyikan memainkan bunga sambil berjalan tanpa memperhatikan keadaan jalan yang dilaluinya.

    "Iya, Mbok..." Jawab Dewi Arum dengan berjalan mundur. Ia tak tahu jika di belakangnya jalan turun menikung. Dan tiba-tiba,... "KRUSEKK...!"

    "Tuch 'kan..." Datin Tya menjatuhkan sayuran dari gendongannya, dan segera menolong Dewi Arum yang jatuh ke semak-semak. "Den Ayu nggak apa-apa?" Datin Tya sangat khawatir.

    "Nggak apa-apa, Mbok..." Dewi Arum mencoba berdiri. Diraihnya tangan Datin Tya yang diulurkan kepadanya, dan... "Aduh, Mbok... Kakiku sakit." Dewi Arum meringis kesakitan.

    Akibat terjatuh, kaki Dewi Arum terkilir. Ia tak dapat berdiri, apalagi berjalan. Datin Tya merasa sangat khawatir. Dipapahnya Dewi Arum untuk mencari tempat yang nyaman untuk duduk.

    Waktu beranjak petang. Datin Tya merasa kebingungan dengan keadaan Dewi Arum yang tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk pulang karena kakinya yang terkilir. "Aduh... Gimana ini, Den Ayu? Hari sudah petang, tapi kita masih jauh dari rumah."

    "Maafkan Dewi, Mbok... Seandainya tadi Dewi mendengar nasehat Simbok, pasti Dewi nggak akan merepotkan seperti ini." Dewi Arum memelas sambil menahan rasa sakit.

    "Simbok cari bantuan dulu ya, Den Ayu. Siapa tahu di bawah sana masih ada orang yang lewat."

    "Tapi Dewi takut di sini sendirian, Mbok." Sambil memijit-mijit kakinya, Dewi Arum nampak gelisah.

    "Aduh ... Gimana ya, Den?" Datin Tya mondar mandir kebingungan.

    Sekelebat bayangan hitam mengagetkan mereka berdua. "Siapa itu..!" Datin Tya berujar menyapa.

    "Bi Tya...?" Suara seorang pemuda menyapa. "Kenapa Bibi masih di sini, malam-malam?"

    "Eh, Nak Jaka Kelana..." Datin Tya merasa lega. "Ini, Nak Jaka... Den Ayu Dewi Arum terjatuh dan kakinya keseleo." Datin Tya menjelaskan peristiwa yang tengah terjadi kepada Jaka Kelana, seorang pemuda yang tinggal se-kampung dengannya.

    "Dewi Arum? Siapa dia, Bi?" Jaka Kelana bertanya heran.

    "Nanti saja Bibi jelaskan di rumah. Sekarang bantu Bibi membawa pulang Den Ayu."

    "Baik, Bi." Jaka Kelana begitu bersemangat ketika Datin Tya menyuruhnya untuk menggendong Dewi Arum. Ia meng-urungkan niatnya untuk 'Nyuloh walang" malam itu. Nyuloh walang, atau kegiatan mencari belalang di malam hari biasa dilakukan Jaka Kelana dan teman-temannya. Namun kali ini dia berangkat sendiri, dan kebetulan bertemu dengan Datin Tya yang membutuhkan pertolongan.

    "Eiittsss... Tapi jangan berpikiran macem-macem." Datin Tya menggoyang-goyangkan telujuk jarinya dihadapan Jaka Kelana.

    "Iya, iya,... Bi..."

    "Ya sudah. Ayo berangkat."
    Dengan diterangi redup cahaya rembulan, mereka bertiga pulang ke rumah Datin Tya. Jaka Kelana menggendong Dewi Arum, dan Datin Tya menggendong sayuran yang tadi dipetiknya bersama Dewi Arum.

    Sesampainya di rumah, Datin Tya menceritakan siapa sebenarnya Dewi Arum, kepada Jaka Kelana. Dan Jaka Kelana 'pun segera bersimpuh di hadapan Dewi Arum. "Ampun, tuan putri. Maafkan hamba. Hamba tidak tahu kalau Den Ayu ini putri prabu Fajar Gumelar."

    "Tidak apa, Jaka." Timpal Dewi Arum, "justru aku sangat berterima kasih, kamu telah menolongku."

    "Itu sudah menjadi kewajiban hamba sebagai rakyat kerajaan Sampar Banyu, untuk menyalamatkan putri rajanya, tuan putri."

    "Di sini aku bukan tuan putri. Jadi tidak perlu menyebutku dengan sebutan 'tuan putri'. Dan kamu tidak perlu menyebut dirimu 'hamba' seperti itu, Jaka."

    "Lantas ... Hamba,... Eh, saya harus menyebut apa, tuan putri?"

    "Panggil saja seperti Datin Tya memanggilku. Atau ... Panggil 'Dewi Arum' saja."

    "Baiklah kalau begitu, Den Ayu." Jaka Kelana menuruti saran Dewi Arum, "O'iya. Kalau Den Ayu membutuhkan bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku." Jaka Kelana meninggalkan PIN BBM, kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya.

    Datin Tya tersenyum melihat keakraban Jaka Kelana dan Dewi Arum. Ia teringat masa mudanya ketika pertama kali berjumpa dengan mendiang sang suami.

    ~~~~~
    BERSAMBUNG

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad