Bagai Anak Ayam yang Kehilangan Induknya


Bagai Anak Ayam Yang Kehilangan Induknya


Ya ... Mungkin seperti itulah kenyataan yang sedang kita hadapi sekarang ini, ketika rumah induk (platform blogging) tempat kita untuk berkumpul dan saling sharing antar sesama penghuninya, kini menutup usia.
Bagai Anak ayam yang kehilangan induknya. Kita tercerai-berai mencari tempat lain yang nyaman untuk kita masing masing.
Banyak di antara kita yang bingung memilih tempat mana yang nyaman dan layak untuk kita tempati.
Ada yang mengajak kesana, tapi ada yang masih trauma. Ada yang mengajak ke situ, tetapi merasa gak nyaman.
Ada yang mengajak ke siti,... eh, bukan. Kalau ke Siti pasti banyak yang pada mau. HA HA

Ya ... Kita semua pastinya punya prinsip sendiri-sendiri dalam hidup. Dan prinsip hidup kita juga belum tentu sama dengan prinsip hidup orang lain, meski sebelumnya kita berada satu atap dan satu induk.
Kita tidak bisa memaksakan prinsip hidup kita untuk diikuti orang lain. Begitu pula sebaliknya. Dan kita juga harus menghargai prinsip hidup yang dipilih orang lain meski tidak sama dengan prinsip hidup yang kita pilih.

Kita tidak lantas mengucilkan mereka ketika jalan hidup yang dipilihnya tidak sesuai dengan jalan hidup kita.
Biarkanlah mereka menentukan jalan hidupnya sendiri.
Untuk apa kita memaksakan kehendak, jika itu tidak bisa membuatnya bahagia.

Marilah kita tetap menjaga keharmonisan hubungan keluarga yang dulu pernah ada, yang dilalui dengan susah-senang bersama, namun kini berbeda jalan.
Bukankah sebagai blogger, sebenarnya tujuan kita sama?; berbagi dan menyalurkan hobi membaca dan menulis.

"Tapi kalau nggak kompak, kurang asyik, broo..?"

"Eh, broo... Yang namanya kompak itu tidak harus seragam. Tetapi dari keberagaman itu, kita harus bisa saling mendukung. Coba dech perhatikan sandal yang kamu pakai. Jajal bayangno,___ seandainya sandal itu kiri semua, atau kanan semua.
Yang terpenting adalah tujuannya sama, broo. Meskipun sepasang sandal kita bentuknya berbeda."

"Oooo .... ngono yo, bro?"

"Iyo, brooo...."




Oleh arena itu, berbangga dan berbahagialah kita, ketika saudara kita telah menemukan tempat yang nyaman untuk dirinya.
Kalau kita memaksakan kehendak dan mereka banyak menuntut ini dan itu kepada kita, binasa-lah kita.
Maka lebih baik biarkan mereka berkreasi dengan cara yang disukai.

Kau di sana, dan aku di sini.
Tapi kau dan aku tetap mempunyai tujuan yang sama, bukan? Sama-sama berkreasi untuk menyalurkan hobi menulis?

Hidup itu tidak perlu dibuat rumit. Jalani apa yang kita suka, selagi itu dalam hal yang positif.
Toh,___ saat kita bertemu di suatu tempat, kita juga masih bisa lungguh njlegrang ngadep kopi bersama, nglinting klobot nganti njentit mlipit juga bersama.
Nggih nopo mboten?

Untuk sodara sodara yang sekarang sedang membangun rumah barunya, tetap semangat dan optimis. Semoga kesuksesan menyertai kalian.
Aamiin...

Selamat berjuang.

21 Responses to "Bagai Anak Ayam yang Kehilangan Induknya"

  1. Nggih, leres. hehe

    Ya, memang saat ini kita sedang kehilangan induk tempat bernaung dalam berimajinasi, tapi jangan sampai ada yang di kucilkan dan sebagainya. Apapun itu kopi hitam tetap segar aromanya dan tetap sebagai penyemangat menulis.

    Eee.. nyambung nggak ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih... kopi hitam harus tetap tersaji untuk menggali inspirasi.
      Filosofi secangkir kopi harus tetap terjaga.
      Meski berbeda beda, tetapi akan menciptakan keharmonisan rasa yg nikmat. Hehe

      Hapus
  2. Semoga perbedaan arah dan jalan tidak merusak harmoni yang ada, ya, Mas. Saya khawatir soal ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih, mas. Saya juga khawatir perbedaan arah akan mengakibatkan perpecahan.

      Hapus
  3. Iya betul itu kang, walau beda2 rumah kan masih bisa kunjung2an, kalau misal alasannya hape saya rasa disini hapeku yg paling butut, HP E63 lho kang tapi alhamdulillah masih bisa saja patroli untuk kunbal2, hehe!

    Ya tetap semangat ajalah buat teman2 MWB semua!

    #Oya kang, blog sampean ta pasang di Jaeyzone.blogspot.com aja. Soalnya blog yg satunya itu yg Thejaey itu jarang update hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggih, kang. Walau berbeda rumah, kadang aku juga masih mampir ke rumah teman2.
      Kalau masalah hp, blogku yg dulu juga aku membuatnya menggunakan hp E63, kang. Blog yg aku bikin sebelum masuk di mwb. Tapi sekarang aku hapus. He he

      #Oke, kang. Terima kasih udah pasang juga link blogku.

      Hapus
  4. Tapi dampaknya mulai terasa di grup WA.... agak2 sepi... gak kaya dulu... hikz :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pak.. banyak yg keluar dari group kayaknya. Hikz...

      Hapus
  5. Alhamdulillah
    Wejangannya sangat mengena dihati, dulu satu naungan sekarang beda-beda, ambil khikmahnya, karena meski dari rahim yg samapun tetap saja membawa sifat dan otak yg berbeda, smg silaturahmi tetap terjaga

    terimaksih masih mau merangkul kami yg masih sangat awam dlm dunia /blogkan ini

    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah...
      Semoga silaturrahmi tetap berjalan tanpa memandang perbedaan.

      Saya juga masih awam dalam dunia perbloggingan, Ning May. Hehe

      Hapus
  6. Berarti emak anak ayam pengen kawin lagi tuh...?? hihii!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya begitu, kisanak. Hahaha..

      Hapus
  7. Kalau begitu kita harus mandiri tapi harus tetap kompak tanpa batasan.... betul gak tuh bang djack

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, mas Nuhan. Mandiri tidak harus sendiri.
      Sehebat apapun kita, pasti membutuhkan bantuan dari orang lain.
      He he

      Hapus
  8. Kalau begitu kita harus mandiri tapi harus tetap kompak tanpa batasan.... betul gak tuh bang djack

    BalasHapus
  9. "Hidup itu tidak perlu dibuat rumit. Jalani apa yang kita
    suka, selagi itu dalam hal yang positif.
    Toh,___ saat kita bertemu di suatu tempat, kita juga
    masih bisa lungguh njlegrang ngadep kopi bersama,
    nglinting klobot nganti njentit mlipit juga bersama.
    Nggih nopo mboten?
    "

    Nggeh om....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pinter...
      Yo ngunu...Nek karo wong tuwo kui boso.... hahahaha

      Hapus
  10. Matur suhun pencerahannya om djack..
    Pilihan terbaik tetap ada pada diri masing-masing..
    Kompak itu perlu, sebagai bagian dari menyambung tali silaturahim..
    Ayo, ngopi dahulu sebelum telat he..he..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Monggo, ngopi sambil ngudut, mas Indra... HA HA
      Pilihan terbaik tetap ada pada diri masing2.
      Saya pilih kopi hitam, dan sampeyan pilih kopi susu.
      Meski berbeda rasa, tetapi kita sama2 ngopi, bukan? Wkwkwkk

      Hapus
  11. Mudah2an perbedaan arah dan jalan tidak merusak harmoni yang ada mas :D

    BalasHapus
  12. Ya benar benar seperti anak ayam kehilangan induknya..
    Saya dulu ingin sekali belajar menulis cerita, dan di mwb saya mulai banyak belajar. Tapi karena mwb mau tutup ya saya pindah ke xtgem dan membangun blog cerita silat, sambil mengasah kemampuan menulis sendiri melalui tulisan para master cersil...

    Oh iya gan, blogroll sukses...
    www.ichan27.web.id

    BalasHapus