Suatu hari di warung kopi.
"Apa jadinya jika dalam satu keluarga saling tunding dan menyalahkan?" Salah seorang yang sedang jagong di warkop itu berkata.

"Ya ... Tentu saja akan menjadikan konflik dalam rumah tangga itu, Kisanak. Dan tentunya hal itu akan menjadikan hubungan keluarga pecah berantakan." Pejagong yang lain menjawab.

"Hmmmm..... Aku nggak habis pikir. Hanya karena berbeda pilihan saja, membuat mereka (anggota keluarga itu), menjadi saling tunding dan menyalahkan." Yang lain 'pun ikut nimbrung.

"Seharusnya dalam sebuah keluarga itu seperti secangkir kopi ini." Sambil mengantarkan kopi, si penjual ikut nimbrung pembicaraan para pelanggannya, "meski percampuran dari bahan yg berbeda, tapi terasa nikmat jika diracik dengan pas. Jangan sampai secangkir kopi terasa asin karena kemasukan bahan dari luar." Katanya menjelaskan.

"Bahan dari luar?" Si pelanggan bertanya.

"Ya. Garam 'kan, bukan bahan untuk membuat kopi. Jangan sampai bahan yang bukan seharusnya untuk membuat kopi itu dicampur-adukkan. Sehingga rasa kopi akan menjadi buyar tidak karuan."

"Tapi, apakah kita tidak membutuhkan garam dalam kehidupan sehari hari?"

"Tentu saja butuh. Tapi untuk keperluan yang lain. Bukan untuk membuat kopi. Begitu pula sebaliknya, kita juga tidak bisa memasukkan bubuk kopi ke dalam semangkuk soto."

"Wah... Wah... Wah...... Meski hanya seorang penjual kopi, ternyata kecerdasan sampeyan melebihi orang orang yang sedang berselisih dan saling menyalahkan sesama saudaranya hanya karena berbeda dukungan itu ya?" Seorang pejagong yang tadinya hanya diam mendengarkan percakapan antar sesama pejagong itu turut bicara, memuji kecerdasan si penjual kopi.

"Tentu dwong... Aku 'kan, bisa membedakan mana soto, dan mana kopi. Jadi tidak mungkin aku membuat kopi dengan menambahkan kaldu ayam ke dalam secangkir kopi." Jawab si penjual dengan gaya lebay.

Dan karena waktu sudah larut malam, akhirnya warung kopi pun di tutup dan semua pelanggannya pulang ke rumah masing-masing setelah membayar kopi yang mereka sruput di malam itu.

#Inspirasi secangkir kopi
Djacka Artub.

20 Responses to "Jagongan"

  1. Ya, bubuk kopi jika di campur dengan garam pasti beda rasanya, dan tentunya akan terjadi perselisihan jadi mari nikmati hidup ini seperti secangkir kopi, meski tak di campur gula tetap nikmat dan aromanya bisa membuat diri tersenyum bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Garam mempunyai manfaat bagi manusia, begitu pun kopi.
      Tapi kita tidak bisa mencampur-adukkan keduanya dalam satu wadah, supaya tidak terjadi konflik.

      Terima kasih atas kunjungannya.

      Hapus
  2. He..he.. :D
    Segala sesuatu itu memang sudah harus ada porsinya, tidak bisa sembarang main campur.
    Lanjutkan..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, kang. Jika kita asal main campur, bisa jadi secangkir kopi berasa kaldu ayam. Hahaha

      Thank's atas kunjungannya, kang.

      Hapus
  3. Perbedaan kultur budaya memang seharusnya memantik keindahan dalam ragamnya. Saya sepaham dengan filosofi kopi-nya Mas Djack.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perbedaan itu hikmah.
      Perbedaan juga indah jika kita bisa menempatkannya sesuai porsinya,seperti yg dibilang kang @Indra.

      Matur suwun, kang mas Adipati, atas kehadirannya.

      Hapus
  4. sesuai dengan kebutuhan agar tetap harmonis

    filosifi secangkir kopi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Betul sekali, jeng May.
      Jika kita menempatkan sesuatu sesuai kebutuhan, hidup akan terasa nyaman dan harmonis.

      Makasih telah mencicipi secangkir kopinya... hehe

      Hapus
  5. enak bakul kopi yo., iso jagong, iso nguping.., iso.., iso opo eneh yo..? Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sing jelas iso ngudek kopi... hahaha

      Hapus
  6. Semua yg ngga pada tempatnya akan nyalahin tatanan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti topi dipakai untuk sandalan, sandal dipakai untuk topi. Wkekekek

      Hapus
  7. Jangakan garam, gula pun kalau kebanyakan tetap ga enak krn kemanisan, hehe

    BalasHapus
  8. Tapi kopi rasa asin kadang sesap buat jagongan, kok. Hehe

    BalasHapus
  9. Hemm mau juga dong kang partneran, kasian blogku jomblo blm ada partnernya :D

    BalasHapus
  10. "Tentu dwong"

    Geleng-geleng waktu baca penjelasan si penjual kopi.

    Wes bengi waktune muleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nek muleh ojo lali sandale digowo.. haha

      Hapus
  11. Jagongan sama dengan cangkrukan sama dengan dudukan

    hehe

    BalasHapus