Header Ads

  • Breaking News

    Prahara Cinta Dewi Arum - 4

    PERHATIAN!
    Cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka.

    Persamaan nama dan tempat memang
    disengaja
    Dan cerita ini hanyalah cerita konyol
    Maka jangan heran jika mendapati
    adegan-adegan konyol dalam alur
    ceritanya.

    Prahara Cinta Dewi Arum - 1

    Prahara Cinta Dewi Arum - 2

    Prahara Cinta Dewi Arum - 3




    Judul: Prahara Cinta Dewi Arum - 4

    Karya: Djacka Artub

    Genre: Konyol




    "Baiklah kalau begitu, Den Ayu." Jaka Kelana menuruti saran Dewi Arum, "O'iya. Kalau Den Ayu membutuhkan bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku." Jaka Kelana meninggalkan PIN BBM, kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya.

    Datin Tya tersenyum melihat keakraban Jaka Kelana dan Dewi Arum. Ia teringat masa mudanya ketika pertama kali berjumpa dengan mendiang sang suami.
    *****

    Kerajaan sosor bebek.
    Udara dingin menyeruak dan kabut putih masih menutup pucuk-pucuk dedaunan. Sesekali bening air menetes dari daun-daun yang ber-embun.
    Derap langkah kuda terdengar nyaring di telinga. Dua orang prajurit yang berjaga di pintu gerbang kerajaan menyambut kedatangan pangeran Prada Prasetya, putra mahkota kerajaan sosor bebek.

    Pintu gerbang terbuka, dan masuklah sang pangeran ke dalam pelataran pendopo kerajaan.
    Seorang pria penuh wibawa menyambut kedatangannya. "Bagaimana penelusuranmu, wahai putraku?" Prabu Menyok bertanya pada putra tunggalnya, yang juga sebagai pewaris tahta kerajaan sosor bebek.

    "Saya telah bertemu dengan calon permaisuri yang Ayahanda prabu pilihkan buat saya, Romo." Prada Prasetya, putra pangeran kerajaan sosor bebek itu melapor pada Ayahandanya. Senyumnya yang sumringah menandakan kepuasan atas seorang calon permaisuri yang dipilih sang Ayahanda untuk dirinya.

    "Bagaimana awal kejadian kamu bertemu dengan calon permaisurimu?" Sang Prabu 'pun tidak sabar mendengar cerita dari putranya selama penelusuran.

    "Saya menyamar sebagai pemuda kampung, Romo. Dan Saya juga memakai nama samaran."

    "Nama samaran apa yang kamu gunakan, putraku? hem?" Dengan tersenyum, prabu menyok menanyai putranya yang telah berhasil menyelidiki calon permaisurinya.

    "Cokro Srikoyo Nongkolondo, Romo."

    "Srikoyo Nongkolondo?"

    "Benar, Romo."

    "Kenapa kamu memakai nama itu, putraku? Bukankah itu nama buah-buahan?"

    "Ya... Karena waktu itu saya numpang di rumah seorang petani yang banyak menanam pohon srikaya dan sirsak, saya memakai nama 'Cokro Srikoyo Nongkolondo', Romo."

    "Hmmmm... Kamu memang seorang pemuda yang cerdas, putraku." Sambil mengelus jenggotnya, prabu Menyok memuji putranya. Ia tertawa bangga. "HA HA HA..." Kemudian ia mengajak putranya masuk ke dalam istana.***

    Semilir embus angin meniup dedaunan. Pijar cahaya bintang menghias langit yang cerah, kilau sinar purnama nampak indah terlihat di antara pucuk pohon cemara. "Rembulan di ranting cemara." Pangeran Prada Prasetya tersenyum dan bergumam memandang keindahan malam. Ia membayangkan wajah Dewi Arum yang cantik jelita bagai bulan purnama yang berkilau menerangi gelap malam.

    "PLAKK...!!" Tetiba pangeran Prada menepuk kening, "aduh ... Aku lupa tidak menanyakan pin BBM-nya.!" Ia begitu menyesal. Seandainya ia membawa pulang pin BBM, atau nomer Whatsaap Dewi Arum, pasti malam-malamnya akan lebih ceria karena bisa chattingan dengan gadis pujaan hatinya.
    "Ah, kenapa aku nggak coba googling aja? Siapa tahu aku menemukan akun facebooknya di google." Pangeran Prada bergegas berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil pusaka Smartphone-nya guna melacak keberadaan akun media sosial Dewi Arum.

    Kesana kemari pangeran Prada menelusuri laman google. Namun ia selalu mendapat alamat palsu. Sebenarnya bukan alamat palsu. Tapi nama Dewi Arum begitu banyak ia temukan di laman pencarian. Sehingga ia kecapekan setelah mondar-mandir, dan akhirnya tertidur.

    *****


    "Hai..! Berhenti..!" Bentak suara lantang menghentikan langkah Jaka Kelana.

    "Kisanak memanggil saya?" Jaka Kelana membalikkan badan, ia bertanya balik pada seseorang bertubuh besar. Dari bentuk tubuh dan tampangnya, sepertinya pria itu seorang algojo kerajaan sampar banyu.

    "Memangnya di sini ada orang lain? Hah?!" Pria itu kembali membentak.

    "Ada,..." Jaka Kelana menjawab pelan, "tuch, di belakangmu." Lanjutnya dengan menunjuk dua orang yang berdiri di belakang seseorang yang menegurnya itu.

    "Ada apa kalian ribut-ribut?" Indah Prameswari yang datang bersama Datin Tya, melerai panglima Buldoser yang menegur Jaka Kelana dengan kasar.

    "Menurut laporan seorang warga, pemuda ini yang telah membawa lari gusti putri Dewi Arum, Nimas."

    "Benarkah, Jaka.?" Indah Prameswari menatap Jaka Kelana dengan tajam. Tatapan tajam seperti mata elang yang melihat mangsa itu membuat Jaka Kelana ndepipis sambil memainkan jari. "Kenapa diam? Ayo jawab!"

    "Nimas Ayu mengenal pemuda ini?" Panglima Buldoser bertanya menyelidik.

    "Oh, tidak." Nimas Ayu Indah Prameswari ber-alibi, "saya cuma membaca nama di bajunya." Terangnya.

    "Sudah, sudah... Nggak baik seorang ksatria kerajaan berbicara kasar terhadap seorang rakyat dari kerajaannya sendiri." Datin Tya memberi nasehat.

    Berkat kata-kata lembut Datin Tya, akhirnya panglima Buldoser dan Indah Prameswari diam dan saling pandang. Kemudian Datin Tya mengedipkan mata pada Jaka Kelana, "TING...TING..." Lalu membri isyarat dengan lirikan mata, dan menyuruh Jaka Kelana untuk pergi. "Silahkan Kisanak pergi."
    Jaka Kelana 'pun mengerti apa yang dimaksud Datin Tya. Ia segera pergi menuju rumah Datin Tya, dan menyuruh Dewi Arum untuk bersembunyi.

    "Kau mau mengajakku kemana, Jaka?" Dewi Arum merasa kebingungan dengan tingkah Jaka Kelana yang menyeretnya berlari.

    "Sudah! Diam saja! Atau,..." Jaka Kelana yang merasa sangat panik, ia tanpa sadar telah membentak tuan putrinya.

    "Atau apa?!" Dewi Arum melepaskan tangan Jaka Kelana yang menariknya, kemudian ia berkacak pinggang di hadapan Jaka. "Kamu mau berbuat tidak senonoh dengan tuan putrimu? Hah!!"

    "Ampun, tuan putri. Hamba tidak bermaksud begitu. Tapi tempat persembunyian tuan putri telah tercium oleh panglima perang kerajaan sampar banyu." Jaka Kelana menerangkan dengan nafasnya yang terengah-engah.

    "Lalu mau kau bawa kemana diriku?"

    "Ke rumahku."

    "Awas kalau kau berani macam-macam." Ancam Dewi Arum

    Akhirnya Dewi Arum bersedia mengikuti Jaka Kelana untuk bersembunyi di rumahnya. Jaka Kelana membuka kotak besar yang berbuat dari kayu, dan menyuruh Dewi Arum untuk masuk. Kemudian Jaka Kelana menutup kembali kotak itu.***

    "Kalian jangan ber-alibi.!" Panglima Buldoser menaruh kecurigaan pada Datin Tya dan Indah Prameswari.

    "Ber-alibi, katamu?" Bantah Indah Prameswari.

    "Ya. Tadi aku lihat gerak gerik mata wanita ini sungguh mencurigakan." Panglima Buldoser menunjuk Datin Tya.

    "Baiklah ... Mari kita buktikan di rumah wanita ini.!"

    "Baiklah kalau tuan masih tidak percaya. Silahkan ikut ke rumahku, dan geledah isi rumahku." Tantang Datin Tya pada panglima Buldoser.

    Merasa ditantang, panglima Buldoser segera menelephone para prajurit untuk datang ke desa tempat tinggal Datin Tya.

    Beberapa prajurit datang ke desa di lereng bukit Boto, atas panggilan panglima Buldoser. Mereka bersama-sama menggeledah rumah Datin Tya. Namun nihil. Mereka tidak menemukan Dewi Arum di rumah wanita desa itu.

    "Tunjukkan. Di mana rumah pemuda tadi." Panglima Buldoser masih belum puas setelah menggeledah rumah Datin Tya. Ia meminta untuk ditunjukkan tempat tinggal Jaka Kelana yang dia temui sebelumnya.***

    "DHOK...DHOK...DHOKKK..." Suara pintu diketuk dengan kasar. Jaka Kelana diselimuti kepanikan ketika melihat dari kisi-kisi jendela, bahwa yang datang adalah sekelompok prajurit dari kerajaan sampar banyu.

    "Buka pintu! atau,..... Aku bakar rumah ini!" Suara lantang dari prajurit yang di luar membuat Jaka Kelana semakin panik dan gemetar.

    Dengan sedikit keberanian, Jaka Kelana membuka pintu rumahnya yang sudah dikepung oleh prajurit kerajaan sampar banyu.
    Jaka Kelana merasa sedikit lega ketika melihat Datin Tya dan Indah Prameswari berada di antara orang-orang berwajah bengis itu.  Namun hatinya kembali terguncang laksana terkena guncangan gempa berkekuatan 8 SR. Dilihatnya dua pedang mengapit leher masing-masing Datin Tya dan Indah Prameswari.

    Seketika keberanian Jaka Kelana melambung tinggi menggapai awan di angkasa. "Hai.!! Lepaskan mereka.!" Teriak lantang Jaka Kelana, "Atau,...."

    "Atau apa? Atau,....kucincang burungmu? Hah!" Balas salah satu prajurit yang paling kerdil, sambil meraih sangkar burung yang tergantung.


    BERSAMBUNG

    8 comments:

    1. Hahaha, tak pikir burung apa yang akan dicincang, oh ternyata burung dalam sangkar.

      ReplyDelete
    2. Boleh juga nyalinya Jakarta kelana 😁
      Kira-kira Dewi Arum ketauan gak ya ? 😓

      ReplyDelete
    3. Ceritanya percampuran masa lalu dan masa sekarang..
      Ok dilanjut bro..

      ReplyDelete
    4. sekarang dewi arum sudah tidak kuwatir lagi nich!! kan kalau ada apa2 tinggal ngepink bbmnya Jaka Kelana?..

      mas tolong aku.., aku lagi kejebak di postingan ini.!! wkwkwk

      ReplyDelete
    5. Datin Tya dan Indah Prameswari sudah menjadi tawanan, Jaka Kelana yang sempat merasa lega, akhirnya harus merelakan kehilangan burung dalam sangkarnya

      bingung mau komentar bos, ngakak melulu sih!

      ReplyDelete
    6. Wkwkk nama pangerannya keren, Nangka Belanda.

      Btw, bisa2 ketahuan nih persembunyian Dewi Arum, habisnya Jaka sudah diancam duluan mau dicincang burungnya, hehe!

      ReplyDelete

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad