Gadis Impian
Oleh: Djacka Artub


Siang itu, suasana masih redup. Meski jarum jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, namun cahaya matahari masih belum nampak karena tertutup mendung yang sedari pagi setia menggantung pada cakrawala.

Aku masih saja duduk bersandar pada kursi bambu yang berada di teras rumah. Gerimis yang disertai embus angin membuatku masih saja malas-malasan untuk beranjak dari dudukku. Ternak-ternak gaduh meminta makan 'pun tak kuhiraukan karena hujan menyebabkan aku malas keluar rumah mencari rumput untuk ternakku.

Segelintir rokok telah ku hisap hingga putung penghabisan. Secangkir kopi tak mampu membangkitkan semangatku untuk beranjak pergi keluar rumah. Malas dan malas selalu merongrong kekuatanku untuk bangkit. Lambat laun, mata pun dihinggapi rasa berat untuk melek dan memandang rintik gerimis yang menerpa atap-atap rumah tetangga. Semakin lama kekuatan kelopak mata semakin kendor dan slep. Aku tertidur.

Belum lima menit aku membenamkan mata, kulihat gadis manis berpayung hitam melintas di depan rumahku. Dengan rambut panjang terurai yang sedikit basah, ia membetulkan payungnya yang sedikit rusak diterpa angin yang tetiba datang dengan kencang. Bahkan bukan payung gadis itu saja yang rusak tertiup angin, tetapi dapat kulihat lekuk tubuh gadis itu ketika baju yang dikenakannya turut diterpa angin. Dan hatiku pun turut berdegup kencang. Gadis itu menoleh ke arahku. Ia tersenyum tersipu malu.
Senyum gadis itu begitu mempesona. "Siapa dia?" Tanyaku pada diri sendiri.

Lama ku perhatikan, akhirnya timbul rasa iba dari dalam hatiku. Karena lambat laun tubuh gadis itu basah oleh rintik gerimis. Sementara payung yang diperbaiki masih saja belum selesai. Dan hujan pun turun semakin deras. "Berteduh dulu di sini, Non..." Kutawarkan gadis itu untuk berteduh sejenak menunggu hujan reda. Ia menjawab tawaranku dengan senyumnya yang sangat mempesona. "Terima kasih, mas." Jawabnya dengan sedikit membungkukkan badan. Kemudian ia berjalan memasuki halaman rumahku.

"Hujan-hujan gini mau kemana?" Aku kembali bertanya, "kenapa nggak naik motor saja?"

"Mau menyusul bapak di sawah, mas." Jawabnya polos, "motor siapa yang mau dipakai, mas. Aku hanya anak seorang buruh tani. Jangankan motor, sepeda saja aku tak punya."

"Ouwh... Maaf." Aku meminta maaf karena merasa nggak enak telah menanyakan hal semacam itu. Gadis itu kembali menampakkan senyumnya yang membuat jantungku berdegup semakin kencang. "O'iya. Rumah kamu di mana?" Mendengar pertanyaanku, gadis itu terdiam. Ia menundukkan kepala. Aku menjadi merasa bersalah. "Sudah ... nggak usah dipikirkan pertanyaanku tadi. Maaf kalau aku lancang menanyakan hal pribadimu."

"Nggak apa-apa, mas." Lagi-lagi gadis itu menyahut perkataanku dengan senyumnya. "Aku tinggal di kampung seberang jembatan." Ia menjelaskan tempatnya tinggal.

"Aku buatkan teh hangat dulu ya. Supaya rasa dinginnya hilang dan kita ngobrolnya juga semakin hangat."

"Ah, nggak usah, mas. Sebentar lagi hujannya juga reda."

"Mendungnya masih tebal lho. Kamu di sini saja, biar nanti aku yang menyusul ayahmu." Pintaku kepadanya, dan aku menawarkan diri untuk menyusulkan ayahnya. "Di mana ayahmu bekerja?" Tanyaku kemudian.

"Nggak usah, mas. Nanti biar aku susul sendiri saja. Udah dekat kok. Tuch, kelihatan dari sini." Dia menunjuk pada hamparan sawah yang tak jauh dari rumahku. Di situ memang banyak para buruh tani yang sedang bekerja menggarap lahan untuk menanam padi. "Hujannya sudah reda, mas. Aku mau menyusul ayahku dulu." Pamitnya, "Terima kasih tumpangannya berteduh." Gadis itu melangkahkan kakinya menuju halaman rumahku. Aku hanya terdiam dan tak menjawab ucapan terima kasihnya karena masih terpesona dengan kecantikan gadis desa yang lugu itu.*****

Udara masih dingin. Hatiku seperti berselimutkan bunga-bunga yang indah setelah bertemu gadis itu. Namun tak berselang lama, suara yang cetar menggelegar meruntuhkan dinding-dinding hati dan menggugurkan bunga bunga yang indah bermekaran. Bersamaan dengan itu, tubuhku serasa dilemparkan ke tengah lautan yang dalam. Basah dan dingin.
"Gak ndang budal ngarit kono.! Malah enak-enakan turu karo ngguya-ngguyu..!!" Aku gelagapan. Kulihat tangan emakku menenteng timba air. Aku nyengir sambil garuk-garuk kepala. Badanku basah kuyup.

"Ternyata cuma mimpi." Batinku, kemudian aku melihat jam yang menempel di dinding. "Anjriiittt...!!!" Pekikku. Aku terperanjat kaget melihat jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sementara aku belum ngarit.


SELASAI

5 Responses to "Gadis Impian"

  1. He..he.. Keasyikan mimpi jadi telat ngarit ya..
    Hayoo yang baru ketemu kembang desa he..he..!
    Besok-besok kalau ketemu lagi liat dulu punggungnya bolong apa tidak dan satu lagi kakinya nempel ketanah apa tidak!

    Ono ono ae kang mas, wayahe ngarit malah turu he..he..

    BalasHapus
  2. Hahaha...
    Makanya kalau tidur cuci kaki dulu, untung tu airnya sama emak belum diguyurkan di badan.

    BalasHapus
  3. Misterius sekali gadisnya. Yang lebih misterius lagi, om Djack ngarit buat makan kambing, kebo apa sapi? :D

    BalasHapus
  4. efek tidur sore-sore, telat ngarit, ternyata gadis impian memang benar-benar cuma mimpi
    ndang ngarit hehe

    BalasHapus
  5. makannya, jangan terlalu banyak tidur

    BalasHapus