Nenek Misterius

Gambar ilustrasi; Nenek Misterius



Nenek Misterius

Malam itu, udara terasa pengap. Seakan udara berhenti bergerak. Waktu baru menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun tidak seperti biasanya, waktu itu rasa kantuk menyerang hebat. Kelopak mata terasa berat memikul beban yang hanya beberapa helai bulu mata.

Malam satu suro. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan malam satu muharram, atau malam tahun baru islam.
Suatu malam yang menurut sebagian orang, malam satu suro adalah malam yang sakral. Banyak orang yang melakukan tirakat dan berdoa kepada Allah memohon ampunan dan keselamatan.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, setiap malam tahun baru islam, di kampung-kampung banyak yang mengadakan hajatan dan renungan serta doa bersama untuk menyambut tahun baru bagi umat islam. Sehingga kedai-kedai penjual makanan banyak yang sepi. Dan mungkin karena kerjaan sedang sepi itulah, mataku terserang rasa kantuk yang tak tertahankan.




Di tengah-tengah menahan serangan rasa kantuk, seorang nenek-nenek dengan berpakaian seperti orang desa, masuk ke dalam kedai. Ia menyerahkan selembar uang dua ribu rupiah, "Dik, saya pesan makan ya," katanya, seraya menyerahkan uang itu.
Aku terbengong. Harga seporsi makanan sebesar duapuluh ribu rupiah. Sementara nenek itu menyerahkan selembar uang dua ribu rupiah. Lama aku terdiam. "Jualan sedang sepi, ada orang beli tapi uangnya cuma dua ribu." Pikirku saat itu.
Terjadi perang batin yang berkecamuk, menyesakkan rongga-rongga dalam yang penuh dengan berbagai pertanyaan. 'Mau dilayani nanti rugi, tidak dilayani merasa kasihan.'
Hingga nenek itu mengulang kata-katanya, "Dik, saya mau makan. Tolong buatkan makanan. Ini uangnya."

"Uangnya sampeyan bawa saja, Nek," kataku. Aku teringat malam itu adalah malam satu suro. Malam yang sakral. Apalagi yang datang malam itu seorang nenek-nenek dengan mengenakan pakaian seperti itu. Aku jadi merinding.

"Saya ini beli! Bukan meminta-minta!" Suara keras nenek itu membuat mataku yang tadinya mengantuk berat, menjadi terang benderang. Bulu mataku berdiri karena mendengar suara keras dari nenek misterius itu.

"Iya, Nek__uangnya sampeyan simpan saja buat keperluan yang lain," kataku pelan. Aku ikhlas memberi seporsi makanan untuk nenek tersebut tanpa mau menerima uangnya.
Namun nenek misterius itu tetap memaksa dan berkata lebih keras lagi agar aku menerima uang darinya.
Padahal, bukan niatku untuk meremehkan dia dengan tidak mau menerima uangnya. Niatku saat itu hanya ingin bersedekah.

Akhirnya, karena nenek misterius itu tetap memaksaku untuk menerima uang yang ia berikan, aku pun menerima uang dua ribu rupiah itu sebagai pengganti seporsi makanan untuk nenek tersebut.

Belum sempat nenek itu makan, kedai yang aku jaga kedatangan banyak pengunjung. Aku pun menjadi kalang kabut melayani pembeli. Namun anehnya, di antara para pengunjung, sepertinya tidak ada yang melihat keberadaan nenek misterius itu.
Para pengunjung yang kebanyakan orang-orang kaya itu tetap duduk dan makan dengan tenang, meskipun mereka makan bersanding dengan seorang nenek-nenek yang agak aneh. Berpakaian lusuh dan berbicara ngelantur.
Seperti tidak ada apa-apa di samping mereka. Aku dan temanku heran melihat kejadian itu.
Setelah makan usai, nenek misterius itu mengucapkan terima kasih dan pamit untuk pergi.

Karena setelah kedatangan nenek misterius itu kedai yang aku jaga jadi ramai pengunjung, aku tidak sempat memperhatikan kemana nenek itu pergi.
Namun uang dua ribu rupiah dari nenek itu aku sisihkan dan aku simpan (barang kali uang itu berubah jadi daun). Hehehe..
Dan setelah satu bulan, aku lihat uang tersebut. Dan apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan. Selembar uang dua ribu rupiah dari nenek misterius itu tetap berupa uang yang sama. Tidak ada yang berubah. Hehehe...****



Sebenarnya cerita di atas terjadi sudah sejak beberapa tahun silam, bahkan saat itu ngadimin belum memiliki blog.
Tapi entah kenapa, saat ini, saat lagi nggak ada ide dan inspirasi menulis, tiba-tiba kejadian waktu itu kembali muncul dalam ingatan. Jadi ya lebih baik ngadimin bagikan aja. Hehe..

Dan dari kejadian di atas, aku mengambil sebuah kesimpulan;
~ Bahwa tidak seharusnya aku meremehkan seseorang, sekalipun ia seorang pengemis.

~ Bahwa sesuatu yang diberikan dengan niat tulus ikhlas, sekalipun hanya sesuap nasi, akan membawa keberkahan dan menambah rezeki bagi siapa pun yang dengan ikhlas membantu orang yang membutuhkan.

~ Dan bahwa niatan untuk berbuat baik, sekalipun baru sekedar niat, Insya Allah niat untuk berbuat baik itu akan mendapat balasan kebaikan dari Allah SWT."


Sungguh Allah maha pemurah, lagi maha bijaksana.
Meski kebaikan kita tidak langsung terbalas di dunia, namun kebaikan itu akan menjadi pahala yang kelak bisa kita rasakan di kehidupan berikutnya.
Aamiin...


17 Responses to "Nenek Misterius"

  1. Wah tak kira uangnya bisa jadi emas, hehe

    Memang hidup ini jangan pernah meremehkan apa yang kita lihat, karena yang kita lihat buruk belum tentu buruk dan begitu sebaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kira uangnya malah berubah jadi gadis cantik. Hahaha

      Ya, memang begitulah. Jangan sampai kita meremehkan hal sekecil apapun.

      Hapus
  2. Pada akhir cerita aku berharap uang berubah sesuatu gitu haha

    betul sekali niat baik saja sudah dicatat sebagai amal kebaikan, apalagi kalau dibarengi dengan pelaksanaannya, masyaallah .. Tak ada yg luput dari pandangan Yang Maha Kuasa, tak ada ruginya berbagi kebaikan meskipun hanya sebesar biji sawi
    salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya aku juga berharap uang itu berubah jadi putri duyung. Hahaha

      Baru mempunyai niat baik saja sudah dicatat sebagai amal kebaikan. Apalagi dibarengi dengan perbuatan.
      MasyaAllah sungguh Allah maha pemurah lagi maha bijaksana.

      Salam..

      Hapus
  3. om djack pikirannya udah horror aja sih....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenarnya bukan cuma pikirannya aja yg horor, Non... Tapi orangnya juga horor. Haha

      Hapus
  4. Balasan
    1. Bukan ceritanya aja kok yg misterius. Penulisnya juga misterius. Wkwkwkwk

      Hapus
  5. Ya betul sekali, kebaikan yang tanpa pamrih walau kecil akan mengundang kebaikan yang lebih besar, salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kunjungannya, Om..
      Salam kenal balik.

      Benar, Om. Kebaikan yang dilakukan dg ikhlas, Insya Allah juga akan mendatangkan pahala bagi kita.

      Hapus
  6. Bisa jadi uang keberuntungan tuh,!
    Gak nyangka ya kang djack bergaul juga dengan nenek-nenek.. Salut ??!! 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Ya begitu lah, Mas. Saya memang suka bergaul sama orang2 sepuh.
      Tapi aku nggak menggauli lho ya.... :-D

      Hapus
  7. haha. ternyata uangnya tetap sama 2 rb. kalau jadi 1 milyar jadi wow. eh, tapi itu mistis. haha.

    kalau ada pengemis aku sering takut apalagi aku di rumah sendiri.

    jaman sekarang banyak orang yang masih mampu kerja tpi eh milih jadi pengemis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau jadi 1 miliar malah takut dirampok, mas. Hahaha

      Kalau aku sih nggak takut, mas, sama pengemis. Tapi kalau pengemisnya masih mampu kerja, biasanya nggak aku kasih. Hehe

      Hapus
  8. Dasar wong njowo sih yo, wis kebiasaan! Apalagi malem siji suro enek tamu mbah-mbah.. ah wis iki bakal menuju filsafat horroisme hahahahaha

    Saya kira tadi nenek-nenek itu bakal berucap "Bang bokirrr.. beli nasinya bang.. hihihihi"

    Namun pada akhirnya, simbah tersebut hanyalah kebetulan makan di kedai sampean, bukan berarti berkat simbah itu kedai sampean jadi ramai...

    Memang benar, kalau Gusti Allah sudah berkehendak "Kun Fayakun" maka jadilah..

    Kui kabeh rejeki mas, ojo dikaitkan mergo malem siji suro...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... nggih, mbah... saya memang nggak mengaitkan rezeki yang saya terima itu berkat mbah2 yg datang di malem siji suro. Melainkan hanya mengambil hikmah dari sebuah keikhlasan dan niat kebaikan saja kok...
      Jangan marah ya, mbah... hahahaha

      Hapus
  9. Masih bergaul sama nenek2 ya, tak kira sudah pindah posting menjadi perawan desa gitu 😂😁

    BalasHapus