Twilight in a Train


Twilight in a Train

Oleh :   Djacka Artub
Tema : Love Story
Jenis:   Fiksi


Senja di kala itu ...
Melalui celah jendela kereta, kunikmati pemandangan indah di saat kereta yang aku tumpangi melewati areal perkebunan di desa-desa Provinsi Gyeongsang Utara, dalam perjalananku menuju sebuah kota kecil di negeri yang terkenal dengan sebutan negeri gingseng itu.
Hijaunya dedaunan di pinggir rel kereta dan juga bunga-bunga mawar berwarna merah darah (dunia kerap menyebutnya cleopatra rose), mekar di bukit-bukit di kawasan Daehanri Wachonmyun.

Suasana hati terasa sejuk setelah seharian di penuhi kepenatan dengan hiruk pikuk kehidupan di perkotaan besar.
Langit semakin memerah, matahari pun hampir tenggelam ke peraduannya, dan burung-burung berterbangan untuk kembali ke sarang.

"Subhanallah ... Sungguh indah alam pedesaan ini." Gumamku.
Maklum, sudah lima tahun aku belum pulang ke kampung halaman, semenjak aku merantau ke luar negeri. Sehingga saat kereta yang aku tumpangi melewati pedesaan itu, hatiku semakin rindu akan pesona alam desaku. Dan hal itu membuatku ingin segera pulang untuk berkumpul bersama keluarga.

Tanpa kusadari, ketika aku menoleh kekanan ternyata ada keindahan lain karunia Tuhan.
Ya. Seorang gadis berparas ayu, tersenyum tipis saat aku menoleh ke arahnya. Sepertinya ia telah memperhatikan lamunanku sedari tadi.
Aku pun segera berpaling lagi ke arah jendela kereta untuk menikmati indahnya senja di sore itu. Namun belum lama aku menikmati pemandangan itu, aku di kagetkan dengan sapaan lembut seorang wanita. "Where are you from?" Sapa seorang gadis yang belum pernah aku temui sebelumnya itu.

"Indonesia. and you?"

"I am also from Indonesia." Selanjutnya gadis itu melanjutkan percakapan dengan berbahasa Indonesia. "Maaf,__ Bolehkah aku ikut menikmati pemandangan alamnya di sini?" Katanya dengan menunjuk bangku kosong di depanku.

"Ohh silahkan, Non." aku pun segera mempersilahkannya. Dan aku kembali menatap ke arah luar kereta, seakan-akan tak memperdulikan kehadiran gadis itu di hadapanku.

"Pemandangan senja di tempat ini sangat indah ya, mas."

"Iya. Aku suka melihat pemandangan alam pedesaan seperti ini." jawabku.

"Emmm ... mungkin ada kenangan indah di waktu senja yang tak terlupakan ya? Atau ...?" ia menahan kata-katanya.

"Sampeyan ini ada-ada saja, Non."

"Aku perhatikan dari tadi, pandangan kamu terhadap senja seperti menyimpan sesuatu. Mungkin ada sesuatu yang membuat mas terkenang dengan langit senja."

"Ya, begitulah. Aku teringat kenangan indah alam desa yang telah aku tinggalkan beberapa tahun yang lalu."

"Ouwh ... Memangnya sudah berapa tahun mas gak pulang ke indonesia?" Cerca gadis itu bak seorang polisi yang menginterogasi tersangka.

"Ya, lumayan. Sudah sekitar lima tahun." jawabku, yang kemudian aku pun bertanya balik. "Kamu sendiri sudah berapa lama di sini?"

"Baru beberapa minggu, mas. Aku di sini karena mengikuti program student exchange. Mungkin juga gak lama aku di sini." jawabnya.

Setelah kami ngobrol lama, tanpa terasa kami pun sampai juga di stasiun kereta. Dan kami berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.

Setelah aku sampai di tempat tujuanku, aku baru tersadar kalau ada sesuatu yg terlupa saat aku asyik ngobrol dengan gadis berparas ayu itu. "Yahh... Aku lupa tanya nama gadis itu." sesalku. Sampai larut malam, aku tak bisa memejamkan mata. Aku masih teringat dengan raut wajahnya yang sederhana namun begitu mempesona. "Apakah ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama?" kututup wajahku dengan bantal agar aku dapat memejamkan mata dan bayangan wajah gadis itu tak selalu menjelma di pelupuk mata.
Dan Entah kenapa, meski sudah kupaksakan mataku agar terpejam, setelah pertemuan tadi mataku sulit untuk kupejamkan. Bayangan keanggunan wajahnya engan memudar dalam ingatan.

•••••••

Satu tahun berlalu...
Aku pun tak lagi bertemu dengan gadis yang ku temui di sebuah kereta pada waktu senja kala itu.
Dan kini, enam tahun sudah aku bekerja di luar negeri. Aku pun ingin pulang ke kampung halamanku karena kerinduan pada keluarga sudah tak bisa di tahan lagi.

**

Pagi itu tepat pukul 06:30. Aku kembali menginjakkan kaki di negeri tercintaku. Meski aku berasal dari Jawa Timur, tapi entah kenapa aku tidak langsung naik pesawat dengan tujuan bandara juanda, melainkan pesawat dengan tujuan bandara international Soekarno Hatta Jakarta. Dari bandara aku langsung menuju ke stasiun kereta untuk melanjutkan perjalananku kembali ke kampung halaman di Jawa Timur. Namun kereta yang harus aku tumpangi baru saja berangkat. Dan aku pun terpaksa harus membeli tiket kereta kedua, tetapi aku hanya bisa melakukan perjalanan sampai kota Yogyakarta. Kemudian baru melanjutkan ke surabaya.

Tepat pukul 16:30, atau setengah lima sore, kereta yang aku tumpangi sampai di salah satu stasiun kereta di Yogyakarta. Sebelum kereta yang aku tumpangi berangkat ke surabaya, tiba-tiba sesosok gadis berkerudung berjalan di sampingku. Dan tanpa sengaja tangannya menabrak bahuku.

"Maaf, mas. Saya tidak sengaja." Ia minta maaf. Terlihat agak takut.

"Nggak apa-apa, Non." jawabku singkat.

Kami pun saling berpandangan. Dan ... Iya. Dia lah gadis yang selalu terbayang di pikiranku saat pertama kali aku bertemu dengannya di dalam kereta pada waktu senja di korea itu.
Dan kisah pertemuan tanpa sengaja itu terulang kembali saat aku naik kereta dalam perjalananku menuju kampung halaman. Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan dia.

Airin. Itulah nama gadis yang sangat aku kagumi saat pertama kali bertemu dengannya.
Gadis Jogja yang polos dan anggun, yang membuatku selalu terbayang dengan pesonanya. Saat itu ia berkata akan menjenguk neneknya yang ada di kota surabaya.

Pukul 21:00, Kereta yang aku tumpangi tiba di stasiun pasar turi surabaya. Kami pun harus berpisah kembali di stasiun, seperti kejadian waktu pertemuan di korea saat itu. Kami melanjutkan perjalanan masing-masing.
Airin sudah hilang dari pandanganku. Taksi yang ia tumpangi pun sudah tak nampak lagi saat belok di persimpangan. Sementara aku masih tertegun di tempatku berdiri. Terbayang pesona paras Ayu seorang gadis yang kutemui untuk kedua kalinya.

"Ah...!!" kubuang hayalanku. Dan di saat aku akan melangkah, kulihat di bawah kakiku ada benda segi empat yang tergeletak di tanah. Kuraih dan kubuka secara perlahan, dan ternyata itu adalah Diary milik Airin.
Karena takut kemalaman, aku segera memasukkan Diary itu kedalam tasku.

•••••••

Dua minggu berada di rumah. Mungkin karena aku terlalu sibuk bercengkarama bersama keluarga dan berkunjung ke rumah sahabat maupun kerabat di kampung untuk melepas kangen, sehingga aku lupa dengan sebuah Diary yang tersimpan di dalam tasku.
Malam itu, ku coba membuka Diary itu dan betapa aku tak percaya dengan sebuah catatan yang aku baca saat itu..


Love stories 'Twilight in a Train...'

Kisah indah yang paling mengesankan dalam hidupku.
Keindahan yang akan selalu menjadi kenangan hidupku.
Wajah indah pemandangan alam,

semakin indah terpadu dengan sesosok wajah yang aku temui dalam sebuah kereta senja,...." Isi diary itu membuatku kembali teringat dengan sosok wajah pemiliknya.
**

Pagi hari, Ayah dan ibu tiba-tiba mengajakku pergi ke Yogyakarta untuk menemui kerabat yang di sana. Karena sudah lama tak kesana, dan kali ini ayah dan ibu mengajak aku kerumah paman yang ada di kota Yogyakarta. Aku pun dengan senang hati menyetujui ajakan kedua orang tuaku, sekaligus aku ingin mencari tempat tinggal Airin sesuai alamat yang tercantum dalam Diary nya.

"Tumben, kamu senang sekali di ajak bepergian, Ar?" kata ibuku.

"Karena kali ini tujuannya tempat yang sangat aku suka, Bu." jawabku sambil mengumbar tersenyum ke ayah. Ayahku pun membalas senyumku.

Sesuai hari yang telah ditentukan, kami pun berangkat dengan menggunakan angkutan kereta api. Entah kenapa, aku menjadi lebih suka bepergian menggunakan jasa angkutan kereta api. Padahal sebelumnya aku lebih suka naik bus.
Menjelang sore hari, sampailah kami di Stasiun Tugu Ngayogyakarta. atau lebih dikenal dengan sebutan stasiun tugu. Salah satu stasiun yang ada di Yogyakarta.
Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Tanpa susah-susah mencari alamat Airin di Yogyakarta, akhirnya aku bertemu dengan seorang gadis yang selalu membayang di pikiranku itu.

"Airin...." sapaku mengagetkannya.

"Lho, mas Arya... Kok mas Arya bisa ada di sini?" tanya Airin.

"Aku mau berkunjung kerumah paman. Kebetulan aku mempuyai seorang paman juga di sini." jawabku.

Setelah sekian lama ngobrol, dan aku perkenalkan juga Airin sama orang tuaku, akhirnya kami sepakat untuk jalan-jalan terlebih dahulu menikmati indahnya kota jogjakarta. Kebetulan juga rumah Airin pun tak jauh dari rumah pamanku. Dan kami pun jalan-jalan bareng, yang kemudian setelah itu baru ke rumah paman. Dan Airin pun pulang bersama kami.

Keesokan harinya aku dan kedua orang tuaku sengaja berkunjung ke rumah Airin dan di sambut baik oleh keluarganya. Saat itu juga di depan orang tuaku dan orang tua Airin, aku mengutarakan isi hatiku ke Airin.
Airin pun menerima cintaku di depan kedua orang tua kami masing-masing. Dan kedua orang tua kami pun menyetujuinya. Pada saat itu juga, aku meminta orang tuaku untuk melamarkan Airin untuk menjadi pendamping hidupku. Dan kedua orang tua Airin pun menerima lamaran itu.

*******


Simak kisah yang akan tayang selanjutnya di;





Twilight in a Train 2

(Tragedi Gaun Pengantin)


"Bagaimana kabar keluarga di Jogja, Bu?" Dalam perjalanan, aku baru menanyakan keadaan di Jogja sama Ibu. Ayah yang duduk di bangku depan menghela nafas panjang mendengar pertanyaanku pada Ibu.


"Kami belum mengetahui kabar keluarga pamanmu, dan juga kabar Airin di Jogja, Ar." Ayah menjawab pertanyaan yang aku lontarkan pada Ibu. "Kami menunggu kamu pulang, Ar. Nanti kita berangkat ke Jogja bersama untuk melihat keadaan disana." Ibuku melanjutkan kata-kata Ayahku.

8 Responses to "Twilight in a Train"

  1. waduh..,..pake episode berikutnya lagi, padahal sudah terlena membacanya,...hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha... Mau aku posting semua sudah pegel nulisnya, mas. 😂😂😂😂

      Hapus
  2. Kalau lihat tingkah lakunya, kayaknya si Airin ini gadis desa yang masih polos ya mas..,hehe


    Aku iki ilat jowo di kon moco "Daehanri Wachonmyun" yo kangelan tho mas.., wkwkwk.!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... Aku dewe yo mogap magep moco tulisan 'Daehanri Wachonmyun' kok, mas. 😂😂😂😂

      Airin dulu memang sangat polos, mas. Tapi sekarang aku gak tahu lagi kabarnya gimana.
      Ah,... Malah kelingan bocahe ngene iki. Hikz... 😭😭😭😭😭😭

      Hapus
  3. Ternyata si Non itu bernama Airin tetangga paman di Jogja
    Isi hati telah diungkapkan, lamaran telah diterima
    lalu ada apa dengan gaun pengantin?
    Apakah sang desainer membawa kabur Airin si mempelai wanita?
    oh bukan, tunggu saja episode yang akan datang, jangan lupa tiket terbatas hehe ...,
    penasaran Kang Djaka nih bikin cerita separo-separo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Penasaran dg bab selanjutnya ya? Nantikan aja kisah selanjutnya setelah pesan-pesan berikut ini. 😀😀😀😀

      Hapus
  4. pertemuan pertama di korea pake bhs inggris dilanjut bhs indo, nampaknya langsung kenal akrab ya mas? hehe.

    BalasHapus