Polwan Cantik nan HuManis

Polwan Cantik nan HuManis
Oleh: Djacka Artub
Kategori : Fiksi



Pagi selepas subuh, agar tak terlambat sampai di tempat kerja, seperti biasa aku berangkat sangat pagi-pagi sekali karena memang tempat kerjaku berada di luar kota. Namun mungkin saja karena semalam habis begadang, saat berangkat kerja mataku masih terasa sepet. Semalam aku hanya dapat memejamkan mata kurang lebih satu setengah jam.
Setelah selesai sholat subuh, aku pun segera bersiap berangkat kerja. Baru beberapa kilometer perjalanan dari rumah, rasanya aku tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan karena jalan raya yang aku lalui terlihat sangat sempit. Aku pun menyadari kalau sebenarnya bukan jalannya yang sempit, tetapi mataku yang agak kriyip-kriyip karena ngantuk.

Di jalur pantura kota Tuban, aku memperlambat laju motor yang kukendarai. Sesekali aku melirik ke kanan dan kiri jalan raya. Barangkali ada warung kopi yang buka. Namun tak kutemui warung kopi yang sudah buka di pagi itu. Sesampai di gerdu laut Tuban, kulihat seorang bapak-bapak yang mulai membuka lapak jualannya. Aku menepikan motorku. "Di dekat sini ada warung kopi di mana ya, pak?" sapaku pada bapak itu. "Di sini jual kopi, mas. Tapi ya maaf, baru buka." jawab bapak tersebut sambil merapikan meja tempatnya berjualan. Karena mata sudah tak kuat lagi untuk menuntunku dalam perjalanan, aku putuskan untuk menunggu bapak penjual kopi itu siap melayani pelanggan, sambil menikmati panorama jingga matahari terbit di atas samudera laut Tuban.

Setengah jam kemudian, secangkir kopi telah siap tersaji di depanku. Aroma kopi hitam pun menyentuh rongga indera penciumku. Menjalar pada nalar untuk segera mencicipi nikmatnya kopi hitam di pagi yang cerah. Sedikit demi sedikit, nikmat rasa kopi membasahi indera perasa serta kerongkongan. Dan penglihatanku yang kabur pun mulai terasa terang.  Sesekali aku membuka obrolan dengan bapak penjual kopi itu tentang usahanya berjualan di trotoar pinggir jalan raya.

Sambil menikmati secangkir kopi, di seberang jalan kulihat seorang nenek-nenek ingin menyeberang jalan. Setiap orang yang lewat terlihat acuh dengan nenek tersebut. Baru saja aku ingin beranjak bermaksud untuk menghampirinya, sebuah motor matic berhenti di samping nenek tersebut. Seorang wanita cantik terlihat mempesona setelah ia membuka helm. Wanita itu segera menggandeng tangan nenek tersebut dan menuntunnya berjalan perlahan menyeberangi jalan raya. "Sempurna..." Batinku saat itu. "Udah cantik, baik pula."
Dan setelah membantu nenek-nenek untuk menyeberang jalan, wanita itu kembali mengendarai motor maticnya dan sebentar kemudian sudah lenyap dari pandanganku.


Waktu terus bergulir. Dan tanpa sadar, "Sadubilah..!!" Mataku terbelalak melihat jarum jam di pergelangan tanganku. Ternyata sudah pukul 06:30. Aku segera membayar kopi yang telah kunikmati. "Ngalamat bakal kena omeng lagi ini." batinku, dan setelah membayar kopi, aku segera memacu motorku. Dan ketika sampai di alun-alun kota Tuban, sebuah suara menghentikanku. "PRIIITTT....!" Aku pun menepikan motor. Seorang wanita cantik yang tadi aku lihat sedang menuntun nenek-nenek untuk menyeberang jalan, ia berjalan menghampiriku. Namun dengan gaya yang berbeda. Tak lagi memakai jaket seperti yang tadi kulihat, tetapi berseragam. "Selamat pagi, pak." Sapanya dengan penuh hormat. Aku pun menganggukkan kepala, "Selamat pagi, Bu."

"Apes." Batinku, dan hati pun ndredheg dag dig dug, karena dihentikan oleh polwan.

"Bapak mau pergi kemana?" Dengan hormat dan wibawanya, polwan cantik itu bertanya tujuan perjalananku. "Mau ke Surabaya, Bu." Aku pun menjawab dengan hati yang masih agak ndredheg.

"Bapak tahu, kenapa saya menghentikan perjalanan bapak?"

"Tidak, Bu. Memang salah saya apa ya, Bu?" Aku bertanya, tak tahu menahu perihal sebab kesalahan hingga aku dihentikan saat mengendarai motor.

"Bapak memakai helmnya sudah benar?" Seketika aku memegang helm yang aku kenakan setelah polwan cantik itu bertanya. Aku baru tersadar jika aku belum mengunci tali pengait helm karena terburu-buru. "Demi keselamatan bapak, gunakanlah helm yang benar saat mengendarai motor." lanjutnya sambil membantu mengaitkan dan mengunci tali helmku hingga terdengar bunyi 'KLIK'.

"Maaf ya, Bu. Tadi saya terburu-buru. Takut terlambat sampai di tempat kerja."

"Ya sudah,... Lain kali periksa kelengkapan kendaraan bermotor sebelum bepergian. Dan jangan lupa gunakanlah helm sesuai standart yang telah ditentukan."

"Nggih, Bu." jawabku, kemudian polwan cantik itu mempersilahkanku untuk melanjutkan perjalanan setelah aku menggunakan helm. "Ah, untung tidak kena tilang." gumamku setelah perlahan motorku berjalan.

Dalam perjalanan, aku masih terpikir dengan kejadian yang baru saja kualami. Bertemu seorang polwan cantik, dan baik hati pula. Awalnya, aku melihatnya membantu nenek-nenek yang mau menyeberang jalan. Kemudian aku pun diperingatkan dan dibantu setelah dihentikan olehnya karena aku lupa mengunci tali pengait helm. Bahkan sampai di tempat kerja 'pun, aku masih teringat atas kebaikan dari seorang polwan cantik nan huManis, yang baru saja aku temui. Pikiranku tentang ke-garang-an seorang polisi pun berbalik. Ternyata seorang polisi itu tidak sepenuhnya seperti yang aku bayangkan. Garang dan galak. Tapi juga harus melihat dulu siapa yang dihadapi. Jika menghadapi seorang penjahat, mungkin saja memang terkesan garang dan sangat tegas.
'Ah,... Kenapa aku masih saja terbayang oleh kebaikan dan kecantikan polwan tadi ya? Eh'hemmm...' 
***


Hari-hari berlalu, dan waktu pun terus berjalan. Aku sudah mulai melupakan peristiwa ketika bertemu dengan polwan cantik itu. Di akhir pekan, aku sengaja pulang lebih awal untuk menghindari kemacetan. Sesampai di jalur pantura kota Tuban, kulepas rasa penat dengan menikmati secangkir kopi bikinan mbok Darmi, penjual kopi di sisi jalan raya pantura. Seteguk demi seteguk, cairan berwana hitam yang beraroma itu membasahi kerongkonganku. Secangkir kopi pun tinggal seperempat cangkir. Dan sebentar lagi aku akan melanjutkan perjalanan ke rumah setelah sisa kopi yang tinggal seperempat itu sampai di titik penghabisan.

Gelak tawa masih mewarnai keguyuban para pengunjung warung kopi mbok Darmi. Kepulan asap rokok pun memenuhi ruangan warung kopi yang terdapat di sisi jalur pantura itu. Sebuah mobil patroli yang melintas, tetiba berhenti di seberang jalan. Dua orang berseragam polisi turun dari mobil itu. Satu seorang polwan, dan satunya lagi seorang perwira polisi. Dan seorang polisi lagi masih duduk di belakang kemudi, terlihat juga akan turun dari mobil patroli yang dikemudikannya. Semua orang yang ada di warung kopi itu terdiam dari gelak tawanya. Pandangan mata mereka tertuju pada seorang polwan cantik dan pak polisi yang berjalan menuju ke arah kami. Aku tertegun, mengingat-ingat sesosok wanita cantik yang berseragam polisi itu. "Sepertinya aku pernah melihat beliau" gumamku.

"Modyar aku saiki." Keluhku, dengan kedua tangan menyangga kening. Aku menunduk. Sementara kedua siku tanganku bertumpu pada meja warung kopi. Kulihat polwan cantik itu mencabut kunci kontak motorku dan memperhatikan plat nomornya. "Ini motor milik siapa?" Tanya polwan itu dengan mengacungkan kunci kontak motorku. Aku terdiam. Salah seorang pengunjung warung kopi menunjuk ke arahku. "Punya dia, Bu." Katanya.
Polwan cantik itu berjalan ke arahku. Gemuruh hatiku ndredheg tak karuan. Sama seperti saat pertama kali aku bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu. Berdiri ia di samping tempat dudukku. "Ini benar motor bapak?" tanyanya.


"I-iya, Bu." jawabku menahan gejolak hati yang bergetar ndredheg.

"Sudah berapa kali bapak berbuat kesalahan?" cercanya kepadaku. Aku terdiam. Bingung atas pertanyaannya.

"Ke,..kesalahan apa ya, Bu?"

"Kelalaian yang dapat berakibat fatal. Yang membahayakan keselamatan dan dapat menyebabkan kerugian." jelasnya. Aku terdiam. Rupanya polwan cantik itu masih ingat denganku saat memakai helm tidak mengunci tali pengait pada waktu itu. Dan saat ini aku telah melakukan kesalahan lagi dengan tidak mencabut kunci kontak saat memarkir motor. "Hehe... Iya, Bu. Saya mengaku salah. Saya lupa." Setelah aku mengakui kesalahanku, polwan itu memberikan kunci kontak motorku.

"Bapak-bapak,... lain kali kalau memarkir kendaraan, kunci kontaknya jangan ditinggal seperti yang dilakukan bapak ini tadi." Beliau menujukku sebagai contoh. "Dan jangan lupa untuk mengunci setir, demi keamanan kendaraan bapak-bapak semua." Ujar Seorang perwira polisi yang mendampingi polwan saat berpatroli itu turut menghimbau kami agar selalu menjaga keamanan. "Ingat,... Kejahatan ada di mana-mana dan sedang mengintai mangsanya." lanjutnya menambahkan. Kami mengangguk-angguk mendengarkan himbauan bapak polisi yang menghampiri kami yang sedang menikmati secangkir kopi. Dan setelah memberikan himbauan dan penjelasan, ketiga polisi itu melanjutkan perjalanan, berpatroli untuk menjaga keamanan dan ketertiban umum.
****




Terima Kasih, bapak dan ibu polisi yang humanis. Yang memasyarakat, mengayomi, menciptakan suasana aman dan nyaman, serta menjalin komunikasi yang harmonis dengan masyarakat.

18 Responses to "Polwan Cantik nan HuManis"

  1. Cie yang terus memperhatikan si cantik sampai lupa memakai helm dengan benar dan terkesima hingga lupa pula mencabut kontak motornya

    Besok-besok hati-hatinya
    pesonamu membuat hatimu di tilang olehnya hehe ....

    kopi kopi mana kopinya haha ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan di tilang. Dipenjarakan dalam hatinya pun, aku mau. Hahahha

      *Mau pakai gambarnya mbak pol cantik nggak berani. Jadi ya, cuma gambar kertas. Wkwkwkwk

      Hapus
    2. nggak berani piye toh? Katanya mau dipenjarakan dalam hatinya
      haha

      Hapus
  2. istri idaman itu mas, udah cantik luarnya eh hatinya juga cantik. susah nyari yang seperti itu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Iya, mas.. Untuk mencari istri yang cantik luar dalam itu sangat susah sekarang. :D

      Hapus
    2. Bener nih, jadi gak sembarangan milih ya, Mas, selain cantik, agama dan akhlaknya juga perlu diperhatikan :)

      Hapus
  3. Itu polisinya baik sekali ya, sudah helm sudah kunci, Ah bikin saya jatuh cinta saja. Kang admin punya nomor telephonnya kagak? siapa tau dia masih perawan, mau saya nikahi gitu. ya, ibarat kata, saya bisa numpang hidup gitulah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... Bener nih, Kang Bumi mau nikahin? Saya ada kok, nomer hpnya. Tapi cuma buat saya aja. Tidak boleh disebar ke sembarang orang. 😂😂😂😂

      Hapus
  4. Paling gampang nembak polwan itu kang, begitu ada gelagat kita mau nembak dia sudah lebih duluan tau dan bisa jadi dia yang nembak kita duluan, keren gak tuh kita bisa cerita ke orang-orang kalau telah di tembak polwan.. Hihii tapi untung ngga kena tilang ya kang, selamat deh untung banyak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti pernah ditembak sama mbak pol nih. Hahaha

      Kalaupun ditilang, aku rwla kok, kang. Bahkan dipenjarakan dalam hatinya pun aku mau. Wkwkwkkwkk

      Hapus
  5. ayo... kalau udah 3x kepergok, bisa jatuh cinta tuh. hehe
    Diaderah ku sayang gak ada polwan yang bertugas di lantas. Ya terkesannya polisinya galak galak.
    Malah pengalaman pribadi, aku pernah dikejar sama pak polisi pake motor, karena aku nggak menuruti perintah nya untuk berhenti. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba saat itu yg nyuruh berhenti mbak polwan cantik. Pasti langsung berhenti. Hahhaa

      Hapus
  6. wah, tempat kerjanya sampaaei di luar kota? jarang aku liat kejadian kaya gini . ini ngelaju, kang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas. Kerjaku di luar kota. Tapi cerita di atas bukan kisah nyata yg pernah aku alami sih,.. Itu hanyalah fiksi belaka. Hehe

      Hapus
  7. Wew, kalau polwan seperti itu mungkin banyak yang ketagihan pingin ditilang ya kang..😂

    Ada satu kesalahan lagi yang dibuat kang Djacka..??😱😰

    Pasti lupa minta no teleponnya ya kang..🙋😝

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... Kang Bim tau aja, kalau aku gak sempat minta nomer hpnya. Takut ditilang soalnya. Hahaha

      Hapus
  8. Mbak Polwan, tilanglah daku, kau kutangkap.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.... Berani? 😂😂😂😂

      Hapus