Misteri Gadis Pinus

Mistery Gadis Pinus
Oleh        : Djacka Artub
Kategori : Fiksi

    "Di mana 'May'?" Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, dan yang lainnya tampak duduk di sampingku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.**

    Aku benar-benar tidak menyangka jika kepergianku untuk berpetualang mengikuti teman-temanku, membawa kisah yang tak akan pernah kulupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku bertemu dengan sesosok gadis yang dulu pernah kukenal.
May, gadis berkacamata minus yang dulu kukenal ketika dirinya sedang mengisi liburan dengan berkunjung ke rumah Pak Dhe-nya, membuatku terpesona pada pandangan pertama di saat ia tersenyum dan menampakkan gingsul pada ujung giginya.

    Setelah sekian lama terpisah, kini aku bertemu kembali dengan May. Dalam pertemuan yang tak terencana, Aku dan May mengulang kembali kisah lama. Kisah indah duduk berdua di galengan sawah sambil memandang layang-layang yang melambung mengudara di angkasa. Walau saat itu kami hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang oleh kemarau panjang, namun kenangan itu tak pernah hilang dari ingatanku.

    Pada pertemuan kedua kali ini suasana terasa lebih indah dan mengesankan dari kisah yang sebelumnya. Tak hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang seperti yang dulu, tetapi aku dan May bermain layang-layang di sebuah tanah lapang dengan rerumput hijau di padang yang luas. Kembang-kembang ilalang yang putih berseri tampak melambai manyapa kami yang duduk di sebuah bangku kecil yang dikelilingi bunga-bunga indah bermekaran. Menarik-ulur benang layang-layang di antara kupu-kupu yang beterbangan di antara kembang, membuat kisah perjumpaan semakin mengesankan.

    "Lihat, Mas Rey!" lentik jemari indah menunjuk sebuah danau kecil dengan airnya yang menghijau. Angsa Angsa putih berenang-renang di tengahnya. "Ayo, kita ke sana." Ajak May, seraya menarik tanganku.

    Berlari berkejaran di padang rumput, berjalan bergandeng tangan di tepian danau, May terlihat anggun dengan gaun putih yang dikenakannya. Rambut hitamnya yang panjang terurai tersapu angin membuatku takjub memandangnya. Parasnya yang cantik menenggelamkanku dalam lautan asmara yang begitu dalam.

    Tak terasa, langit senja datang menyapa. May mengajakku kembali ke rumahnya yang tak jauh dari danau tempat kami menikmati keindahan alam. Kami berjalan menyusuri lekuk-lekuk indah galengan sawah yang terhampar di lereng perbukitan. Lekuk-lekuk pematang yang terhubung dengan jalan setapak di antara hamparan padi yang menguning di areal persawahan itu menampakkan pesonanya tersendiri sebagai anugerah keindahan alam. Suara suling gembala mengalun syahdu, menggiring kerbau-kerbau untuk pulang ke kandang.

    Langit tampak semakin memerah. May berlari gesit menapaki galengan menuju saung yang berada di ujung perpetakan sawah. Aku berlari mengikutinya masuk ke dalam pondok kecil sebagai tempat peristirahatan para petani itu. Namun tak kutemui May di dalamnya. Suasana gelap pun menghampiri. Suara suling gembala yang terdengar syahdu, berganti cericit kelelawar yang beterbangan di antara rerimbun dedaunan. Lekuk-lekuk galengan sawah pun berubah menjadi tonggak-tonggak runcing di antara pohon pinus yang berjajar. Padang rumput dengan putih bunga-bunga ilalang, serta danau dengan angsa putihnya berubah menjadi semak belukar.

    Malam kian merayap. Rembulan masih menampakkan kilau cahayanya di atas pucuk pinus. Terlelap semua kehidupan yang ada di dunia dan cakrawala luas. Kecuali, bias cahaya rembulan yang memintalkan benang-benang kilau redupnya menyinari alam persada. Sepoi angin malam menjalar menerobos di keheningan. Kemeresek suara dedaun kering yang tertiup angin menimbulkan gaduh pada jangkrik-jangkrik yang terlelap dalam tidurnya.

    Dalam kebingungan, lamat-lamat kudengar suara seseorang yang sepertinya sudah kukenal. "Lebih baik kita istirahat terlebih dulu." Ia bersaran pada yang lain. Aku mencoba mencari sumber suara, "Besok pagi kita lanjutkan mencari Rey." kulihat Nafa duduk bersandar pada batang pohon pinus. Ia terlihat sangat letih.

    "Lebih baik kita temukan Rey terlebih dulu." Kudengar pula, Jeni membantahnya.
    "Sudah tahu Rey baru pertama kali ikut berpetualang. Kenapa kamu tidak menjaganya?" Aku pun mendengar suara Anis yang memojokkan Jeni.
    "Sudah, sudah! Ini tanggung jawab kita semua!" Kang Joyo menengahi dan menyetujui saran Nafa untuk melepas lelah. "Kita istirahat dulu. Nanti selepas subuh, kita mulai lagi pencarian."
   "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rey?" Whini sangat khawatir.
     "Kita berdoa saja, semoga tak terjadi apa-apa sama Rey." Kang Joyo menjawab kekhawatiran Whini.

    Kudengar dengan jelas percakapan teman-temanku dan aku pun juga dapat melihat mereka dengan jelas. Namun seakan mulutku terkunci untuk menyapanya. Aku mondar-mandir mencari celah untuk keluar dari dalam gubuk reyot yang hampir roboh.
Seperti tertutup tirai, semua teman-temanku tak ada yang dapat melihat keberadaanku. Padahal, jarak kami hanya terpisah sekira sepuluh langkah. Dan aku pun dapat melihat dan mendengar percakapan mereka dengan jelas.**

    Cericit burung bernyanyi riang di atas ranting dan dahan. Sayup kedengar suara seseorang memanggil-manggil namaku, "Rey, bangun, Rey." tubuhku terasa terguncang. Cahaya putih yang menyilaukan menerpa seisi alam, menerobos celah-celah dedaunan dan menempa wajahku. "Di mana 'May'?" Aku terbelalak pelengakan melihat ke sekitar. Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, Whini, dan yang lainnya tampak duduk mengitariku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.
    "May? Siapa 'May' ?" Tanya Whini. Terlihat gurat kekecewaan di wajahnya.
    "Sudah, nanti saja dijelaskan." Kang Joyo menenangkan.
    "Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nafa,
     "Kita pulang." Ucap Kang Joyo singkat.
    "Pulang?" terlihat ketidakpuasan dari Anis.
     "Ya, kita pulang saja." Jeni menimpali.
    Setelah sepenuhnya sadar, aku melihat keadaan di sekitar. Gubuk reyot tempatku terjebak semalam tak ada di tempat itu. Hanya sebatang pohon besar yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan berakar yang tampak merimbun.**

    Niat ingin ikut berpetualang untuk mencari susana lain dalam hidup, melakukan kegiatan travelling untuk mencari tantangan dan kesenangan, namun yang kudapatkan pengalaman yang membuat kepanikan. Akhirnya kami sepakat untuk pulang daripada nanti terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

    Matahari telah condong ke arah barat. Kami berjalan menyusuri turunan jalan setapak di antara pohon-pohon pinus. Kang Joyo berjalan paling depan yang kemudian disusul Anis, Nafa, Whini, dan Jeni. Aku sendiri berjalan paling belakang. Aku masih memikirkan kejadian yang telah kualami. Masih terbayang wajah May yang ku temui, dan kami mengulang kembali kenangan lama bermain layang-layang di padang yang luas di tepian danau. Dan juga tiba-tiba May yang kujumpai kembali itu lenyap dan aku terperangkap dalam gubuk reyot. Namun setelah aku ditemukan oleh teman-tamanku dalam keadaan tak sadarkan diri, gubuk reyot itu pun tak ada.

    Siang perlahan berganti senja. Di antara iring-iringan kami menuruni lereng perbukitan, dari depan kulihat beberapa orang 'pun beriringan naik ke puncak hutan pinus. Saat aku berpapasan dengan seseorang yang berjalan paling belakang, aku terhenyak dan memandang lekat ke arahnya. Ia pun memandangku lekat. Kami saling melengak sambil berjalan. Gadis itu tersenyum dan menampakkan giginya yang gingsul. "May,.." gumamku. Kulihat getar bibirnya pun seperti mengucap namaku.

    "Rey...!" Seru Jeni yang telah berjalan agak jauh dariku. Sementata aku masih mematung mamandang gadis itu. Teman-temanku yang lain turut berhenti. Mereka memanggilku untuk segera turun mengikutinya. Dan aku pun bergegas menyusul mereka. "Sudah, kamu berjalan di tengah saja." Perintah Jeni. Kulihat Anis geleng-geleng kepala melihat ulahku. Kang Joyo dan Nafa saling pandang, dan, "hmmm,..." mereka pun menggeleng bersamaan.

****

23 Responses to "Misteri Gadis Pinus"

  1. Nah! May yang misterius hiii...

    Kasihan Rey terpesona pada pandangan pertama akhirnya terjebak oleh penghuni hutan pinus haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini mbak may-a nya muncul mang hahaha

      Hapus
    2. Loh, iya, May ternyata datang tiba2. Benar2 misterius nih.. Hahaha

      Hapus
  2. Ceritanya menarik mang
    saya sampe ikut larut dalam ceritanya
    membayangkan setiap plot kejadian, tempat dan suasananya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima Kasih, mas.
      Membayangkan setiap plot, berarti juga membayangkan duduk berdua di galengan sawah ya? Hahaha

      Hapus
  3. romantis banget ya ini ceritamu, kang. dulu sempat terpisahkan sama may tapi kini bertemu lagi. dan di pingiran sawah menjadi saksi ini semua. hehe. kayak di film-film yg mengangkat tema pedesaan. sepoi2 kena hembusan angin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi sayang, pertemuannya cuma halusinasi dan gangguan jin penunggu hutan pinus, mas. Wkwkwkw

      Hapus
  4. ceritanya menarik. Dimuat di korankah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enggak, mbak, aku belum pernah kirim cerita ke media cetak.

      Hapus
  5. Memang terkadang aura kecantikan bisa membuat orang lupa akan segala hal dan sesuatu...seperti yang dialami oleh rey....Gadis pinus...kirain Rondo pinus kang..😂😂😱😱😱😳😳😳

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kang Satria ini kayak belum tahu aja. Lelaki yang selalu tertarik dengan kecantikan itu adalah lelaki normal, kang. Hahahaha

      Hapus
  6. Untung ada teman setia yang menghibur sekaligus memberikan pertolongan pada Rey! Coba seandainya temannya itu cuek dan tidak perduli. Ah bisa gila itu si Rey :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaa... Kalau dibiarin, mungkin si Rey jadi menikah sama lelembut, Kang Djangkar. :D

      Hapus
  7. Si rey kakean nglamun, dadi kesambet :D

    Hmm... Jadi mbayangin senyum gingsulnya si may, may... Oh... May...

    Mayyyyyyy.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.. Mangkane, kang, sampean ojo seneng ngelamun nang ngisor wit jeruk. Nanti malah kesambet hantu jeruk purut lho.. Wkwkwkwk

      Hapus
  8. Punya bakat nulis dikembangin kang, siapa tahu bisa jadi penulis terkenal..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin..
      Ini saya juga lagi ngembangin hoby mengarang cerita, kang. Semoga saja nanti bisa dicetak dalam buku.

      Hapus
  9. Sudah seneng akhirnya ketemu may lagi, taunya cuma halusinasi jelmaan gitu ya kang djacka? hihi..
    sabar, jodoh ga kemana kok rey :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, semacam itulah. Terlalu memikirkan orang yang dikagumi, yang muncul malah makhluk halus yg menjelma menjadi orang yg dikagumi tersebut.
      Hehe

      Hapus
  10. Kalau "galengan" itu dicetak miring pasti lebih memberi penekanan tentang istilah lokal :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada episode sebelumnya juga sudah saya cetak miring, kang. Maksud saya juga untuk penekanan pada bahasa lokal. Tetapi kemudian saya cari di KBBI, kok ternyata kata 'Galengan' sudah ada di sana, kemudian selanjutnya saya buat biasa aja. Hahaha tapi mungkin kalau tetap dicetak miring, kayaknya juga tetap keren.

      Terima kasih koreksinya, kang. Hehe

      Hapus
  11. ternyata si Mey hobi main layangan juga ya mas, kayak aku dulu waktu kecil juga main layangan pada area persawahan yang belum ada tanamannya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mas, saya dulu juga suka main layangan. Sampai2 lupa makan kalau sudah bermain layangan bersama teman2 di sawah. Hahaha

      Hapus