Senyum Manis Gadis Berkacamata Minus

Senyum Manis Gadis Berkacamata Minus
Oleh : Djacka Artub
Kategori : Fiksi


   Di antara bocah-bocah dusun yang berkejaran berebut layang-layang, kugulung benang yang menjulur di areal persawahan yang gersang oleh kemarau yang panjang. Layang-layangku terputus dari benang, lalu terbang mengudara entah kemana. Kecewa? Ya. Rasa kecewa pastilah ada. Namun, biarlah ia pergi. Suatu saat nanti pasti kan kumiliki layang-layang pengganti.

    Rona jingga terlihat samar di kejauhan, pertanda senja segera menyapa. Di atas lekuk galengan [pematang] sawah, kuamati layang yang melayang. Riang wajah bocah dusun menarik-ulur benang; memainkankan layang-layang. "Kakak pulang dulu, ya!" Teriakku pada bocah-bocah yang masih asyik menerbangkan layangan. Tak ada sahut jawaban dari bocah-bocah itu. Mereka tengah asyik dengan aktifitasnya sambil menunggu kumandang adzan maghrib. Hanya lambain tangan bocah-bocah dusun itu yang nampak menjawab teriakku.

    Dengan gulungan benang di kaleng bekas wadah cat, kuberjalan menyusuri galengan sawah menuju jalan setapak. "Kok sudah pulang, Rey?" Tanya Lek Karto. Seorang RT di dusun tempat tinggalku. Ia berdiri di ujung jalan setapak, di sampingnya berdiri seorang gadis berkacamata minus. Gadis itu tersenyum manis saat lirikan mataku tertuju padanya. "Iya, Lek. Layangannya terputus dari benang." Jawabku pada Lek Karto, sambil menunjukkan gulungan benang di kaleng. Kemudian aku berlalu. Meninggalkan Lek Karto yang masih berdiri bersama gadis berkacamata itu. Mereka melihat para bocah dusun yang masih bermain layangan di areal persawahan.

    Setapak demi setapak, kulangkahkan kaki di atas jalan setapak. "Siapa gadis yang bersama Lek Karto tadi ya?" tanyaku membatin. "Tak pernah kulihat sebelumnya," rasa penasaran membuatku ingin berbalik arah dan bertanya. Namun, "Ah, masa bodoh." kulanjutkan berjalan menuju ke rumah. Lagi pula hari sudah sore. Lebih baik aku segera membersihkan badan dan bersiap berangkat ke langgar [mushola].

   Ibadah sholat maghrib pun usai dilaksanakan. Seperti biasa, sehabis sholat maghrib aku mengajari anak-anak yang sedang belajar meng-eja huruf hija'iyah. Sekilas kulihat gadis berkacamata minus yang tadi kulihat sedang bersama Lek Karto, pun ada di langgar tempatku mengajari anak-anak mengaji. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku pun membalas senyumnya. Lalu ia mengambil kitab suci, dan membacanya. Tak kusangka, gadis itu sangat fasih membaca ayat suci Al-Qur'an. Anak-anak perempuan yang juga mengaji di langgar itu mengerumuninya. Meminta untuk diajari mengaji olehnya.

    "Kak, ajari aku membaca huruf hija'yah!" kurasakan punggungku digoyang dari belakang. Aku tersentak kaget. Rupanya bocah laki-laki yang menggoyang tubuhku itu sudah sejak tadi memintaku untuk mengajarinya mengaji. Namun aku tertegun mendengar suara gadis berkacamata itu saat membaca ayat suci. Sehingga aku tak mendengar ketika ada seorang bocah yang memintaku untuk mengajarinya belajar mengaji. **

    Esok hari selepas sholat ashar, aku kembali berangkat bermain layang-layang di tempat yang kemarin. "Mau bermain layangan ya, Mas?" Sapa seseorang kudengar. Suara gadis menyapaku dari seberang jalan, dan aku pun melengak mencari sumber suara itu. Kulihat senyum gadis berkacamata yang berdiri di teras rumah Lek Karto itu lagi-lagi menggodaku untuk mengenalnya lebih dekat. Wajah cantik berpadu dengan ujung giginya yang gingsul sebelah membuatku terpana melihatnya. Hingga aku lupa menjawab pertanyaan darinya. "Eh, iya, mbak." Gugup aku menjawabnya setelah tersadar dari angan yang melayang. "Kok, mbak bisa tahu kalau aku mau main layangan?" tanyaku yang masih setengah sadar oleh pesonanya. "Tuch, mas-nya kan bawa layangan." Ia menujuk layangan yang kubawa. Aku garuk-garuk kepala, manahan rasa malu. Kulanjutkan langkah kakiku di jalan setapak dengan rasa kikuk.

    "Mas, aku boleh ikut main layangan, ndak?" Baru beberapa langkah kakiku memijak jalan menuju ke areal persawahan tempat bermain layangan, tetiba langkahku dihentikan kembali oleh gadis berkacamata itu.

    "Ndak, ah. Takut sama Lek Karto." jawabku, "Lagian kita belum saling kenal." lanjutku beralasan, sambil melirik Lek Karto yang sedang sisiksisik belahan batang bambu, di samping rumahnya. Kulihat gadis itu berlari ke arah Lek Karto. "Pak Dhe, aku boleh ikut main layangan, ndak?" ia meminta ijin sama Lek Karto. Pak Dhe-nya.

    "Yo,... Tapi pulangnya jangan terlalu surup." Jawab Lek Karto memberi ijin.

    Gadis itu berlari ke arahku. Hatiku pun bergetar ndredheg tak karuan. Seorang gadis yang aku kagumi, ternyata dengan suka cita ia mengikuti langkahku menapaki jalan setapak menuju areal persawahan untuk bermain layang-layang. "Namaku Reyvan. Panggil saja 'Rey'." Dalam perjalanan, kuulurkan tangan memperkenalkan diri. "Saya Maysaroh. Panggil saja 'May'." Dan ia pun memperkenalkan dirinya. Sambil berjalan, May bercerita, jika dirinya adalah keponakan Lek Karto yang datang dari kota untuk mengisi liburan sekolah.

    Sesampai di tempat untuk bermain layangan, sudah berkumpul bocah-bocah dusun yang tengah asyik menerbangkan layangannya masing-masing. "Mas Rey pacaran,... Mas Rey pacaran,..." Sorak anak-anak meneriaki-ku yang berjalan beriringan dengan Maysaroh. Gadis berkacamata minus yang aku kagumi. "Hussstt,... Bocah cilik ngerti pacaran!" Ucapku pada bocah-bocah yang meneriaki-ku.

    Di areal persawahan itu, aku mulai mengulurkan benang yang terkait dengan layang-layang. May memegang layang-layang dan ketika angin bertiup, layangan pun lepas mengudara. Semakin meninggi dan menari-nari di angkasa. Sangat indah. Baru kali ini aku merasakan bermain layang-layang dengan suasana yang sangat indah dan mengesankan. Aku duduk di galengan sawah sambil menarik-ulur benang, memainkan tarian layang-layang. May mengikutiku duduk di galengan sawah. Kami duduk berdampingan memandang layang yang melayang. Sesekali tangan May, gadis berkacamata itu turut menarik dan mengulurkan benang. Dan tangannya pun terkadang bersentuhan dengan tanganku. Ketika hal itu terjadi, senyum May terpancar menampakkan giginya yang gingsul.

    "Eh, sadubilah!" Aku terperanjat dan berdiri dari dudukku yang bersanding dengan May.

    "Ada apa, mas?" May pun turut terperanjat kaget.

    "Sudah petang. Ayo kita pulang." Ajakku pada May. Rasa nyaman bermain layang-layang bersama May, hampir saja membuatku lupa waktu. Begitu pun dengan May, ia lupa dengan pesan Pak Dhe-nya. "Waduh,... Bisa dimarahi pak RT, nih." Batinku. Akhirnya sore itu aku sudahi bermain layangan. "Besok kita main lagi ya." Ajakku pada May, sambil menarik benang layang-layang. May mengangguk, meng-iya-kan ucapanku.**

    Di hari berikutnya, dengan semangat papat-limo [empat-lima], aku membawa layanganku selepas sholat ashar. Rasa ingin mengulang kembali kisah kemarin membuatku tak menghiraukan gaduh para sapi di kandang yang minta dicombor [diberi minum]. Bergegas aku melangkah, ingin cepat bertemu dan bermain layang-layang kembali bersama May. Ketika sampai di depan rumah Lek Karto, aku berhenti. Kuamati di dalam maupun di sekitar rumah, tak kutemui sosok May. Tiba-tiba Lek Karto keluar dari balik rerimbun tanaman sayuran yang terdapat di kiri rumah. Ia tak menyapaku. Dalam batin, aku mengira Lek Karto marah karena kemarin May pulang kedalon [terlalu petang]. Sehingga hari ini May dilarang keluar rumah untuk menemuiku.

    "Ah, sudah lah." Aku berguman sendirian. Kulanjutkan melangkah dengan perasaan yang tak menentu. "Rey...!" Suara Lek Karto memanggilku. Aku melengak ke arahnya. Ia berjalan ke arahku, di tangannya tergenggam kertas berwarna putih. "May tadi pagi mendadak pulang. Asma ibunya kambuh." Kata Lek Karto, "Dan dia menitipkan ini untuk kamu." lanjutnya, dan memberikan sehelai kertas yang dilipat rapi. Kuterima titipan itu dalam diam. Aku termangu.

    "Terima kasih, Lek." Kulanjutkan langkah menapaki jalan menuju ke tempat bermain layang-layang. Hatiku merana. Indah yang kemarin, yang kuingin dapat berulang di hari ini, ternyata 'Zonk'. Harapanku sirna. Sampai di areal sawah pun, aku tak segera menerbangkan layang-layangku ke udara. Aku duduk termangu di galengan sawah. Kubuka perlahan kertas putih dari May, kemudian kubaca. "Maaf, Mas Rey. Hari ini May tak bisa menemani Mas Rey bermain layang-layang. May mendadak pulang karena Ibu sakit. Semoga di lain waktu kita dapat bersua kembali dan memandang indah layang yang melayang di udara.
Salam dari May."

    Kulipat kembali kertas itu setelah kubaca isinya. Aku masih termangu dalam dudukku. Mengingat kembali kebersamaan yang kemarin. Kebersamaan singkat yang meninggalkan kenangan tak terlupakan. "May..." Desahku.

    "Mas Rey,.. Pacarnya mana? Kok nggak diajak main layangan lagi?" Teriak para bocah yang melihatku duduk sendirian di galengan sawah.

    "Halah,.... Bocah cilik kok pacar wae sing diomong!" Gertakku. Dan bocah-bocah itu berlari sambil tertawa, "HAHAHAHA...."

    "Ah,..." Kuangkat bokongku yang menempel di galengan sawah. Dan daripada ditertawakan oleh anak-anak, lebih baik aku menerbangkan layang-layang meski terasa hampa tanpa May.

****


16 Responses to "Senyum Manis Gadis Berkacamata Minus"

  1. Ah Maysaroh telah pulang, hati Rey terasa hampa, bermain layang tak senyaman kemarin di saat gadis berkacamata minus menemani
    Doakan ibu Maysaroh cepat sembuh Rey agar Maysaroh cepat kembali
    hehe
    Baru saja jumpa sudah membuat nyaman ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Bu Dhe... Semoga ibunya May cepet sembuh. Dan May bisa bermain layangan lagi bersama Rey.
      Ah, aku pun yak tahu. Mungkinkah ini cinta pada pandangan pertama? Hahaha
      Ya, sudah lah. May telah pergi tak entah kapan akan kembali. Wkwkwkkwkk

      Hapus
  2. Balasan
    1. Kalau balik lagi nanti diajak bakar bandeng di pelabuhan Bulu, sambil minum legen. Haha

      Hapus
  3. semoga ibunya may cepat sembuh biar nanti bisa dikenalkan sama rey ya. hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin... Semoga saja setelah ibunya sembuh, May mengajak ibunya ke rumah lek Karto, sekaligus mengenalkan Rey untuk dijadikan mantu. Hahaha

      Hapus
  4. Kasian ya mas rey ditinggal maysaroh, akh.. Semoga endingnya bisa happy kang..😂

    Ayo lanjutkan, biar seru ada sambungannya..😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe... Maunya yg hepi ending aja nih, kang Bim. Haha

      Hapus
  5. love at first sight!
    baca ini di awal adem banget ada sawah2nya gitu,
    may nya entar balik dong ya..?
    btw,,
    salam kenal buat mas Djacka tarub :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal balik, mbak Nia...
      Hah? Djacka Tarub?
      Yowes, ra popo. Hahaha

      Em,... Ntar May pasti balik kok. Tenang aja.. Nanti main layang-layang bareng May dan Mas Rey. 😀😀😀

      Hapus
  6. gadis manis berkaca minus pulak....udah deh saya pun pasti bakalan klepek-klepek deh lah.

    (imbas baca judulnya doang)

    Jawaban di postingan desacilembu dotcom bisa dibaca disonoh...intinya jangan pernah berpikir blog keren yang ngbahas soal perlebayan ini tidak bisa digunakan untuk menjual produk...udah segituh aja jawaban tambahannya mah, selebihnya baca olangan di blog sayah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mamang juga suka gadis berkacamata ya? Haha

      Oke, mang. Jawabannya sudah saya baca.
      Terima kasih atas wejangannya. Hehe

      Hapus
  7. Sama seperti saya dulu kang, mendambakan cewek cantik berkacamata minus dan kesampaian juga akhirnya, haha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, ya, kang. Tidak seperti nasib Rey. Baru sehari berkejalan, eh sudah ditinggal pergi. Hahaha

      Hapus
  8. Haduh, baca ini jadi ikut baper kang :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak usah baper, mas... Itu cuma kisah fiksi kok. Haha

      Hapus