SAJAK ASMARA - Lambaian tangan mengakhiri perjumpaan kami waktu itu. Dan hal itu juga akan mengawali kisah cintaku dengan Fia melalui hubungan jarak jauh. Surabaya-Samarinda memisahkan cinta. Laut Jawa membatasi cerita bersama. Namun satu hati ingin saling memiliki. Lewat pesan singkat kami berkirim surat hati gelisah saat pulsa sekarat. Namun atas nama cinta uang habis masuk kantong si penjual pulsa pun aku tak apa. Bukankah cinta itu butuh pengorbanan? Bukankah cinta itu perlu perjuangan? Biarlah saat ini berjauhan. Suatu saat pasti akan duduk berdampingan di pelaminan. Itulah yakinku saat itu. [Cinlok]*

    Siang itu, mendung gelap menyelimuti langit. Berlari-lari kecil, gadisku kembali menyambut aku datang dengan sebuah payung hitam di tangan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari pesona raut wajah indahnya. Namun, sesaat senyuman itu berubah menjadi duka. Duka cita cinta di bawah langit yang berpayung mendung; hitam dan legam.
    Bagaikan dalam sebuah adegan drama sandiwara. Di bawah derai hujan, kerumun masa memandangiku penuh haru dan keprihatinan. Mereka menyaksikanku memangku tubuh lemah yang berlumur darah dan lemas tak berdaya setelah sebuah minibus menyambar tubuh gadisku. "Ya Allah..!!" Kupeluk erat gadisku, aku berteriak keras, berlomba dengan gemuruh hujan dan suara petir yang menggelegar. Hujan tak hentinya mengguyur. Seakan ia acuh dengan air mata dan teriakanku. Aku terduduk lemas. Raung suara sirine ambulance menambah suasana terasa mengiris pedih menyayat hati. [Naura]*

    "Bagaimana kabar keluarga di Jogja, Bu?" Dalam perjalanan, aku baru menanyakan keadaan di Jogja sama Ibu. Ayah yang duduk di bangku depan menghela nafas panjang mendengar pertanyaanku pada Ibu.
    "Kami belum mengetahui kabar keluarga pamanmu, dan juga kabar Airin di Jogja, Ar." Ayah menjawab pertanyaan yang aku lontarkan pada Ibu. "Kami menunggu kamu pulang, Ar. Nanti kita berangkat ke Jogja bersama untuk melihat keadaan disana." Ibuku melanjutkan kata-kata Ayahku. [Twilight in a Train-2]*


    Basis kata-kata indah tentang lingkungan membuat saya tidak ragu bahwa Djacka Artub adalah seorang naturalis. Trik-trik yang mengagetkan kadang membuat saya meludah muak kaget tertawa senyum menangis bahkan meraung.
    Cobalah Pembaca cermati penutup buku ini: “Gaun pengantin yang telah aku persiapkan, tetap tergantung rapi dalam lemari tanpa kami kenakan untuk melangsungkan pesta pernikahan.” Orang boleh percaya atau tidak dalam umur senja sekarang ini, saya tidak pernah memikirkan gaun khusus untuk pengantin, eh… gaun itu justru terbang sia-sia dalam lemari. Itu yang menyebabkan saya meraung, alangkah beda nasib seseorang dengan yang lainnya.
- Soesilo Toer -


Penulis DJACKA ARTUB
Penyunting SOESILO TOER
Penerbit PATABA PRESS
Cetakan Pertama November 2017
Tebal Buku x 146 halaman 145 x 205cm
ISBN 978-602- 5604-00-3
Harga Rp. 40.000 (Belum termasuk ongkos kirim).

Pesan Via Whatsapp : 081230900360 (penulis)
IG penerbit https://www.instagram.com/patabablora6

12 Responses to "Sajak Asmara"

  1. Ohhh..alaahh!! Pendek banget ceritenye kang ...lagi serius juga..😳😒😒

    Terus akhirnya gimana tuh antara Samarinda dan Pulau Jawa...

    Apa harus Via WA dulu kang dan bayar buku seharga 40.000 tambah ongkir..jadi 80.000😱😱😱😳😳😳

    Waahh!!😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Antara Surabaya dan Samarinda udeh ade lanjutanye di blog ini, kang. Cari aja. Haha
      Tapi untuk sinopsis yg lain sengaja ndak tak publish di blog ceritanye. 😂😂😂😂

      Hapus
    2. Iya tuch, ndak support sama teman sendiri. Hahahahhaaa

      Hapus
  2. Wah, ternyata kang djacka ini penulis buku toh, baru tahu saya kang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya bukan penulis buku, kang... Tetapi membukukan tulisan saya. Wkwkwkk

      Hapus
  3. Sajak asmara terasa singkat
    Lambaian tangan bukanlah akhir cinta yg sekarat
    Ada banyak cara untuk saling curhat
    Lewat handphone seakan tak bersekat
    Aduhai cinta kian melekat
    Lewat novel mini cinta tersurat


    hehe ....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman sekarang, jarak tak dapat memisahkan Cinta. Biar pun isi dompet sekarat karena masuk kantong penjual pulsa, demi Cinta aku rela. Hahaha

      Hapus
  4. Mantap kang djaka, selamat sudah bisa menerbitkan buku. Ceritanya kok ya bikin penasaran. Kalau dengan konco dewe apakah dengan harga itu? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Makasih, cak..
      Sampean penasaran ya? Buruan order, cak.. Mumpung masih anget. Hahaha

      Em... Kalau sama teman sendiri, boleh ditambahin dikit lah. :D

      Hapus
  5. mantap kang jaka.... lama gak main ke dunia blogging.... ijin baca-baca siapa tau dapat inspirasi dari blog tuban atu ini....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha... Silahkan baca-baca, kang.
      Ayo kita terus menulis. Hehe

      Hapus