Header Ads

  • Breaking News

    HIJABKU PERJUANGANKU


    Penulis : Djacka Artub


    HIJABKU PERJUANGANKU
    (Karya : Djacka Artub )


    "Kadang aku tak sanggup, menerima kenyataan
    Mengarungi hidupku, di dalam kegalauan
    Namun slalu kuingat, kebesaranmu oh Tuhan
    Meski kadang terjatuh, datang rasa putus harapan
    Tetap ku bertahan, dalam hidup ini
    Walau kuadukan, tiada yang mengerti.." 
    ***


    Selain support dari orang-orang yang mengerti tentang kedaannya ditengah hiruk pikuk kehidupan di era kemajuan dunia, alunan nada syahdu lagu dari Novy Ayla tersebut seakan terasa menyejukkan hati Hanny.
    Ya ... Itu semua di karenakan Hanny harus berjuang mempertahankan iman di tengah gemerlapnya kehidupan malam yang ada di kota tempat tinggalnya. Tak heran jika banyak yang memandangnya sebelah mata, karena memang tempat tinggal Hanny berada di tengah-tengah tempat prostitusi. Tak terkecuali di sekolah tempatnya belajar, banyak dari teman-temannya yang menilai secara negatif tetangnya.

    "Alaaahhhh ... Ke sekolah aja memakai jilbab. Tapi kalau malam paling-paling juga memakai pakaian yang fulgar. Dasar munafik.!" Ucapan-ucapan seperti itu sudah menjadi santapan Hanny di sekolah tentang dirinya. Tapi Hanny tetap mencoba untuk sabar menghadapi cacian dan hinaan tentang dirinya. Semua orang memandang dengan negatif. Ia pun sempat putus asa dan menanggalkan jilbabnya lantaran tak kuat menahan gunjingan orang tentang dirinya.

    Suatu hari Mbah Pocong, tukang kebun di sekolah itu sempat kaget dan menegurnya. "Lohh ... Non Hanny kenapa hari ini ke sekolah gak pakai jilbab..??" tanya Mbah Pocong keheranan saat melihat Hanny ke sekolah tanpa mengenakan jilbab seperti biasanya.

    "Percuma aku pakai jilbab Mbah, kalau setiap hari aku hanya jadi bahan gunjingan oleh semua orang.." Hanny menjawab pertanyaan Mbah Pocong dengan nada kecewa. Namun ia sedikit malu pada Mbah Pocong.

    "Bahan gunjingan bagaimana maksudnya Non..??" Mbah Pocong kembali bertanya karena ia menganggap keputusan Hanny menanggalkan jilbabnya penuh dengan keterpaksaan.

    "Apakah seseorang yang hidup di lingkungan lokalisasi tempat prostitusi itu tidak layak memakai jilbab mbah...??" Hanny balik bertanya, "Seakan-akan memakai jilbab dianggap hanya sebagai topeng saja. Aku merasa gerah sama gunjingan itu, Mbah.." Lanjut Hanny, mencoba menerangkan sama mbah Pocong yang masih heran dengan keputusannya itu.

    "Non Hanny,, yang pantas menilai baik buruknya seorang manusia itu hanyalah Allah SWT. Biarlah orang lain mau berkata apa pun tentang diri kamu, tetap pertahankan hijabmu. Anggaplah itu sebagai ujian dari Allah atas perjuanganmu dalam berhijab. Lebih mending mana, panas di dunia atas gunjingan karena melakukan ketaatan pada Allah, ataukah panas di neraka karena durhaka...??" Dengan penuh kesabaran, Mbah Pocong menjelaskan pada Hanny. "Coba Non Hanny renungkan." Tambah Mbah Pocong.

    Mendengar penjelasan dari mbah pocong, Hanny sangat merasa malu pada dirinya sendiri, karena merasa telah gagal melalui ujian dari Allah, untuk meraih cahaya hijab.
    Bukan hanya mbah pocong, ternyata setelah Hanny bertemu dengan Emma, Emma pun sangat kecewa atas keputusan Hanny. Emma adalah sahabat karib Hanny yang selalu mengerti akan keadaan lingkungan hidupnya. Dan yang membuat air mata Hanny tiba-tiba mengalir adalah perkataan dari Emma, sahabatnya. "Sepertinya kamu sudah kalah Han.." begitulah umpatan Emma saat menjumpai Hanny ke sekolah tanpa mengenakan jilbab.

    "Maafkan aku Emm... Aku tidak kuat menahan gunjingan teman-teman yang lain. Kamu sangat beruntung karena lingkungan tempat tinggal kamu berada di komplek pesantren. Jadi, tak ada gunjingan seperti yang aku rasakan." Dengan air mata menetes membasahi pipinya, Hanny menceritakan kenyataan di rasakannya kepada sahabat karibnya itu..

    "Subhanallah... Hanny ... Memakai Jilbab itu ketaatan kepada Allah. Jilbab itu suatu kesucian. Jilbab itu cahaya taqwa. Jilbab itu sinar keimanan. Jangan ada rasa sesal sedikit pun karena memakai jilbab. Justru Kesetiaan kita dalam berjilbablah yang harus kita lekatkan di hati kita. Jangan hanya karena penilaian orang-orang yang hanya melihat sesuatu dari satu sisi, lantas kamu rela menanggalkan ketaatanmu sama Allah." Emma menjelaskan panjang lebar pada Hanny, dan itu membuat Hanny semakin malu dan sedih karena telah melepaskan hijabnya hanya karena ia tak kuat menahan gunjingan.

    Tanpa di sadari oleh keduanya, ibu Lisa, seorang guru agama di sekolah itu yang sejak tadi mendengar percakapan kedua sahabat karib itu segera menghampirinya.
    "Hanny ... Betul kata Emma. Jangan perdulikan gunjingan orang yang hanya akan menyesatkan dirimu. Pedulilah pada dirimu atas kehidupan akhirat nanti. Pakailah pakaian yang sesuai dengan syariat Allah, Insya Allah kita akan bahagia dunia dan akhirat. Sebab, hati ini akan tenteram jika melaksanakan perintah Allah." Dengan sabar, Bu Lisa menasehati murid kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
    Tanpa sepatah kata keluar dari mulut Hanny, ia langsung memeluk Ibu gurunya yang telah memberikan dukungan serta bimbingan untuk menuju jalan yang diridhoi Allah.**

    Keesokan harinya, Hanny tanpa ragu lagi kembali ke sekolah dengan jilbabnya yang utuh, tanpa memperdulikan gunjingan dan hinaan dari orang lain. Biarlah orang mau berkata apa tentang dirinya. Ia akan tetap teguh dengan pendiriannya untuk berhijab, hingga ia menghadap sang pencipta.

    "Terimakasih Ya Allah... Diantara orang-orang yang mendzolimiku, Engkau masih mengirimkan orang-orang yang perduli dan tetap membimbingku menuju jalan-Mu.
    Berilah aku kesabaran dalam setiap menghadapi cobaan yang Engkau berikan. Kuatkanlah imanku dalam setiap langkahku.
    Ku mohon ampunan-Mu, atas segala kelalaianku dalam menjalankan perintah-perintah-Mu...."


    Dalam sujud malam, Hanny bersyukur atas segala karunia Allah.
    Dengan tangan menengadah, ia mengharap ridho Allah atas perjalanan hidupnya menuju jalan kebenaran sesuai aqidah islam.*
    * SEKIAN *


    "Jika engkau berada di waktu sore, maka janganlah menunggu pagi.
    Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu waktu sore.
    Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang sakitmu dan manfaatkanlah hidupmu sebelum datang matimu." (HR. Bukhari ).

    Janganlah menunda-nunda sesuatu jika itu untuk suatu kebaikan..


    Cerita di atas hanyalah karya fiksi,, Mohon maaf jika ada kesamaan tempat dan kejadian..
    Terimakasih buat para tokoh & maaf atas peran yg kurang berkenan..
    • Mbah Pocong sebagai Tukang kebun sekolah
    • Lisa Nel's sebagai Bu Lisa (Guru Agama)
    • Lucky Charm Sebagai Emma (sahabat Hanny)
    • Tokoh Hanny di perankan oleh Misterius

    Nb: Untuk sang tokoh utama, mohon maaf baru bisa memenuhi permintaan anda...

    No comments

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad