Hujan di Kepergianmu


10 Januari 2018,...

    "Selamat jalan, semoga kita dapat bersua kembali." 'Ku ucap kata perpisahan di saat sebelum sepasang kaki itu melangkah ke dalam sebuah bus Damri yang akan membawanya pergi dari hadapanku. Rintik gerimis masih setia mengguyur tubuh kami sebelum sekat kaca dan body bus membatasi kami. Sebelum ia masuk ke dalam bus. Hitam legam mendung pun semakin tebal. 
    Perlahan, bus Damri meninggalkan terminal Bungurasih, Surabaya. Mendung tebal yang disertai gerimis, yang sejak tadi bergumul dengan hiruk-pikuk keramaian terminal terbesar di Jawa Timur itu, seketika menumpah-ruahkan deras hujan, mengantarkan kepergiannya. Di antara guyur hujan, kulihat lambaian tangan dari balik kaca bus. Di sebuah halte, aku masih tertegun, berdiri mematung menatap sebuah bus yang perlahan meninggalkan tempat pemberhentiannya.
    Di antara lalu-lalang para calo dan sopir taksi yang berlomba menggaet calon penumpang, kucari tempat duduk guna menunggu hujan sedikit reda untuk kutinggalkan terminal. Masih teringat kisah perjumpaan yang singkat, namun sangat berkesan itu. Perjumpaan yang sudah lama kurindukan, akhirnya hari itu aku dapat bertemu dan berjabat tangan dengannya. Terminal Purabaya Surabaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan terminal Bungurasih, menjadi saksi pertemuanku. Seseorang yang kukenal dari dunia maya, dan selama ini pun aku hanya dapat berkomunikasi lewat udara bersamanya, kali ini aku dapat bertemu secara nyata. Namun walau selama ini kami hanya menjalin hubungan lewat udara, tetapi hubungan kami sangatlah dekat.

    Hujan telah sedikit me-reda. Bus Damri telah berlalu dan berganti dengan bus yang lain. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan di antara rintik hujan, menuju tempat antrean bus kota. Segera aku masuk ke dalam bus kota dengan lintasan tengah kota Surabaya. Tempat di mana aku tinggal di tanah perantauan. Mendung masih terlihat tebal menghitam. Di dalam bus kota, Aku sedikit tersenyum melihat pesan masuk di aplikasi whatsapp. Sebuah foto kuterima dalam pesan itu. Foto kenangan dan sebagai bukti bahwa kami pernah bertemu dan foto bersama. Dan yang lebih mengesankan lagi, kami foto bersama dengan memamerkan sebuah buku. Bukan buku nikah, tetapi buku kumpulan cerpen hasil karyaku. Buah karya yang aku hasilkan berkat dari dukungannya pula, dan juga dukungan dari teman-teman yang lain.

    Dalam foto lain yang ia kirim, aku tertawa setelah melihatnya. Ya ... Sama seperti saat perjumpaanku beberapa bulan yang lalu bersama salah seorang sahabat yang juga kukenal lewat dunia maya, dalam perjumpaan saat itu pun suasana keakraban begitu sangat terasa meski kami baru pertama kali bertemu bertatap muka. Mas Indra, salah seorang sahabat blogger asal Tangerang, yang saat itu sedang berkunjung ke kota Pasuruan, ia pun menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. 
    Sungguh perjumpaan yang mengingatkanku pada perjumpaan sebelumnya. Saat itu, kami dapat ngobrol bertiga. Dan saat perjumpaan kali ini pun kita dapat bercengkrama bertiga meski yang satu berada di tempat nun jauh di sana. Video call menjadi alternatif sebagai pengganti kerinduan untuk dapat bercengkrama bersama.

    Untuk kedua kalinya, terminal bungurasih menjadi saksi perjumpaan sekaligus perpisahan. Walau sebenarnya ingin hati untuk dapat bersua lebih lama, namun apa daya, kami harus tetap berpisah karena sebuah tanggung jawab. Lisa, sahabat yang kukenal sejak tahun 2013 yang lalu melalui dunia maya, harus melanjutkan perjalanan menuju kota Makassar, yang kemudian berlanjut untuk kembali ke tempatnya di negeri seberang. Negeri Taiwan, tempatnya berhijrah yang sudah dilakoninya beberapa tahun.

    Sahabat....
Akankah kita dapat bertemu kembali di lain waktu? Kuharap Tuhan dapat mempertemukan kita untuk waktu-waktu yang akan datang. Mempertemukan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara, yang saling membantu dan saling mendukung untuk sebuah kemajuan.



Surabaya, 10/01/2018
Djacka Artub. 
    

Hujan Di Kepergianmu

Elipsis dan Kegunaannya


   Di dalam dunia kepenulisan, tentunya ada beberapa tanda baca yang harus dipatuhi bagi seorang penulis agar tulisannya mudah untuk dipahami. Selain tanda titik, koma, titik-koma, dll. Ada tanda baca yang bernama Elipsis.
Dan untuk kesempatan kali ini, saya akan mempelajari tentang tanda elipsis. Kenapa saya bilang 'Saya akan mempelajari?' Karena saya memang akan belajar. Dan tulisan ini pun saya buat agar suatu saat jika saya atau anak turun saya membutuhkan, bisa dengan mudah untuk menemukannya. Hehe
Dan jika tulisan saya ini ada yang salah atau kurang, mohon dibenarkan atau ditambahi pada kolom komentar.

   Sebelum kita mengetahui kegunaan tanda titik elipsis, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu elipsis.
Elipsis adalah tanda titik-titik yang biasanya terdiri dari tiga buah titik berderet ( ... ), yang menurut pedoman umum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tiga buah tanda titik berderet ini memiliki dua kegunaan. Yang pertama adalah untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau jeda kalimat, dan yang kedua adalah untuk menunjukkan bahwa dalam kalimat itu ada bagian yang dihilangkan.

   Tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pikiran yang belum selesai, atau penurunan volume pembicaraan yang menuju pada suatu situasi yang senyap. Oleh karena itu, tanda elipsis sering kita jumpai pada kalimat langsung atau dialog daripada kalimat tidak langsung.


Kegunaan Elipsis Pada Kalimat Langsung atau Dialog.

   Oleh karena tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pada kalimat langsung atau dialog, maka tanda elipsis digunakan untuk meciptakan agar kalimat percakapan terkesan lebih hidup karena adanya efek jeda. Saya juga menyebut tanda elipsis ini adalah tanda jeda dalam suatu kalimat. Hal tersebut sesuai kegunaan  tanda elipsis yang pertama, yaitu untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus. Maka, orang yang membaca akan mudah untuk memahami keadaan yang sedang terjadi dalam percakapan tersebut.
Misalnya,
~ Entahlah ... Aku pun tak tahu siapa di balik semua ini.
~ Baiklah ... Aku tak bisa melarangmu.
~ Tapi ... Ah, sudahlah.

   Contoh di atas adalah hadirnya tanda elipsis pada kalimat langsung atau dalam dialog. Tetapi kehadiran tanda elipsis pada kalimat tak langsung akan sulit dipahami. Hal tersebut sesuai dengan kegunaan tanda elipsis yang kedua, yaitu penghilangan bagian dalam suatu kalimat. Dan penggunaan tanda elipsis pada kalimat tak langsung ini memang jarang sekali terjadi, apalagi dalam  sebuah tulisan karya ilmiah. Tetapi, lain halnya dalam karya sastra seperti puisi atau prosa. Tanda elipsis sangat dibutuhkan dalam karya sastra karena akan  memudahkan pembaca untuk memahami dan menghayati isi dari karya sastra tersebut.

   Kesalahan umum yang sering terjadi dalam penggunaan tanda elipsis adalah jumlah titik kurang atau lebih dari tiga buah. Namun ada juga tanda elipsis yang terlihat seperti empat buah tanda titik, tetapi sebenarnya cuma tiga. Misalnya, tanda elipsis yang terdapat pada akhir kalimat. Penggunaan tanda elipsis pada akhir kalimat memang berbeda dengan penggunaan tanda elipsis yang berada di antara dua kata atau di tengah kalimat. Jika di tengah kalimat, penggunaan tanda elipsis terdiri dari tiga buah tanda titik yang diapit oleh spasi antara dua kata atau kalimat sebelum dan kalimat sesudahnya. Perhatikan contoh di atas 👆. Tetapi jika tanda elipsis terletak di akhir kalimat, maka format penggunaannya tetap dibubuhkan spasi sebelum tanda elipsis, yang kemudian ditambah satu titik sebagai akhir dari sebuah kalimat tanpa jeda spasi. Oleh karena itu, tanda elipsis di akhir kalimat seperti terdiri dari empat buah tanda titik. Padahal sebenarnya tetap tiga buah tanda titik,, kemudian ditambah satu titik sebagai akhir kalimat.

   Nah, itulah tanda elipsis dan kegunaannya yang dapat saya pelajari pada kesempatan kali ini. Jika ada yang salah dan kurang, silahkan ditambahkan dalam kolom komentar di bawah sana 👇. Hehe


Referensi bacaan: Ketikakuberkata, Bahasa dan Sastra Indonesia. 

Tanda Elipsis dan Kegunaannya

Jejak Si Lesbi


Berawal dari sebuah penghianatan dari pasangan lesbinya, Tari mulai menemukan hikmah dan jati dirinya sebagai wanita yang seutuhnya. Tari ingin menjadi ibu dari anak-anaknya, dan menjadi istri yang sholehah bagi suaminya kelak. Tari ingin hidup normal sebagaimana wanita pada umumnya. Ia tak ingin selalu berkecimpung dalam dosa. Pengalaman kelam kehidupan masa lalu ia jadikan pelajaran dalam hidup. Hampir sepuluh tahun, Tari menjadi wanita lesbian. Bukan karena awal dari penghianatan kaum adam, tetapi Tari terjebak menjadi wanita lesbian hanya karena pergaulan. Pada awalnya, Tari adalah sesosok gadis normal yang suka main gitar. Dan dari kegemaran itu, Tari selalu membawa gitar disetiap liburan bersama teman-temannya.
Perjalanan waktu terus bergulir. Kehidupan pun turut larut dan mengalir. Setelah sekian lama saling kenal, Tari mulai merasa nyaman berteman dengan Sheyla. Hubungan pertemanan Tari dan Sheyla semakin akrab dan lambat laun mereka memiliki perasaan selayaknya rasa cinta terhadap lawan jenis. Hubungan kisah asmara antara dua insan sejenis itu pun terus berlanjut. Kasih sayang Sheyla yang tulus, membuat Tari terlena dan mengikuti semua kemauannya. Tak jarang, mereka pun pergi ke hotel dan melakukan hal yang tak patut untuk dilakukan. Tindakan yang sangat dibenci oleh agama. Cinta terlarang pun terjalin begitu dalam dan seakan maut pun tak dapat memisahkan mereka. Tari dan Syeila.
Selepas penghianatan Sheyla, Tari ingin memulai kisah hidupnya yang baru bersama Radit, seorang pemuda tampan penjaga toko buku. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tari kembali merenungi nasib dirinya.

Buku kumpulan cerpen karya Djacka Artub

~ Dapatkan kisah selengkapnya dalam buku 'Sajak Asmara', melalui pesan Whatsapp di 081230900360.
Untuk yang berada di wilayah kecamatan Bangilan - Tuban - Jawa Timur, bisa mendapatkan bukunya di toko 'Madinah', sebelah Selatan Bank BRI Bangilan.
  • Penulis DJACKA ARTUB
  • Penyunting SOESILO TOER
  • Penerbit PATABA PRESS
  • Cetakan Pertama November 2017
  • Tebal Buku x 146 halaman 145 x 205 cm
  • ISBN 978-602- 5604-00-3
  • Harga Rp. 40.000 (Belum termasuk ongkos kirim)

Stok terbatas. Siapa cepat, dia dapat!

Buruan..!!

Jejak Si Lesbi

SAJAK ASMARA - Lambaian tangan mengakhiri perjumpaan kami waktu itu. Dan hal itu juga akan mengawali kisah cintaku dengan Fia melalui hubungan jarak jauh. Surabaya-Samarinda memisahkan cinta. Laut Jawa membatasi cerita bersama. Namun satu hati ingin saling memiliki. Lewat pesan singkat kami berkirim surat hati gelisah saat pulsa sekarat. Namun atas nama cinta uang habis masuk kantong si penjual pulsa pun aku tak apa. Bukankah cinta itu butuh pengorbanan? Bukankah cinta itu perlu perjuangan? Biarlah saat ini berjauhan. Suatu saat pasti akan duduk berdampingan di pelaminan. Itulah yakinku saat itu. [Cinlok]*

    Siang itu, mendung gelap menyelimuti langit. Berlari-lari kecil, gadisku kembali menyambut aku datang dengan sebuah payung hitam di tangan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari pesona raut wajah indahnya. Namun, sesaat senyuman itu berubah menjadi duka. Duka cita cinta di bawah langit yang berpayung mendung; hitam dan legam.
    Bagaikan dalam sebuah adegan drama sandiwara. Di bawah derai hujan, kerumun masa memandangiku penuh haru dan keprihatinan. Mereka menyaksikanku memangku tubuh lemah yang berlumur darah dan lemas tak berdaya setelah sebuah minibus menyambar tubuh gadisku. "Ya Allah..!!" Kupeluk erat gadisku, aku berteriak keras, berlomba dengan gemuruh hujan dan suara petir yang menggelegar. Hujan tak hentinya mengguyur. Seakan ia acuh dengan air mata dan teriakanku. Aku terduduk lemas. Raung suara sirine ambulance menambah suasana terasa mengiris pedih menyayat hati. [Naura]*

    "Bagaimana kabar keluarga di Jogja, Bu?" Dalam perjalanan, aku baru menanyakan keadaan di Jogja sama Ibu. Ayah yang duduk di bangku depan menghela nafas panjang mendengar pertanyaanku pada Ibu.
    "Kami belum mengetahui kabar keluarga pamanmu, dan juga kabar Airin di Jogja, Ar." Ayah menjawab pertanyaan yang aku lontarkan pada Ibu. "Kami menunggu kamu pulang, Ar. Nanti kita berangkat ke Jogja bersama untuk melihat keadaan disana." Ibuku melanjutkan kata-kata Ayahku. [Twilight in a Train-2]*


    Basis kata-kata indah tentang lingkungan membuat saya tidak ragu bahwa Djacka Artub adalah seorang naturalis. Trik-trik yang mengagetkan kadang membuat saya meludah muak kaget tertawa senyum menangis bahkan meraung.
    Cobalah Pembaca cermati penutup buku ini: “Gaun pengantin yang telah aku persiapkan, tetap tergantung rapi dalam lemari tanpa kami kenakan untuk melangsungkan pesta pernikahan.” Orang boleh percaya atau tidak dalam umur senja sekarang ini, saya tidak pernah memikirkan gaun khusus untuk pengantin, eh… gaun itu justru terbang sia-sia dalam lemari. Itu yang menyebabkan saya meraung, alangkah beda nasib seseorang dengan yang lainnya.
- Soesilo Toer -


Penulis DJACKA ARTUB
Penyunting SOESILO TOER
Penerbit PATABA PRESS
Cetakan Pertama November 2017
Tebal Buku x 146 halaman 145 x 205cm
ISBN 978-602- 5604-00-3
Harga Rp. 40.000 (Belum termasuk ongkos kirim).

Pesan Via Whatsapp : 081230900360 (penulis)
IG penerbit https://www.instagram.com/patabablora6

Sajak Asmara

Mistery Gadis Pinus
Oleh        : Djacka Artub
Kategori : Fiksi

    "Di mana 'May'?" Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, dan yang lainnya tampak duduk di sampingku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.**

    Aku benar-benar tidak menyangka jika kepergianku untuk berpetualang mengikuti teman-temanku, membawa kisah yang tak akan pernah kulupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku bertemu dengan sesosok gadis yang dulu pernah kukenal.
May, gadis berkacamata minus yang dulu kukenal ketika dirinya sedang mengisi liburan dengan berkunjung ke rumah Pak Dhe-nya, membuatku terpesona pada pandangan pertama di saat ia tersenyum dan menampakkan gingsul pada ujung giginya.

    Setelah sekian lama terpisah, kini aku bertemu kembali dengan May. Dalam pertemuan yang tak terencana, Aku dan May mengulang kembali kisah lama. Kisah indah duduk berdua di galengan sawah sambil memandang layang-layang yang melambung mengudara di angkasa. Walau saat itu kami hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang oleh kemarau panjang, namun kenangan itu tak pernah hilang dari ingatanku.

    Pada pertemuan kedua kali ini suasana terasa lebih indah dan mengesankan dari kisah yang sebelumnya. Tak hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang seperti yang dulu, tetapi aku dan May bermain layang-layang di sebuah tanah lapang dengan rerumput hijau di padang yang luas. Kembang-kembang ilalang yang putih berseri tampak melambai manyapa kami yang duduk di sebuah bangku kecil yang dikelilingi bunga-bunga indah bermekaran. Menarik-ulur benang layang-layang di antara kupu-kupu yang beterbangan di antara kembang, membuat kisah perjumpaan semakin mengesankan.

    "Lihat, Mas Rey!" lentik jemari indah menunjuk sebuah danau kecil dengan airnya yang menghijau. Angsa Angsa putih berenang-renang di tengahnya. "Ayo, kita ke sana." Ajak May, seraya menarik tanganku.

    Berlari berkejaran di padang rumput, berjalan bergandeng tangan di tepian danau, May terlihat anggun dengan gaun putih yang dikenakannya. Rambut hitamnya yang panjang terurai tersapu angin membuatku takjub memandangnya. Parasnya yang cantik menenggelamkanku dalam lautan asmara yang begitu dalam.

    Tak terasa, langit senja datang menyapa. May mengajakku kembali ke rumahnya yang tak jauh dari danau tempat kami menikmati keindahan alam. Kami berjalan menyusuri lekuk-lekuk indah galengan sawah yang terhampar di lereng perbukitan. Lekuk-lekuk pematang yang terhubung dengan jalan setapak di antara hamparan padi yang menguning di areal persawahan itu menampakkan pesonanya tersendiri sebagai anugerah keindahan alam. Suara suling gembala mengalun syahdu, menggiring kerbau-kerbau untuk pulang ke kandang.

    Langit tampak semakin memerah. May berlari gesit menapaki galengan menuju saung yang berada di ujung perpetakan sawah. Aku berlari mengikutinya masuk ke dalam pondok kecil sebagai tempat peristirahatan para petani itu. Namun tak kutemui May di dalamnya. Suasana gelap pun menghampiri. Suara suling gembala yang terdengar syahdu, berganti cericit kelelawar yang beterbangan di antara rerimbun dedaunan. Lekuk-lekuk galengan sawah pun berubah menjadi tonggak-tonggak runcing di antara pohon pinus yang berjajar. Padang rumput dengan putih bunga-bunga ilalang, serta danau dengan angsa putihnya berubah menjadi semak belukar.

    Malam kian merayap. Rembulan masih menampakkan kilau cahayanya di atas pucuk pinus. Terlelap semua kehidupan yang ada di dunia dan cakrawala luas. Kecuali, bias cahaya rembulan yang memintalkan benang-benang kilau redupnya menyinari alam persada. Sepoi angin malam menjalar menerobos di keheningan. Kemeresek suara dedaun kering yang tertiup angin menimbulkan gaduh pada jangkrik-jangkrik yang terlelap dalam tidurnya.

    Dalam kebingungan, lamat-lamat kudengar suara seseorang yang sepertinya sudah kukenal. "Lebih baik kita istirahat terlebih dulu." Ia bersaran pada yang lain. Aku mencoba mencari sumber suara, "Besok pagi kita lanjutkan mencari Rey." kulihat Nafa duduk bersandar pada batang pohon pinus. Ia terlihat sangat letih.

    "Lebih baik kita temukan Rey terlebih dulu." Kudengar pula, Jeni membantahnya.
    "Sudah tahu Rey baru pertama kali ikut berpetualang. Kenapa kamu tidak menjaganya?" Aku pun mendengar suara Anis yang memojokkan Jeni.
    "Sudah, sudah! Ini tanggung jawab kita semua!" Kang Joyo menengahi dan menyetujui saran Nafa untuk melepas lelah. "Kita istirahat dulu. Nanti selepas subuh, kita mulai lagi pencarian."
   "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rey?" Whini sangat khawatir.
     "Kita berdoa saja, semoga tak terjadi apa-apa sama Rey." Kang Joyo menjawab kekhawatiran Whini.

    Kudengar dengan jelas percakapan teman-temanku dan aku pun juga dapat melihat mereka dengan jelas. Namun seakan mulutku terkunci untuk menyapanya. Aku mondar-mandir mencari celah untuk keluar dari dalam gubuk reyot yang hampir roboh.
Seperti tertutup tirai, semua teman-temanku tak ada yang dapat melihat keberadaanku. Padahal, jarak kami hanya terpisah sekira sepuluh langkah. Dan aku pun dapat melihat dan mendengar percakapan mereka dengan jelas.**

    Cericit burung bernyanyi riang di atas ranting dan dahan. Sayup kedengar suara seseorang memanggil-manggil namaku, "Rey, bangun, Rey." tubuhku terasa terguncang. Cahaya putih yang menyilaukan menerpa seisi alam, menerobos celah-celah dedaunan dan menempa wajahku. "Di mana 'May'?" Aku terbelalak pelengakan melihat ke sekitar. Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, Whini, dan yang lainnya tampak duduk mengitariku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.
    "May? Siapa 'May' ?" Tanya Whini. Terlihat gurat kekecewaan di wajahnya.
    "Sudah, nanti saja dijelaskan." Kang Joyo menenangkan.
    "Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nafa,
     "Kita pulang." Ucap Kang Joyo singkat.
    "Pulang?" terlihat ketidakpuasan dari Anis.
     "Ya, kita pulang saja." Jeni menimpali.
    Setelah sepenuhnya sadar, aku melihat keadaan di sekitar. Gubuk reyot tempatku terjebak semalam tak ada di tempat itu. Hanya sebatang pohon besar yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan berakar yang tampak merimbun.**

    Niat ingin ikut berpetualang untuk mencari susana lain dalam hidup, melakukan kegiatan travelling untuk mencari tantangan dan kesenangan, namun yang kudapatkan pengalaman yang membuat kepanikan. Akhirnya kami sepakat untuk pulang daripada nanti terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

    Matahari telah condong ke arah barat. Kami berjalan menyusuri turunan jalan setapak di antara pohon-pohon pinus. Kang Joyo berjalan paling depan yang kemudian disusul Anis, Nafa, Whini, dan Jeni. Aku sendiri berjalan paling belakang. Aku masih memikirkan kejadian yang telah kualami. Masih terbayang wajah May yang ku temui, dan kami mengulang kembali kenangan lama bermain layang-layang di padang yang luas di tepian danau. Dan juga tiba-tiba May yang kujumpai kembali itu lenyap dan aku terperangkap dalam gubuk reyot. Namun setelah aku ditemukan oleh teman-tamanku dalam keadaan tak sadarkan diri, gubuk reyot itu pun tak ada.

    Siang perlahan berganti senja. Di antara iring-iringan kami menuruni lereng perbukitan, dari depan kulihat beberapa orang 'pun beriringan naik ke puncak hutan pinus. Saat aku berpapasan dengan seseorang yang berjalan paling belakang, aku terhenyak dan memandang lekat ke arahnya. Ia pun memandangku lekat. Kami saling melengak sambil berjalan. Gadis itu tersenyum dan menampakkan giginya yang gingsul. "May,.." gumamku. Kulihat getar bibirnya pun seperti mengucap namaku.

    "Rey...!" Seru Jeni yang telah berjalan agak jauh dariku. Sementata aku masih mematung mamandang gadis itu. Teman-temanku yang lain turut berhenti. Mereka memanggilku untuk segera turun mengikutinya. Dan aku pun bergegas menyusul mereka. "Sudah, kamu berjalan di tengah saja." Perintah Jeni. Kulihat Anis geleng-geleng kepala melihat ulahku. Kang Joyo dan Nafa saling pandang, dan, "hmmm,..." mereka pun menggeleng bersamaan.

****

Misteri Gadis Pinus

Senyum Gadis Gingsul

Oleh : Djacka Artub
Kategori : Fiksi

Gambar: google.com

    "May,..." Sapaku, "Kau kah, itu?" di tengah hutan pinus di kaki gunung semeru, di bawah redup purnama yang mengintip dibalik rerimbun pepohonan, kulihat sesosok gadis yang pernah kukenal setahun yang lalu, walau hanya sesaat. Isyarat mimik gadis itu mengundangku agar mengikutinya berjalan di antara pohon pinus yang berjajar rapi di kaki gunung. Aku mengikuti langkahnya. Ia berjalan sangat cepat. Hingga aku sering hampir terjatuh tersandung tonggak saat mengikuti langkahnya.**

    "Rey, lusa mau ikut ke hutan pinus Semeru, ndak?" tanya salah seorang teman. Aku pun men-iya-kan tawaran itu karena aku juga ingin memiliki pengalaman berpetualang seperti teman-temanku yang lain. Mereka [temanku], sudah sering melakukan pendakian gunung-gunung yang ada di pulau Jawa. Jadi, untuk menjawab rasa penasaranku ketika mendengar cerita petualangan dari teman-teman, aku pun setuju untuk ikut bergabung, berpetualang di gunung Semeru.

    Pagi selepas sholat subuh, sesuai hari yang telah ditentukan aku telah bersiap dengan perbekalan untuk berpetualang. Kang Joyo, sebagai pemandu, ia telah menunggu di perempatan tempat pemberhentian bus yang tak jauh dari rumahku. Di kecamatan Jatirogo. "Teman-teman yang lain mana, Kang?" Tanyaku seraya membetulkan tas ransel di punggung sambil berjalan ke arah Kang Joyo yang duduk di samping lampu Bangjo perempatan Jatirogo.

   "Masih menunggu Nafa." Kang Joyo menjawab pertanyaanku setelah mengembuskan asap rokoknya.

    "Tapi semuanya sudah siap kan, Kang?"

    "Sudah,... Tinggal menunggu Nafa saja."

    Seperti wanita pada umumnya, Nafa selalu lama ketika bersiap untuk bepergian. Tapi Anis dan Whini sudah bersiap lebih dulu karena sore harinya mereka telah mempersiapkan segala keperluannya. Tak berselang lama, Anis, Nafa, Whini, dan juga Jeni, berjalan beriringan. Mereka menghampiri kami, "Yuk, kita berangkat." seru Nafa.

    "Mau jalan kaki berangkatnya?" Sela Kang Joyo.
    "Belum ada bus yang lewat, kang?" Jeni menimpali.
    "Tadi sepertinya sudah ada satu bus yang lewat." Tukasku, "Tapi sebelum Kang Joyo datang kayaknya."

    "TELOLET... TELOLETT...!" Tak lama kami menunggu, sebuah bus yang akan mengantarkan kami ke terminal Bojonegoro, datang dari arah barat. Bus yang baru keluar dari terminal Jatirogo itu masih terlihat agak kosong. Hanya beberapa orang penjual sayur yang tampak menumpangi bus tersebut. Kami segera naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah sampai di terminal Bojonegoro, perjalanan dilanjutkan dengan bus antarkota menuju kota Surabaya. Yang kemudian dilanjutkan lagi dengan bus jurusan Malang. Dalam perjalanan, kami asyik mengobrol tentang petualangan.

    Sesuai rencana, kami sampai di tempat tujuan saat senja. Waktu yang pas untuk menikmati mentari senja di balik gumuk dan pucuk pinus. Namun rasa lelah membuat kami harus beristirahat terlebih dahulu.

     Kumandang adzan maghrib terdengar dari toa masjid maupun dari mushola-mushola di perkampungan. Kami beranjak untuk menunaikan kewajiban terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda untuk bermalam di kaki gunung Semeru, tepatnya di tengah hutan pinus.

    Di antara pucuk pinus yang menjulang, secercah purnama tampak terlihat syahdu. Semua masih sibuk mempersiapkan segala keperluan. Kang Joyo membuat tenda dibantu Jeni. Mereka sudah berpengalaman. Anis, Nafa, dan Whini mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk keperluan membuat api unggun. Aku masih terpana dengan pesona bulan purnama. Aku duduk di bawah pohon pinus. Maklum, aku yang baru pertama kali ikut berpetualang masih awam dengan segala keperluan yang dibutuhkan saat menginap di tengah hutan.

    Dalam keremangan sinar rembulan di tengah hutan pinus, penglihatanku tertuju pada sesosok gadis yang berdiri mematung di antara pohon pinus yang berjajar. "May,... Kau kah, itu?" Aku berguman dalam remang. Lama kupandang, sesosok gadis itu tersenyum dan menampakkan giginya yang gingsul. "Benarkah kau 'May'?" Aku beranjak dari dudukku, berniat mendekat. Namun seorang gadis yang kulihat itu hanya tersenyum tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya untuk menjawab pertanyaanku. Ia berbalik arah dan berjalan. Langkahnya terhenti, ia melengak ke arahku. Mimik wajahnya mengisyaratkan agar aku mengikuti langkahnya.

    Tanpa sadar, langkah kakiku telah jauh meninggalkan teman-temanku yang sedang sibuk menyiapkan keperluan untuk bermalam. Kuikuti langkah gadis yang kutemui di tengah hutan itu dengan sangat cepat. Sesekali aku hampir terjatuh tersandung tonggak kayu yang terlihat meremang karena sinar rembulan yang terhalangi oleh rerimbun pepohonan itu tak mampu meneranginya.

    Kerlip cahaya damar terlihat meremang dari sebuah pondok kecil. Aku berpikir, May juga sedang bermalam di hutan pinus yang berada di kaki Semeru itu bersama teman-temannya. Gadis itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang tampak seperti sebuah pondok kecil dari kejauhan. Aku berjalan mendekat. Gadis itu tersenyum dan mengulurkan tanganya, mengajakku untuk masuk ke pondoknya.

    "Rey...! Di mana kau...!" Lamat kudengar suara Kang Joyo memanggilku. Jeni, Nafa, Anis, dan Whini, pun bergantian memangil-manggil namaku dari kejauhan. Aku linglung. Rasa hati ingin mengikuti gadis yang ada di hadapanku, namun aku pun ingin menyahut teriakan teman-temanku. Namun mulutku terasa terkunci oleh pesona senyum gadis gingsul itu.

    Di bawah rerimbun semak belukar, sorot mata tajam menyala dan gigi-gigi runcing siap menerkam. Seekor serigala kelaparan memandangku penuh nafsu. Kurasakan tangan dingin menarikku untuk segera masuk ke dalam pondok. Suasana sunyi. Hanya suara embus nafas kami berdua, aku dan gadis misterius itu yang terdengar dalam ruangan. Seketika pandanganku terasa gelap. "BLEKKK..!" Tak kudengar maupun kurasakan lagi apa yang selanjutnya terjadi.

*******

Senyum Gadis Gingsul

Senyum Manis Gadis Berkacamata Minus
Oleh : Djacka Artub
Kategori : Fiksi


   Di antara bocah-bocah dusun yang berkejaran berebut layang-layang, kugulung benang yang menjulur di areal persawahan yang gersang oleh kemarau yang panjang. Layang-layangku terputus dari benang, lalu terbang mengudara entah kemana. Kecewa? Ya. Rasa kecewa pastilah ada. Namun, biarlah ia pergi. Suatu saat nanti pasti kan kumiliki layang-layang pengganti.

    Rona jingga terlihat samar di kejauhan, pertanda senja segera menyapa. Di atas lekuk galengan [pematang] sawah, kuamati layang yang melayang. Riang wajah bocah dusun menarik-ulur benang; memainkankan layang-layang. "Kakak pulang dulu, ya!" Teriakku pada bocah-bocah yang masih asyik menerbangkan layangan. Tak ada sahut jawaban dari bocah-bocah itu. Mereka tengah asyik dengan aktifitasnya sambil menunggu kumandang adzan maghrib. Hanya lambain tangan bocah-bocah dusun itu yang nampak menjawab teriakku.

    Dengan gulungan benang di kaleng bekas wadah cat, kuberjalan menyusuri galengan sawah menuju jalan setapak. "Kok sudah pulang, Rey?" Tanya Lek Karto. Seorang RT di dusun tempat tinggalku. Ia berdiri di ujung jalan setapak, di sampingnya berdiri seorang gadis berkacamata minus. Gadis itu tersenyum manis saat lirikan mataku tertuju padanya. "Iya, Lek. Layangannya terputus dari benang." Jawabku pada Lek Karto, sambil menunjukkan gulungan benang di kaleng. Kemudian aku berlalu. Meninggalkan Lek Karto yang masih berdiri bersama gadis berkacamata itu. Mereka melihat para bocah dusun yang masih bermain layangan di areal persawahan.

    Setapak demi setapak, kulangkahkan kaki di atas jalan setapak. "Siapa gadis yang bersama Lek Karto tadi ya?" tanyaku membatin. "Tak pernah kulihat sebelumnya," rasa penasaran membuatku ingin berbalik arah dan bertanya. Namun, "Ah, masa bodoh." kulanjutkan berjalan menuju ke rumah. Lagi pula hari sudah sore. Lebih baik aku segera membersihkan badan dan bersiap berangkat ke langgar [mushola].

   Ibadah sholat maghrib pun usai dilaksanakan. Seperti biasa, sehabis sholat maghrib aku mengajari anak-anak yang sedang belajar meng-eja huruf hija'iyah. Sekilas kulihat gadis berkacamata minus yang tadi kulihat sedang bersama Lek Karto, pun ada di langgar tempatku mengajari anak-anak mengaji. Gadis itu tersenyum sambil menganggukkan kepala. Aku pun membalas senyumnya. Lalu ia mengambil kitab suci, dan membacanya. Tak kusangka, gadis itu sangat fasih membaca ayat suci Al-Qur'an. Anak-anak perempuan yang juga mengaji di langgar itu mengerumuninya. Meminta untuk diajari mengaji olehnya.

    "Kak, ajari aku membaca huruf hija'yah!" kurasakan punggungku digoyang dari belakang. Aku tersentak kaget. Rupanya bocah laki-laki yang menggoyang tubuhku itu sudah sejak tadi memintaku untuk mengajarinya mengaji. Namun aku tertegun mendengar suara gadis berkacamata itu saat membaca ayat suci. Sehingga aku tak mendengar ketika ada seorang bocah yang memintaku untuk mengajarinya belajar mengaji. **

    Esok hari selepas sholat ashar, aku kembali berangkat bermain layang-layang di tempat yang kemarin. "Mau bermain layangan ya, Mas?" Sapa seseorang kudengar. Suara gadis menyapaku dari seberang jalan, dan aku pun melengak mencari sumber suara itu. Kulihat senyum gadis berkacamata yang berdiri di teras rumah Lek Karto itu lagi-lagi menggodaku untuk mengenalnya lebih dekat. Wajah cantik berpadu dengan ujung giginya yang gingsul sebelah membuatku terpana melihatnya. Hingga aku lupa menjawab pertanyaan darinya. "Eh, iya, mbak." Gugup aku menjawabnya setelah tersadar dari angan yang melayang. "Kok, mbak bisa tahu kalau aku mau main layangan?" tanyaku yang masih setengah sadar oleh pesonanya. "Tuch, mas-nya kan bawa layangan." Ia menujuk layangan yang kubawa. Aku garuk-garuk kepala, manahan rasa malu. Kulanjutkan langkah kakiku di jalan setapak dengan rasa kikuk.

    "Mas, aku boleh ikut main layangan, ndak?" Baru beberapa langkah kakiku memijak jalan menuju ke areal persawahan tempat bermain layangan, tetiba langkahku dihentikan kembali oleh gadis berkacamata itu.

    "Ndak, ah. Takut sama Lek Karto." jawabku, "Lagian kita belum saling kenal." lanjutku beralasan, sambil melirik Lek Karto yang sedang sisiksisik belahan batang bambu, di samping rumahnya. Kulihat gadis itu berlari ke arah Lek Karto. "Pak Dhe, aku boleh ikut main layangan, ndak?" ia meminta ijin sama Lek Karto. Pak Dhe-nya.

    "Yo,... Tapi pulangnya jangan terlalu surup." Jawab Lek Karto memberi ijin.

    Gadis itu berlari ke arahku. Hatiku pun bergetar ndredheg tak karuan. Seorang gadis yang aku kagumi, ternyata dengan suka cita ia mengikuti langkahku menapaki jalan setapak menuju areal persawahan untuk bermain layang-layang. "Namaku Reyvan. Panggil saja 'Rey'." Dalam perjalanan, kuulurkan tangan memperkenalkan diri. "Saya Maysaroh. Panggil saja 'May'." Dan ia pun memperkenalkan dirinya. Sambil berjalan, May bercerita, jika dirinya adalah keponakan Lek Karto yang datang dari kota untuk mengisi liburan sekolah.

    Sesampai di tempat untuk bermain layangan, sudah berkumpul bocah-bocah dusun yang tengah asyik menerbangkan layangannya masing-masing. "Mas Rey pacaran,... Mas Rey pacaran,..." Sorak anak-anak meneriaki-ku yang berjalan beriringan dengan Maysaroh. Gadis berkacamata minus yang aku kagumi. "Hussstt,... Bocah cilik ngerti pacaran!" Ucapku pada bocah-bocah yang meneriaki-ku.

    Di areal persawahan itu, aku mulai mengulurkan benang yang terkait dengan layang-layang. May memegang layang-layang dan ketika angin bertiup, layangan pun lepas mengudara. Semakin meninggi dan menari-nari di angkasa. Sangat indah. Baru kali ini aku merasakan bermain layang-layang dengan suasana yang sangat indah dan mengesankan. Aku duduk di galengan sawah sambil menarik-ulur benang, memainkan tarian layang-layang. May mengikutiku duduk di galengan sawah. Kami duduk berdampingan memandang layang yang melayang. Sesekali tangan May, gadis berkacamata itu turut menarik dan mengulurkan benang. Dan tangannya pun terkadang bersentuhan dengan tanganku. Ketika hal itu terjadi, senyum May terpancar menampakkan giginya yang gingsul.

    "Eh, sadubilah!" Aku terperanjat dan berdiri dari dudukku yang bersanding dengan May.

    "Ada apa, mas?" May pun turut terperanjat kaget.

    "Sudah petang. Ayo kita pulang." Ajakku pada May. Rasa nyaman bermain layang-layang bersama May, hampir saja membuatku lupa waktu. Begitu pun dengan May, ia lupa dengan pesan Pak Dhe-nya. "Waduh,... Bisa dimarahi pak RT, nih." Batinku. Akhirnya sore itu aku sudahi bermain layangan. "Besok kita main lagi ya." Ajakku pada May, sambil menarik benang layang-layang. May mengangguk, meng-iya-kan ucapanku.**

    Di hari berikutnya, dengan semangat papat-limo [empat-lima], aku membawa layanganku selepas sholat ashar. Rasa ingin mengulang kembali kisah kemarin membuatku tak menghiraukan gaduh para sapi di kandang yang minta dicombor [diberi minum]. Bergegas aku melangkah, ingin cepat bertemu dan bermain layang-layang kembali bersama May. Ketika sampai di depan rumah Lek Karto, aku berhenti. Kuamati di dalam maupun di sekitar rumah, tak kutemui sosok May. Tiba-tiba Lek Karto keluar dari balik rerimbun tanaman sayuran yang terdapat di kiri rumah. Ia tak menyapaku. Dalam batin, aku mengira Lek Karto marah karena kemarin May pulang kedalon [terlalu petang]. Sehingga hari ini May dilarang keluar rumah untuk menemuiku.

    "Ah, sudah lah." Aku berguman sendirian. Kulanjutkan melangkah dengan perasaan yang tak menentu. "Rey...!" Suara Lek Karto memanggilku. Aku melengak ke arahnya. Ia berjalan ke arahku, di tangannya tergenggam kertas berwarna putih. "May tadi pagi mendadak pulang. Asma ibunya kambuh." Kata Lek Karto, "Dan dia menitipkan ini untuk kamu." lanjutnya, dan memberikan sehelai kertas yang dilipat rapi. Kuterima titipan itu dalam diam. Aku termangu.

    "Terima kasih, Lek." Kulanjutkan langkah menapaki jalan menuju ke tempat bermain layang-layang. Hatiku merana. Indah yang kemarin, yang kuingin dapat berulang di hari ini, ternyata 'Zonk'. Harapanku sirna. Sampai di areal sawah pun, aku tak segera menerbangkan layang-layangku ke udara. Aku duduk termangu di galengan sawah. Kubuka perlahan kertas putih dari May, kemudian kubaca. "Maaf, Mas Rey. Hari ini May tak bisa menemani Mas Rey bermain layang-layang. May mendadak pulang karena Ibu sakit. Semoga di lain waktu kita dapat bersua kembali dan memandang indah layang yang melayang di udara.
Salam dari May."

    Kulipat kembali kertas itu setelah kubaca isinya. Aku masih termangu dalam dudukku. Mengingat kembali kebersamaan yang kemarin. Kebersamaan singkat yang meninggalkan kenangan tak terlupakan. "May..." Desahku.

    "Mas Rey,.. Pacarnya mana? Kok nggak diajak main layangan lagi?" Teriak para bocah yang melihatku duduk sendirian di galengan sawah.

    "Halah,.... Bocah cilik kok pacar wae sing diomong!" Gertakku. Dan bocah-bocah itu berlari sambil tertawa, "HAHAHAHA...."

    "Ah,..." Kuangkat bokongku yang menempel di galengan sawah. Dan daripada ditertawakan oleh anak-anak, lebih baik aku menerbangkan layang-layang meski terasa hampa tanpa May.

****


Senyum Manis Gadis Berkacamata Minus