Sabtu, Juni 09, 2018

Paguyuban Garong'T Bagi-Bagi Takjil Di Taman Bungkul Surabaya

Bagi-Bagi Takjil Paguyuban Garong'T Di Kota Surabaya


    Sebagai makhluk sosial, yang artinya bahwa individu tidak bisa hidup sendiri tanpa individu lain, maka kita sebagai manusia sudah seharusnya saling bantu dan tolong menolong antar sesama. Seperti salah satu komunitas yang pada awalnya dibentuk untuk mempersatukan para perantau dari kabupaten Tuban, namun seiring perkembangannya paguyuban yang dinamai Garong'T ini sudah banyak juga anggotanya yang berdomisili di tanah kelahiran. Yang artinya untuk saat ini paguyuban Garong'T sudah menjadi milik bersama warga Tuban. Bukan cuma milik para perantau saja.

    Dan sebagai perwujudan dari visi dan misi paguyuban Garong'T (Gabungan Anak Ronggolawe Tuban), yang salah satunya adalah untuk membentuk karakter dan jiwa sosial serta mempererat tali persaudaraan antar sesama terutama bagi para anggota paguyuban yang sedang berada di tanah perantauan, yang sesuai dengan slogannya, 'Arek perantauan golek seduluran' (Anak Perantauan Mencari persaudaraan), maka untuk kesempatan pada bulan yang penuh berkah ini pun para anggota paguyuban Garong'T ingin berbagi dengan sesama, dengan tujuan untuk mengharap berkah atas bulan yang penuh rahmat ini. Dengan harapan, semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi para anggota paguyuban dan juga kepada para pengendara lalu lintas yang sedang berbuka puasa di jalan.

    Selain itu, tujuan dari bagi-bagi takjil ini adalah untuk mempererat tali silaturrahmi  antar sesama umat manusia. Karena pada bulan Ramadan, umat muslim selain dianjurkan untuk taqarrub yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga harus mempererat hubungan kemanusiaannya. Maka dari itu, para anggota paguyuban Garong'T yang ada di kota Surabaya mengadakan bagi-bagi takjil kepada para pengguna jalan. Dan untuk bagi-bagi takjil di kota Surabaya ini  dilaksanakan di taman bungkul Surabaya.

    Meskipun sebenarnya banyak sekali agenda kegiatan  paguyuban Garong'T setiap menghadapi bulan suci ini di tanah kelahirannya (Tuban), tetapi karena para perantau yang ada di Surabaya ini sering mengadakan kumpul bareng (kopdar) di taman bungkul Surabaya, maka para anggota paguyuban pun berinisiatif untuk menyisihkan sedikit rizekinya dan turut juga melaksanakan kegiatan bagi-bagi takjil di tempat tersebut karena di taman Bungkul Surabaya ini selalu ramai dijadikan tempat berkumpul oleh warga sekitar untuk mengisi waktu luang.

    Alhamdulillah, pada Jumat, 1 Juni 2018 atau bertepatan pada hari ke tujuh belas bulan ramadhan 1439 H, kegiatan untuk berbagi kepada sesama pun dapat terlaksana dengan baik. Semoga kegiatan ini dapat membawa berkah dalam menjalin hubungan kemanusiaan dan mempererat tali persaudaraan para anggota paguyuban Garong'T di tanah perantauan.
    Dan untuk kegiatan-kegiatan paguyuban Garong'T yang lain dapat disimak di blog resminya Gabungan Anak Ronggolawe Tuban

Video kegiatan bagi-bagi takjil
👇

Klik thumbnail untuk melihat videonya



    Sekian coretan ngadimin pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi yang mau memanfaatkannya. Hehe.
Read More

Minggu, Mei 27, 2018

Menunggu Waktu Berbuka Puasa

Menunggu waktu berbuka puasa


     Yeachhh.... tak terasa, kita menjalankan ibadah puasa pada tahun ini sudah hampir sampai di pertengahan bulan.
    Banyak hal yang kita rasakan ketika menjalankan ibadah puasa ini. Misalnya, perut terasa lapar dan kerongkongan kering karena haus. Hal itu lumrah terjadi karena memang dalam berpuasa itu kita tidak boleh makan dan minum. Hehe.... Dan kita harus menahan rasa itu sampai tiba waktunya halal bagimu untuk menikmati hidangan, yaitu ketika tiba waktu berbuka puasa.

Kegiatan Saat Menunggu Waktu Berbuka Puasa.

    Kita semua pasti sudah tahu, bahwa menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan sekali bukan? Terutama yang sedang menjalani LDR. Pasti rasa ingin bertemu untuk mengobati rasa dahaga pada rindu yang telah lama membeku sangat menggelora.
Lho, lho, lho,.... Kok malah ngomongin dahaga rindunya LDR sih, Min-ngadimin. Haha
    Oke, kita kembali ke pokok permasalahan. Haus dahaga dan rasa lapar ketika kita sedang menunggu waktu berbuka puasa akan tidak terasa jika kita menunggunya sambil melakukan kegiatan atau aktivitas yang bermanfaat. Kalau anak jaman sekarang mengisi kegiatan dalam menunggu waktu berbuka puasa itu menyebutnya 'Ngabuburit'.
    Nah, istilah ngabuburit sendiri sebenarnya ngadimin juga kurang tahu pasti artinya. Ngadimin cari di KBBI pun tak ada. Tapi menurut beberapa sumber, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yaitu 'Burit' yang artinya sore hari. Kalau dalam kamus besar bahasa Indonesia, burit artinya belakang. Sedangkan buritan artinya belakang kapal.
    Lalu, apakah arti ngabuburit yang sebenarnya? Seperti yang sudah ngadimin jelaskan di atas, ngabuburit berasal dari kata 'Burit' yang dalam bahasa Sunda disebut sore. Jadi, Ngabuburit dapat diartikan sebagai menunggu waktu sore. Mungkin seperti itu.
    Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam menunggu waktu sore atau waktu berbuka puasa. Misalnya, mengaji, i'tikaf (berdiam diri di masjid), membaca buku, dan lain sebagainya.
Namun anak-anak jaman sekarang lebih suka mengisi kegiatan ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa dengan cara berjalan-jalan bersama pasangan di pantai atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Suatu hal yang wajar, tetapi harus tetap terkontrol. Jangan sampai kesucian ibadah di bulan ramadhan ini terkotori oleh hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa atau bahkan membatalkan ibadah puasa itu sendiri.
    Dan bagi yang jomblo, biasanya ada yang mengisi ngabuburit dengan hape miring atau bermain game online. Oke, ndak apa-apa kok kita mengisi ngabuburit dengan hape miring. Ndak usah resah jika ada yang bilang 'Nom-noman kok ngabuburit dengan hape miring. Nom-noman,.....' hahaha
Lah, daripada ngabuburit berdua bersama pasangan yang belum halal, dan hanya akan menambah dosa, kan lebih baik ngabuburit dengan hape miring. Tul nggak, mblo? Tenang, mblo,... Tak bolo sampean,... Haha.... Tapi jangan ngabuburit dengan hape miring sambil nonton video ek ok lho ya... Hehehe..

    Yach, ngomongin soal ngabuburit, ngadimin jadi teringat masa kecil dulu ketika masih di kampung. Dulu waktu ngadimin masih usia anak-anak belum ada gadget dan game-game online seperti sekarang ini. Dulu ngadimin mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan cara main game ala anak desa. Misalnya bermain layang-layang, atau bermain-main di tumpukan jerami di sawah yang habis musim panen. Kalau ndak gitu, ngadimin bersama teman-teman bermain melempar batu di sungai yang saat itu aliran sungainya masih tampak bersih dan asri. Setelah matahari hampir terbenam, barulah pulang ke rumah dan berjalan dengan langkah yang dilambat-lambatkan supaya ketika sampai rumah pas waktu berbuka puasa. Pokoknya asyik banget gamenya anak kampung waktu itu. Ah, jadi kangen masa kecil di desa waktu itu nih.
    Hamparan sawah di kaki pegunungan yang ada di salah satu desa di kabupaten Tuban, salah satu desa kecil tempat tinggal ngadimin pada masa anak-anak. Tetapi sekarang sudah jarang sekali ngadimin melihat pemandangan itu. Hanya beberapa bulan sekali ngadimin berjalan-jalan melihat pemandangan lekuk indah galengan sawah ketika ngadimin pulang ke kampung halaman. Dan itu pun pemandangannya sudah tak seperti dulu lagi. Hamparan sawah dengan lekuk galengannya yang indah, sekarang sudah tak tampak lagi. Hamparan sawah sudah banyak yang berganti dengan bangunan-bangunan rumah penduduk.
    Dan untuk ibadah puasa pada tahun ini pun, ngadimin tak ada lagi waktu untuk ngabuburit dengan duduk-duduk santai di atas jerami bersama teman, maupun berjalan-jalan dan duduk santai di tepi  pantai bersama pasangan. Aktifitas ngabuburit sekarang ini ngadimin lakukan dengan cara mempersiapkan diri untuk membuka lapak jualan. Kadang belum selesai mempersiapkan segalanya, eh tahu-tahu sudah masuk waktu Maghrib atau waktu berbuka puasa. Tapi Alhamdulillah, tanpa ada rasa bosan karena menunggu akhirnya datang juga waktu yang halal untuk bersantap ria meskipun jauh dari keluarga. Ya memang seperti inilah nasib perantau ketika di bulan ramadhan. Makan sahur dan buka puasa tanpa ada keluarga di sekeliling. Namun semua itu tak akan menjadi beban jika kita tetap terus bersyukur. Bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima.

    Oke, cukup sekian dulu coretan ngadimin kali ini. Jika ada yang salah, ngadimin mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Read More

Jumat, April 13, 2018

Tak Tersentuh


Tak Tersentuh


Jauh di pelosok ujung kulon bumi wali
Jalan berkelok penuh lubang dan kerikil yang tajam.
Lebih dari tiga warsa
Anak-anak tak lagi merasakan nyaman saat berangkat dan pulang sekolah.

Jalan desa tak lagi mulus
Jembatan penghubung tergerus arus
Putus
Terbengkalai tak terurus.

Terenyuh melihatnya
Dalam hati pun aku bertanya
Apakah keadaan seperti ini akan berlanjut selamanya?
Tak adakah niat para penguasa untuk menyentuhnya?

Oh ... Nasib desaku yang tak tersentuh
Terisolir dan ter-anaktiri-kan
Kaki-kaki mungil pun melepuh
Ter-rajam kerikil-kerikil tajam jalanan.



Sekaran, 13/04/2018
Djacka Artub
Read More

Sabtu, Maret 24, 2018

Tali Kutang Perawan

Tragedi Tali Kutang

Oleh : Djacka Artub


    Ini bukanlah sebuah lagu dari kisah cinta manusia, bukan pula sebuah tembang asmara anak di bawah umur. Melainkan sebuah kisah yang menceritakan kehancuran sebuah rumah tangga karena adanya tali kutang yang nylempit di bawah bantal.

    Senja baru saja menyapa. Kumandang adzan maghrib terdengar dari toa mushola yang ada di tengah-tengah perkampungan. Namun seiring gema suara adzan itu, terdengar suara ribut dari sebuah pohon besar yang ada di pojok kampung. Pertengkaran pasangan dhemit tak terelakkan ketika si wewe gombel mendapati seutas tali kutang di bawah bantal sang suami, seekor genderuwo yang menjabat sebagai tetua bangsa halus di area kuburan angker tersebut.
    Tali kutang itu bukanlah milik wewe gombel yang secara sah telah terikat ikrar ijab-qabul di depan penghulu bersama si genderuwo tersebut. Melainkan seutas tali kutang itu milik kunti perawan yang biasa mangkal dan berkeliling mencari mangsa untuk makan malamnya.
    Memang, secara status, si kunti itu masih terbilang perawan. Tetapi  jika melihat dari segi bentuk montok tubuhnya yang sangat aduhai, banyak bangsa lelembut yang meragukan statusnya tersebut. Apalagi setiap malam ia sering bergentayangan dari tempat gelap yang satu ke twmpat gelap yang lainnya.

    Sudah bertahun-tahun lamanya, pasangan dhemit yang saat itu sedang perang diwaktu surup itu membina keluarga. Dua tuyul hasil hubungan di tempat gelap oleh wewe gombel dan genderuwo 'pun telah menginjak masa remaja. Namun seperti kata pepatah kuno dari bangsa manusia, 'Tua-tua keladi. Semakin tua, semakin tak tahu diri' itulah yang terjadi pada diri genderuwo yang tak tahu diri tersebut. Meski gelagatnya telah lama tercium oleh si wewe gombel, namun ia masih saja suka daun muda yang masih seger dari segi rupa maupun rasa. Kimcil, Ciblek, dan sejenisnya masih sering diburu oleh si genderuwo. Pantas saja wewe gombel yang telah memyumbangkan dua tuyul itu mengamuk di waktu petang ketika kecurigaannya selama ini terbukti dengan adanya tali kutang perawan di bawah bantal suaminya.
    "Kok ndak malu sama giginya!" Begitu umpat wewe gombel pada suaminya. Namun sang suami hanya tolah-toleh ketika diamuk oleh sang isteri. "Gigi tinggal satu, masih saja gatelan!" Lanjut wewe gombel. 
    "Maksudmu kuwi opo?" Balas si genderuwo dengan tenang.
    "Tali kutang siapa ini?" Wewe gombel semakin geram. Ia menunjukkan tali kutang yang ditemukannya.
    "Bukannya itu tali kutangmu?" Mencoba mengelak, si genderuwo melanjutkan bermain game Fruits bom di semartphone-nya.

    Wewe gombel semakin mengamuk. Semua barang yang terdapat di sekelingnya pecah-berantakan oleh ajian banting-kepruk dari tangannya yang kekar karena genderuwo yang telah membina rumah tangga bersamanya itu terus saja mengelak dan tak menghiraukannya ketika ditanya perihal tali kutang yang terdapat di bawah bantal tersebut. Dan karena semua kalimat yang keluar dari mulutnya yang bertaring tajam hingga gerahamnya menggeretak itu tak mendapat respon dari si genderuwo, wewe gombel menjerit dengan lengkingan suara yang mengerikan. "Pulangkan saja... Aku pada ibuku, atau ayahku... Uuu... Huuu..." Wewe gombel itu menirukan lagu nostalgia yang sangat populer di era 80-an. Namun masih saja si genderuwo melanjutkan permainan aplikasi gama android miliknya.
    Dengan tekad yang bulat, wewe gombel mengeluarkan ajian pamungkas miliknya. Nawaitu bismillah, noto ati noto pikiran noto klambi lebokne tas, ia mengajak kedua tuyul yang lahir dari rahimnya beberapa tahun silam itu untuk minggat. Biarlah sang suami yang tak tahu diri itu memuaskan nafsu syahwatnya hingga ajal menjelang.

    Kepergian wewe gombel rupanya tidak membawa efek jera pada genderuwo. Ia malah merasa sangat beruntung karena tak ada lagi suara-suara cempreng yang memarahinya ketika pulang terlalu larut malam. Terkadang justru ia membawa kunti jalanan itu ke rumahnya, sebuah pohon besar di pojok perkampungan. Di tepi kuburan tepatnya.
    Dua tahun lamanya, genderuwo hidup dengan kebebasan tanpa gangguan dari wewe gombel. Selama dua tahun itu ia hidup berfoya-foya dengan kunti,  sang pelakor tersebut. Sebenarnya kunti tersebut tidak lah pantas disebut sebagai pelakor. Karena pada dasarnya ia bukanlah menginginkan orangnya, melainkan hanyalah ingin mengeruk harta si genderuwo. Terbukti, setelah dua tahun hidup berfoya-foya dan harta benda genderuwo itu habis dan hanya tersisa kolor yang menempel di tubuh, kunti jalang itu menghilang. Ia mengincar mangsa baru.

    Di sebuah halte, dua tuyul terlihat sedang mengutak-atik sebuah phonsel baru. Rupanya dua tuyul itu baru saja membeli smartphone. Di bawah tangga jembatan penyeberangan, salah satu tuyul menatap tajam pemandangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Genderuwo yang ia kenal, yang telah mencampakkan dirinya beserta saudara dan ibunya, tampak sedang duduk dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah kolor warna hitam yang tampak lusuh yang menempel menutup privasi hidupnya. Kemudian tuyul itu mengajak kakaknya untuk mendekat.
    Di hadapan genderuwo gelandangan itu, kedua tuyul memperhatikan dengan seksama sesuatu yang teronggok lusuh di hadapannya. Kemudian mereka serempak berujar, "RUMANGSAMU PENAK?" lalu mereka pergi meninggalkan nasib genderuwo yang malang. 
Read More

Minggu, Maret 18, 2018

Pedagang Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima

Oleh: Djacka Artub


    Cuaca sore yang tak bersahabat. Hujan turun mengguyur ibu-kota dengan lebatnya. Seorang pria bertubuh kurus, dengan jalannya yang terseok-seok ia menembus derai hujan bersama gerobak jualannya. Ia tak peduli banyak mata memperhatikannya dari dalam gedung mewah maupun pertokoan. Jalan hidup manusia sudah ada yang mengatur. Jika pun boleh memilih, tentu pun ia tak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya saat ini. Ia ingin seperti mereka yang sedang asyik nongkrong di cafe maupun restoran mewah di kala hujan turun di sore hari. Namun apalah daya, pria bertubuh kurus itu hanyalah orang kampung yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Ia hanya lulusan SMP yang tak memungkinkan untuk mendapat pekerjaan yang layak.
    Hujan masih saja mengguyur dan semakin deras. Dengan jas hujannya yang telah robek di bagian pundak, pria itu menata tenda tempatnya berjualan. Sesekali ia mengibaskan bagian bawah jas hujan yang dikenakan saat menghalangi aktivitasnya menata tenda.
     Sejenak turun hujan mulai reda. Pria itu mempercepat gerakannya menata tenda sebelum hujan kembali turun. Angkasa masih menampakkan wajah murungnya tanpa secercah senyum cahaya langit. Mendung tebal masih setia bergumul dengan senja. Kilat bersahutan dan mimbulkan kengerian ketika suara petir menggelegar dengan angkuhnya.

    Kumandang adzan maghrib terdengar sahydu di antara rintik hujan yang mulai turun kembali. Tenda kaki lima masih setengah selesai didirikan. Seorang pria bertubuh kurus itu menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia mengambil sebuah bungkusan kecil dari tas kresek berwarna putih. Dengan agak mempercepat langkahnya, pria itu berjalan menuju bangunan masjid yang terdapat di perkampungan yang tak jauh dari tempatnya berjualan.
    Selesai menunaikan kewajibannya, pria itu kembali menyelesaikan aktivitas membuka lapak jualannya. Hujan kembali mengguyur deras. Pria itu dengan cekatan menata meja, kursi, dan lain-lain perlengkapan jualannya.

    Aktivitas membuka lapak pun selesai. Duduk termangu di samping gerobak jualannya, ia menunggu calon pembeli. Memperhatikan keadaan tempat jualannya, pria itu menghela nafas. "Bagaimana ada pembeli jika keadaannya seperti ini," gumamnya.
    Akibat hujan yang mengguyur deras sejak langit mengatup senja, sekitar jalan raya tempat pria itu berjualan tergenang luapan air dari gorong-gorong. Banjir.
    Namun tak lama berselang, luapan air yang menggenangi jalan raya pun mulai surut. Tak seperti pada tahun-tahun terdahulu. Banjir bisa bertahan lama karena gorong-gorong tak mampu menampung luapan air hujan.


    Tiga-perempat malam pria itu menjaga lapak jualannya. Mungkin karena hujan dan banyak genangan-genangan air, tak banyak pengunjung yang datang untuk membeli makanan. Para pemilik duit lebih memilih memesan makanan melalui resto-resto yang mempunyai layanan pesan-antar.
    Di pengujung malam atau lebih tepatnya menjelang dini hari, pria itu menutup lapak jualannya. Meski hasil jualan malam ini tak sesuai harapan, namun ia tetap bersyukur karena hasil dari jualan semalam masih bisa untuk modal jualan berikutnya.

    Terkadang jika melihat kondisi yang seperti ini, pria itu terpikir untuk kembali ke desa, ke kampung halamanannya. Namun niat untuk kembali ke kampung halaman itu terkadang pula menghantui perasaannya karena di desa ia tak mempunyai lahan untuk bertani. Banyak sudah lahan pertanian yang kini menjadi perkampungan penduduk, dan juga banyaknya pabrik-pabrik yang didirikan sehingga lahan pertanian menjadi sempit. Belum lagi, ketika harus berpasrah dengan harga hasil panen. Ketika musim panen tiba, harga hasil pertanian selalu anjlok. Sedangkan saat musim tanam, harga bibit dan pupuk melambung tinggi. Tenaga para petani selalu saja terbuang sia-sia. Hasil panen hanya cukup untuk menambal modal saat musim tanam. Karena Nasib petani yang semakin tergusur dan selalu dipermainkan oleh harga pasar sebab harus melawan barang impor itulah pria itu bertekad merantau ke kota meski hanya sebagai pedagang kaki lima.
    Namun saat ini, menjadi pedagang kaki lima pun banyak menemui kesulitan. Terkadang juga harus bersitegang dengan aparat ketika ada razia.
    Janji kesejahteraan yang pernah terdengar berkumandang, hanyalah sebuah dendang untuk menggaet simpatisan. Yang terjadi selanjutnya hanyalah Ingkar. Dan nasib wong cilik masih tetap saja harus memikul beban yang semakin berat karena harga kebutuhan yang melonjak tajam, sementara penghasilan selalu pas-pasan.
    "Ah ... Memang nasib wong cilik selalu saja menjadi tumbal kekuasaan." Ujar pria itu lalu menghela nafas.
    
Read More

Kamis, Maret 08, 2018

Akibat Anyang-Anyangan

Akibat Anyang-Anyangan

Oleh : Djacka Artub


    Akhir pekan yang buruk. Senja yang biasanya indah, tak tampak keindahannya karena mendung sedang asyik bergumul dengan bentang cakrawala, menutup rona indahnya senja di musim dingin.
    Mondar-mandir di tepian halte, Jasminto mengarahkan pandangannya ke ujung jalan raya, menanti angkutan kota yang akan mengantarkannya ke rumah bidadari pujaan segera datang. Namun setiap kali ada angkutan yang melintas, selalu penuh sesak oleh para penumpang. Maklum, hari itu adalah akhir pekan yang seperti biasanya banyak para pekerja pabrik sedang pulang ke kampung menggunakan jasa angkutan umum.
    Di halte itu bukan hanya Jasminto seorang. Banyak pula para buruh wanita yang juga sedang menunggu angkot. Sesekali sambil mondar-mandir, Jasminto memegang perut dan sebentar-sebentar  memijit pahanya bagian atas. Hal itu menyebabkan para buruh yang rata-rata masih gadis itu berbisik pada temannya yang kemudian disambut dengan suara cekikikan. Jasminto menyadari jika cekikikan para gadis di halte itu sedang mentertawakan dirinya. Namun ia tak memperdulikannya. Jasminto hanya fokus pada setiap angkot yang melintas. Sesekali ia menggembungkan pipinya, yang kemudian menghembuskan gembungan udara di mulutnya secara perlahan.
    Rasa ngilu yang sudah tak tertahankan. Jasminto nekat masuk ke dalam minimarket yang terdapat tak jauh dari halte tempatnya menunggu angkot. Sebentar kemudian, Jasminto keluar dari minimarket dengan tangan kosong. Tanpa membawa barang belanjaan. Namun rasa ngilu yang sedari tadi diempet, kini telah lega. Ia baru saja numpang pipis di minimarket tersebut. Jasminto kembali ke halte untuk menunggu angkot. Namun sesampainya di halte, para buruh pabrik yang tadi juga sedang bergerombol menunggu angkot, kini telah raib. Sebuah angkot warna kuning baru saja membawanya ketika Jasminto baru keluar dari minimarket. "Asemm ...." umpatnya dalam hati.

    Nuansa senja semakin petang. Rintik gerimis pun mulai turun mewarnai akhir pekan yang suram bagi Jasminto. Akhir pekan yang semula indah karena ia akan bertemu dengan Jasmin, kekasihnya, namun karena suatu hal menyebabkan akhir pekan yang indah itu berubah menjadi akhir pekan yang suram.
    Rintik gerimis masih saja mengiring tegukan demi tegukan secangkir kopi yang dinikmati oleh para abang becak. Di ujung jalan raya, Jasminto melihat sesosok angkot yang sedang ditunggu-tunggu. Semakin detik, angkot itu semakin mendekat. Hatinya pun merasa 'Plong' karena sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan Jasmin. Jasminto melambaikan tangannya ke angkot tersebut setelah jarak angkot itu sudah dekat. Angkot pun menepi ke halte tempat Jasminto berdiri menantinya. Jasminto segera melangkah menuju angkot tersebut kemudian berkata, "Pak, tunggu sebentar ya," Jasminto berlari ke arah minimarket setelah meminta abang sopir angkot untuk menunggunya.
    Lima menit kemudian Jasminto kembali keluar minimarket. Namun angkot yang sebelumnya di berhentikannya itu telah raib. "Asemmm ...." lagi-lagi Jasminto kembali mengumpat.

    Dering telepon genggam terdengar nyaring dari dalam saku celana. Jasminto segera merogoh sakunya untuk melihat pemanggil pada telepon genggamnya. "Halo, sebentar ya, sayang," ucap Jasminto ketika tahu yang menelepon dirinya adalah Jasmin, kekasihnya.
    "Kok lama banget sih, Bang," balas Jasmin tak sabar menunggu kedatangan Jasminto.
    "Sebentar, sayang ... Ini Abang lagi nunggu angkot."
    "Lama bangit sih, nunggu angkotnya?"
    "Iya nih. Nggak tahu kenapa hari ini angkotnya nggak ada yang lewat. Ada demo, barangkali." Jasminto beralasan.
    "Eh, Bang, mana ada demo sampai malam begini." Jasmin yang sudah kesal karena terlalu lama menunggu, bertambah kesal dengan alasan Jasminto yang tak masuk akal.
    Pertengkaran antara Jasminto dan Jasmin melalui telepon genggam pun tak terhindarkan. Sampai beberapa kali angkot yang melintas, selalu lewat begitu saja tanpa Jasminto berhentikan karena ia sibuk meladeni berbantah ria dengan Jasmin. "Sudah, sudah! Gara-gara kamu, beberapa angkot yang melintas selalu lenyap begitu saja." Jasminto pun kesal.
    "Ini juga gara-gara kamu!" Balas Jasmin semakin bertambah kesal karena disalahkan. Sambungan telepon pun diputuskan.

    Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Angkot sudah mulai jarang yang melintas meskipun rintik gerimis telah me-reda. Jasminto masih tetap berdiri di halte itu untuk menunggu angkot. Namun tiba-tiba rasa ngilu kembali menyerangnya. Kebelet pipis. Ia pun kembali memasuki minimarket dan segera nyelonong ke toilet minimarket tersebut. Namun tiba-tiba salah seorang penjaga minimarket mengurnya, "Eh, Mas, ini minimarket bukan toilet umum."
    Mendengar teguran dari penjaga minimarket tersebut, Jasminto dengan perasaan malu ia pun berterus terang jika sedang Anyang-Anyangan. "Oalah, mas, mas,... Kalau anyang-anyangan ya diobati toh ...." saran penjaga minimarket yang menegur Jasminto tersebut. "Anyang-anyangan jika dibiarkan bisa berakibat fatal loh,...." Lanjutnya.
    "Iya, mbak. Gara-gara anyang-anyangan, saya sampai ketinggalan angkot beberapa kali lintasan. Dan yang lebih parah lagi, saya sampai bertengkar dengan pacar saya karena sampai jam segini tak kunjung datang." Jasminto menjelaskan panjang kali lebar tentang penderitaannya akibat dari anyang-anyangan.
   "Tuch, kan ...."
    "Di sini ada obat anyang-anyangan ndak, mbak?"
    "Ada, tuch." Penjaga minimarket menunjuk buah-buahan yang terpajang di rak minimarket.
    "Buah ciplukan?" Jasminto mengambil dan mengamati buah yang ditunjuk oleh penjaga minimarket tadi.
Buah cranberry: manfaat.co.id

    "Ini buah cranberry, mas. Buah cranberry ini dipercaya mampu mencegah serta mengobati anyang-anyangan. Karena Buah cranberry  mengandung Proantocyanidin (PAC) yang dapat mencegah penempelen bakteri E.Coli di dinding saluran kemih. Setelah makan buah ini, bakteri E.Colli tersebut akan dibuang bersama air kencing." Penjaga minimarket yang bernama Anis tersebut menjelaskan. Ia pun menjelaskan penyebab anyang-anyangan, dan salah satunya adalah celana dalam yang kotor pun dapat menyebahkan anyang-anyangan karena adanya bakteri yang menempel. 
    Jasminto manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari penjaga minimarket tersebut.
    "Hayooo .... Mas-nya ndak pernah ganti celana dalam ya...?" celetuk penjaga minimarket yang lain.
    "Sontoloyo..." Timpal Jasminto, "ya udah, saya beli buah cranberry-nya ya, mbak. Sekalian dua bungkus kwaci." Pungkas Jasminto.
    Setelah membayar buah cranberry sebagai obat anyang-anyangan dan dua bungkus kwaci sebagai oleh-oleh kesukaan Jasmin, Jasminto pun keluar dari minimarket dengan perasaan lega. Dan beruntung, saat ia berjalan menuju halte, sebuah angkot sedang berhenti di depan halte untuk menunggu penumpang.

Read More

Jumat, Februari 23, 2018

Hujan Di Kepergianmu

Hujan di Kepergianmu


10 Januari 2018,...

    "Selamat jalan, semoga kita dapat bersua kembali." 'Ku ucap kata perpisahan di saat sebelum sepasang kaki itu melangkah ke dalam sebuah bus Damri yang akan membawanya pergi dari hadapanku. Rintik gerimis masih setia mengguyur tubuh kami sebelum sekat kaca dan body bus membatasi kami. Sebelum ia masuk ke dalam bus. Hitam legam mendung pun semakin tebal. 
    Perlahan, bus Damri meninggalkan terminal Bungurasih, Surabaya. Mendung tebal yang disertai gerimis, yang sejak tadi bergumul dengan hiruk-pikuk keramaian terminal terbesar di Jawa Timur itu, seketika menumpah-ruahkan deras hujan, mengantarkan kepergiannya. Di antara guyur hujan, kulihat lambaian tangan dari balik kaca bus. Di sebuah halte, aku masih tertegun, berdiri mematung menatap sebuah bus yang perlahan meninggalkan tempat pemberhentiannya.
    Di antara lalu-lalang para calo dan sopir taksi yang berlomba menggaet calon penumpang, kucari tempat duduk guna menunggu hujan sedikit reda untuk kutinggalkan terminal. Masih teringat kisah perjumpaan yang singkat, namun sangat berkesan itu. Perjumpaan yang sudah lama kurindukan, akhirnya hari itu aku dapat bertemu dan berjabat tangan dengannya. Terminal Purabaya Surabaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan terminal Bungurasih, menjadi saksi pertemuanku. Seseorang yang kukenal dari dunia maya, dan selama ini pun aku hanya dapat berkomunikasi lewat udara bersamanya, kali ini aku dapat bertemu secara nyata. Namun walau selama ini kami hanya menjalin hubungan lewat udara, tetapi hubungan kami sangatlah dekat.

    Hujan telah sedikit me-reda. Bus Damri telah berlalu dan berganti dengan bus yang lain. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan di antara rintik hujan, menuju tempat antrean bus kota. Segera aku masuk ke dalam bus kota dengan lintasan tengah kota Surabaya. Tempat di mana aku tinggal di tanah perantauan. Mendung masih terlihat tebal menghitam. Di dalam bus kota, Aku sedikit tersenyum melihat pesan masuk di aplikasi whatsapp. Sebuah foto kuterima dalam pesan itu. Foto kenangan dan sebagai bukti bahwa kami pernah bertemu dan foto bersama. Dan yang lebih mengesankan lagi, kami foto bersama dengan memamerkan sebuah buku. Bukan buku nikah, tetapi buku kumpulan cerpen hasil karyaku. Buah karya yang aku hasilkan berkat dari dukungannya pula, dan juga dukungan dari teman-teman yang lain.

    Dalam foto lain yang ia kirim, aku tertawa setelah melihatnya. Ya ... Sama seperti saat perjumpaanku beberapa bulan yang lalu bersama salah seorang sahabat yang juga kukenal lewat dunia maya, dalam perjumpaan saat itu pun suasana keakraban begitu sangat terasa meski kami baru pertama kali bertemu bertatap muka. Mas Indra, salah seorang sahabat blogger asal Tangerang, yang saat itu sedang berkunjung ke kota Pasuruan, ia pun menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. 
    Sungguh perjumpaan yang mengingatkanku pada perjumpaan sebelumnya. Saat itu, kami dapat ngobrol bertiga. Dan saat perjumpaan kali ini pun kita dapat bercengkrama bertiga meski yang satu berada di tempat nun jauh di sana. Video call menjadi alternatif sebagai pengganti kerinduan untuk dapat bercengkrama bersama.

    Untuk kedua kalinya, terminal bungurasih menjadi saksi perjumpaan sekaligus perpisahan. Walau sebenarnya ingin hati untuk dapat bersua lebih lama, namun apa daya, kami harus tetap berpisah karena sebuah tanggung jawab. Lisa, sahabat yang kukenal sejak tahun 2013 yang lalu melalui dunia maya, harus melanjutkan perjalanan menuju kota Makassar, yang kemudian berlanjut untuk kembali ke tempatnya di negeri seberang. Negeri Taiwan, tempatnya berhijrah yang sudah dilakoninya beberapa tahun.

    Sahabat....
Akankah kita dapat bertemu kembali di lain waktu? Kuharap Tuhan dapat mempertemukan kita untuk waktu-waktu yang akan datang. Mempertemukan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara, yang saling membantu dan saling mendukung untuk sebuah kemajuan.



Surabaya, 10/01/2018
Djacka Artub. 
    
Read More

Jumat, Januari 12, 2018

Tanda Elipsis dan Kegunaannya

Elipsis dan Kegunaannya


   Di dalam dunia kepenulisan, tentunya ada beberapa tanda baca yang harus dipatuhi bagi seorang penulis agar tulisannya mudah untuk dipahami. Selain tanda titik, koma, titik-koma, dll. Ada tanda baca yang bernama Elipsis.
Dan untuk kesempatan kali ini, saya akan mempelajari tentang tanda elipsis. Kenapa saya bilang 'Saya akan mempelajari?' Karena saya memang akan belajar. Dan tulisan ini pun saya buat agar suatu saat jika saya atau anak turun saya membutuhkan, bisa dengan mudah untuk menemukannya. Hehe
Dan jika tulisan saya ini ada yang salah atau kurang, mohon dibenarkan atau ditambahi pada kolom komentar.

   Sebelum kita mengetahui kegunaan tanda titik elipsis, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu elipsis.
Elipsis adalah tanda titik-titik yang biasanya terdiri dari tiga buah titik berderet ( ... ), yang menurut pedoman umum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tiga buah tanda titik berderet ini memiliki dua kegunaan. Yang pertama adalah untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau jeda kalimat, dan yang kedua adalah untuk menunjukkan bahwa dalam kalimat itu ada bagian yang dihilangkan.

   Tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pikiran yang belum selesai, atau penurunan volume pembicaraan yang menuju pada suatu situasi yang senyap. Oleh karena itu, tanda elipsis sering kita jumpai pada kalimat langsung atau dialog daripada kalimat tidak langsung.


Kegunaan Elipsis Pada Kalimat Langsung atau Dialog.

   Oleh karena tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pada kalimat langsung atau dialog, maka tanda elipsis digunakan untuk meciptakan agar kalimat percakapan terkesan lebih hidup karena adanya efek jeda. Saya juga menyebut tanda elipsis ini adalah tanda jeda dalam suatu kalimat. Hal tersebut sesuai kegunaan  tanda elipsis yang pertama, yaitu untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus. Maka, orang yang membaca akan mudah untuk memahami keadaan yang sedang terjadi dalam percakapan tersebut.
Misalnya,
~ Entahlah ... Aku pun tak tahu siapa di balik semua ini.
~ Baiklah ... Aku tak bisa melarangmu.
~ Tapi ... Ah, sudahlah.

   Contoh di atas adalah hadirnya tanda elipsis pada kalimat langsung atau dalam dialog. Tetapi kehadiran tanda elipsis pada kalimat tak langsung akan sulit dipahami. Hal tersebut sesuai dengan kegunaan tanda elipsis yang kedua, yaitu penghilangan bagian dalam suatu kalimat. Dan penggunaan tanda elipsis pada kalimat tak langsung ini memang jarang sekali terjadi, apalagi dalam  sebuah tulisan karya ilmiah. Tetapi, lain halnya dalam karya sastra seperti puisi atau prosa. Tanda elipsis sangat dibutuhkan dalam karya sastra karena akan  memudahkan pembaca untuk memahami dan menghayati isi dari karya sastra tersebut.

   Kesalahan umum yang sering terjadi dalam penggunaan tanda elipsis adalah jumlah titik kurang atau lebih dari tiga buah. Namun ada juga tanda elipsis yang terlihat seperti empat buah tanda titik, tetapi sebenarnya cuma tiga. Misalnya, tanda elipsis yang terdapat pada akhir kalimat. Penggunaan tanda elipsis pada akhir kalimat memang berbeda dengan penggunaan tanda elipsis yang berada di antara dua kata atau di tengah kalimat. Jika di tengah kalimat, penggunaan tanda elipsis terdiri dari tiga buah tanda titik yang diapit oleh spasi antara dua kata atau kalimat sebelum dan kalimat sesudahnya. Perhatikan contoh di atas 👆. Tetapi jika tanda elipsis terletak di akhir kalimat, maka format penggunaannya tetap dibubuhkan spasi sebelum tanda elipsis, yang kemudian ditambah satu titik sebagai akhir dari sebuah kalimat tanpa jeda spasi. Oleh karena itu, tanda elipsis di akhir kalimat seperti terdiri dari empat buah tanda titik. Padahal sebenarnya tetap tiga buah tanda titik,, kemudian ditambah satu titik sebagai akhir kalimat.

   Nah, itulah tanda elipsis dan kegunaannya yang dapat saya pelajari pada kesempatan kali ini. Jika ada yang salah dan kurang, silahkan ditambahkan dalam kolom komentar di bawah sana 👇. Hehe


Referensi bacaan: Ketikakuberkata, Bahasa dan Sastra Indonesia. 
Read More
Untuk Melihat Semua Isi Blog
Silahkan Klik

LINK DAFTAR ISI BLOG