Jumat, April 13, 2018

Tak Tersentuh


Tak Tersentuh


Jauh di pelosok ujung kulon bumi wali
Jalan berkelok penuh lubang dan kerikil yang tajam.
Lebih dari tiga warsa
Anak-anak tak lagi merasakan nyaman saat berangkat dan pulang sekolah.

Jalan desa tak lagi mulus
Jembatan penghubung tergerus arus
Putus
Terbengkalai tak terurus.

Terenyuh melihatnya
Dalam hati pun aku bertanya
Apakah keadaan seperti ini akan berlanjut selamanya?
Tak adakah niat para penguasa untuk menyentuhnya?

Oh ... Nasib desaku yang tak tersentuh
Terisolir dan ter-anaktiri-kan
Kaki-kaki mungil pun melepuh
Ter-rajam kerikil-kerikil tajam jalanan.



Sekaran, 13/04/2018
Djacka Artub
Read More

Sabtu, Maret 24, 2018

Tali Kutang Perawan

Tragedi Tali Kutang

Oleh : Djacka Artub


    Ini bukanlah sebuah lagu dari kisah cinta manusia, bukan pula sebuah tembang asmara anak di bawah umur. Melainkan sebuah kisah yang menceritakan kehancuran sebuah rumah tangga karena adanya tali kutang yang nylempit di bawah bantal.

    Senja baru saja menyapa. Kumandang adzan maghrib terdengar dari toa mushola yang ada di tengah-tengah perkampungan. Namun seiring gema suara adzan itu, terdengar suara ribut dari sebuah pohon besar yang ada di pojok kampung. Pertengkaran pasangan dhemit tak terelakkan ketika si wewe gombel mendapati seutas tali kutang di bawah bantal sang suami, seekor genderuwo yang menjabat sebagai tetua bangsa halus di area kuburan angker tersebut.
    Tali kutang itu bukanlah milik wewe gombel yang secara sah telah terikat ikrar ijab-qabul di depan penghulu bersama si genderuwo tersebut. Melainkan seutas tali kutang itu milik kunti perawan yang biasa mangkal dan berkeliling mencari mangsa untuk makan malamnya.
    Memang, secara status, si kunti itu masih terbilang perawan. Tetapi  jika melihat dari segi bentuk montok tubuhnya yang sangat aduhai, banyak bangsa lelembut yang meragukan statusnya tersebut. Apalagi setiap malam ia sering bergentayangan dari tempat gelap yang satu ke twmpat gelap yang lainnya.

    Sudah bertahun-tahun lamanya, pasangan dhemit yang saat itu sedang perang diwaktu surup itu membina keluarga. Dua tuyul hasil hubungan di tempat gelap oleh wewe gombel dan genderuwo 'pun telah menginjak masa remaja. Namun seperti kata pepatah kuno dari bangsa manusia, 'Tua-tua keladi. Semakin tua, semakin tak tahu diri' itulah yang terjadi pada diri genderuwo yang tak tahu diri tersebut. Meski gelagatnya telah lama tercium oleh si wewe gombel, namun ia masih saja suka daun muda yang masih seger dari segi rupa maupun rasa. Kimcil, Ciblek, dan sejenisnya masih sering diburu oleh si genderuwo. Pantas saja wewe gombel yang telah memyumbangkan dua tuyul itu mengamuk di waktu petang ketika kecurigaannya selama ini terbukti dengan adanya tali kutang perawan di bawah bantal suaminya.
    "Kok ndak malu sama giginya!" Begitu umpat wewe gombel pada suaminya. Namun sang suami hanya tolah-toleh ketika diamuk oleh sang isteri. "Gigi tinggal satu, masih saja gatelan!" Lanjut wewe gombel. 
    "Maksudmu kuwi opo?" Balas si genderuwo dengan tenang.
    "Tali kutang siapa ini?" Wewe gombel semakin geram. Ia menunjukkan tali kutang yang ditemukannya.
    "Bukannya itu tali kutangmu?" Mencoba mengelak, si genderuwo melanjutkan bermain game Fruits bom di semartphone-nya.

    Wewe gombel semakin mengamuk. Semua barang yang terdapat di sekelingnya pecah-berantakan oleh ajian banting-kepruk dari tangannya yang kekar karena genderuwo yang telah membina rumah tangga bersamanya itu terus saja mengelak dan tak menghiraukannya ketika ditanya perihal tali kutang yang terdapat di bawah bantal tersebut. Dan karena semua kalimat yang keluar dari mulutnya yang bertaring tajam hingga gerahamnya menggeretak itu tak mendapat respon dari si genderuwo, wewe gombel menjerit dengan lengkingan suara yang mengerikan. "Pulangkan saja... Aku pada ibuku, atau ayahku... Uuu... Huuu..." Wewe gombel itu menirukan lagu nostalgia yang sangat populer di era 80-an. Namun masih saja si genderuwo melanjutkan permainan aplikasi gama android miliknya.
    Dengan tekad yang bulat, wewe gombel mengeluarkan ajian pamungkas miliknya. Nawaitu bismillah, noto ati noto pikiran noto klambi lebokne tas, ia mengajak kedua tuyul yang lahir dari rahimnya beberapa tahun silam itu untuk minggat. Biarlah sang suami yang tak tahu diri itu memuaskan nafsu syahwatnya hingga ajal menjelang.

    Kepergian wewe gombel rupanya tidak membawa efek jera pada genderuwo. Ia malah merasa sangat beruntung karena tak ada lagi suara-suara cempreng yang memarahinya ketika pulang terlalu larut malam. Terkadang justru ia membawa kunti jalanan itu ke rumahnya, sebuah pohon besar di pojok perkampungan. Di tepi kuburan tepatnya.
    Dua tahun lamanya, genderuwo hidup dengan kebebasan tanpa gangguan dari wewe gombel. Selama dua tahun itu ia hidup berfoya-foya dengan kunti,  sang pelakor tersebut. Sebenarnya kunti tersebut tidak lah pantas disebut sebagai pelakor. Karena pada dasarnya ia bukanlah menginginkan orangnya, melainkan hanyalah ingin mengeruk harta si genderuwo. Terbukti, setelah dua tahun hidup berfoya-foya dan harta benda genderuwo itu habis dan hanya tersisa kolor yang menempel di tubuh, kunti jalang itu menghilang. Ia mengincar mangsa baru.

    Di sebuah halte, dua tuyul terlihat sedang mengutak-atik sebuah phonsel baru. Rupanya dua tuyul itu baru saja membeli smartphone. Di bawah tangga jembatan penyeberangan, salah satu tuyul menatap tajam pemandangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Genderuwo yang ia kenal, yang telah mencampakkan dirinya beserta saudara dan ibunya, tampak sedang duduk dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah kolor warna hitam yang tampak lusuh yang menempel menutup privasi hidupnya. Kemudian tuyul itu mengajak kakaknya untuk mendekat.
    Di hadapan genderuwo gelandangan itu, kedua tuyul memperhatikan dengan seksama sesuatu yang teronggok lusuh di hadapannya. Kemudian mereka serempak berujar, "RUMANGSAMU PENAK?" lalu mereka pergi meninggalkan nasib genderuwo yang malang. 
Read More

Minggu, Maret 18, 2018

Pedagang Kaki Lima

Pedagang Kaki Lima

Oleh: Djacka Artub


    Cuaca sore yang tak bersahabat. Hujan turun mengguyur ibu-kota dengan lebatnya. Seorang pria bertubuh kurus, dengan jalannya yang terseok-seok ia menembus derai hujan bersama gerobak jualannya. Ia tak peduli banyak mata memperhatikannya dari dalam gedung mewah maupun pertokoan. Jalan hidup manusia sudah ada yang mengatur. Jika pun boleh memilih, tentu pun ia tak ingin menjalani hidup seperti yang dijalaninya saat ini. Ia ingin seperti mereka yang sedang asyik nongkrong di cafe maupun restoran mewah di kala hujan turun di sore hari. Namun apalah daya, pria bertubuh kurus itu hanyalah orang kampung yang terlahir dari keluarga kurang mampu. Ia hanya lulusan SMP yang tak memungkinkan untuk mendapat pekerjaan yang layak.
    Hujan masih saja mengguyur dan semakin deras. Dengan jas hujannya yang telah robek di bagian pundak, pria itu menata tenda tempatnya berjualan. Sesekali ia mengibaskan bagian bawah jas hujan yang dikenakan saat menghalangi aktivitasnya menata tenda.
     Sejenak turun hujan mulai reda. Pria itu mempercepat gerakannya menata tenda sebelum hujan kembali turun. Angkasa masih menampakkan wajah murungnya tanpa secercah senyum cahaya langit. Mendung tebal masih setia bergumul dengan senja. Kilat bersahutan dan mimbulkan kengerian ketika suara petir menggelegar dengan angkuhnya.

    Kumandang adzan maghrib terdengar sahydu di antara rintik hujan yang mulai turun kembali. Tenda kaki lima masih setengah selesai didirikan. Seorang pria bertubuh kurus itu menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia mengambil sebuah bungkusan kecil dari tas kresek berwarna putih. Dengan agak mempercepat langkahnya, pria itu berjalan menuju bangunan masjid yang terdapat di perkampungan yang tak jauh dari tempatnya berjualan.
    Selesai menunaikan kewajibannya, pria itu kembali menyelesaikan aktivitas membuka lapak jualannya. Hujan kembali mengguyur deras. Pria itu dengan cekatan menata meja, kursi, dan lain-lain perlengkapan jualannya.

    Aktivitas membuka lapak pun selesai. Duduk termangu di samping gerobak jualannya, ia menunggu calon pembeli. Memperhatikan keadaan tempat jualannya, pria itu menghela nafas. "Bagaimana ada pembeli jika keadaannya seperti ini," gumamnya.
    Akibat hujan yang mengguyur deras sejak langit mengatup senja, sekitar jalan raya tempat pria itu berjualan tergenang luapan air dari gorong-gorong. Banjir.
    Namun tak lama berselang, luapan air yang menggenangi jalan raya pun mulai surut. Tak seperti pada tahun-tahun terdahulu. Banjir bisa bertahan lama karena gorong-gorong tak mampu menampung luapan air hujan.


    Tiga-perempat malam pria itu menjaga lapak jualannya. Mungkin karena hujan dan banyak genangan-genangan air, tak banyak pengunjung yang datang untuk membeli makanan. Para pemilik duit lebih memilih memesan makanan melalui resto-resto yang mempunyai layanan pesan-antar.
    Di pengujung malam atau lebih tepatnya menjelang dini hari, pria itu menutup lapak jualannya. Meski hasil jualan malam ini tak sesuai harapan, namun ia tetap bersyukur karena hasil dari jualan semalam masih bisa untuk modal jualan berikutnya.

    Terkadang jika melihat kondisi yang seperti ini, pria itu terpikir untuk kembali ke desa, ke kampung halamanannya. Namun niat untuk kembali ke kampung halaman itu terkadang pula menghantui perasaannya karena di desa ia tak mempunyai lahan untuk bertani. Banyak sudah lahan pertanian yang kini menjadi perkampungan penduduk, dan juga banyaknya pabrik-pabrik yang didirikan sehingga lahan pertanian menjadi sempit. Belum lagi, ketika harus berpasrah dengan harga hasil panen. Ketika musim panen tiba, harga hasil pertanian selalu anjlok. Sedangkan saat musim tanam, harga bibit dan pupuk melambung tinggi. Tenaga para petani selalu saja terbuang sia-sia. Hasil panen hanya cukup untuk menambal modal saat musim tanam. Karena Nasib petani yang semakin tergusur dan selalu dipermainkan oleh harga pasar sebab harus melawan barang impor itulah pria itu bertekad merantau ke kota meski hanya sebagai pedagang kaki lima.
    Namun saat ini, menjadi pedagang kaki lima pun banyak menemui kesulitan. Terkadang juga harus bersitegang dengan aparat ketika ada razia.
    Janji kesejahteraan yang pernah terdengar berkumandang, hanyalah sebuah dendang untuk menggaet simpatisan. Yang terjadi selanjutnya hanyalah Ingkar. Dan nasib wong cilik masih tetap saja harus memikul beban yang semakin berat karena harga kebutuhan yang melonjak tajam, sementara penghasilan selalu pas-pasan.
    "Ah ... Memang nasib wong cilik selalu saja menjadi tumbal kekuasaan." Ujar pria itu lalu menghela nafas.
    
Read More

Kamis, Maret 08, 2018

Akibat Anyang-Anyangan

Akibat Anyang-Anyangan

Oleh : Djacka Artub


    Akhir pekan yang buruk. Senja yang biasanya indah, tak tampak keindahannya karena mendung sedang asyik bergumul dengan bentang cakrawala, menutup rona indahnya senja di musim dingin.
    Mondar-mandir di tepian halte, Jasminto mengarahkan pandangannya ke ujung jalan raya, menanti angkutan kota yang akan mengantarkannya ke rumah bidadari pujaan segera datang. Namun setiap kali ada angkutan yang melintas, selalu penuh sesak oleh para penumpang. Maklum, hari itu adalah akhir pekan yang seperti biasanya banyak para pekerja pabrik sedang pulang ke kampung menggunakan jasa angkutan umum.
    Di halte itu bukan hanya Jasminto seorang. Banyak pula para buruh wanita yang juga sedang menunggu angkot. Sesekali sambil mondar-mandir, Jasminto memegang perut dan sebentar-sebentar  memijit pahanya bagian atas. Hal itu menyebabkan para buruh yang rata-rata masih gadis itu berbisik pada temannya yang kemudian disambut dengan suara cekikikan. Jasminto menyadari jika cekikikan para gadis di halte itu sedang mentertawakan dirinya. Namun ia tak memperdulikannya. Jasminto hanya fokus pada setiap angkot yang melintas. Sesekali ia menggembungkan pipinya, yang kemudian menghembuskan gembungan udara di mulutnya secara perlahan.
    Rasa ngilu yang sudah tak tertahankan. Jasminto nekat masuk ke dalam minimarket yang terdapat tak jauh dari halte tempatnya menunggu angkot. Sebentar kemudian, Jasminto keluar dari minimarket dengan tangan kosong. Tanpa membawa barang belanjaan. Namun rasa ngilu yang sedari tadi diempet, kini telah lega. Ia baru saja numpang pipis di minimarket tersebut. Jasminto kembali ke halte untuk menunggu angkot. Namun sesampainya di halte, para buruh pabrik yang tadi juga sedang bergerombol menunggu angkot, kini telah raib. Sebuah angkot warna kuning baru saja membawanya ketika Jasminto baru keluar dari minimarket. "Asemm ...." umpatnya dalam hati.

    Nuansa senja semakin petang. Rintik gerimis pun mulai turun mewarnai akhir pekan yang suram bagi Jasminto. Akhir pekan yang semula indah karena ia akan bertemu dengan Jasmin, kekasihnya, namun karena suatu hal menyebabkan akhir pekan yang indah itu berubah menjadi akhir pekan yang suram.
    Rintik gerimis masih saja mengiring tegukan demi tegukan secangkir kopi yang dinikmati oleh para abang becak. Di ujung jalan raya, Jasminto melihat sesosok angkot yang sedang ditunggu-tunggu. Semakin detik, angkot itu semakin mendekat. Hatinya pun merasa 'Plong' karena sebentar lagi ia akan segera bertemu dengan Jasmin. Jasminto melambaikan tangannya ke angkot tersebut setelah jarak angkot itu sudah dekat. Angkot pun menepi ke halte tempat Jasminto berdiri menantinya. Jasminto segera melangkah menuju angkot tersebut kemudian berkata, "Pak, tunggu sebentar ya," Jasminto berlari ke arah minimarket setelah meminta abang sopir angkot untuk menunggunya.
    Lima menit kemudian Jasminto kembali keluar minimarket. Namun angkot yang sebelumnya di berhentikannya itu telah raib. "Asemmm ...." lagi-lagi Jasminto kembali mengumpat.

    Dering telepon genggam terdengar nyaring dari dalam saku celana. Jasminto segera merogoh sakunya untuk melihat pemanggil pada telepon genggamnya. "Halo, sebentar ya, sayang," ucap Jasminto ketika tahu yang menelepon dirinya adalah Jasmin, kekasihnya.
    "Kok lama banget sih, Bang," balas Jasmin tak sabar menunggu kedatangan Jasminto.
    "Sebentar, sayang ... Ini Abang lagi nunggu angkot."
    "Lama bangit sih, nunggu angkotnya?"
    "Iya nih. Nggak tahu kenapa hari ini angkotnya nggak ada yang lewat. Ada demo, barangkali." Jasminto beralasan.
    "Eh, Bang, mana ada demo sampai malam begini." Jasmin yang sudah kesal karena terlalu lama menunggu, bertambah kesal dengan alasan Jasminto yang tak masuk akal.
    Pertengkaran antara Jasminto dan Jasmin melalui telepon genggam pun tak terhindarkan. Sampai beberapa kali angkot yang melintas, selalu lewat begitu saja tanpa Jasminto berhentikan karena ia sibuk meladeni berbantah ria dengan Jasmin. "Sudah, sudah! Gara-gara kamu, beberapa angkot yang melintas selalu lenyap begitu saja." Jasminto pun kesal.
    "Ini juga gara-gara kamu!" Balas Jasmin semakin bertambah kesal karena disalahkan. Sambungan telepon pun diputuskan.

    Waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Angkot sudah mulai jarang yang melintas meskipun rintik gerimis telah me-reda. Jasminto masih tetap berdiri di halte itu untuk menunggu angkot. Namun tiba-tiba rasa ngilu kembali menyerangnya. Kebelet pipis. Ia pun kembali memasuki minimarket dan segera nyelonong ke toilet minimarket tersebut. Namun tiba-tiba salah seorang penjaga minimarket mengurnya, "Eh, Mas, ini minimarket bukan toilet umum."
    Mendengar teguran dari penjaga minimarket tersebut, Jasminto dengan perasaan malu ia pun berterus terang jika sedang Anyang-Anyangan. "Oalah, mas, mas,... Kalau anyang-anyangan ya diobati toh ...." saran penjaga minimarket yang menegur Jasminto tersebut. "Anyang-anyangan jika dibiarkan bisa berakibat fatal loh,...." Lanjutnya.
    "Iya, mbak. Gara-gara anyang-anyangan, saya sampai ketinggalan angkot beberapa kali lintasan. Dan yang lebih parah lagi, saya sampai bertengkar dengan pacar saya karena sampai jam segini tak kunjung datang." Jasminto menjelaskan panjang kali lebar tentang penderitaannya akibat dari anyang-anyangan.
   "Tuch, kan ...."
    "Di sini ada obat anyang-anyangan ndak, mbak?"
    "Ada, tuch." Penjaga minimarket menunjuk buah-buahan yang terpajang di rak minimarket.
    "Buah ciplukan?" Jasminto mengambil dan mengamati buah yang ditunjuk oleh penjaga minimarket tadi.
Buah cranberry: manfaat.co.id

    "Ini buah cranberry, mas. Buah cranberry ini dipercaya mampu mencegah serta mengobati anyang-anyangan. Karena Buah cranberry  mengandung Proantocyanidin (PAC) yang dapat mencegah penempelen bakteri E.Coli di dinding saluran kemih. Setelah makan buah ini, bakteri E.Colli tersebut akan dibuang bersama air kencing." Penjaga minimarket yang bernama Anis tersebut menjelaskan. Ia pun menjelaskan penyebab anyang-anyangan, dan salah satunya adalah celana dalam yang kotor pun dapat menyebahkan anyang-anyangan karena adanya bakteri yang menempel. 
    Jasminto manggut-manggut mendengarkan penjelasan dari penjaga minimarket tersebut.
    "Hayooo .... Mas-nya ndak pernah ganti celana dalam ya...?" celetuk penjaga minimarket yang lain.
    "Sontoloyo..." Timpal Jasminto, "ya udah, saya beli buah cranberry-nya ya, mbak. Sekalian dua bungkus kwaci." Pungkas Jasminto.
    Setelah membayar buah cranberry sebagai obat anyang-anyangan dan dua bungkus kwaci sebagai oleh-oleh kesukaan Jasmin, Jasminto pun keluar dari minimarket dengan perasaan lega. Dan beruntung, saat ia berjalan menuju halte, sebuah angkot sedang berhenti di depan halte untuk menunggu penumpang.

Read More

Jumat, Februari 23, 2018

Hujan Di Kepergianmu

Hujan di Kepergianmu


10 Januari 2018,...

    "Selamat jalan, semoga kita dapat bersua kembali." 'Ku ucap kata perpisahan di saat sebelum sepasang kaki itu melangkah ke dalam sebuah bus Damri yang akan membawanya pergi dari hadapanku. Rintik gerimis masih setia mengguyur tubuh kami sebelum sekat kaca dan body bus membatasi kami. Sebelum ia masuk ke dalam bus. Hitam legam mendung pun semakin tebal. 
    Perlahan, bus Damri meninggalkan terminal Bungurasih, Surabaya. Mendung tebal yang disertai gerimis, yang sejak tadi bergumul dengan hiruk-pikuk keramaian terminal terbesar di Jawa Timur itu, seketika menumpah-ruahkan deras hujan, mengantarkan kepergiannya. Di antara guyur hujan, kulihat lambaian tangan dari balik kaca bus. Di sebuah halte, aku masih tertegun, berdiri mematung menatap sebuah bus yang perlahan meninggalkan tempat pemberhentiannya.
    Di antara lalu-lalang para calo dan sopir taksi yang berlomba menggaet calon penumpang, kucari tempat duduk guna menunggu hujan sedikit reda untuk kutinggalkan terminal. Masih teringat kisah perjumpaan yang singkat, namun sangat berkesan itu. Perjumpaan yang sudah lama kurindukan, akhirnya hari itu aku dapat bertemu dan berjabat tangan dengannya. Terminal Purabaya Surabaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan terminal Bungurasih, menjadi saksi pertemuanku. Seseorang yang kukenal dari dunia maya, dan selama ini pun aku hanya dapat berkomunikasi lewat udara bersamanya, kali ini aku dapat bertemu secara nyata. Namun walau selama ini kami hanya menjalin hubungan lewat udara, tetapi hubungan kami sangatlah dekat.

    Hujan telah sedikit me-reda. Bus Damri telah berlalu dan berganti dengan bus yang lain. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan di antara rintik hujan, menuju tempat antrean bus kota. Segera aku masuk ke dalam bus kota dengan lintasan tengah kota Surabaya. Tempat di mana aku tinggal di tanah perantauan. Mendung masih terlihat tebal menghitam. Di dalam bus kota, Aku sedikit tersenyum melihat pesan masuk di aplikasi whatsapp. Sebuah foto kuterima dalam pesan itu. Foto kenangan dan sebagai bukti bahwa kami pernah bertemu dan foto bersama. Dan yang lebih mengesankan lagi, kami foto bersama dengan memamerkan sebuah buku. Bukan buku nikah, tetapi buku kumpulan cerpen hasil karyaku. Buah karya yang aku hasilkan berkat dari dukungannya pula, dan juga dukungan dari teman-teman yang lain.

    Dalam foto lain yang ia kirim, aku tertawa setelah melihatnya. Ya ... Sama seperti saat perjumpaanku beberapa bulan yang lalu bersama salah seorang sahabat yang juga kukenal lewat dunia maya, dalam perjumpaan saat itu pun suasana keakraban begitu sangat terasa meski kami baru pertama kali bertemu bertatap muka. Mas Indra, salah seorang sahabat blogger asal Tangerang, yang saat itu sedang berkunjung ke kota Pasuruan, ia pun menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. 
    Sungguh perjumpaan yang mengingatkanku pada perjumpaan sebelumnya. Saat itu, kami dapat ngobrol bertiga. Dan saat perjumpaan kali ini pun kita dapat bercengkrama bertiga meski yang satu berada di tempat nun jauh di sana. Video call menjadi alternatif sebagai pengganti kerinduan untuk dapat bercengkrama bersama.

    Untuk kedua kalinya, terminal bungurasih menjadi saksi perjumpaan sekaligus perpisahan. Walau sebenarnya ingin hati untuk dapat bersua lebih lama, namun apa daya, kami harus tetap berpisah karena sebuah tanggung jawab. Lisa, sahabat yang kukenal sejak tahun 2013 yang lalu melalui dunia maya, harus melanjutkan perjalanan menuju kota Makassar, yang kemudian berlanjut untuk kembali ke tempatnya di negeri seberang. Negeri Taiwan, tempatnya berhijrah yang sudah dilakoninya beberapa tahun.

    Sahabat....
Akankah kita dapat bertemu kembali di lain waktu? Kuharap Tuhan dapat mempertemukan kita untuk waktu-waktu yang akan datang. Mempertemukan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara, yang saling membantu dan saling mendukung untuk sebuah kemajuan.



Surabaya, 10/01/2018
Djacka Artub. 
    
Read More

Jumat, Januari 12, 2018

Tanda Elipsis dan Kegunaannya

Elipsis dan Kegunaannya


   Di dalam dunia kepenulisan, tentunya ada beberapa tanda baca yang harus dipatuhi bagi seorang penulis agar tulisannya mudah untuk dipahami. Selain tanda titik, koma, titik-koma, dll. Ada tanda baca yang bernama Elipsis.
Dan untuk kesempatan kali ini, saya akan mempelajari tentang tanda elipsis. Kenapa saya bilang 'Saya akan mempelajari?' Karena saya memang akan belajar. Dan tulisan ini pun saya buat agar suatu saat jika saya atau anak turun saya membutuhkan, bisa dengan mudah untuk menemukannya. Hehe
Dan jika tulisan saya ini ada yang salah atau kurang, mohon dibenarkan atau ditambahi pada kolom komentar.

   Sebelum kita mengetahui kegunaan tanda titik elipsis, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu elipsis.
Elipsis adalah tanda titik-titik yang biasanya terdiri dari tiga buah titik berderet ( ... ), yang menurut pedoman umum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), tiga buah tanda titik berderet ini memiliki dua kegunaan. Yang pertama adalah untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus atau jeda kalimat, dan yang kedua adalah untuk menunjukkan bahwa dalam kalimat itu ada bagian yang dihilangkan.

   Tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pikiran yang belum selesai, atau penurunan volume pembicaraan yang menuju pada suatu situasi yang senyap. Oleh karena itu, tanda elipsis sering kita jumpai pada kalimat langsung atau dialog daripada kalimat tidak langsung.


Kegunaan Elipsis Pada Kalimat Langsung atau Dialog.

   Oleh karena tanda elipsis dapat menunjuk pada suatu pembicaraan, pada kalimat langsung atau dialog, maka tanda elipsis digunakan untuk meciptakan agar kalimat percakapan terkesan lebih hidup karena adanya efek jeda. Saya juga menyebut tanda elipsis ini adalah tanda jeda dalam suatu kalimat. Hal tersebut sesuai kegunaan  tanda elipsis yang pertama, yaitu untuk menggambarkan kalimat yang terputus-putus. Maka, orang yang membaca akan mudah untuk memahami keadaan yang sedang terjadi dalam percakapan tersebut.
Misalnya,
~ Entahlah ... Aku pun tak tahu siapa di balik semua ini.
~ Baiklah ... Aku tak bisa melarangmu.
~ Tapi ... Ah, sudahlah.

   Contoh di atas adalah hadirnya tanda elipsis pada kalimat langsung atau dalam dialog. Tetapi kehadiran tanda elipsis pada kalimat tak langsung akan sulit dipahami. Hal tersebut sesuai dengan kegunaan tanda elipsis yang kedua, yaitu penghilangan bagian dalam suatu kalimat. Dan penggunaan tanda elipsis pada kalimat tak langsung ini memang jarang sekali terjadi, apalagi dalam  sebuah tulisan karya ilmiah. Tetapi, lain halnya dalam karya sastra seperti puisi atau prosa. Tanda elipsis sangat dibutuhkan dalam karya sastra karena akan  memudahkan pembaca untuk memahami dan menghayati isi dari karya sastra tersebut.

   Kesalahan umum yang sering terjadi dalam penggunaan tanda elipsis adalah jumlah titik kurang atau lebih dari tiga buah. Namun ada juga tanda elipsis yang terlihat seperti empat buah tanda titik, tetapi sebenarnya cuma tiga. Misalnya, tanda elipsis yang terdapat pada akhir kalimat. Penggunaan tanda elipsis pada akhir kalimat memang berbeda dengan penggunaan tanda elipsis yang berada di antara dua kata atau di tengah kalimat. Jika di tengah kalimat, penggunaan tanda elipsis terdiri dari tiga buah tanda titik yang diapit oleh spasi antara dua kata atau kalimat sebelum dan kalimat sesudahnya. Perhatikan contoh di atas 👆. Tetapi jika tanda elipsis terletak di akhir kalimat, maka format penggunaannya tetap dibubuhkan spasi sebelum tanda elipsis, yang kemudian ditambah satu titik sebagai akhir dari sebuah kalimat tanpa jeda spasi. Oleh karena itu, tanda elipsis di akhir kalimat seperti terdiri dari empat buah tanda titik. Padahal sebenarnya tetap tiga buah tanda titik,, kemudian ditambah satu titik sebagai akhir kalimat.

   Nah, itulah tanda elipsis dan kegunaannya yang dapat saya pelajari pada kesempatan kali ini. Jika ada yang salah dan kurang, silahkan ditambahkan dalam kolom komentar di bawah sana 👇. Hehe


Referensi bacaan: Ketikakuberkata, Bahasa dan Sastra Indonesia. 
Read More

Selasa, Desember 26, 2017

Jejak Si Lesbi

Jejak Si Lesbi


Berawal dari sebuah penghianatan dari pasangan lesbinya, Tari mulai menemukan hikmah dan jati dirinya sebagai wanita yang seutuhnya. Tari ingin menjadi ibu dari anak-anaknya, dan menjadi istri yang sholehah bagi suaminya kelak. Tari ingin hidup normal sebagaimana wanita pada umumnya. Ia tak ingin selalu berkecimpung dalam dosa. Pengalaman kelam kehidupan masa lalu ia jadikan pelajaran dalam hidup. Hampir sepuluh tahun, Tari menjadi wanita lesbian. Bukan karena awal dari penghianatan kaum adam, tetapi Tari terjebak menjadi wanita lesbian hanya karena pergaulan. Pada awalnya, Tari adalah sesosok gadis normal yang suka main gitar. Dan dari kegemaran itu, Tari selalu membawa gitar disetiap liburan bersama teman-temannya.
Perjalanan waktu terus bergulir. Kehidupan pun turut larut dan mengalir. Setelah sekian lama saling kenal, Tari mulai merasa nyaman berteman dengan Sheyla. Hubungan pertemanan Tari dan Sheyla semakin akrab dan lambat laun mereka memiliki perasaan selayaknya rasa cinta terhadap lawan jenis. Hubungan kisah asmara antara dua insan sejenis itu pun terus berlanjut. Kasih sayang Sheyla yang tulus, membuat Tari terlena dan mengikuti semua kemauannya. Tak jarang, mereka pun pergi ke hotel dan melakukan hal yang tak patut untuk dilakukan. Tindakan yang sangat dibenci oleh agama. Cinta terlarang pun terjalin begitu dalam dan seakan maut pun tak dapat memisahkan mereka. Tari dan Syeila.
Selepas penghianatan Sheyla, Tari ingin memulai kisah hidupnya yang baru bersama Radit, seorang pemuda tampan penjaga toko buku. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Tari kembali merenungi nasib dirinya.

Buku kumpulan cerpen karya Djacka Artub

~ Dapatkan kisah selengkapnya dalam buku 'Sajak Asmara', melalui pesan Whatsapp di 081230900360.
Untuk yang berada di wilayah kecamatan Bangilan - Tuban - Jawa Timur, bisa mendapatkan bukunya di toko 'Madinah', sebelah Selatan Bank BRI Bangilan.
  • Penulis DJACKA ARTUB
  • Penyunting SOESILO TOER
  • Penerbit PATABA PRESS
  • Cetakan Pertama November 2017
  • Tebal Buku x 146 halaman 145 x 205 cm
  • ISBN 978-602- 5604-00-3
  • Harga Rp. 40.000 (Belum termasuk ongkos kirim)

Stok terbatas. Siapa cepat, dia dapat!

Buruan..!!

Read More

Kamis, Desember 07, 2017

Sajak Asmara

SAJAK ASMARA - Lambaian tangan mengakhiri perjumpaan kami waktu itu. Dan hal itu juga akan mengawali kisah cintaku dengan Fia melalui hubungan jarak jauh. Surabaya-Samarinda memisahkan cinta. Laut Jawa membatasi cerita bersama. Namun satu hati ingin saling memiliki. Lewat pesan singkat kami berkirim surat hati gelisah saat pulsa sekarat. Namun atas nama cinta uang habis masuk kantong si penjual pulsa pun aku tak apa. Bukankah cinta itu butuh pengorbanan? Bukankah cinta itu perlu perjuangan? Biarlah saat ini berjauhan. Suatu saat pasti akan duduk berdampingan di pelaminan. Itulah yakinku saat itu. [Cinlok]*

    Siang itu, mendung gelap menyelimuti langit. Berlari-lari kecil, gadisku kembali menyambut aku datang dengan sebuah payung hitam di tangan. Senyum kebahagiaan terpancar jelas dari pesona raut wajah indahnya. Namun, sesaat senyuman itu berubah menjadi duka. Duka cita cinta di bawah langit yang berpayung mendung; hitam dan legam.
    Bagaikan dalam sebuah adegan drama sandiwara. Di bawah derai hujan, kerumun masa memandangiku penuh haru dan keprihatinan. Mereka menyaksikanku memangku tubuh lemah yang berlumur darah dan lemas tak berdaya setelah sebuah minibus menyambar tubuh gadisku. "Ya Allah..!!" Kupeluk erat gadisku, aku berteriak keras, berlomba dengan gemuruh hujan dan suara petir yang menggelegar. Hujan tak hentinya mengguyur. Seakan ia acuh dengan air mata dan teriakanku. Aku terduduk lemas. Raung suara sirine ambulance menambah suasana terasa mengiris pedih menyayat hati. [Naura]*

    "Bagaimana kabar keluarga di Jogja, Bu?" Dalam perjalanan, aku baru menanyakan keadaan di Jogja sama Ibu. Ayah yang duduk di bangku depan menghela nafas panjang mendengar pertanyaanku pada Ibu.
    "Kami belum mengetahui kabar keluarga pamanmu, dan juga kabar Airin di Jogja, Ar." Ayah menjawab pertanyaan yang aku lontarkan pada Ibu. "Kami menunggu kamu pulang, Ar. Nanti kita berangkat ke Jogja bersama untuk melihat keadaan disana." Ibuku melanjutkan kata-kata Ayahku. [Twilight in a Train-2]*


    Basis kata-kata indah tentang lingkungan membuat saya tidak ragu bahwa Djacka Artub adalah seorang naturalis. Trik-trik yang mengagetkan kadang membuat saya meludah muak kaget tertawa senyum menangis bahkan meraung.
    Cobalah Pembaca cermati penutup buku ini: “Gaun pengantin yang telah aku persiapkan, tetap tergantung rapi dalam lemari tanpa kami kenakan untuk melangsungkan pesta pernikahan.” Orang boleh percaya atau tidak dalam umur senja sekarang ini, saya tidak pernah memikirkan gaun khusus untuk pengantin, eh… gaun itu justru terbang sia-sia dalam lemari. Itu yang menyebabkan saya meraung, alangkah beda nasib seseorang dengan yang lainnya.
- Soesilo Toer -


Penulis DJACKA ARTUB
Penyunting SOESILO TOER
Penerbit PATABA PRESS
Cetakan Pertama November 2017
Tebal Buku x 146 halaman 145 x 205cm
ISBN 978-602- 5604-00-3
Harga Rp. 40.000 (Belum termasuk ongkos kirim).


Buku bisa didapatkan di:

~ Whatsapp : 081230900360 (penulis)

~ Instagram Patabapress (penerbit)

~ Tuku Buku Online Berdikaribook

~ Toko Madinah Bangilan


Read More

Sabtu, November 18, 2017

Misteri Gadis Pinus

Mistery Gadis Pinus
Oleh        : Djacka Artub
Kategori : Fiksi

    "Di mana 'May'?" Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, dan yang lainnya tampak duduk di sampingku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.**

    Aku benar-benar tidak menyangka jika kepergianku untuk berpetualang mengikuti teman-temanku, membawa kisah yang tak akan pernah kulupakan sepanjang sejarah hidupku. Aku bertemu dengan sesosok gadis yang dulu pernah kukenal.
May, gadis berkacamata minus yang dulu kukenal ketika dirinya sedang mengisi liburan dengan berkunjung ke rumah Pak Dhe-nya, membuatku terpesona pada pandangan pertama di saat ia tersenyum dan menampakkan gingsul pada ujung giginya.

    Setelah sekian lama terpisah, kini aku bertemu kembali dengan May. Dalam pertemuan yang tak terencana, Aku dan May mengulang kembali kisah lama. Kisah indah duduk berdua di galengan sawah sambil memandang layang-layang yang melambung mengudara di angkasa. Walau saat itu kami hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang oleh kemarau panjang, namun kenangan itu tak pernah hilang dari ingatanku.

    Pada pertemuan kedua kali ini suasana terasa lebih indah dan mengesankan dari kisah yang sebelumnya. Tak hanya bermain layang-layang di areal persawahan yang gersang seperti yang dulu, tetapi aku dan May bermain layang-layang di sebuah tanah lapang dengan rerumput hijau di padang yang luas. Kembang-kembang ilalang yang putih berseri tampak melambai manyapa kami yang duduk di sebuah bangku kecil yang dikelilingi bunga-bunga indah bermekaran. Menarik-ulur benang layang-layang di antara kupu-kupu yang beterbangan di antara kembang, membuat kisah perjumpaan semakin mengesankan.

    "Lihat, Mas Rey!" lentik jemari indah menunjuk sebuah danau kecil dengan airnya yang menghijau. Angsa Angsa putih berenang-renang di tengahnya. "Ayo, kita ke sana." Ajak May, seraya menarik tanganku.

    Berlari berkejaran di padang rumput, berjalan bergandeng tangan di tepian danau, May terlihat anggun dengan gaun putih yang dikenakannya. Rambut hitamnya yang panjang terurai tersapu angin membuatku takjub memandangnya. Parasnya yang cantik menenggelamkanku dalam lautan asmara yang begitu dalam.

    Tak terasa, langit senja datang menyapa. May mengajakku kembali ke rumahnya yang tak jauh dari danau tempat kami menikmati keindahan alam. Kami berjalan menyusuri lekuk-lekuk indah galengan sawah yang terhampar di lereng perbukitan. Lekuk-lekuk pematang yang terhubung dengan jalan setapak di antara hamparan padi yang menguning di areal persawahan itu menampakkan pesonanya tersendiri sebagai anugerah keindahan alam. Suara suling gembala mengalun syahdu, menggiring kerbau-kerbau untuk pulang ke kandang.

    Langit tampak semakin memerah. May berlari gesit menapaki galengan menuju saung yang berada di ujung perpetakan sawah. Aku berlari mengikutinya masuk ke dalam pondok kecil sebagai tempat peristirahatan para petani itu. Namun tak kutemui May di dalamnya. Suasana gelap pun menghampiri. Suara suling gembala yang terdengar syahdu, berganti cericit kelelawar yang beterbangan di antara rerimbun dedaunan. Lekuk-lekuk galengan sawah pun berubah menjadi tonggak-tonggak runcing di antara pohon pinus yang berjajar. Padang rumput dengan putih bunga-bunga ilalang, serta danau dengan angsa putihnya berubah menjadi semak belukar.

    Malam kian merayap. Rembulan masih menampakkan kilau cahayanya di atas pucuk pinus. Terlelap semua kehidupan yang ada di dunia dan cakrawala luas. Kecuali, bias cahaya rembulan yang memintalkan benang-benang kilau redupnya menyinari alam persada. Sepoi angin malam menjalar menerobos di keheningan. Kemeresek suara dedaun kering yang tertiup angin menimbulkan gaduh pada jangkrik-jangkrik yang terlelap dalam tidurnya.

    Dalam kebingungan, lamat-lamat kudengar suara seseorang yang sepertinya sudah kukenal. "Lebih baik kita istirahat terlebih dulu." Ia bersaran pada yang lain. Aku mencoba mencari sumber suara, "Besok pagi kita lanjutkan mencari Rey." kulihat Nafa duduk bersandar pada batang pohon pinus. Ia terlihat sangat letih.

    "Lebih baik kita temukan Rey terlebih dulu." Kudengar pula, Jeni membantahnya.
    "Sudah tahu Rey baru pertama kali ikut berpetualang. Kenapa kamu tidak menjaganya?" Aku pun mendengar suara Anis yang memojokkan Jeni.
    "Sudah, sudah! Ini tanggung jawab kita semua!" Kang Joyo menengahi dan menyetujui saran Nafa untuk melepas lelah. "Kita istirahat dulu. Nanti selepas subuh, kita mulai lagi pencarian."
   "Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Rey?" Whini sangat khawatir.
     "Kita berdoa saja, semoga tak terjadi apa-apa sama Rey." Kang Joyo menjawab kekhawatiran Whini.

    Kudengar dengan jelas percakapan teman-temanku dan aku pun juga dapat melihat mereka dengan jelas. Namun seakan mulutku terkunci untuk menyapanya. Aku mondar-mandir mencari celah untuk keluar dari dalam gubuk reyot yang hampir roboh.
Seperti tertutup tirai, semua teman-temanku tak ada yang dapat melihat keberadaanku. Padahal, jarak kami hanya terpisah sekira sepuluh langkah. Dan aku pun dapat melihat dan mendengar percakapan mereka dengan jelas.**

    Cericit burung bernyanyi riang di atas ranting dan dahan. Sayup kedengar suara seseorang memanggil-manggil namaku, "Rey, bangun, Rey." tubuhku terasa terguncang. Cahaya putih yang menyilaukan menerpa seisi alam, menerobos celah-celah dedaunan dan menempa wajahku. "Di mana 'May'?" Aku terbelalak pelengakan melihat ke sekitar. Kupandangi teman-temanku secara bergantian. Nafa, Anis, Whini, dan yang lainnya tampak duduk mengitariku dengan mimik wajah khawatir. "Syukurlah, kamu sudah sadar." Ujar Kang Joyo yang duduk berlutut, tepat di atasku yang masih terbaring. Mereka menemukanku tergeletak di bawah pohon besar dan tak sadarkan diri, tak jauh dari tempatnya beristirahat semalam.
    "May? Siapa 'May' ?" Tanya Whini. Terlihat gurat kekecewaan di wajahnya.
    "Sudah, nanti saja dijelaskan." Kang Joyo menenangkan.
    "Lalu, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Nafa,
     "Kita pulang." Ucap Kang Joyo singkat.
    "Pulang?" terlihat ketidakpuasan dari Anis.
     "Ya, kita pulang saja." Jeni menimpali.
    Setelah sepenuhnya sadar, aku melihat keadaan di sekitar. Gubuk reyot tempatku terjebak semalam tak ada di tempat itu. Hanya sebatang pohon besar yang dikelilingi tumbuh-tumbuhan berakar yang tampak merimbun.**

    Niat ingin ikut berpetualang untuk mencari susana lain dalam hidup, melakukan kegiatan travelling untuk mencari tantangan dan kesenangan, namun yang kudapatkan pengalaman yang membuat kepanikan. Akhirnya kami sepakat untuk pulang daripada nanti terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

    Matahari telah condong ke arah barat. Kami berjalan menyusuri turunan jalan setapak di antara pohon-pohon pinus. Kang Joyo berjalan paling depan yang kemudian disusul Anis, Nafa, Whini, dan Jeni. Aku sendiri berjalan paling belakang. Aku masih memikirkan kejadian yang telah kualami. Masih terbayang wajah May yang ku temui, dan kami mengulang kembali kenangan lama bermain layang-layang di padang yang luas di tepian danau. Dan juga tiba-tiba May yang kujumpai kembali itu lenyap dan aku terperangkap dalam gubuk reyot. Namun setelah aku ditemukan oleh teman-tamanku dalam keadaan tak sadarkan diri, gubuk reyot itu pun tak ada.

    Siang perlahan berganti senja. Di antara iring-iringan kami menuruni lereng perbukitan, dari depan kulihat beberapa orang 'pun beriringan naik ke puncak hutan pinus. Saat aku berpapasan dengan seseorang yang berjalan paling belakang, aku terhenyak dan memandang lekat ke arahnya. Ia pun memandangku lekat. Kami saling melengak sambil berjalan. Gadis itu tersenyum dan menampakkan giginya yang gingsul. "May,.." gumamku. Kulihat getar bibirnya pun seperti mengucap namaku.

    "Rey...!" Seru Jeni yang telah berjalan agak jauh dariku. Sementata aku masih mematung mamandang gadis itu. Teman-temanku yang lain turut berhenti. Mereka memanggilku untuk segera turun mengikutinya. Dan aku pun bergegas menyusul mereka. "Sudah, kamu berjalan di tengah saja." Perintah Jeni. Kulihat Anis geleng-geleng kepala melihat ulahku. Kang Joyo dan Nafa saling pandang, dan, "hmmm,..." mereka pun menggeleng bersamaan.

****
Read More

Selasa, November 14, 2017

Senyum Gadis Gingsul

Senyum Gadis Gingsul

Oleh : Djacka Artub
Kategori : Fiksi

Gambar: google.com

    "May,..." Sapaku, "Kau kah, itu?" di tengah hutan pinus di kaki gunung semeru, di bawah redup purnama yang mengintip dibalik rerimbun pepohonan, kulihat sesosok gadis yang pernah kukenal setahun yang lalu, walau hanya sesaat. Isyarat mimik gadis itu mengundangku agar mengikutinya berjalan di antara pohon pinus yang berjajar rapi di kaki gunung. Aku mengikuti langkahnya. Ia berjalan sangat cepat. Hingga aku sering hampir terjatuh tersandung tonggak saat mengikuti langkahnya.**

    "Rey, lusa mau ikut ke hutan pinus Semeru, ndak?" tanya salah seorang teman. Aku pun men-iya-kan tawaran itu karena aku juga ingin memiliki pengalaman berpetualang seperti teman-temanku yang lain. Mereka [temanku], sudah sering melakukan pendakian gunung-gunung yang ada di pulau Jawa. Jadi, untuk menjawab rasa penasaranku ketika mendengar cerita petualangan dari teman-teman, aku pun setuju untuk ikut bergabung, berpetualang di gunung Semeru.

    Pagi selepas sholat subuh, sesuai hari yang telah ditentukan aku telah bersiap dengan perbekalan untuk berpetualang. Kang Joyo, sebagai pemandu, ia telah menunggu di perempatan tempat pemberhentian bus yang tak jauh dari rumahku. Di kecamatan Jatirogo. "Teman-teman yang lain mana, Kang?" Tanyaku seraya membetulkan tas ransel di punggung sambil berjalan ke arah Kang Joyo yang duduk di samping lampu Bangjo perempatan Jatirogo.

   "Masih menunggu Nafa." Kang Joyo menjawab pertanyaanku setelah mengembuskan asap rokoknya.

    "Tapi semuanya sudah siap kan, Kang?"

    "Sudah,... Tinggal menunggu Nafa saja."

    Seperti wanita pada umumnya, Nafa selalu lama ketika bersiap untuk bepergian. Tapi Anis dan Whini sudah bersiap lebih dulu karena sore harinya mereka telah mempersiapkan segala keperluannya. Tak berselang lama, Anis, Nafa, Whini, dan juga Jeni, berjalan beriringan. Mereka menghampiri kami, "Yuk, kita berangkat." seru Nafa.

    "Mau jalan kaki berangkatnya?" Sela Kang Joyo.
    "Belum ada bus yang lewat, kang?" Jeni menimpali.
    "Tadi sepertinya sudah ada satu bus yang lewat." Tukasku, "Tapi sebelum Kang Joyo datang kayaknya."

    "TELOLET... TELOLETT...!" Tak lama kami menunggu, sebuah bus yang akan mengantarkan kami ke terminal Bojonegoro, datang dari arah barat. Bus yang baru keluar dari terminal Jatirogo itu masih terlihat agak kosong. Hanya beberapa orang penjual sayur yang tampak menumpangi bus tersebut. Kami segera naik dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Setelah sampai di terminal Bojonegoro, perjalanan dilanjutkan dengan bus antarkota menuju kota Surabaya. Yang kemudian dilanjutkan lagi dengan bus jurusan Malang. Dalam perjalanan, kami asyik mengobrol tentang petualangan.

    Sesuai rencana, kami sampai di tempat tujuan saat senja. Waktu yang pas untuk menikmati mentari senja di balik gumuk dan pucuk pinus. Namun rasa lelah membuat kami harus beristirahat terlebih dahulu.

     Kumandang adzan maghrib terdengar dari toa masjid maupun dari mushola-mushola di perkampungan. Kami beranjak untuk menunaikan kewajiban terlebih dahulu sebelum mendirikan tenda untuk bermalam di kaki gunung Semeru, tepatnya di tengah hutan pinus.

    Di antara pucuk pinus yang menjulang, secercah purnama tampak terlihat syahdu. Semua masih sibuk mempersiapkan segala keperluan. Kang Joyo membuat tenda dibantu Jeni. Mereka sudah berpengalaman. Anis, Nafa, dan Whini mengumpulkan ranting-ranting kecil untuk keperluan membuat api unggun. Aku masih terpana dengan pesona bulan purnama. Aku duduk di bawah pohon pinus. Maklum, aku yang baru pertama kali ikut berpetualang masih awam dengan segala keperluan yang dibutuhkan saat menginap di tengah hutan.

    Dalam keremangan sinar rembulan di tengah hutan pinus, penglihatanku tertuju pada sesosok gadis yang berdiri mematung di antara pohon pinus yang berjajar. "May,... Kau kah, itu?" Aku berguman dalam remang. Lama kupandang, sesosok gadis itu tersenyum dan menampakkan giginya yang gingsul. "Benarkah kau 'May'?" Aku beranjak dari dudukku, berniat mendekat. Namun seorang gadis yang kulihat itu hanya tersenyum tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya untuk menjawab pertanyaanku. Ia berbalik arah dan berjalan. Langkahnya terhenti, ia melengak ke arahku. Mimik wajahnya mengisyaratkan agar aku mengikuti langkahnya.

    Tanpa sadar, langkah kakiku telah jauh meninggalkan teman-temanku yang sedang sibuk menyiapkan keperluan untuk bermalam. Kuikuti langkah gadis yang kutemui di tengah hutan itu dengan sangat cepat. Sesekali aku hampir terjatuh tersandung tonggak kayu yang terlihat meremang karena sinar rembulan yang terhalangi oleh rerimbun pepohonan itu tak mampu meneranginya.

    Kerlip cahaya damar terlihat meremang dari sebuah pondok kecil. Aku berpikir, May juga sedang bermalam di hutan pinus yang berada di kaki Semeru itu bersama teman-temannya. Gadis itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang tampak seperti sebuah pondok kecil dari kejauhan. Aku berjalan mendekat. Gadis itu tersenyum dan mengulurkan tanganya, mengajakku untuk masuk ke pondoknya.

    "Rey...! Di mana kau...!" Lamat kudengar suara Kang Joyo memanggilku. Jeni, Nafa, Anis, dan Whini, pun bergantian memangil-manggil namaku dari kejauhan. Aku linglung. Rasa hati ingin mengikuti gadis yang ada di hadapanku, namun aku pun ingin menyahut teriakan teman-temanku. Namun mulutku terasa terkunci oleh pesona senyum gadis gingsul itu.

    Di bawah rerimbun semak belukar, sorot mata tajam menyala dan gigi-gigi runcing siap menerkam. Seekor serigala kelaparan memandangku penuh nafsu. Kurasakan tangan dingin menarikku untuk segera masuk ke dalam pondok. Suasana sunyi. Hanya suara embus nafas kami berdua, aku dan gadis misterius itu yang terdengar dalam ruangan. Seketika pandanganku terasa gelap. "BLEKKK..!" Tak kudengar maupun kurasakan lagi apa yang selanjutnya terjadi.

*******

Read More