Minggu, Desember 22, 2019

Jangan Kesepian

Jangan Kesepian


Bergulung ombak menimbulkan riak
Gemericik air mengguyur karang.
Karang tetap tegar meski dingin menerpanya
Meski gelombang mengamuk menghantam pendiriannya.

Sinar rembulan yang menenggelamkan lamunan
Menghanyutkan mimpi yang berkepanjangan.

Tegarlah,... 
Tegarkanlah hatimu setegar karang.
Kuatkanlah hatimu walau setiap saat riak gelombang mengikis pendirianmu.

Tidurlah, Dik__
Tidurlah meski gemuruh ombak mengamuk karang.
Tidurlah meski ribut angin berebut menyentuh kulitmu.

Jangan kesepian
Janganlah merasa kesepian walau tiada kaudengar lantunanlantunan kalimatku.
Kalimat-kalimat pujian yang pernah kaudengar
Kenanglah sebagai penghantar tidurmu.

Kau tak sendiri
Ada aku di sini yang jua mengenangmu.
Ada aku di sini yang jua menantikan hadirnya kebersamaan.

Dan,... 
Bila kaumerindukanku
Bukalah jendela kamarmu lalu lihatlah purnama di atas sana.
Ternyumlah padanya agar tersampaikan kepadaku.



Tuban, 22/12/19
Djacka Artub
Read More

Senin, Desember 09, 2019

Tragedi Malam Pertama

Tragedi Malam Pertama


'Oeeeee ... Oeeeee,...' Suara tangis bayi yang terdengar dari bilik sebelah itu mengacaukan ritual malam pertamanya yang kedua. Ia pun beranjak pulang, meninggalkan segumpal daging perempuan yang tersajikan.
'Sampean memang biadab, Mas.'

Tbn, 09/12/19
DJacka Artub
Read More

Selasa, Mei 14, 2019

Aku Bukan Bedes

Aku Bukan Bedes

Oleh: Djacka Artub

Di bawah redup pijar sang lintang panjer rino, bersandar pada tiang penyangga teras ia menatap langit-langit teras rumahnya yang sudah banyak ditumbuhi sarang laba-laba. Pandanganya kosong seakan tiada harapan untuk menyongsong mentari yang  mulai nampak menyembul di ufuk timur. Rembulan di ufuk barat yang samar terlihat men-sabit nyelirit seperti alis burung emprit itu pun hanya terdiam pasrah menerima takdirnya yang sebentar lagi akan berakhir di awal hari akhir bulan hijriah.

"Des,...!" Seru suara seorang wanita dari dalam rumah. Namun tak sedikitpun yang dipanggilnya itu memberi respon walau sekedar memalingkan muka ke arah pintu.

Untuk kedua kalinya, tak dihiraukan juga seruan-seruan itu. Hingga untuk ketiga kalinya, dengan suara lantang dengan segenap kekuatan yang tersisa setelah semalaman kerja lembur melebur adonan kerupuk puli, wanita itu berteriak histeris memanggil anaknya yang tidak menyahut sama sekali setiap kali dipanggil. "Des! Kamu itu tuli ya? Berulang kali dipanggil tidak menjawab! Apakah kamu sudah bisu?" Hardiknya.

"Aduh! mama,...!! Kalau panggil aku tuh jangan pakai sebutan itu napa? Aku tuh malu, Ma, dipanggil dengan sebutan itu_..." Dengan santai, Desy menjawab ocehan sang mama.

"Malu? Maksud kamu?" Sang Mama bingung.

"Udah_lah, Ma,... Mulai saat ini jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!" Ucap Desy sambil berlalu meninggalkan mamanya yang masih dalam kebingungan. Desy berjalan menuju pekarangan rumah kosong yang terdapat pohon beringin tua di sana. Rumah itu berada di seberang jalan di depan rumahnya yang berjarak beberapa meter jauhnya.

Sang Mama semakin bingung oleh tingkah laku dan kata-kata yang keluar dari mulut anaknya yang akhir-akhir ini sering tidak menghiraukan ketika dipanggilnya. "Ada apa dengan anak ini? Apa sudah njalok kawin (minta dinikahkan)?" Sang Mama mengira-ngira.

Dengan langkah cepat, sang Mama mengikuti anaknya yang bertingkah aneh di pagi yang masih buta itu. Ia takut anaknya sedang gagal memadu asmara dan berniat gantung diri di pohon beringin tua itu. "Atau jangan-jangan__Desi sedang kesurupan?" Pikir Mamanya lagi. Ia mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Desy, anak perempuan satu-satunyanya karena Desy tidak memiliki saudara.

Fajar baru saja menyingsing ketika kedua kaum hawa yang berbeda usia itu berkejaran menyusuri rerumput dan kerikil jalanan yang terasa lembab oleh tetesan embun pagi hari itu. Namun karena perbedaan usia yang terpaut jauh, tentu saja yang muda lebih gesit dan irit__lari dan nafasnya. Sedangkan yang lebih tua sudah ngos-ngosan dan terseok-seok dalam berlari pagi, tetapi belum juga  dapat menggapai cita-cita untuk mengejar yang di depannya. Yang muda masih menjadi yang terdepan dan semakin di depan.

Desy sudah berada di seberang jalan__tepatnya dibawah pohon beringin tua yang ada di halaman rumah kosong yang berjarak sekitar limapuluh meter di depan rumahnya. Sedangkan sang Mama masih berada di seberangnya. Ia berhenti, membungkuk memegangi lutut sambil menarik-ulur nafasnya yang terengah-engah__hampir saja terputus. Namun karena rasa kekhawatiran akan keselamatan putrinya, sebagai seorang ibu akan melakukan apa saja agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap putrinya tersebut. Wanita itu hendak kembali melanjutkan langkahnya guna menyadarkan sang anak. Namun apa daya, ia tak lagi kuasa berjalan__apalagi berlari. Wanita itu berdiri berpegangan pada pohon jambu air yang tumbuh liar di sisi jalan.

Seorang pemuda tampan namun berbadan cungkring sedang berolah raga__berlari pagi melalui jalan yang masih nampak berkabut. Seketika pemuda itu berhenti berlari ketika tatapan matanya tertuju pada sesosok yang berdiri agak membungkuk di bawah pohon jambu. Ia terkejut dan hampir saja pingsan kalau saja obyek yang dilihatnya itu tidak menyapanya, "Nang, Arba'in,..." lirih suaranya dan terputus oleh nafas yang terengah-engah. "Tolong, Nang,..." Suaranya terputus lagi. Pemuda cungkring itu pun gagal pingsan karena ia sangat mengenali suara seorang wanita yang didapatinya di bawah pohon jambu tersebut.

"Ada apa, Mak?" Jawab Arba'in dan segera memapah Mak Rini.

"Tolong ... " Suara Mak Rini masih tersengal-sengal. Terengah-engah nafasnya. Ia menunjuk pohon beringin yang terdapat di seberang jalan. Dan Arba'in segera mengarahkan pandangannya ke arah pohon beringin yang ditunjuk oleh Mak Rini tersebut.

Melihat sesuatu yang menggelantung di antara rerimbunan pohon beringin, Arba'in yang memapah Mak Rini, pada akhirnya ia menyembunyikan mukanya pada dada Mak Rini. "PLAK! BRUGH!" Arba'in digampar oleh Mak Rini dan jatuh tersungkur dalam sekali gampar. "Kae, tulungi si Desy (itu, tolong si Desy)!" Mak Rini kembali menunjuk ke arah pohon beringin.

Tersadar apa yang terjadi, Arba'in si pemuda cungkring itu segera bangkit berniat menolong Desy yang hendak diserang oleh monyet yang sedari tadi menggelantung di atas pohon beringin. "Oalah, Des__Bedes!" Seloroh Arba'in sambil mengusap-usap wajahnya yang merah karena tergampar.

"Apa kamu bilang? Anakku kau sebut 'Bedes'?" Seru Mak Rini lagi, "PLAK!" dua kali kena gampar, Arba'in tak sadarkan diri.

Ket: Bedes adalah monyet/monkey
Read More

Kamis, Februari 28, 2019

Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan

Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan


Selamat berjumpa kembali, Bunda,...
Seperti yang telah kita ketahui bahwa selain pemberian ASI yang cukup, anak usia 6-12 bulan juga perlu makanan tambahan atau makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Jika sebelumnya telah kita bahas tentang  Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan, maka pada kesempatan kali ini akan kita bahas Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan.

Berikut bahan dan cara membuat MP-ASI untuk anak usia 6-12 bulan.

NASI TIM BAYAM SAOS PEPAYA DARI MENU KELUARGA (MP-ASI Lengkap)


Bahan:


  • ½ gelas nasi aron
  • 1 potong sedang tempe goreng tanpa garam
  • ½ butir tomat (dapat disesuaikan sesuai kebutuhan)
  • 2 sdm bayam bening dan wortel
  • 1 sdt minyak kelapa
  • 75 cc ( ⅓ gelas belimbing) air kaldu/kuas sayur
  • ½ potong sedang pepaya, dihaluskan

Cara Membuat:


  • Masukkan nasi aron, ikan, tempe, dan minyak kelapa ke dalam mangkok tim
  • Tambahkan air kaldu, tim hingga matang
  • Masukkan kangkung atau bayam dan tomat, tim hingga matang
  • Angkat, sajikan dengan saos pepaya


NASI TIM KACANG MERAH (MP-ASI Sederhana)


Bahan:


  • 50 gr nasi aron
  • 20 gr (2 sdm) kacang merah, tumbuk kasar
  • 25 gr labu siam, iris tipis
  • 1 sdt minyak kelapa.


Cara Membuat:


  • Letakkan nasi aron, kacang merah yang sudah ditumbuk kasar, dan air secukupnya ke dalam wadah tim
  • Tambahkan minyak kelapa, tim hingga matang
  • Tambahkan labu siam, tim hingga matang
  • Angkat dan siap disajikan.

Dapat pula ditambahkan daun bawang, seledri, dan bawang bombay saat memasak supaya lebih harum.

Demikian Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan. Semoga bermanfaat untuk bunda dan si buah hati.

Perhatian! Hindari penggunaan peralatan yang berbahan plastik dan melamine!
Read More

Rabu, Februari 27, 2019

Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan

Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan


Dalam merawat anak kecil terutama yang masih bayi, sangat diperlukan penanganan yang sangat serius. Tidak boleh sembarangan terutama untuk memberi makanan.

Di bawah ini kami akan mencoba memberi tips Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan. Makanan Pendamping Asi atau MP-ASI ini kami ambil dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang kami dapatkan dari bidan. Jadi pembaca tidak perlu ragu lagi untuk mencobanya.

MP-ASI atau Makanan Pendamping Asi pada saat ini memang sudah banyak sekali tersedia di toko-toko atau supermarket terdekat di tempat tinggal kita. Sangat mudah bagi kita untuk mendapatkan dan membuatnya jika kita menggunakan MP-ASI yang dijual di toko-toko atau supermarket karena bahan-bahannya sudah dicampur jadi satu. Instan dan nggak ribet. Tetapi tentu saja kita mesti jeli dengan bahan dan kandungan MP-ASI instan tersebut. Dan juga kita atau para ibu harus jeli dengan tanggal kadaluarsanya saat membeli MP-ASI instan. Dan lagi, makanan instan itu biasanya terdapat bahan kimia atau bahan pengawet yang terdapat di dalamnya. Bahan-bahan itu tentunya sangat berbahaya bagi bayi kita bukan?

Nah, bagi para ibu yang sedang mempunyai anak bayi usia 6-9 bulan dan ingin memberikan MP-ASI namun khawatir jika buah hatinya mengkonsumsi bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan instan yang tersedia di pasaran tersebut, Bunda bisa membuat MP-ASI sendiri dengan mempraktekkan Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan sendiri di rumah.

Berikut bahan-bahan dan cara membuatnya.

BUBUR SUMSUM KACANG HIJAU


Bahan:


  • 15 gr (1,5 sdm) tepung beras
  • 10 gr (1 sdm) kacang hijau yang sudah direbus dan dihaluskan
  • 75 cc ( ⅓ gelas belimbing) santan encer
  • 20 gr daun bayam, iris halus

Cara Membuat:


  • Rebus kacang hijau dan daun bayam, saring dengan saringan atau blender halus, sisihkan.
  • Campurkan sedikit air dengan tepung beras hingga larut, tambahkan santan, masak di atas api kecil hingga matang.
  • Tambahkan hasil saringan kacang hijau dan daun bayam di atas, aduk hingga rata.

PISANG LUMAT HALUS (Sebagai Makanan Selingan)


Bahan:


  • Pisang masak 1 buah

Cara Membuat:


  • Cuci pisang sampai bersih
  • Kupas kulit pisang separuh
  • Keroklah pisang dengan sendok kecil
  • Segera berikan kerokan pisang kepada bayi anda.

Demikian Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan. Semoga bermanfaat bagi Bunda dan si buah hati.
Terima kasih sudah membaca.


Perhatian! Jangan menggunakan peralatan berbahan plastik dan melamine!
Read More

Gado-Gado Jatirogo

Gado-Gado di Jatirogo - Tuban

Salah satu makanan khas Indonesia yang sudah tidak asing lagi di pendengaran kita sebagai warga negara yang memiliki bermacam suku dan budaya ini adalah Gado-gado.
Gado-gado adalah salah satu makanan tradisonal Indonesia yang berupa sayur-sayuran, yang dicampur dengan bumbu kacang atau biasa disebut saus kacang, yaitu saus yang terbuat dari kacang tanah yang dihaluskan. Sayuran yang  disertai irisan telur rebus itu disiram dengan saus kacang atau bumbu kacang, dan  pada umumnya banyak yang menambahkan kentang rebus dan lontong yang diiris kecil-kecil.  Kemudian di atasnya ditaburi bawang goreng dan edikit emping goreng atau bisa juga memakai kerupuk udang sebagai pelengkap dan untuk menambah citarasa gado-gado.

Di kota-kota besar, misalnya di kota Surabaya atau kota-kota lain di Indonesia, biasanya sangat mudah sekali untuk mendapatkan makanan tradisonal ini karena sudah banyak bertebaran penjual gado-gado, baik di restoran mewah sampai di pedagang kaki lima yang sering mangkal di pinggir jalan raya. Namun untuk di daerah-daerah pedesaan atau di kota kecamatan, masih jarang ditemukan penjual gado-gado atau bahkan tidak ada sama sekali untuk suatu daerah karena memang terkadang jarang peminatnya.

Bagi masyarakat Jatirogo dan sekitarnya, yang penasaran atau ingin mencicipi atau bahkan sedang ngidam ingin makan gado-gado, tidaklah terlalu sulit untuk mendapatkan makanan khas Indonesia ini karena di Jatirogo sudah ada beberapa warung atau penjual gado-gado yang biasa mangkal di pinggir jalan raya Jatirogo. Dan salah satunya adalah penjual  gado-gado yang ada di jalan raya timur Jatirogo, atau di sebelah timur lampu merah (bangjo) Jatirogo, lebih tepatnya di sebelah rumah praktek dokter Susi.

Menurut penulis, gado-gado yang dijual di gerobak kaki lima yang ada di sebelah rumah praktek dokter Susi ini rasanya tak kalah nikmat dengan rasa gado-gado kelas restoran mewah. Harga kere rasa oke bahasa gaulnya. Hehe,..
Terbukti! baru beberapa bulan berjualan, sudah banyak sekali pelanggan yang ketagihan dengan rasa gado-gado milik Cak Sulis, pria asal kota soto Lamongan ini. Termasuk penulis sendiri yang sudah beberapa kali makan gado-gado racikan Cak Sulis ini.

Untuk masalah harga, sangatlah terjangkau untuk kantong orang desa. Seperti yang sudah saya sebut  di atas, 'Harga kere rasa oke!'. Gado-Gado Cak Sulis dijual  dengan harga Rp.6000 per porsinya. Dan meski harga ndeso, tetapi soal rasa tak kalah dengan Gado-Gado kelas restoran mewah.

Bagi para pecinta kuliner terutama makanan tradisonal khas Indonesia yaitu Gado-gado, silahkan buktikan dan nikmati cita rasanya.

Gado-gado milik Cak Sulis buka setiap hari mulai jam 7 pagi hingga jam 1 siang, bertempat di pinggir jalan raya timur Jatirogo atau sebelah timur lampu bangjo. Lebih tepatnya di sebelah rumah praktek dokter Susi.

Demikian sekilas info kuliner makanan tradisional Gado-Gado yang ada di wilayah kecamatan Jatirogo dan sekitarnya.
Read More

Minggu, September 09, 2018

Moon On The Hospital

Moon On the Hospital


    Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Karena aku sudah terbiasa melek semalam karena tugas kerja, jadi meski waktu sudah menjelang dini hari aku masih belum merasakan ngantuk.
    Kisah ini aku alami di sebuah rumah sakit umum yang ada di daerah tempat tinggalku (maaf, untuk nama rumah sakitnya sengaja tidak aku sebutkan). Waktu itu aku sedang menunggui orang tuaku yang sedang opname di rumah sakit umum tersebut. Dan karena kami hanyalah golongan masyarakat yang kurang mampu, jadi tidak mungkin bagi kami mampu untuk menyewa kamar VIP.
     Seperti yang biasa terjadi, bagi masyarakat kurang mampu yang hanya menyewa kamar kelas ekonomi, satu ruang tentunya diisi oleh beberapa pasien. Alhasil, keluarga yang menunggu pun lebih banyak yang tidur di luar ruangan.
    Pada awalnya aku bersama orang-orang yang juga menunggui keluarganya yang sakit, kami ngobrol ngalor-ngidul di luar ruang pasien tentang keseharian kami. Namun karena waktu sudah terlarut malam, orang-orang yang awalnya ngobrol bersamaku satu persatu sudah mulai dihinggapi rasa ngantuk dan akhirnya semuanya terlelap dalam tidurnya. Sementara aku masih sibuk bermain hape karena mata masih kinclong.
    Kesunyian makin terasa ketika kulihat  di sudut-sudut ruas luar ruangan semua orang sudah tertidur. Hanya suara dengkuran orang-orang yang telah terlelap itu berlomba dengan suara-suara gemericik air selokan yang mengalir dari ruang-ruang perawatan. Hawa dingin pun semakin terasa membekukan tulang-tulang sumsum. Kucoba mengusir sepi dan hawa dingin yang semakin kuat itu dengan berjalan dari lorong ke lorong rumah sakit.

    Sebagai awal dari sebuah keganjilan, sebenarnya saat aku masih ngobrol bersama para penunggu pasien lain  tersebut sudah terdapat sebuah tanda-tanda. Di saat kami asik ngobrol, tetiba sebuah pintu yang ada di belakang kami itu seperti ada yang menggedor. Lebih tepatnya seperti suara pintu yang tertutup dengan keras. Tetapi setelah kami periksa, pintu itu terkunci dengan rapat. Dan di dalam ruangan yang pintunya mengeluarkan suara itu adalah ruangan kosong. Tidak ada pasien, tidak ada aktivitas di dalamnya. Embus angin pun tak kami rasakan. Dari mana atau apa penyebab suara pintu itu, kami hanya saling bertanya dan mengira-ngira saja bahwa pintu itu ditabrak oleh kucing atau pun tikus. Tetapi kami lihat seisi ruangan tidak ada seekor binatang pun yang terlihat. Ruangan itu terlihat terang dan seluruh isi ruangan dapat dilihat dari luar karena daun pintunya terbuat dari kaca yang bening.
    Udara dingin semakin terasa membekukan tulang sumsum dan persendian padahal embus angin hanya terasa datar saja. Di sebuah lorong rumah sakit kulihat seorang wanita sedang duduk sendirian di kursi ruang tunggu pasien. Tidak ada siapa pun di sana selain wanita itu. Rambutnya yang panjang terurai terlihat dari belakang. Aku memutar ruangan untuk mencoba melihat wanita itu dari depan. Setelah aku sampai di tempat yang posisinya berada di depan wanita itu, tetapi agak jauh, tak kulihat wajah wanita itu dengan jelas karena ia sedang menunduk.
    Dengan perasaan sedikit was-was, kucoba beranikan diri untuk mendekati seorang wanita yang kulihat sedang duduk sendirian di ruang tunggu sebuah rumah sakit umum itu. Perlahan kulangkahkan kaki di antara rasa penasaran dan keraguan. Jarak antara aku dan wanita itu semakin dekat. Namun kejelasan tentang raut wajah wanita itu tak jua nampak jelas. Jantungku semakin berdegup kencang. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Aku duduk di bangku ruang tunggu, se-ruang dengan wanita itu tetapi agak jauh. Aku menjaga jarak.
    Kuperhatikan dengan seksama wanita yang sedang  duduk merunduk itu. Kuperhatikan terus menerus wanita itu dari ujung kaki hingga kepala. Tak ada yang janggal. Kaki wanita itu pun menyentuh lantai.
    Sayup kudengar nyanyian yang terdengar merdu tetapi sangat menyayat. Bersamaan dengan itu, wanita tersebut mengangkat kepalanya dan terlihatlah raut wajahnya dengan jelas. Jantung semakin cepat berdegup. Sangat kencang. Aku tercengang dan serasa tak dapat menggerakkan organ-organ tubuhku. Hanya tatap mataku yang tak lepas dari pandangan ke arahnya. Seketika detak jantungku terasa berhenti berdetak di saat ia melempar senyum kepadaku. Wajahnya begitu cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Senyum yang merontokkan dinding-dinding keyakinan itu terulas jelas namun hanya sejenak.
    Tahu aku selalu memperhatikannya, wanita itu berdiri dan berjalan dengan menundukkan kepala. Tetapi masih terlihat nyata bahwa ia tersenyum tersipu-sipu. Dan nyanyian merdu yang sebelumnya terdengar itu seketika berhenti dan terdengar suara lembut, "Halo, Mas, Ibu opname di rumah sakit," kata wanita itu melalui ponselnya. Aku tidak tahu dengan siapa ia berbicara, mungkin saja dengan saudaranya yang jauh. Dan aku pun tak tahu apa saja yang dibicarakan wanita itu dengan lawan bicaranya di ponsel itu karena ia berbicara sangat pelan dan agak jauh dariku.
    Aku masih duduk di ruang tunggu pasien sambil sesekali mengutak-atik ponselku untuk mengusir sepi. Tanpa aku sadari, setelah selesai berbicara, wanita itu kembali duduk di bangku ruang tunggu. Kali ini posisi duduknya agak dekat denganku. Wanita itu tiba-tiba bertanya, "Mas juga sedang menunggu keluarga yang sakit?" Katanya.
    Aku pun menjawab, "Iya, mbak, ibuku sudah seminggu opname di rumah sakit ini."
    "Ibunya sakit apa, mas?"
    "Gangguan fungsi ginjal, mbak,"
    "Aku juga sedang nungguin ibu, mas,"
    "Ibunya sakit apa, mbak?"
    "Serangan jantung."
    Lama kami ngobrol, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02:30 malam. Menjelang dini hari. Suasana yang semula dingin pun tak lagi terasa oleh obrolan hangat kami berdua. Dan melalui obrolan itu, ia menjelaskan jika ibunya baru kemarin siang masuk rumah sakit itu.
    Di tengah-tengah obrolan kami, dari ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara langkah kaki orang berjalan. Dan langkah kaki itu terdengar semakin jelas dan dekat. Namun kuarahkan pandangan ke lorong kanan dan kiri tak ada seorang pun yang berjalan ke arah kami. Kami saling pandang. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang membuat kami kaget. "Belum tidur, Pak?" Ternyata suara seorang satpam rumah sakit yang sedang patroli itu menyapaku. Aku pun menjawab, "belum, pak." Dan aku pun tak lagi merasakan aura mistisnya rumah sakit.
    Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin karena aku ada teman baru di sana, tak terasa aku sudah dua Minggu tinggal di rumah sakit umum dan syukur Alhamdulillah keadaan ibu pun berangsur membaik.
    Dua Minggu tinggal di rumah sakit, seminggu terakhir kemudian aku bertemu dengan seorang teman untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dan akhirnya kami pun harus berpisah karena dokter sudah memperbolehkan ibu untuk pulang. Sementara wanita yang kutemui di malam itu masih tertinggal di rumah sakit karena ia masih menunggui ibunya yang masih dirawat di rumah sakit.
    Bulan purnama di atas rumah sakit umum daerah. Pengobat resah di kala hati sedang gelisah. Penghibur diri di tengah dinginnya malam yang sunyi sepi. Purnama perlahan pergi, meninggalkan malam yang penuh memori. Akankah dapat kujumpai ia di kemudian hari? Kuharap dapat kujumpai kembali ia di antara kelopak kembang yang bermekaran di sudut-sudut taman.
Read More

Tujuh Belasan Desa Sekaran Jatirogo

Acara Tujuh belasan Desa Sekaran Jatirogo


    Setiap tahun, setiap bulan Agustus, di beberapa daerah di Indonesia selalu ramai oleh kegiatan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia yang tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.
    Sabtu, 08 September 2018, di desa Sekaran, Jatirogo - Tuban acara peringatan hari kemerdekaan yang ke 73 Republik Indonesia diperingati dengan kesenian tradisional ketoprak Satrio Budoyo dari desa Ketodan Jatirogo, sebagai bentuk dari cinta tanah air dan cinta budaya bangsa.
    Peringatan tujuh belasan atau peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tercinta di berbagai daerah selalu diperingati dengan berbagai acara atau kegiatan seperti acara perlombaan balap karung, panjat pinang, karnaval, dan lain-lain. Dan sebagai puncaknya, biasanya menghadirkan acara pengajian, panggung hiburan, atau acara lain untuk memeriahkan kegiatan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan bangsa.
    Lain halnya dengan daerah lain, di desa Sekaran, sebuah pelosok desa yang ada di kecamatan Jatirogo ini menghadirkan kesenian tradisional ketoprak Satrio Budoyo sebagai puncak acara memperingati hari kemerdekaan RI.
    Di Jatirogo dan sekitarnya, kesenian tradisional ketoprak masih sangat diminati oleh masyarakat. Sehingga kepala desa dan juga para panitia peringatan tujuh belasan ini atas permintaan masyarakat desa Sekaran menghadirkan kesenian tradisional ketoprak sebagai bentuk kecintaannya pada budaya serta untuk melestarikan budaya bangsa tersebut.

    Ketoprak Satrio Budoyo dalam rangka peringatan hari kemerdekaan yang 73 Republik Indonesia di desa Sekaran, Jatirogo, ini membawakan lakon 'Dharma Wangsa Ngratu'.
    Panggung hiburan acara peringatan hari kemerdekaan Indonesia di desa Sekaran yang terletak di samping kantor balai desa Sekaran sangat meriah dan ramai dihadiri oleh para penonton dari warga masyarakat desa setempat dan beberapa warga desa sekitar. Hal ini sebagai bukti bahwa warga masyarakat desa Sekaran - Jatirogo dan sekitarnya masih menyukai kesenian tradisional yaitu ketoprak.
    Demikian sekilas ulasan acara peringatan tujuh belasan atau peringatan hari kemerdekaan yang ke 73 Republik Indonesia di desa sekaran, Jatirogo.
Read More
Untuk Melihat Semua Isi Blog
Silahkan Klik

LINK DAFTAR ISI BLOG