Cerita Rangga-dhek | Perjuangan Rangga

PERHATIAN
Cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka
Apa bila ada kesamaan nama, memang disengaja.



Judul Cerita: Cerita Rangga-dhek (Perjuangan Rangga)

Penulis Cerita: Djacka Artub




Rangga, biasa orang memanggilku.
Ya. Namaku adalah Rangga. Nama lengkapku adalah Ranggadhek. Aku kurang tahu pasti apa arti di balik nama yang diberikan oleh orang tuaku. Tapi yang jelas, Nama itu sudah melekat dalam diriku sejak aku masih kecil.

Pernah suatu ketika, disaat aku mulai masuk di sekolah lanjutan pertama. Semua murid yang ada di dalam kelas tertawa ketika pak guru, sebut saja namanya Pak Amrana, waktu itu beliau meng-absen siswa yang masuk sekolah. Dan ketika giliran namaku yang disebut, serempak semua siswa tertawa.

"Ranggadhek.!" Seru pak Amrana waktu itu.

"Saya, pak.!" Sambil mengacungkan jari telunjuk ke atas, aku menanggapi panggilan pak Amrana.

Serempak semua siswa tertawa, dan saat aku mengarahkan pandanganku ke arah pak Amrana, terlihat gurat senyum yang tertahan di bibirnya.
Bukan hanya sekali. Tapi hampir setiap hari aku menjadi bahan tertawaan ketika di sekolah ada yang memanggilku.

Hingga suatu hari, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada ibu, 'kenapa semua orang tertawa ketika mendengar namaku disebut'.
"Kenapa sih, Bu. Setiap ada yang menyebut namaku di sekolah, teman-temanku semua tertawa?" Tanyaku pada ibu yang saat itu sedang mepe gabah (menjemur padi).
Ibu tak menjawab. Ia menghela nafas, kemudian pergi. Aku semakin penasaran, 'ada apa sebenarnya dengan namaku'.
Malam semakin larut. Suara-suara binatang malam bersahutan mendendangkan nyanyian dikeheningan. Suasana semakin suram dengan datangnya gumpalan-gumpalan awan hitam yang menutup redup sinar rembulan.

Di dalam lorong gelap, aku duduk bersila mencari wangsit untuk jawaban dari sebuah pertanyaan. Pertanyaan dengan apa yang sebenarnya terjadi, hingga semua orang menertawaiku setiap ada yang menyebut namaku. "Nama adalah doa. Namun apalah arti sebuah nama" Sebuah bisikan ghaib, lirih terdengar dari keheningan.
Aku terperanjat. Aku berlari di antara sapi dan kambing yang ada di kandang.

Masih belum hilang rasa terkejutku, di depan pintu kandang kulihat kilatan cahaya warna putih menuju ke arahku. Aku bersembunyi di balik punggung sapi yang sedang ndepok. Belum sempat aku bersembunyi, kilatan cahaya itu tepat mengenai wajahku. "Wooo... Bocah edan!" Seru ayahku sambil mengarahkan lampu senternya. "Ora nggadhek!" lanjutnya.
Rupanya ayahku ingin melihat keadaan di kandang karena kambing-kambing peliharaannya sedang gaduh karena ulahku. Sementara aku hanya garuk-garuk punggung sapi sambil memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkan ayahku. 'Ora nggadhek'.
Keesokan harinya, aku merajuk manja pada ibuku. "Bu... Ora nggadhek itu apa sih?" tanyaku pada ibu.

"Ora nggadhek itu artinya jelek. Tidak pantes. Ora pokro."

Jawaban dari ibuku sungguh bikin nyesek. Ingin rasanya aku berlari dan tak pernah kembali. Ingin rasanya aku mati, namun aku masih takut tidur sendiri di kuburan.
"Jadi karena itu. Kenapa setiap ada yang menyebut namaku 'Ranggadhek', semua orang selalu tertawa? Batinku saat itu.
Oh ... Tega nian ayahku memberi nama. Hikz...

"Sudah... Ndak usah menangis. Sebenarnya nama kamu itu 'Rangga Prasetyo Wicaksono Mangkurondolimo'. Tapi karena sejak kecil kamu sering korengen, menurut orang tua, mungkin 'kabotan jeneng (keberatan nama)', maka ayahmu manggil kamu dengan julukan 'Ranggadhek'. Dan akhirnya keterusan hingga kamu sekolah 'pun, nama itu yang digunakan untuk daftar di sekolah." Panjang lebar ibu menjelaskan.
~~~~~~
Pagi yang cerah. Seperti biasanya, keadaan dalam kelas selalu riuh oleh tawa teman-sekelasku ketika sedang ada absen dari pak guru. Namun aku sudah tidak ambil pusing dengan semua itu. "Apalah arti sebuah nama." Bisikan ghaib yang aku dapatkan saat bersemedi di dalam kandang semalam, menjadi kekuatan bagiku. Apalagi ibu sudah menjelaskan siapa sebenarnya namaku.

"Rangga.!" Sebuah suara seorang gadis memanggil namaku dari arah belakang, saat aku duduk sendirian di bawah pohon trembesi pada waktu istirahat sekolah. Aku pun menoleh.
Lisa, gadis pendiam teman sekelasku yang tak pernah ikut menertawakanku itu datang menghampiriku. Aku tidak tahu kenapa dia tidak ikut tertawa. Atau mungkin saja dia sebenarnya ingin tertawa tapi ditahan karena takut kelihatan giginya yang gingsul.

"Eh kamu, Lis? Ada apa?" Tanyaku, kemudian aku ajak dia duduk di bawah pohon besar yang ada di samping sekolah itu.

"Ah, nggak ada apa-apa. Aku cuma mau tanya, 'kamu mau ikut hadir dalam kontes menulis nggak'?"

"Enggak 'ah. Aku malu." Meskipun aku sudah terbiasa ditertawakan teman-teman di sekolah, tapi aku masih malu kalau namaku jadi bahan tertawa-an murid-murid dari sekolah lain.

"Malu kenapa? kamu 'kan hoby menulis juga. Lagian, aku dengar semua siswa di kelas kita diharuskan ikut"

"Aku malu kalau banyak yang menertawakan namaku. Lagi pula, kontes itu kan, akan diikuti oleh berbagai murid dari sekolah-sekolah se-kabupaten."

"Apalah arti sebuah nama, Rangga. Meskipun nama itu sebuah doa, tapi belum tentu si pemilik nama itu mempunyai sifat dan sikap seperti apa yang diharapkan dari nama itu sendiri." Lisa menjelaskan panjang dan lebar tapi tidak terlalu tinggi.

"CIEEEE... Ada yang lagi mojok ternyata." Tiba-tiba Rini, salah satu murid wanita yang paling seksi itu datang. Lalu ia memanggil teman-teman yang lain.

Tak lama kemudian, beberapa teman yang lain pun berdatangan, termasuk juga Arba'in, murid yang paling sedeng se sekolahan. Tak ketinggalan pula, Emde si mata duitan, Ktnozi yang semprol, Rizky si petualang yang takut kecoak, She Zhie si tegar pemburu dolar, Zia yang suka mengungkapkan perasaan lewat tulisan, Anggi si alien yang suka bergentayangan di jalanan (anak motor), Satria bergitar yang suka selfi di jamban, Benny si penggemar cewek Jepang, Maya si pemilik pabrik teh asoy, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Aneh-aneh memang kegemaran teman-temanku.

"Wah, wah, wah... Pantesan kelasnya sepi. Lha wong semua pada belajar di bawah pohon trembesi. Bapak boleh ikut gabung, nggak?" Tiba-tiba Pak Amrana, guru bahasa yang paling kece itu datang dan membuat kami semua buyar berlarian ke dalam kelas.
~~~~~~


"Hey! Kamu jadi ikut kontes?" Berlari di antara blethokan di pematang sawah, Lisa mengejarku dan kembali bertanya saat pulang sekolah.

"Enggak." jawabku singkat. "Kamu sendiri mau ikut?" Aku balik bertanya padanya.

"Aku juga nggak ikut." Jawabnya.

Trus, kenapa tadi mengajakku ikut? Sementara kamu sendiri juga nggak ikut."

"Aku kan cuma bertanya. Memangnya nggak boleh?"

"Kalau aku ikut, memangnya kamu juga mau ikut?"

"Ya tetap enggak."

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa."

"BYUUURRRR...." Lisa terjatuh ke dalam kubangan air bercampur blethokan sawah. Seragam sekolah yang dipakainya pun, basah bercampur noda-noda blethokan. Aku tertawa terbahak-bahak melihat wajah Lisa.
Merasa tidak terima karena tidak kutolong tapi malah justru aku tertawakan, segenggam blethokan pun meluncur dari tangan Lisa mengenai wajahku. Dan akhirnya aku pulang ke rumah seperti orang yang baru saja pulang dari ndaut di sawah. Begitupun dengan Lisa yang pulang sekolah seperti orang yang pulang dari tandur (menanam padi) di sawah. Lisa mengadu pada orang tuanya, dan aku pun kena marah oleh orang tua Lisa dan juga orang tuaku.
~~~~~~

Suatu pagi di kemudian hari, beberapa siswa di sekolah saling bergerombol membahas kontes yang akan mereka ikuti untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan. Aku mengendap-endap seperti maling yang kebelet pipis. Aku mendekati kerumunan Lisa, Maya, Anggi, She Zhie, Zia, dan Rini.
Sementara di ujung gedung sekolahan di dekat toilet, Satria dan Arba'in sedang selfi berdua. Emde dan Nozi sedang main jepret-jepretan pakai karet gelang. Rizky dan Benny sibuk mempersiapkan artikel kontesnya. Sejauh ini baru mereka berdua yang kuketahui akan mengikuti kontes menulis.

Aku nguping pembicaraan Rini yang memberi wejangan pada Anggi, Maya, Zia, dan She Zhie. "Nanti kalau Rangga bertanya 'kita ikut kontes apa engak', bilang saja kalau kita nggak ikut, ya." Wejang Rini pada yang lain.

"Siap, Mbak Rin.!" Seru Maya.

"Tapi, jangan-jangan Mbak Lisa membocorkan rahasia kita. Soalnya kemarin aku lihat, mbak Lisa mengejar Rangga saat pulang sekolah." Sahut She Zhie.

"Benar begitu,Lis?" Tanya Rini.

"Ah. Enggak, kok." Bantah Lisa. "Kalau kalian nggak percaya, silahkan tanya saja sama Rangga."

"Waahhhh... Rupanya ada persekongkolan di antara kalian ya?" Kemunculanku dari balik semak-semak membuat mereka terkejut. Mereka merencanakan supaya aku sendiri yang mendapat pengurangan nilai untuk mata pelajaran bahasa indonesia, karena tidak mengikuti kontes menulis.
******
Remang malam kembali datang. Redup cahaya kunang-kunang bergerilya mengitari pematang sawah. Dalam kegalauan, aku duduk di bawah pohon mangga yang berdiri kokoh di depan rumahku. "Besok waktunya mengumpulkan karya cerpen. Sementara aku belum punya inspirasi untuk menulisnya." Batinku saat itu.
Aku masuk kedalam rumah, dan kuambil buku dan pensil untuk segera menulis. Namun aku hanya bengong sambil memegang alat tulis. "Ah. Kenapa aku nggak melakukan semedi lagi? Siapa tahu nanti dapat bisikan ghaib lagi untuk kujadikan cerpen." Secepat kilat aku bawa peralatan menulisku kembali kedalam kandang ternak di belakang rumah.
Baru saja aku duduk bersila, rasa ngantuk tiba-tiba menyerangku membabi buta. Berbagai jurus aku kerahkan untuk melawan rasa kantuk. Namun apalah daya. Aku pun lemas tak berdaya oleh serangan rasa kantuk yang mendalam. Akhirnya aku jatuh tersungkur dan kemudian mendengkur. Ngorok. *

"Dalam setengah sadar, sayup kudengar kicau burung bersahutan. Cahaya terang menerobos celah dinding kandang yang berlobang.
"UEDIAANNN...!!" Teriakku ketika sadar, dan ternyata aku bagun kesiangan.
Bergegas aku memberesi buku dan alat tulisku yang berserakan di tanah. Kemudian aku segera masuk rumah, dan kulihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 06:30.

Tanpa sempat sarapan, setelah selesai membersihkan diri (mandi), aku segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Berlari, tergopoh aku memasuki ruang kelas. Semua murid sudah bersiap mengumpulkan cerita karyanya masing-masing.
Aku kebingungan. Aku bingung karena semalam belum sempat menulis cerita.

WUUSSHHHH..." Secepat kilat Rini menyambar buku tulisku. Ia membuka dan membolak-balik halaman buku. Matanya melototi halaman buku tulisku, dan terlihat mulutnya komat-kamit seperti mbah dukun yang sedang mengobati pasiennya. Aku berusaha merebut buku-ku kembali. Tapi Rini melemparkannya pada Lisa. Ketika aku mendekati Lisa, Lisa melemparkan buku itu kepada Benny. Kemudian Benny melemparkan kembali pada Zia. Arba'in memegangiku, Maya Dan She Zhie membaca cerita yang ada di buku-ku. Cerita itu berkisah tentang keseharianku yang selalu ditertawakan teman-temanku karena namaku yang Ranggadhek, hingga aku yang dikerjai Rini, Lisa, dan teman-teman yang lain supaya aku tidak ikut mengumpulkan karya tulis. Aku bengong. "Siapa yang menulis cerita itu?" Aku bertanya pada diriku sendiri.
Sementara Emde dan Nozi selalu asyik dengan main petak umpet di dalam kelas.

" Eh'hemm..." Pak Amrana, guru bahasa Indonesia memasuki ruang kelas. "Silahkan dikumpulkan karya masing-masing."

Aku merasa lega sekaligus bingung. "Masa bodoh! Siapa pun yang menulis cerita itu, yang penting aku bisa ngumpulin karya tulis." Gumamku.
~~~~~


Seminggu berlalu.
Tibalah saatnya kami menghadiri acara pengumuman pemenang kontes menulis yang bertema perjuangan untuk menyambut hari ulang tahun kemerdekaan.

Sampai detik ini aku masih belum menemukan jawaban 'siapa yang telah menulis cerita yang aku kumpulkan.
"Ya ampuunnn... Cerita itu 'kan, aku tulis ketika aku terjaga dari tidurku di kandang sapi waktu itu. Kemudian aku tertidur lagi hingga bangun kesiangan. PLAAKKKK..!" Aku tepok jidatku sendiri sekeras mungkin.

"Ada nyamuk, pak?" Seloroh Arba'in yang duduk di sampingku.

"Nyamuk gundulmu." Jawabku.***
Dan acara pengumunan pemenang 'pun, dimulai. Juara pertama diduduki oleh 'Sebuah Pengorbanan' cerpen karya Cinta Lho Ora, juara bertahan murid dari sekolah lain.
Kemudian giliran juara kedua, seakan tak percaya namun nyata, juara kedua diduduki oleh 'Perjuangan Rangga' cerpen karyaku.

"Rasakno kowe...!" Kataku ketika berjalan menuju ke panggung melewati tempat duduk Rini.
"PLAKKKK.. PLAKKK.... PLAAKKK...!" Secara bergiliran, Rini, Lisa, Maya, Zia, Benny, Rizky, Anggi, She Zhie, Arba'in, Satria, dan teman-temanku yang lain nimpuk kepalaku dengan botol air mineral. Aku rasakan timpukan Rini yang paling keras. "Selamat, ya." Kata mereka.

"Selamat yo selamat. Tapi remuk sirahku (kepalaku)." Kataku, kemudian naik ke atas panggung, dan berdiri di samping Cinta Lho Ora.

"Alhamdulillah.... Akhirnya Rangga bersanding dengan Cinta." Gumam Pak Amrana.
TAMAT




0 Response to "Cerita Rangga-dhek | Perjuangan Rangga"

Posting Komentar