Prahara Cinta Dewi Arum - 2

PERHATIAN!
Cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka.
Persamaan nama dan tempat memang disengaja
Dan cerita ini hanyalah cerita konyol
Maka jangan heran jika mendapati adegan-adegan konyol dalam alur ceritanya.


Prahara Cinta Dewi Arum - part 1


Judul: Prahara Cinta Dewi Arum - 2
Oleh: Djacka Artub
Genre: Konyol



"DHEEGG...!" Hati Indah Prameswari bagai terkena totokan titik akupunktur. Darahnya seakan berhenti mengalir saat melihat keadaan Dewi Arum yang diam meringkuk di antara tumpukan klaras daun pisang kering.
Dengan hati-hati, dibukanya klaras daun pisang itu, dan perlahan ditaruhnya jemari tangannya di dekat lubang hidung Dewi Arum. "Syukurlah masih bernafas. " Batin Indah Prameswari, lega.

"Princes... Princes..." Setengah berbisik, Indah Prameswari mencoba membangunkan Dewi Arum.

"CIAATT... CIAAATTTT....!" Dewi Arum terbangun kaget. Ia melompat memperagakan gerakan silat yang pernah dipelajarinya.
Indah Prameswari menghindar. "Wah... Kesurupan, nih anak." Batinnya.

"Eh, Nimas Ayu..." Dewi Arum menurunkan tangan, lalu mendekat.

"Sudah. Sekarang apa rencana princes Dewi selanjutnya? Mau balik ke istana, atau mau kemana?"

"Aku tidak mau kembali ke istana!" Dewi Arum menjawab pertanyaan Indah Prameswari dengan nada tinggi. "Bawalah aku ke tempat yang jauh dari kerajaan. Aku tidak mau dijodohkan dengan pria yang belum aku kenal."

"Tapi kemana, princes?"

"Kemana saja. Yang penting jauh dari kota raja."

"Sebenarnya aku bisa saja membawa princes Dewi untuk bersembunyi. Tapi.---" Indah Prameswari terdiam sejenak.

"Nimas Ayu tidak perlu khawatir. Jika Ayahandaku tahu, aku yang akan bertanggung jawab untuk keselamatan Nimas dan Ki Ronggo, ayah Nimas." Dewi Arum memantabkan Indah Prameswari untuk segera membawanya pergi dari kota raja.

"Hemmmm..." Indah Prameswari menghela nafas. Sejenak ia berpikir, "baiklah. Aku akan membawa princes Dewi ke rumah Datin Tya."

Tanpa berpikir panjang, Dewi Arum segera naik scooter Indah Prameswari. Mereka berdua memilih jalan memutar melewati jalan hutan dan perkampungan untuk menghindari kemacetan di kota raja. Karena pasti banyak iring-iringan kendaraan para punggawa kerajaan di kota raja, yang mencari keberadaan Dewi Arum.
Malam semakin merayap gelap. Di rumah petak yang berdinding anyaman bambu dan beratap daun lontar, seorang wanita paruh baya sedang memilah-milah sayuran yang ia petik tadi siang.
Datin Tya, wanita paruh baya itu hidup sendirian di rumah petaknya di lereng bukit Boto. Setiap hari ia mengolah tanah ladang miliknya untuk ditanami jagung dan sayuran. Hasil panennya ia gunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Dan jika masih ada sisa, ia terbiasa membagikan hasil panennya kepada para penduduk kampung.

"Tok, tok, tookkk..." Suara pintu diketuk dari luar. "Datin Tya..." Suara seorang wanita memanggil.

"Siapa malam-malam begini bertamu?" Datin Tya bertanya pada dirinya sendiri. "Iya, sebentar." Jawabnya pada tamu tengah malam.

"GLODAK... KRIYEETT...." Suara pintu rumah yang dibuka menimbulkan bunyi khas. "Eh, Nimas Ayu... Ada apa malam-malam datang ke sini?" Tanya Datin Tya setelah pintu terbuka. "Lalu, siapa teman kamu ini?" Datin Tya melirik Dewi Arum.

"Besok saja aku jelaskan, Datin." Jawab Indah Prameswari, "malam ini tuan putri butuh tempat istirahat."

"Tuan putri?" Datin Tya kembali bertanya-tanya dalam hati. "Oh, mari. Silahkan masuk. Tapi ya begini ini tempatnya. Berantakan." Ia membereskan berapa sayuran yang berjajar di tikar, setelah mempersilahkan masuk tamunya.**
Di dalam istana kerajaan Sampar Banyu, prabu Fajar Gumelar mondar-mandir kebingungan. Ia panik dengan keselamatan putrinya yang belum ditemukan hingga tengah malam.

"Sepertinya, besok siang saya harus mengumumkan sayembara, paman." Ia berkata pada Ki Ronggo yang saat itu setia menemaninya di dalam istana kerajaan. "Saya sangat khawatir dengan keselamatan Dewi Arum."

"Apa nggak sebaiknya keputusan untuk mengadakan sayembara itu dipertimbangkan lagi, gusti?" Ki Ronggo memberi saran, "soalnya jika sayembara ini benar-benar gusti prabu laksanakan, saya takut nanti terdengar prabu Menyok. Dan pasti kabar kaburnya tuan putri Dewi Arum akan menjadi hot gosip di kerajaan Sosor Bebek."

"Hemmmm...." Prabu Fajar Gumelar manggut-manggut mengurut jenggot. "Pendapat paman boleh juga untuk aku pertimbangkan." ia berpikir sejenak, "lantas, apa yang harus kita lakukan?"

"Kita panggil orang sakti saja, Gusti. Kebetulan hamba mempuyai sahabat yang bisa menerawang orang hilang." Ki Ronggo memberi saran, "namanya Nyai Nifa. Dari bukit Jati yang ada di perbatasan bagian barat kerajaan ini. " jelasnya.

"Baiklah, paman. Besok pagi, kita pergi ke rumah Nyai Nifa." Pungkas prabu Fajar Gimelar.*
Pagi baru saja menyapa. Hangat terik mentari menyinari alam semesta. Ramai lalu-lalang prajurit kerajaan mengitari pendopo. Seorang prajurit menyiapkan kuda besi untuk sang raja. Setelah segalanya dipersiapkan, prabu Fajar Gumelar segera pergi ke rumah Nyai Nifa, ditemani Ki Ronggo dan patih Santri Mbeling.

Perjalanan raja ke rumah Nyai Nifa berjalan lancar. Tidak ada pengawalan khusus dalam perjalanan. Raja Fajar Gumelar sengaja tidak membawa patroli pengawal dalam perjalanannya itu, supaya tidak menimbulkan kecurigaan.

Kurang lebih tiga jam perjalanan melewati hutan jati dan jalanan yang berkelok dan berdebu, raja Fajar Gumelar sampai di rumah Nyai Nifa. Rumah megah berpagar pohon bambu itu terlihat asri dari kejauhan. Namun suasana mistis terjadi ketika memasuki halaman rumah. Ketika akan memasuki halaman rumah, sebuah keanehan terlihat. Pintu gerbang rumah itu terbuka dengan sendirinya. Rupanya sang empunya rumah, Nyai Nifa, sudah tahu kalau ada tamu yang datang. Ia memonitor dari dalam rumah. Sehinga setelah tahu ada tamu datang yang terlihat dari layar monitor yang terhubung dengan kamera CCTV, ia segera menekan tombol yang terhubung dengan pintu gerbang rumahnya.
Keanehan kembali terjadi ketika prabu Fajar Gumelar akan memasuki rumah. Pintu rumah 'pun terbuka dengan sendirinya. Prabu Fajar Gumelar terheran. Begitu pula dengan patih Santri Mbeling. Mereka saling pandang, lalu mengikuti Ki Ronggo masuk ke dalam rumah.

"Ada keperluan apa, gusti prabu datang ke sini?" Nyai Nifa yang keluar dari ruang praktek, menyambut dan menanyakan perihal kedatangan sang raja. "Kenapa tidak menyuruh Ki Ronggo saja yang datang kemari dan menyuruh hamba yang menghadap ke istana raja?"

"Begini, Nyai.---" Ki Ronggo menjelaskan, "maksud kedatangan gusti prabu ke sini, untuk menanyakan keberadaan putrinya, Dewi Arum, yang kabur dari istana."

"Lho, lho, lhoo... Memangnya, apa penyebab kaburnya gusti putri dari istana, gusti?" Nyai Nifa menatap tajam mata sang prabu.

"Eng... Begini, Nyai,---"

"Stop. Saya sudah tahu. Biasanya kalau anak gadis tiba-tiba kabur dari rumah itu karena dirinya menolak untuk dijodohkan." Nyai Nifa menebak.

"Tepat sekali.." sergah patih Santri Mbeling sambil nunjuk jari.

"Hussst..." Ki Ronggo memperingatkan Santri Mbeling.

"Benar, Nyai. Putri saya, Dewi Arum pergi meninggalkan istana ketika dirinya tahu jika akan saya jodohkan dengan putra pangeran dari kerajaan Sosor Bebek." Sang prabu menjelaskan.

"Sebentar.---" Nyai Nifa menyiapkan peralatannya. "Gelap, Gusti." kata Nyai Nifa.

"Apa?!" Prabu Fajar Gumelar terperanjat. "Tidak! Tidak mungkin putriku sudah meninggal.!"

"Hamba tidak mengatakan begitu, gusti." Nyai Nifa menjelaskan, "suasananya terlihat suram remang-remang." Lanjutnya.

"Ah. Tidak! Tidak mungkin putriku akan pergi ke cafe remang-remang!" Prabu Fajar mulai terlihat murka.

"Dan hamba 'pun, tidak mengatakan hal yang demikian, gusti." Nyai Nifa kembali berujar.

"Sebentar...." Sergah Santri Mbeling. "Nah... Sekarang gimana, Nyai? sudah terlihat terang?"

"Wah.... Benar, cah bagus. Sekarang saya sudah bisa melihat dengan jelas." Jawab Nyai Nifa sambil meraih kaca mata hitam dari tangan Santri Mbeling.

~~~~~
BERSAMBUNG

0 Response to "Prahara Cinta Dewi Arum - 2"

Posting Komentar