Prahara Cinta Dewi Arum - bagian 7


PERHATIAN!

Cerita di bawah ini hanyalah fiktif belaka.

Persamaan nama dan tempat memang
disengaja
Dan cerita ini hanyalah cerita konyol
Maka jangan heran jika mendapati
adegan-adegan konyol dalam alur
ceritanya.

Prahara Cinta Dewi Arum - 1

Prahara Cinta Dewi Arum - 2

Prahara Cinta Dewi Arum - 3

Prahara Cinta Dewi Arum - 4

Prahara Cinta Dewi Arum - 5

Prahara Cinta Dewi Arum - 6



Judul: Prahara Cinta Dewi Arum - 7

Karya: Djacka Artub


Genre: Konyol


Foto: Dewi Indah Kafid
Editor: Djacka Artub


Layaknya pemeran sinetron anak jalanan, dengan kecepatan 120 mil per jam, adipati kencuz menggeber kuda besinya menerobos jalan mulus beraspal.
Sesampai di sebuah perkampungan, adipati Kencuz dibuat heran dan kaget oleh sekelompok anak muda dengan membawa selembar kertas bertuliskan 'Om telolet Om'. Dan mereka 'pun meneriakkan kata-kata seperti yang tertulis dalam selembar kertas yang dibawanya.

"Ada demo apa lagi ini?" Pikir adipati Kencuz bertanya dalam hati.
Karena takut terkena sasaran amuk masa, adipati Kencuz menambah kecepatan kudanya. Namun lagi-lagi ia memergoki segerombolan anak muda seperti yang baru saja dilaluinya. Adipati Kencuz kembali menggeber kuda besinya lebih kencang lagi.....**






Dengan nafas lega, sampailah adipati  Kencuzz  di depan pintu gerbang kerajaan Sampar  Banyu. Kedatangannya disambut oleh penjaga gerbang kerajaan dengan wajah garang. "Kisanak dari mana, dan ada perlu apa?" Tanya salah seorang penjaga pintu gerbang.

"Saya utusan prabu Menyok dari kerajaan Sosor Bebek untuk menyampaikan pesan kepada Prabu Fajar Gumelar." Jawab adipati Kencuzz dengan tegas.

Salah seorang penjaga pintu gerbang kerajaan berbisik pada temannya, "jangan mudah percaya, kang. Siapa tahu dia seorang penyusup."

"Mana buktinya kalau kamu utusan dari kerajaan Sosor Bebek?"

"Yaelah.... nggak percaya amat sih. Saya adipati  Kencuzz." Sambil menunjukkan SIM, adipati  Kencuzz  meyakinkan kedua penjaga gerbang kerajaan Sampar Banyu.

Kedua penjaga itu mengecek kartu identitas yang ditunjukkan oleh adipati  Kencuzz, lalu mempersilahkan masuk. "Monggo, ndoro..." kata salah seorang penjaga pintu gerbang.
"Terima kasih." Jawab adipati  Kencuzz.
*****

Di dalam pendopo, prabu Fajar Gumelar sedang berbincang-bincang dengan Ki Ronggo dan patih Santri Mbeling. Mereka membicarakan 'Apa yang harus dikatakannya jika tiba-tiba prabu Menyok datang melamar Dewi Arum'. 
"Bagaimana kalau kita bilang, bahwa princes Dewi sedang piknik ke luar kota, Gusti?" Patih Santri Mbeling mengusulkan.

"Saya rasa, itu bukan alasan yang tepat, Patih." Ki Ronggo menimpali.

"Lalu, bagaimana menurut paman?" Prabu Fajar Gumelar meminta usul dari Ki Ronggo.

"Kalau menurut hamba, lebih baik kita berterus terang saja, Gusti."

"Wah, kacau kalau kita menuruti saran panjenengan, paman." Bantah Santri Mbeling.

"Kacau bagaimana? Bukankah ... dengan berkata jujur itu lebih baik?" Ki Ronggo membenarkan usulnya.

"Benar, paman. Tapi kita harus melihat situasi. Tidak semua persoalan itu bisa dihadapi dengan kejujuran." Santri Mbeling tak mau kalah, "ini soal harga diri, paman!" Lanjutnya, membenarkan usulannya juga.

Melihat kedua abdinya saling bersikukuh dengan pendapat masing-masing, prabu Fajar Gumelar mencoba untuk menenangkan suasana. "Pendapat kalian semua akan saya pertimbangkan."

"Maaf, gusti prabu. Ada utusan dari kerajaan Sosor Bebek ingin menghadap gusti prabu." Dengan tangan menyembah, seorang prajurit melaporkan kedatangan adipati Kencuzz.

Prabu Fajar Gumelar, Ku Ronggo  dan Patih Santri Mbeling saling pandang. "Hah..!!! Utusan kerajaan Sosor Bebek..?" Secara bersamaan mereka bertiga berucap. Kaget.

"Benar, Gusti."

"Waduh. Piye iki." Prabu Fajar Gumelar panik.


"Wes ... ra usah panik, Gusti. Biar saya saja yang menangani." Aliyeudin Uzumaki, seorang MENSEKER (Menteri Sekertaris Kerajaan) yang baru saja ikut bergabung di pendopo, dengan gagah berani dan percaya diri menawarkan diri untuk menghadapi kedatangan adipati Kencuzz, utusan dari kerajaan Sosor Bebek.

"Kamu yakin bisa?" Timpal Ki Ronggo.

"Insya Allah, bisa dan sanggup, paman." Katanya, "ono opo toh, sebenarnya?" Ia bertanya dengan apa yang sebenarnya terjadi.

"Woooo... modelmu, jon... jon..." Hardik Santri Mbeling.

"Kalau nggak tahu pokok permasalahannya itu mbok yo ra usah kemlinthi." Ki Ronggo menambahkan.

"Hmmmm ... " Sang prabu menghela nafas.

Di halaman kerajaan, adipati Kencuzz sudah tak sabar menunggu menghadap  prabu Fajar Gumelar. Ia meminta seorang prajurit untuk mengantarkannya masuk ke pendopo untuk segera menemui sang prabu. Namun seorang prajurit yang diminta untuk mengantarkannya, mengatakan agar adipati Kencuzz menunggu prajurit yang melapor kepada rajanya. "Sampai kapan aku harus menunggu..? Hah..!!" Kesabaran adipati Kencuzz sudah mulai habis. "Apa begini cara penyambutan seorang adipati yang diutus untuk menemui sang raja?" Berkacak pinggang sambil mondar-mandir dengan penuh kekesalan ia marah-marah.

"Sabar dikit napa, sih." Jawab prajurit yang ada di sampingnya.

"Sabar, sabar..!! Apa kamu nggak dengar, cacing di perutku sudah teriak-teriak berdemonstrasi?"

"Oh ... monggo, tuan, saya antar ke warung."

"Jayah tenan cah... cah. Tamu kerajaan diajak makan di warung." Adipati Kencuzz bergumam.

"Mau, nggak,__? Kalau nggak mau ya udah."

"Ya wis lah..." Adipati Kencuzz meng-iya-kan ajakan prajurit kerajaan Sampar Banyu. "Tapi kamu yang bayarin ya."

"Ya,__ Sebenarnya justru saya yang minta ditraktir, tuan."

"Sontoloyo...!"

Baru beberapa langkah menuju pintu gerbang kerajaan, seorang bertubuh tinggi besar yang menunggang kuda memandang adipati Kencuzz dengan sinis. Adipati Kencuzz 'pun membalas tatapan mata seseorang itu dengan tatapan yang sinis pula. Tak sepatah kata 'pun terucap dari mereka. Hingga berlalu melewatinya, mereka masih saling pandang. "JEBRAAKKK...!!" Karena tidak fokus melihat ke depan, adipati Kencuzz menabrak tiang lampu penerang jalan yang berdiri kokoh di pinggir jalan.



BERSAMBUNG...



23 Responses to "Prahara Cinta Dewi Arum - bagian 7"

  1. Di era yang super canggih ini naik kuda juga harus punya SIM (Surat ijin mendua) kalau nggak ya seperti nasib adipati Kencuzz, yang kepalanya benjol karena mencium tiang. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee yang baru menang togel, hehe.. selamat ya Bu..
      179 juta.. wah lumayan banyak tuh Bu, kalau semuanya di beli'in es cincau mungkin bisa ngebanjirin satu kampung kali ya?
      Ya udah kalau gt Bu saya tunggu undangan makan2nya ya.. Oya salam ya sama Aki soleh, moga dia bisa diterima dan sukses jadi dukun di keraja'an sosor bebek.

      Hapus
    2. Cieee.... Siapa kang yang habis menang togel? Aku juga mau dong ditraktir makan nasi bebek...

      Oiya. Kapan2 kalau punya nomer jitu, aku dikasih tau ya... Siapa tahu bisa ketularan jadi jutawan. Hahahahaha

      Hapus
  2. ya ella.., gara2 kaliren (laper) adipati Kencuzz jadi enggak sabar, nunggunya sudah lama, perut juga sudah merasa laper, apalagi cuacanya panas., jadi pingin ikut jomplang itu kerajaan.., :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang kaliren bawaannya memang selalu begitu ya, kang. Nggak sabaran dan selalu pengen marah2...hahaha

      Hapus
  3. Ide bagus makan di warung sambil nebeng wifi gratis hehe
    plus makan gratis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kalau itu sih kebiasaan ngadiminnya.. Wkwkwkwk

      Hapus
  4. om telolet om. kayaknya di era sekarang ini makin membingungkan. cuma bisa senyum2 pas ada orang bawa kertas bertuliskan om telolet om. hadeh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang yang lebih membingungkan lagi, yang katanya ingin bahagia dengan memegang kertas bertuliskan om telolet, tetapi justru dia malah menantang maut. Haha

      Hapus
  5. kalau cerinta ini beneran jamannya pendekar (pendek kekar), mungkin yang dibawa segerombolan pemuda itu sebuah pedang atau keris ya mas.? Untung yang di bawa cuma selembar tulisan.., om telolet om, jadi adipati kencuz cuma tersentak kaget, "wah demo apalagi ini".., :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau cerita jaman pendekar beneran, mungkin tulisan yang ada pada kertas yang dibawa segerombolan pemuda itu menggunakan aksara jawa ya, mas. Hehehehe

      Hapus
  6. Hahaaaa.. Ngakak dari awal sampai abis, bener2 menghibur.

    Kerajaan yg komplit, ada sim, ada uzumaki juga, nama siapa tuh naruto ya hehee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau ngakak jangan keras2, kang... Kasihan sinchan baru tidur.. Dan lagi, naruto juga sedang berkonsentrasi belajar untuk menghadapi ujian nasional. 😂😂😂

      Hapus
  7. Le..lek.. Mbok ya delo ngarep ngono toh 😪

    Wes toh mentong tiang 😂

    Saking kepingine badok toh, wes tenang lek! Engko prabu fajar gumelare tak kandani ben traktir pisan 😂

    Salmon rek' cacing Nang Jero wetenge Adipati orang Fikri Sahar 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin kek adipati terpesona melihat tatapan mata seorang pria gagah di atas kuda itu, mas... Makanya dia sampai kejedot tiang lampu. 😂😂😁😁😁

      Hapus
  8. Adipati sepertinya sudah tidak bisa sabar lagi ya, lantaran cacing yang demon di dalam perutnya hehe .,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Datang jauh2, perut laper pengen disambut dengan cinta dan kasih sayang, tetapi malah dicampakkan begitu saja. Siapa pun pasti akan habis kesabarannya dan marah jika dicampakkan begitu saja seperti yg dialami adipati kencuzz.

      Eh, kok malah ngelantur kemana mana ya, komentarku. Wkwkwkwkkek

      Hapus
  9. Hahaha.. Sini.. Sini tak traktir, tapi nggak boleh lebih dari seribu. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kirain akan bilang 'sini, sini tak peluk'.
      Eh, malah mau ditraktir.
      Asyiiikkkk... Wkwkwkkwkk

      Hapus
  10. wah kisah Prahara Cinta Dewi Arum nya udah bagian ke 7, bisa kemudian dibikin buku aja sekalian nih....coba tak baca dari bagian 1 dulu deh, kalau saya suka biar saya yang modalin bikin bukunya deh, yang penting link website saya dan nama saya ada tercantun dibukunya...okeh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak apa2, mang, nama mang Lembu dan link websitenya tercantum di dibukunya. Tetap royalti 100% ke kantong saya. Hahaha

      Hapus
  11. Mungkin ada Rondo lewat kali kang jack sehingga prabu khencuz tidak fokus & menabrak tiang...habisnya tiba2 jeebrraakk!! udah "BERSAMBUNG" pasti ada Rondonya yaa!! kang jack..

    BalasHapus
  12. ternyata naik harus pake SIM ya mas...tetapi sim nya khusus sim perintah dari kerajaan Sosor Bebek

    dan akhir nya adipati Kencuz ddipersilahkan masuk Monggo, ndoro...

    asyik juga ceritanya nih

    BalasHapus