Dewi Wulan Sari - 5



Dewi Wulan Sari
Oleh: Djacka Artub


Dewi Wulan Sari - 1

Dewi Wulan Sari - 2

Dewi Wulan Sari - 3

Dewi Wulan Sari - 4




Dewi Wulan Sari - bagian 5

Kategori : Fiksi
Karya : Djacka  Artub



"Ada suara orang bertarung, Kak." Bisik Dewi Nawang Sari.

"Benar." Jawab Dewi Nilam Sari 'pun berbisik.

"Mari kita lihat, Kak." Dewi Nawang mengajak kakaknya untuk melihat siapa yang sedang bertarung di tengah hutan itu.

"Baik lah...!" Kedua gadis kakak beradik itu dengan perlahan melangkah dan mengintip dari balik rerimbun semak belukar.**

   Pertarungan sengit antara guru dan murid tak dapat terhindarkan. Seorang lelaki tua melipat kedua tangannya ke atas perut. Bersedekap. Ia bersandar pada batang pohon sambil menyaksikan pertarungan antara guru dan murid itu.
Nyai Manyura telah terluka oleh pukulan lelaki tua itu. Sehingga untuk menghadapi serangan Dewi Wulan, ia harus bersusah payah untuk melawannya.

Satu pukulan Dewi Wulan mengenai tubuh Nyai Manyura. "BHUUKKK...!!! " Nyai Manyura jatuh tersungkur.
Dengan pedang terhunus yang berlumur amarah dan dendam kebencian, Dewi Wulan kembali menyerang gurunya. "CIAAATTT....!!! WHUUSSS.... JLEEB!!!" Pedang Dewi Wulan terlepas. Menancap pada sebuah pohon yang berdiri kokoh di samping Nyai Manyura yang sudah tak berdaya.

"Keparat...!!! Siapa yang berani menantangku?!!" pekik Dewi Wulan karena serangannya digagalkan oleh seseorang yang ia tak tahu dari mana datangnya.

   Dua orang gadis muncul dari balik semak belukar. "Hentikan, Kak. Jangan bunuh guru kita sendiri.!!" teriak Dewi Nilam Sari.
Dewi Wulan terpaku melihat kedua adiknya yang datang disaat ia hampir saja membunuh Nyai Manyura. "Nilam,... Nawang.... " Dewi Wulan menghampiri kedua adiknya. "Jadi, kalaian,...."

"Iya, Kak. Ini aku, adikmu." Jawab Dewi Nilam Sari. "Kami mencari kakak kemana-mana saat kakak meninggalkan kami di tengah hutan saat itu." Dewi Nawang Sari menambahkan.

   Dewi Wulan Sari memeluk kedua adiknya. Pertemuan kembali antara kakak-beradik yang tak terduga itu telah menyelamatkan nyawa sang guru dari amukan salah muridnya sendiri. Dewi Wulan Sari.
Perlahan Dewi Wulan melepaskan rangkulan pada kedua adiknya, dan mengarahkan pandangannya pada seorang wanita tua yang tak berdaya itu. Ia mendekat, dan mencabut pedangnya yang menancap pada pohon.

Dengan sebilah pedang di tangan, Dewi Wulan berdiri di hadapan Nyai Manyura. "Tuntaskan amarahmu jika kau menginginkannya, Wulan.. " Suara Nyai Manyura dengan nafas terengah-engah. Ia pasrah jika Dewi Wulan akan menghabisinya saat itu juga. "Tapi jangan kau lupakan wajah orang yang telah membunuh kedua orang tuamu saat itu." Lanjutnya dengan tatapan mata mengarah pada lelaki tua yang sedari tadi berdiri menyaksikan pertarungannya dengan Dewi Wulan Sari. 

Dewi Wulan menoleh pada lelaki tua itu. "WHUUSSS...!!!" Gagang pedang terlepas dari tangan Dewi Wulan dan mengarah pada lelaki tua itu. Namun dengan sigap, lelaki tua itu menangkisnya dengan tongkat. "Tuiiiinnngggg....!!!" pedang Dewi Wulan gagal mengenai sasaran. Dan kembali menancap pada batang pohon.

"Setan alas...!!!" Teriak lelaki tua itu. Ia kecewa karena gagal menyaksikan Nyai Manyura tewas di tangan Dewi Wulan. Yang kemudian Dewi Wulan berbalik menyerangnya.

Dewi Nilam dan Nawang Sari 'pun bersiap membantu kakaknya. Melawan pendekar tua yang diketahui telah membunuh kedua orang tua mereka. Dengan ciri-ciri ikat kepala dan kaki pincangnya, akhirnya ketiga gadis kakak-beradik itu mengetahui siapa yang melakukan perampokan dan membunuh warga kampung, termasuk kedua orang tua mereka.





   Pertarungan sengit satu lawan tiga tak dapat terhindarkan. Dengan ilmu kanuragan seadanya, Dewi Wulan mencoba menyerang pendekar tua itu membabi buta. Namun serangannya selalu gagal karena pendekar lelakibtua itu lebih menguasai ilmu bela diri dibanding Dewi Wulan.

Dewi Nilam dan Dewi Nawang melakukan gerakan yang masing-masing seperti gerakan ular dan harimau. Nyai Manyura yang masih tergolek tak berdaya merasa takjub dengan gerakan yang dilakukan oleh Dewi Nilam dan Nawang Sari. "Jurus ular dan harimau". Gumamnya. "Dari mana mereka mempelajari jurus-jurus itu? " Nya Manyura masih bertanya-tanya dalam hati.

Satu serangan Dewi Nilam, gadis cilik itu, pendekar tua tersebut terpental beberapa langkah.
Dewi Nawang tak mau kalah. Dengan liukan tubuhnya, satu serangan mengenai sasaran. Lelaki tua itu tersungkur ke tanah. Dengan sigap, Dewi Wulan mencabut pedangnya dan menancapkan pedang itu tepat pada jantung lelaki tua yang sudah tak berdaya oleh serangan Dewi Nilam dan Dewi Nawang.
Sama seperti kedua orang tua mereka, lelaki tua itu tewas dengan pedang menancap di dada.

   Dendam pun terbalaskan. Kemudian ketiga gadis itu menghampiri Nyai Manyura, gurunya yang masih tergolek tak berdaya di bawah pohon. Dewi Nilam dan Dewi Nawang Sari menceritakan jurus ular dan jurus harimau yang mereka dapatkan beberapa waktu lalu di saat mereka tersesat di tengah hutan ketika sang kakak, Dewi Wulan meninggalkannya.

Dewi Wulan Sari bersimpuh memohon maaf pada Nyai Manyura, karena dendam telah membutakan hati dan pikirannya. Dan Nyai Manyura pun menyadari, bahwa begitu besar kecintaan Dewi Wulan terhadap kedua adiknya. Meskipun tanpa sengaja ia meninggalkan mereka berdua di tengah hutan, tetapi rasa cintanya pada sang adik telah menyebabkan ia melawan sang guru karena kesalah-pahaman.


TAMAT

9 Responses to "Dewi Wulan Sari - 5"

  1. Ini tamat ya kang, jadi kurang tahu jalan ceritanya.
    Coba tengok dulu ah cerita sebelum nya.
    Jadi ingat baca wiro sableng. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kang. Aku bikin tamat soalnya harus meneruskan cerbung yg lain. Hehe

      Hapus
  2. Kakak-adik. sama2 nama depannya dewi. eh, jadi keinget temenku dulu semasa sma. uuuuuuuuhhhh .... aaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciee... Temen apa temen??? Hahahaa
      Namanya Dewi siapa, mas.?wkwkwkk

      Hapus
  3. Balasan
    1. Monggo, mas. Tapi jangan sampai lupa jalan pulang ya. Hahaha

      Hapus
  4. Akhirnya bisa tamat juga ceritanya kang..
    Dendam memang sering dialami para pendekar dunia persilatan di zaman dulu.

    Untung wulan bisa akur lagi dengan gurunya. Wes ngopi dulu lah biar rilex..

    BalasHapus
  5. Pertarungannya begitu sengit sekali, penggambarannya begitu apik. Sehingga pembaca terbawa suasana.

    BalasHapus