Cerpen | Ayahku Seorang Pembunuh Bayaran

Ayahku Seorang Pembunuh Bayaran


"Glodak..!" Suara benda tertaruh di atas meja. Dari dalam kamar, aku mendengar percakapan ibu dan ayahku. Malam itu ayah yang baru pulang kerja, disambut oleh ibu. "Tumben, jam segini bapak sudah pulang?" Suara ibuku bertanya pada ayah.

"Iya, Bu. Cuma ada tugas sedikit." Jawab ayahku, yang kemudian kudengar langkah kaki menuju ke belakang. Ke kamar mandi.

"Bajunya yang terkena darah langsung direndam saja, Pak." Suara ibuku setengah berbisik. Mungkin karena ia mendengar gerakanku di kamar, sehingga ia memelankan suaranya. Takut aku terbangun.

"Darah?" Tanyaku dalam hati. "Sebenarnya apa sih pekerjaan ayahku?" Pertanyaan-pertanyaan itu semakin mengganggu pikiranku.
Setiap lewat tengah malam, ayahku selalu keluar rumah dan pulang saat menjelang subuh.

Malam berikutnya, aku sengaja tidur tak terlalu larut. Sengaja aku lakukan agar aku bisa terbangun saat tengah malam. Waktu dimana ayahku bersiap berangkat keluar rumah.

"Hati-hati ya, Pak." Terdengar suara ibu berpesan pada ayah. Aku mengintip dari lubang kunci pintu kamarku. Aku lihat sebilah gobang tertenteng di tangan ayahku. Hatiku semakin berdegup kencang. Pertanyaan kemarin malam kembali menghinggap di pikiranku. Apalagi sekarang bertambah lagi dengan ada sebilah gobang yang dibawa ayah saat ia keluar rumah.

Suara detak jarum jam terdengar beriringan dengan detak jantungku. Hingga menjelang subuh, aku masih belum bisa memejamkan mata. Pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang tak pernah aku duga sebelumnya.
Aku termangu dan duduk di tepi tempat tidur. Membayangkan kengerian sebilah gobang di tangan ayah, dan bercak noda darah yang menempel di bajunya. "Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin ayahku seorang pembunuh bayaran!" teriak dalam hatiku.

Masih terhanyut dalam pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, kudengar suara motor ayahku memasuki halaman rumah. Ibu segera menyambutnya dengan membukakan pintu. Kali ini jawaban ayah atas pertanyaan ibu membuat perutku seketika mual dan mukaku terlihat pucat. Seakan aliran darahku berhenti seketika. "Tadi si bos meminta ayah untuk membawa satu kepala." tandas ayah ketika ibu bertanya tentang sesuatu yang terbungkus dalam karung, yang dibawanya. Aku tidak berani beranjak dari tempatku. Bahkan sekedar untuk mengintip dari lubang kunci pintu kamar pun, tak kuasa kumelakukan. Kakiku terasa gemetar. Perut pun mual membayangkan potongan kepala yang dibawa ayahku pulang ke rumah.***





Kumandang adzan subuh telah terdengar. Aku kumpulkan kekuatan, kuberanikan diri keluar dari kamar untuk mengambil air wudhu, kemudian sholat subuh.
Perlahan langkah kakiku menuju ruang belakang. Sayup kudengar, di dapur ayah berbicara pelan sama ibu. Dan ibu pun menyahutnya dengan suara pelan pula. Aku melangkah dengan tatapan lurus ke depan menuju kamar mandi. Tak berani aku menengok ke arah ayah dan ibu.

Beberapa langkah melewati ruang dapur, aku berteriak histeris. Berlari aku kembali ke kamar dan menutup pintunya rapat-rapat dari dalam, setelah sebelumnya kakiku tersandung sesuatu yang terbungkus karung, yang ada di depan kamar mandi. Sekilas kulihat tetesan darah menembus ke luar karung. Kubungkus tubuhku dengan selimut dan kupejamkan mata dengan erat. Kejadian yang baru saja aku lihat itu membuatku semakin ketakutan.

Kudengar pintu kamar diketuk dari luar. "Della...!!!" Suara ayah dan ibu memanggil-manggil namaku. Namun aku tak menghiraukannya. "Ada apa, Nak? Della... Buka pintunya." Kudengar suara ayah dan ibu bergantian memanggilku.
Kututup tubuhku dengan selimut lebih erat. Dan kututupkan bantal pada telingaku. Aku sangat merasa ketakutan.

"Tadi bapak menaruh kepala kambingnya di mana?" sayup kudengar suara ibu bertanya pada ayah. Perlahan kubuka bantal yang menutup telingaku. "Tadi bapak taruh di depan kamar mandi, bu." Kini jawaban ayah terdengar lebih jelas.

Dengan perasaan malu oleh ulahku sendiri, aku keluar kamar. "Ohhh ...  Jadi,.. selama ini, pekerjaan ayah adalah seorang pembunuh bayaran?" pertanyaanku membuat ayah dan ibuku kaget. "Huusstt..!! Tidak boleh ngomong gitu." sahut ibuku. Kali ini ayah dan ibu yang merasa khawatir dengan ucapanku.

4 Responses to "Cerpen | Ayahku Seorang Pembunuh Bayaran"

  1. Della ...Della ayahmu itu seorang pekerja di tempat pemotongan hewan alias penjagal

    BalasHapus
  2. Duh Della .. Kenapa kamu berpikir negatif 🤔

    BalasHapus
  3. Duh Della .. Kenapa kamu berpikir negatif 🤔

    BalasHapus
  4. He..he..
    Tenyata ayah bekerja dipejagalan toh, dasar Della negatif thingking wae..!

    BalasHapus