Kamis, Februari 28, 2019

Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan

Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan


Selamat berjumpa kembali, Bunda,...
Seperti yang telah kita ketahui bahwa selain pemberian ASI yang cukup, anak usia 6-12 bulan juga perlu makanan tambahan atau makanan pendamping ASI (MP-ASI).

Jika sebelumnya telah kita bahas tentang  Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan, maka pada kesempatan kali ini akan kita bahas Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan.

Berikut bahan dan cara membuat MP-ASI untuk anak usia 6-12 bulan.

NASI TIM BAYAM SAOS PEPAYA DARI MENU KELUARGA (MP-ASI Lengkap)


Bahan:


  • ½ gelas nasi aron
  • 1 potong sedang tempe goreng tanpa garam
  • ½ butir tomat (dapat disesuaikan sesuai kebutuhan)
  • 2 sdm bayam bening dan wortel
  • 1 sdt minyak kelapa
  • 75 cc ( ⅓ gelas belimbing) air kaldu/kuas sayur
  • ½ potong sedang pepaya, dihaluskan

Cara Membuat:


  • Masukkan nasi aron, ikan, tempe, dan minyak kelapa ke dalam mangkok tim
  • Tambahkan air kaldu, tim hingga matang
  • Masukkan kangkung atau bayam dan tomat, tim hingga matang
  • Angkat, sajikan dengan saos pepaya


NASI TIM KACANG MERAH (MP-ASI Sederhana)


Bahan:


  • 50 gr nasi aron
  • 20 gr (2 sdm) kacang merah, tumbuk kasar
  • 25 gr labu siam, iris tipis
  • 1 sdt minyak kelapa.


Cara Membuat:


  • Letakkan nasi aron, kacang merah yang sudah ditumbuk kasar, dan air secukupnya ke dalam wadah tim
  • Tambahkan minyak kelapa, tim hingga matang
  • Tambahkan labu siam, tim hingga matang
  • Angkat dan siap disajikan.

Dapat pula ditambahkan daun bawang, seledri, dan bawang bombay saat memasak supaya lebih harum.

Demikian Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 9-12 Bulan. Semoga bermanfaat untuk bunda dan si buah hati.

Perhatian! Hindari penggunaan peralatan yang berbahan plastik dan melamine!
Read More

Rabu, Februari 27, 2019

Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan

Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan


Dalam merawat anak kecil terutama yang masih bayi, sangat diperlukan penanganan yang sangat serius. Tidak boleh sembarangan terutama untuk memberi makanan.

Di bawah ini kami akan mencoba memberi tips Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan. Makanan Pendamping Asi atau MP-ASI ini kami ambil dari Buku Kesehatan Ibu dan Anak yang kami dapatkan dari bidan. Jadi pembaca tidak perlu ragu lagi untuk mencobanya.

MP-ASI atau Makanan Pendamping Asi pada saat ini memang sudah banyak sekali tersedia di toko-toko atau supermarket terdekat di tempat tinggal kita. Sangat mudah bagi kita untuk mendapatkan dan membuatnya jika kita menggunakan MP-ASI yang dijual di toko-toko atau supermarket karena bahan-bahannya sudah dicampur jadi satu. Instan dan nggak ribet. Tetapi tentu saja kita mesti jeli dengan bahan dan kandungan MP-ASI instan tersebut. Dan juga kita atau para ibu harus jeli dengan tanggal kadaluarsanya saat membeli MP-ASI instan. Dan lagi, makanan instan itu biasanya terdapat bahan kimia atau bahan pengawet yang terdapat di dalamnya. Bahan-bahan itu tentunya sangat berbahaya bagi bayi kita bukan?

Nah, bagi para ibu yang sedang mempunyai anak bayi usia 6-9 bulan dan ingin memberikan MP-ASI namun khawatir jika buah hatinya mengkonsumsi bahan-bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan instan yang tersedia di pasaran tersebut, Bunda bisa membuat MP-ASI sendiri dengan mempraktekkan Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan sendiri di rumah.

Berikut bahan-bahan dan cara membuatnya.

BUBUR SUMSUM KACANG HIJAU


Bahan:


  • 15 gr (1,5 sdm) tepung beras
  • 10 gr (1 sdm) kacang hijau yang sudah direbus dan dihaluskan
  • 75 cc ( ⅓ gelas belimbing) santan encer
  • 20 gr daun bayam, iris halus

Cara Membuat:


  • Rebus kacang hijau dan daun bayam, saring dengan saringan atau blender halus, sisihkan.
  • Campurkan sedikit air dengan tepung beras hingga larut, tambahkan santan, masak di atas api kecil hingga matang.
  • Tambahkan hasil saringan kacang hijau dan daun bayam di atas, aduk hingga rata.

PISANG LUMAT HALUS (Sebagai Makanan Selingan)


Bahan:


  • Pisang masak 1 buah

Cara Membuat:


  • Cuci pisang sampai bersih
  • Kupas kulit pisang separuh
  • Keroklah pisang dengan sendok kecil
  • Segera berikan kerokan pisang kepada bayi anda.

Demikian Cara Membuat MP-ASI Untuk Anak Usia 6-9 Bulan. Semoga bermanfaat bagi Bunda dan si buah hati.
Terima kasih sudah membaca.


Perhatian! Jangan menggunakan peralatan berbahan plastik dan melamine!
Read More

Minggu, September 09, 2018

Moon On The Hospital

Moon On the Hospital


    Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Karena aku sudah terbiasa melek semalam karena tugas kerja, jadi meski waktu sudah menjelang dini hari aku masih belum merasakan ngantuk.
    Kisah ini aku alami di sebuah rumah sakit umum yang ada di daerah tempat tinggalku (maaf, untuk nama rumah sakitnya sengaja tidak aku sebutkan). Waktu itu aku sedang menunggui orang tuaku yang sedang opname di rumah sakit umum tersebut. Dan karena kami hanyalah golongan masyarakat yang kurang mampu, jadi tidak mungkin bagi kami mampu untuk menyewa kamar VIP.
     Seperti yang biasa terjadi, bagi masyarakat kurang mampu yang hanya menyewa kamar kelas ekonomi, satu ruang tentunya diisi oleh beberapa pasien. Alhasil, keluarga yang menunggu pun lebih banyak yang tidur di luar ruangan.
    Pada awalnya aku bersama orang-orang yang juga menunggui keluarganya yang sakit, kami ngobrol ngalor-ngidul di luar ruang pasien tentang keseharian kami. Namun karena waktu sudah terlarut malam, orang-orang yang awalnya ngobrol bersamaku satu persatu sudah mulai dihinggapi rasa ngantuk dan akhirnya semuanya terlelap dalam tidurnya. Sementara aku masih sibuk bermain hape karena mata masih kinclong.
    Kesunyian makin terasa ketika kulihat  di sudut-sudut ruas luar ruangan semua orang sudah tertidur. Hanya suara dengkuran orang-orang yang telah terlelap itu berlomba dengan suara-suara gemericik air selokan yang mengalir dari ruang-ruang perawatan. Hawa dingin pun semakin terasa membekukan tulang-tulang sumsum. Kucoba mengusir sepi dan hawa dingin yang semakin kuat itu dengan berjalan dari lorong ke lorong rumah sakit.

    Sebagai awal dari sebuah keganjilan, sebenarnya saat aku masih ngobrol bersama para penunggu pasien lain  tersebut sudah terdapat sebuah tanda-tanda. Di saat kami asik ngobrol, tetiba sebuah pintu yang ada di belakang kami itu seperti ada yang menggedor. Lebih tepatnya seperti suara pintu yang tertutup dengan keras. Tetapi setelah kami periksa, pintu itu terkunci dengan rapat. Dan di dalam ruangan yang pintunya mengeluarkan suara itu adalah ruangan kosong. Tidak ada pasien, tidak ada aktivitas di dalamnya. Embus angin pun tak kami rasakan. Dari mana atau apa penyebab suara pintu itu, kami hanya saling bertanya dan mengira-ngira saja bahwa pintu itu ditabrak oleh kucing atau pun tikus. Tetapi kami lihat seisi ruangan tidak ada seekor binatang pun yang terlihat. Ruangan itu terlihat terang dan seluruh isi ruangan dapat dilihat dari luar karena daun pintunya terbuat dari kaca yang bening.
    Udara dingin semakin terasa membekukan tulang sumsum dan persendian padahal embus angin hanya terasa datar saja. Di sebuah lorong rumah sakit kulihat seorang wanita sedang duduk sendirian di kursi ruang tunggu pasien. Tidak ada siapa pun di sana selain wanita itu. Rambutnya yang panjang terurai terlihat dari belakang. Aku memutar ruangan untuk mencoba melihat wanita itu dari depan. Setelah aku sampai di tempat yang posisinya berada di depan wanita itu, tetapi agak jauh, tak kulihat wajah wanita itu dengan jelas karena ia sedang menunduk.
    Dengan perasaan sedikit was-was, kucoba beranikan diri untuk mendekati seorang wanita yang kulihat sedang duduk sendirian di ruang tunggu sebuah rumah sakit umum itu. Perlahan kulangkahkan kaki di antara rasa penasaran dan keraguan. Jarak antara aku dan wanita itu semakin dekat. Namun kejelasan tentang raut wajah wanita itu tak jua nampak jelas. Jantungku semakin berdegup kencang. Kutarik nafas dalam-dalam dan kuembuskan perlahan untuk menenangkan diri. Aku duduk di bangku ruang tunggu, se-ruang dengan wanita itu tetapi agak jauh. Aku menjaga jarak.
    Kuperhatikan dengan seksama wanita yang sedang  duduk merunduk itu. Kuperhatikan terus menerus wanita itu dari ujung kaki hingga kepala. Tak ada yang janggal. Kaki wanita itu pun menyentuh lantai.
    Sayup kudengar nyanyian yang terdengar merdu tetapi sangat menyayat. Bersamaan dengan itu, wanita tersebut mengangkat kepalanya dan terlihatlah raut wajahnya dengan jelas. Jantung semakin cepat berdegup. Sangat kencang. Aku tercengang dan serasa tak dapat menggerakkan organ-organ tubuhku. Hanya tatap mataku yang tak lepas dari pandangan ke arahnya. Seketika detak jantungku terasa berhenti berdetak di saat ia melempar senyum kepadaku. Wajahnya begitu cantik dengan kulitnya yang putih bersih. Senyum yang merontokkan dinding-dinding keyakinan itu terulas jelas namun hanya sejenak.
    Tahu aku selalu memperhatikannya, wanita itu berdiri dan berjalan dengan menundukkan kepala. Tetapi masih terlihat nyata bahwa ia tersenyum tersipu-sipu. Dan nyanyian merdu yang sebelumnya terdengar itu seketika berhenti dan terdengar suara lembut, "Halo, Mas, Ibu opname di rumah sakit," kata wanita itu melalui ponselnya. Aku tidak tahu dengan siapa ia berbicara, mungkin saja dengan saudaranya yang jauh. Dan aku pun tak tahu apa saja yang dibicarakan wanita itu dengan lawan bicaranya di ponsel itu karena ia berbicara sangat pelan dan agak jauh dariku.
    Aku masih duduk di ruang tunggu pasien sambil sesekali mengutak-atik ponselku untuk mengusir sepi. Tanpa aku sadari, setelah selesai berbicara, wanita itu kembali duduk di bangku ruang tunggu. Kali ini posisi duduknya agak dekat denganku. Wanita itu tiba-tiba bertanya, "Mas juga sedang menunggu keluarga yang sakit?" Katanya.
    Aku pun menjawab, "Iya, mbak, ibuku sudah seminggu opname di rumah sakit ini."
    "Ibunya sakit apa, mas?"
    "Gangguan fungsi ginjal, mbak,"
    "Aku juga sedang nungguin ibu, mas,"
    "Ibunya sakit apa, mbak?"
    "Serangan jantung."
    Lama kami ngobrol, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02:30 malam. Menjelang dini hari. Suasana yang semula dingin pun tak lagi terasa oleh obrolan hangat kami berdua. Dan melalui obrolan itu, ia menjelaskan jika ibunya baru kemarin siang masuk rumah sakit itu.
    Di tengah-tengah obrolan kami, dari ruang sebelah lamat-lamat terdengar suara langkah kaki orang berjalan. Dan langkah kaki itu terdengar semakin jelas dan dekat. Namun kuarahkan pandangan ke lorong kanan dan kiri tak ada seorang pun yang berjalan ke arah kami. Kami saling pandang. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara yang membuat kami kaget. "Belum tidur, Pak?" Ternyata suara seorang satpam rumah sakit yang sedang patroli itu menyapaku. Aku pun menjawab, "belum, pak." Dan aku pun tak lagi merasakan aura mistisnya rumah sakit.
    Waktu berjalan begitu cepat. Mungkin karena aku ada teman baru di sana, tak terasa aku sudah dua Minggu tinggal di rumah sakit umum dan syukur Alhamdulillah keadaan ibu pun berangsur membaik.
    Dua Minggu tinggal di rumah sakit, seminggu terakhir kemudian aku bertemu dengan seorang teman untuk berbagi cerita dan pengalaman. Dan akhirnya kami pun harus berpisah karena dokter sudah memperbolehkan ibu untuk pulang. Sementara wanita yang kutemui di malam itu masih tertinggal di rumah sakit karena ia masih menunggui ibunya yang masih dirawat di rumah sakit.
    Bulan purnama di atas rumah sakit umum daerah. Pengobat resah di kala hati sedang gelisah. Penghibur diri di tengah dinginnya malam yang sunyi sepi. Purnama perlahan pergi, meninggalkan malam yang penuh memori. Akankah dapat kujumpai ia di kemudian hari? Kuharap dapat kujumpai kembali ia di antara kelopak kembang yang bermekaran di sudut-sudut taman.
Read More

Senin, Agustus 20, 2018

Secangkir Kopi dan Senyum Seorang Putri

Nikmatnya Secangkir Kopi dan Senyum Seorang Putri


Minggu, 19 Agustus 2018.
    Kemarau panjang yang melanda tempat tinggal kami (Jatirogo), atau bahkan yang melanda beberapa daerah di Indonesia atau bahkan pula melanda seluruh wilayah di Indonesia, yang hingga saat ini belum menampakkan tanda-tanda akan datangnya musim hujan. Langit masih memperlihatkan keangkuhannya dengan tatapan tajam sinar matahari yang membakar gerombol-gerombol rerumput yang terlihat sudah tak berdaya. Rumput-rumput itu layu dan mengering di tanah-tanah pategalan (ladang) yang gersang. Debu-debu mengepul beterbangan ke sana kemari menerpa dedaun pisang yang masih mencoba bertahan dari sengatan sinar sang mentari.

    Aku,... Di antara keangkuhan wajah langit dan tatapan tajam menyengat sinar mentari, aku menerobos debu-debu yang meliuk-liuk oleh terpaan angin kemarau. Seakan mereka menghalangi langkahku untuk sekilas memandang pesona keindahan dan kecantikan para putri raja beserta para dayang yang menari beriringan mengiring ndoro putrinya.
    Dengan sebuah kuda besi yang telah renta tak bertenaga, kupacu semangat agar aku dapat melihat putri-putri raja dan para dayangnya itu. Terpaan angin kemarau yang meliuk-liukkan debu-debu yang setiap saat siap menghambat perjalananku karena kelilipen, aku tak mempedulikannya. Kupacu terus kuda besiku agar aku tak terlambat untuk memandang pesona putri raja dan para dayang.

      Kurang lebih setengah jam perjalanan (maklum kudanya sudah tua tak bertenaga) menembus hutan berdebu dan tatapan ganas matahari, sampailah aku di tempat arak-arakan para putri raja, dayang, beserta para pengawalnya. Kuparkir kudaku yang telah renta itu di antara kuda-kuda muda belia yang masih imut. Ah, amit-amit kudaku elek dewe.
    Setelah menerobos ratusan manusia yang berjubel berdiri berdesak-desakan bak benteng pertahanan, aku segera masuk ke sebuah warung kopi. Setelah memesan kopi, aku keluar ke jalan untuk menghadang perjalanan salah satu putri raja yang cantik jelita. Namun meski kuhadang perjalanannya, putri raja itu tak menampakkan rasa marah. Ia malah tersenyum ramah ketika sebuah benda berbentuk kotak kecil kuarahkan ke hadapannya (tak photo).

Ah, sayang,... Rupanya putri raja itu baru saja menggali kuburan mummi ayahnya.

    Dan setelah menghadang sejenak perjalanan salah seorang putri tersebut, aku kembali masuk ke warung kopi dan kopi pesan yang kupesan pun sudah siap aku seruput sambil ndelok (nonton) karnaval umum dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang ke 73 tahun, Republik Indonesia.



SELAMAT MENIKMATI.
haha..
Read More

Sabtu, Juni 09, 2018

Paguyuban Garong'T Bagi-Bagi Takjil Di Taman Bungkul Surabaya

Bagi-Bagi Takjil Paguyuban Garong'T Di Kota Surabaya


    Sebagai makhluk sosial, yang artinya bahwa individu tidak bisa hidup sendiri tanpa individu lain, maka kita sebagai manusia sudah seharusnya saling bantu dan tolong menolong antar sesama. Seperti salah satu komunitas yang pada awalnya dibentuk untuk mempersatukan para perantau dari kabupaten Tuban, namun seiring perkembangannya paguyuban yang dinamai Garong'T ini sudah banyak juga anggotanya yang berdomisili di tanah kelahiran. Yang artinya untuk saat ini paguyuban Garong'T sudah menjadi milik bersama warga Tuban. Bukan cuma milik para perantau saja.

    Dan sebagai perwujudan dari visi dan misi paguyuban Garong'T (Gabungan Anak Ronggolawe Tuban), yang salah satunya adalah untuk membentuk karakter dan jiwa sosial serta mempererat tali persaudaraan antar sesama terutama bagi para anggota paguyuban yang sedang berada di tanah perantauan, yang sesuai dengan slogannya, 'Arek perantauan golek seduluran' (Anak Perantauan Mencari persaudaraan), maka untuk kesempatan pada bulan yang penuh berkah ini pun para anggota paguyuban Garong'T ingin berbagi dengan sesama, dengan tujuan untuk mengharap berkah atas bulan yang penuh rahmat ini. Dengan harapan, semoga kegiatan ini memberikan manfaat bagi para anggota paguyuban dan juga kepada para pengendara lalu lintas yang sedang berbuka puasa di jalan.

    Selain itu, tujuan dari bagi-bagi takjil ini adalah untuk mempererat tali silaturrahmi  antar sesama umat manusia. Karena pada bulan Ramadan, umat muslim selain dianjurkan untuk taqarrub yaitu untuk mendekatkan diri kepada Allah, juga harus mempererat hubungan kemanusiaannya. Maka dari itu, para anggota paguyuban Garong'T yang ada di kota Surabaya mengadakan bagi-bagi takjil kepada para pengguna jalan. Dan untuk bagi-bagi takjil di kota Surabaya ini  dilaksanakan di taman bungkul Surabaya.

    Meskipun sebenarnya banyak sekali agenda kegiatan  paguyuban Garong'T setiap menghadapi bulan suci ini di tanah kelahirannya (Tuban), tetapi karena para perantau yang ada di Surabaya ini sering mengadakan kumpul bareng (kopdar) di taman bungkul Surabaya, maka para anggota paguyuban pun berinisiatif untuk menyisihkan sedikit rizekinya dan turut juga melaksanakan kegiatan bagi-bagi takjil di tempat tersebut karena di taman Bungkul Surabaya ini selalu ramai dijadikan tempat berkumpul oleh warga sekitar untuk mengisi waktu luang.

    Alhamdulillah, pada Jumat, 1 Juni 2018 atau bertepatan pada hari ke tujuh belas bulan ramadhan 1439 H, kegiatan untuk berbagi kepada sesama pun dapat terlaksana dengan baik. Semoga kegiatan ini dapat membawa berkah dalam menjalin hubungan kemanusiaan dan mempererat tali persaudaraan para anggota paguyuban Garong'T di tanah perantauan.
    Dan untuk kegiatan-kegiatan paguyuban Garong'T yang lain dapat disimak di blog resminya Gabungan Anak Ronggolawe Tuban

Video kegiatan bagi-bagi takjil
👇

Klik thumbnail untuk melihat videonya



    Sekian coretan ngadimin pada kesempatan kali ini, semoga bermanfaat bagi yang mau memanfaatkannya. Hehe.
Read More

Minggu, Mei 27, 2018

Menunggu Waktu Berbuka Puasa

Menunggu waktu berbuka puasa


     Yeachhh.... tak terasa, kita menjalankan ibadah puasa pada tahun ini sudah hampir sampai di pertengahan bulan.
    Banyak hal yang kita rasakan ketika menjalankan ibadah puasa ini. Misalnya, perut terasa lapar dan kerongkongan kering karena haus. Hal itu lumrah terjadi karena memang dalam berpuasa itu kita tidak boleh makan dan minum. Hehe.... Dan kita harus menahan rasa itu sampai tiba waktunya halal bagimu untuk menikmati hidangan, yaitu ketika tiba waktu berbuka puasa.

Kegiatan Saat Menunggu Waktu Berbuka Puasa.

    Kita semua pasti sudah tahu, bahwa menunggu adalah sesuatu yang sangat membosankan sekali bukan? Terutama yang sedang menjalani LDR. Pasti rasa ingin bertemu untuk mengobati rasa dahaga pada rindu yang telah lama membeku sangat menggelora.
Lho, lho, lho,.... Kok malah ngomongin dahaga rindunya LDR sih, Min-ngadimin. Haha
    Oke, kita kembali ke pokok permasalahan. Haus dahaga dan rasa lapar ketika kita sedang menunggu waktu berbuka puasa akan tidak terasa jika kita menunggunya sambil melakukan kegiatan atau aktivitas yang bermanfaat. Kalau anak jaman sekarang mengisi kegiatan dalam menunggu waktu berbuka puasa itu menyebutnya 'Ngabuburit'.
    Nah, istilah ngabuburit sendiri sebenarnya ngadimin juga kurang tahu pasti artinya. Ngadimin cari di KBBI pun tak ada. Tapi menurut beberapa sumber, ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yaitu 'Burit' yang artinya sore hari. Kalau dalam kamus besar bahasa Indonesia, burit artinya belakang. Sedangkan buritan artinya belakang kapal.
    Lalu, apakah arti ngabuburit yang sebenarnya? Seperti yang sudah ngadimin jelaskan di atas, ngabuburit berasal dari kata 'Burit' yang dalam bahasa Sunda disebut sore. Jadi, Ngabuburit dapat diartikan sebagai menunggu waktu sore. Mungkin seperti itu.
    Ada banyak hal yang dapat kita lakukan dalam menunggu waktu sore atau waktu berbuka puasa. Misalnya, mengaji, i'tikaf (berdiam diri di masjid), membaca buku, dan lain sebagainya.
Namun anak-anak jaman sekarang lebih suka mengisi kegiatan ngabuburit atau menunggu waktu berbuka puasa dengan cara berjalan-jalan bersama pasangan di pantai atau di tempat-tempat keramaian lainnya. Suatu hal yang wajar, tetapi harus tetap terkontrol. Jangan sampai kesucian ibadah di bulan ramadhan ini terkotori oleh hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa atau bahkan membatalkan ibadah puasa itu sendiri.
    Dan bagi yang jomblo, biasanya ada yang mengisi ngabuburit dengan hape miring atau bermain game online. Oke, ndak apa-apa kok kita mengisi ngabuburit dengan hape miring. Ndak usah resah jika ada yang bilang 'Nom-noman kok ngabuburit dengan hape miring. Nom-noman,.....' hahaha
Lah, daripada ngabuburit berdua bersama pasangan yang belum halal, dan hanya akan menambah dosa, kan lebih baik ngabuburit dengan hape miring. Tul nggak, mblo? Tenang, mblo,... Tak bolo sampean,... Haha.... Tapi jangan ngabuburit dengan hape miring sambil nonton video ek ok lho ya... Hehehe..

    Yach, ngomongin soal ngabuburit, ngadimin jadi teringat masa kecil dulu ketika masih di kampung. Dulu waktu ngadimin masih usia anak-anak belum ada gadget dan game-game online seperti sekarang ini. Dulu ngadimin mengisi waktu menunggu berbuka puasa dengan cara main game ala anak desa. Misalnya bermain layang-layang, atau bermain-main di tumpukan jerami di sawah yang habis musim panen. Kalau ndak gitu, ngadimin bersama teman-teman bermain melempar batu di sungai yang saat itu aliran sungainya masih tampak bersih dan asri. Setelah matahari hampir terbenam, barulah pulang ke rumah dan berjalan dengan langkah yang dilambat-lambatkan supaya ketika sampai rumah pas waktu berbuka puasa. Pokoknya asyik banget gamenya anak kampung waktu itu. Ah, jadi kangen masa kecil di desa waktu itu nih.
    Hamparan sawah di kaki pegunungan yang ada di salah satu desa di kabupaten Tuban, salah satu desa kecil tempat tinggal ngadimin pada masa anak-anak. Tetapi sekarang sudah jarang sekali ngadimin melihat pemandangan itu. Hanya beberapa bulan sekali ngadimin berjalan-jalan melihat pemandangan lekuk indah galengan sawah ketika ngadimin pulang ke kampung halaman. Dan itu pun pemandangannya sudah tak seperti dulu lagi. Hamparan sawah dengan lekuk galengannya yang indah, sekarang sudah tak tampak lagi. Hamparan sawah sudah banyak yang berganti dengan bangunan-bangunan rumah penduduk.
    Dan untuk ibadah puasa pada tahun ini pun, ngadimin tak ada lagi waktu untuk ngabuburit dengan duduk-duduk santai di atas jerami bersama teman, maupun berjalan-jalan dan duduk santai di tepi  pantai bersama pasangan. Aktifitas ngabuburit sekarang ini ngadimin lakukan dengan cara mempersiapkan diri untuk membuka lapak jualan. Kadang belum selesai mempersiapkan segalanya, eh tahu-tahu sudah masuk waktu Maghrib atau waktu berbuka puasa. Tapi Alhamdulillah, tanpa ada rasa bosan karena menunggu akhirnya datang juga waktu yang halal untuk bersantap ria meskipun jauh dari keluarga. Ya memang seperti inilah nasib perantau ketika di bulan ramadhan. Makan sahur dan buka puasa tanpa ada keluarga di sekeliling. Namun semua itu tak akan menjadi beban jika kita tetap terus bersyukur. Bersyukur atas segala nikmat yang telah kita terima.

    Oke, cukup sekian dulu coretan ngadimin kali ini. Jika ada yang salah, ngadimin mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Read More

Jumat, April 13, 2018

Tak Tersentuh


Tak Tersentuh


Jauh di pelosok ujung kulon bumi wali
Jalan berkelok penuh lubang dan kerikil yang tajam.
Lebih dari tiga warsa
Anak-anak tak lagi merasakan nyaman saat berangkat dan pulang sekolah.

Jalan desa tak lagi mulus
Jembatan penghubung tergerus arus
Putus
Terbengkalai tak terurus.

Terenyuh melihatnya
Dalam hati pun aku bertanya
Apakah keadaan seperti ini akan berlanjut selamanya?
Tak adakah niat para penguasa untuk menyentuhnya?

Oh ... Nasib desaku yang tak tersentuh
Terisolir dan ter-anaktiri-kan
Kaki-kaki mungil pun melepuh
Ter-rajam kerikil-kerikil tajam jalanan.



Sekaran, 13/04/2018
Djacka Artub
Read More

Sabtu, Maret 24, 2018

Tali Kutang Perawan

Tragedi Tali Kutang

Oleh : Djacka Artub


    Ini bukanlah sebuah lagu dari kisah cinta manusia, bukan pula sebuah tembang asmara anak di bawah umur. Melainkan sebuah kisah yang menceritakan kehancuran sebuah rumah tangga karena adanya tali kutang yang nylempit di bawah bantal.

    Senja baru saja menyapa. Kumandang adzan maghrib terdengar dari toa mushola yang ada di tengah-tengah perkampungan. Namun seiring gema suara adzan itu, terdengar suara ribut dari sebuah pohon besar yang ada di pojok kampung. Pertengkaran pasangan dhemit tak terelakkan ketika si wewe gombel mendapati seutas tali kutang di bawah bantal sang suami, seekor genderuwo yang menjabat sebagai tetua bangsa halus di area kuburan angker tersebut.
    Tali kutang itu bukanlah milik wewe gombel yang secara sah telah terikat ikrar ijab-qabul di depan penghulu bersama si genderuwo tersebut. Melainkan seutas tali kutang itu milik kunti perawan yang biasa mangkal dan berkeliling mencari mangsa untuk makan malamnya.
    Memang, secara status, si kunti itu masih terbilang perawan. Tetapi  jika melihat dari segi bentuk montok tubuhnya yang sangat aduhai, banyak bangsa lelembut yang meragukan statusnya tersebut. Apalagi setiap malam ia sering bergentayangan dari tempat gelap yang satu ke twmpat gelap yang lainnya.

    Sudah bertahun-tahun lamanya, pasangan dhemit yang saat itu sedang perang diwaktu surup itu membina keluarga. Dua tuyul hasil hubungan di tempat gelap oleh wewe gombel dan genderuwo 'pun telah menginjak masa remaja. Namun seperti kata pepatah kuno dari bangsa manusia, 'Tua-tua keladi. Semakin tua, semakin tak tahu diri' itulah yang terjadi pada diri genderuwo yang tak tahu diri tersebut. Meski gelagatnya telah lama tercium oleh si wewe gombel, namun ia masih saja suka daun muda yang masih seger dari segi rupa maupun rasa. Kimcil, Ciblek, dan sejenisnya masih sering diburu oleh si genderuwo. Pantas saja wewe gombel yang telah memyumbangkan dua tuyul itu mengamuk di waktu petang ketika kecurigaannya selama ini terbukti dengan adanya tali kutang perawan di bawah bantal suaminya.
    "Kok ndak malu sama giginya!" Begitu umpat wewe gombel pada suaminya. Namun sang suami hanya tolah-toleh ketika diamuk oleh sang isteri. "Gigi tinggal satu, masih saja gatelan!" Lanjut wewe gombel. 
    "Maksudmu kuwi opo?" Balas si genderuwo dengan tenang.
    "Tali kutang siapa ini?" Wewe gombel semakin geram. Ia menunjukkan tali kutang yang ditemukannya.
    "Bukannya itu tali kutangmu?" Mencoba mengelak, si genderuwo melanjutkan bermain game Fruits bom di semartphone-nya.

    Wewe gombel semakin mengamuk. Semua barang yang terdapat di sekelingnya pecah-berantakan oleh ajian banting-kepruk dari tangannya yang kekar karena genderuwo yang telah membina rumah tangga bersamanya itu terus saja mengelak dan tak menghiraukannya ketika ditanya perihal tali kutang yang terdapat di bawah bantal tersebut. Dan karena semua kalimat yang keluar dari mulutnya yang bertaring tajam hingga gerahamnya menggeretak itu tak mendapat respon dari si genderuwo, wewe gombel menjerit dengan lengkingan suara yang mengerikan. "Pulangkan saja... Aku pada ibuku, atau ayahku... Uuu... Huuu..." Wewe gombel itu menirukan lagu nostalgia yang sangat populer di era 80-an. Namun masih saja si genderuwo melanjutkan permainan aplikasi gama android miliknya.
    Dengan tekad yang bulat, wewe gombel mengeluarkan ajian pamungkas miliknya. Nawaitu bismillah, noto ati noto pikiran noto klambi lebokne tas, ia mengajak kedua tuyul yang lahir dari rahimnya beberapa tahun silam itu untuk minggat. Biarlah sang suami yang tak tahu diri itu memuaskan nafsu syahwatnya hingga ajal menjelang.

    Kepergian wewe gombel rupanya tidak membawa efek jera pada genderuwo. Ia malah merasa sangat beruntung karena tak ada lagi suara-suara cempreng yang memarahinya ketika pulang terlalu larut malam. Terkadang justru ia membawa kunti jalanan itu ke rumahnya, sebuah pohon besar di pojok perkampungan. Di tepi kuburan tepatnya.
    Dua tahun lamanya, genderuwo hidup dengan kebebasan tanpa gangguan dari wewe gombel. Selama dua tahun itu ia hidup berfoya-foya dengan kunti,  sang pelakor tersebut. Sebenarnya kunti tersebut tidak lah pantas disebut sebagai pelakor. Karena pada dasarnya ia bukanlah menginginkan orangnya, melainkan hanyalah ingin mengeruk harta si genderuwo. Terbukti, setelah dua tahun hidup berfoya-foya dan harta benda genderuwo itu habis dan hanya tersisa kolor yang menempel di tubuh, kunti jalang itu menghilang. Ia mengincar mangsa baru.

    Di sebuah halte, dua tuyul terlihat sedang mengutak-atik sebuah phonsel baru. Rupanya dua tuyul itu baru saja membeli smartphone. Di bawah tangga jembatan penyeberangan, salah satu tuyul menatap tajam pemandangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Genderuwo yang ia kenal, yang telah mencampakkan dirinya beserta saudara dan ibunya, tampak sedang duduk dengan bertelanjang dada. Hanya sebuah kolor warna hitam yang tampak lusuh yang menempel menutup privasi hidupnya. Kemudian tuyul itu mengajak kakaknya untuk mendekat.
    Di hadapan genderuwo gelandangan itu, kedua tuyul memperhatikan dengan seksama sesuatu yang teronggok lusuh di hadapannya. Kemudian mereka serempak berujar, "RUMANGSAMU PENAK?" lalu mereka pergi meninggalkan nasib genderuwo yang malang. 
Read More
Untuk Melihat Semua Isi Blog
Silahkan Klik

LINK DAFTAR ISI BLOG