Jumat, Maret 03, 2017

Kau Dengar Suara Itu?


Kau Dengar Suara Itu?


Hujan semalam meninggalkan duka
Duka kerinduan yang tak berujung tatkala hati tlah tergores cinta.

Puan, hadirmu dulu menerangi hariku yang kelam
Kau hadir di saat aku membutuhkan sebilah papan, tatkala diri terombang-ambing oleh ombak ke-tidak-pastian.

Kau hadir di saat aku tak berdaya.
Kau ulurkan tangan tatkala aku hampir tenggelam
Sungging senyummu membuat aku menemukan semangat baru dalam hidup.

Aku seperti menemukan malaikat penolong.
Aku seperti menemukan sesosok bidadari yang dikirim oleh Tuhan untuk menjemputku ke dermaga cinta.

Tapi kini ... 
Gumpal awan hitam menutup cakrawala.
Aku kembali kehilangan mata angin di gurun yang luas.
Kau pergi tatkala kembang yang kau siram telah mekar.

Badai gurun menerjangku ganas. Aku tak berdaya.
Kuncup yang mulai mekar, layu dan kering. Gugur di tengah derai hujan.
Dan ... tiup angin menerbangkannya tak tentu arah.

Puan ...
Kau dengar suara itu?
Suara embus angin mengetuk jendela kamarmu
Ia ingin sampaikan kepadamu, tentang sehelai kelopak kering yang dibawanya.

Kau dengar suara itu?
Sehelai kelopak inginkan kau memungutnya.
Walau tak bisa menyentuh ragamu, tetapi ia inginkan kau menyimpannya dalam kenang.



Tbn, 030317
Djacka Artub


19 komentar

Dalan remang gelap itu
Tersirat rasa rindu
Dengan canda tawamu
Yang dulu itu

Yang membuat mekar kuncup bunga
Sekarang
Kau biarkan bunga itu mekar
Tanpa siraman air
Hingga akhirnya kering
Hampir berguguran

Mampukah bunga tetap bertahan pada kelopaknya?
Tanpa ada aroma kopi hitam buatanmu.. Wkwk

Wow..
Sepertinya sang penyair ingin segera diketemukan dan diakui oleh sang gadis pujaan hati.

Tapi apalah daya, masih ada jarak yang sulit dicapai..!

Kalau besok ketemu orangnya langsung tembak saja kang, jangan terlalu banyak mikir, kasihankan dompet sudah mulai menjerit he..he..

Entah lah ...
Secangkir kopi hitam yang kuracik, tak mampu mencerahkan netra yang dilanda badai. Ngantuk.

Segenggam garam pun tlah kuaduk di dalamnya.
Namun badai itu tetap datang menghadang.

Mampukah kembang netra itu mekar tanpa secangkir kopi hitam?
Entah lah...


Wkwkwkwkwkk

Nah, itu dia, mas...
Peluru dalam dompet hanya tinggal sebutir. Itu pun cuma cukup buat sarapan besok pagi.

Mampukah si kelana menembak gadis pujaannya dg selongsong dompet kosong?

Entah lah....
Hahaha

Agak sedih bacanya, kya nya ngenes banget, sudah terombang ambing, tenggelam pula, kang jack main dimana sih, besok2 mainnya dilapangan bola aja paling mentok kena bola hihii

Hahaha... Saya main petak umpet di dalam sungai, kang...
Asyik lho....

Kalau main petak umpet di lapangan bola sih, kurang asyik. Soalnya gak ada tempat ngumpetnya. Hahahaha

tiap kali kesini, kok saya teh jadi inget jaman SMA sampe kuliah, enak dan gampang banget rasanya merangkai kata yang indah kaya kisah Puan diatas itu tuh....keren mang, kumpulin dan kelak jadiin kumpulan puisi by arektuban yah

Nggak usah sedih, mas. Santai aja...
Nih, kopinya..haha

Ya, semoga aja kelak bisa menerbitkan kumpulan puisi by arektuban, mang.

Efek abis kehujanan...
Jadinya melow2 slow... Haha

Sepertinya penulis sedang ngenes, ya?
Apa karena kurang garam kopi hitamnya? :)

Jadi ingat ke masa silam, zama putih abu yang penuh warna merah jambu

Puan
Masih ingat
Di senja itu
Kau datang
Dengan sekuntum cinta
Wanginga telah membuat mabuk
Kini tinggalah cerita
Karena cinta tak tercipta untukku

hehe apalah ...

aduh, mas. ada si wulandari yang ngatain kamu ngenes tuh haha. aku nggak ngatain ngenes lho.

tapi puisi ini cocok dimaknai pas malam hari sambil dengan situasi gerimis.

*narik selimut dan ....

Puan ...
Kau dengar suara itu?

kayak nanyanya ke aku gitu ya pas bacanya
jadi bikin perasaan gimana gitu


EmoticonEmoticon