Jumat, Februari 23, 2018

Hujan Di Kepergianmu



Hujan di Kepergianmu


10 Januari 2018,...

    "Selamat jalan, semoga kita dapat bersua kembali." 'Ku ucap kata perpisahan di saat sebelum sepasang kaki itu melangkah ke dalam sebuah bus Damri yang akan membawanya pergi dari hadapanku. Rintik gerimis masih setia mengguyur tubuh kami sebelum sekat kaca dan body bus membatasi kami. Sebelum ia masuk ke dalam bus. Hitam legam mendung pun semakin tebal. 
    Perlahan, bus Damri meninggalkan terminal Bungurasih, Surabaya. Mendung tebal yang disertai gerimis, yang sejak tadi bergumul dengan hiruk-pikuk keramaian terminal terbesar di Jawa Timur itu, seketika menumpah-ruahkan deras hujan, mengantarkan kepergiannya. Di antara guyur hujan, kulihat lambaian tangan dari balik kaca bus. Di sebuah halte, aku masih tertegun, berdiri mematung menatap sebuah bus yang perlahan meninggalkan tempat pemberhentiannya.
    Di antara lalu-lalang para calo dan sopir taksi yang berlomba menggaet calon penumpang, kucari tempat duduk guna menunggu hujan sedikit reda untuk kutinggalkan terminal. Masih teringat kisah perjumpaan yang singkat, namun sangat berkesan itu. Perjumpaan yang sudah lama kurindukan, akhirnya hari itu aku dapat bertemu dan berjabat tangan dengannya. Terminal Purabaya Surabaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan terminal Bungurasih, menjadi saksi pertemuanku. Seseorang yang kukenal dari dunia maya, dan selama ini pun aku hanya dapat berkomunikasi lewat udara bersamanya, kali ini aku dapat bertemu secara nyata. Namun walau selama ini kami hanya menjalin hubungan lewat udara, tetapi hubungan kami sangatlah dekat.

    Hujan telah sedikit me-reda. Bus Damri telah berlalu dan berganti dengan bus yang lain. Aku bangkit dari dudukku dan berjalan di antara rintik hujan, menuju tempat antrean bus kota. Segera aku masuk ke dalam bus kota dengan lintasan tengah kota Surabaya. Tempat di mana aku tinggal di tanah perantauan. Mendung masih terlihat tebal menghitam. Di dalam bus kota, Aku sedikit tersenyum melihat pesan masuk di aplikasi whatsapp. Sebuah foto kuterima dalam pesan itu. Foto kenangan dan sebagai bukti bahwa kami pernah bertemu dan foto bersama. Dan yang lebih mengesankan lagi, kami foto bersama dengan memamerkan sebuah buku. Bukan buku nikah, tetapi buku kumpulan cerpen hasil karyaku. Buah karya yang aku hasilkan berkat dari dukungannya pula, dan juga dukungan dari teman-teman yang lain.

    Dalam foto lain yang ia kirim, aku tertawa setelah melihatnya. Ya ... Sama seperti saat perjumpaanku beberapa bulan yang lalu bersama salah seorang sahabat yang juga kukenal lewat dunia maya, dalam perjumpaan saat itu pun suasana keakraban begitu sangat terasa meski kami baru pertama kali bertemu bertatap muka. Mas Indra, salah seorang sahabat blogger asal Tangerang, yang saat itu sedang berkunjung ke kota Pasuruan, ia pun menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. 
    Sungguh perjumpaan yang mengingatkanku pada perjumpaan sebelumnya. Saat itu, kami dapat ngobrol bertiga. Dan saat perjumpaan kali ini pun kita dapat bercengkrama bertiga meski yang satu berada di tempat nun jauh di sana. Video call menjadi alternatif sebagai pengganti kerinduan untuk dapat bercengkrama bersama.

    Untuk kedua kalinya, terminal bungurasih menjadi saksi perjumpaan sekaligus perpisahan. Walau sebenarnya ingin hati untuk dapat bersua lebih lama, namun apa daya, kami harus tetap berpisah karena sebuah tanggung jawab. Lisa, sahabat yang kukenal sejak tahun 2013 yang lalu melalui dunia maya, harus melanjutkan perjalanan menuju kota Makassar, yang kemudian berlanjut untuk kembali ke tempatnya di negeri seberang. Negeri Taiwan, tempatnya berhijrah yang sudah dilakoninya beberapa tahun.

    Sahabat....
Akankah kita dapat bertemu kembali di lain waktu? Kuharap Tuhan dapat mempertemukan kita untuk waktu-waktu yang akan datang. Mempertemukan sahabat-sahabat yang sudah seperti saudara, yang saling membantu dan saling mendukung untuk sebuah kemajuan.



Surabaya, 10/01/2018
Djacka Artub. 
    
Advertisement **

14 komentar

Ciieee!! 😂😂😂

Padahal enakkan hujan2 kang...😱😱

Ngopi maksudku...😂😂

Perasaan buku nikah yang aku lihat bukan buku cerpen...😂😂😂

Mang djaka ngawur nieh...😂😂😂




Semoga semua itu dapat terulang kembali yaa!! Kang...meski kita tak pernah akan tahu kapan dan dimana..cuma waktu yang bisa menjawabnya...😄😄😄

Jadi terharu, semoga dilain waktu bisa bertemu dan bercanda ria lagi. Juga terimakasih traktirannya. 😀😁

Ngopi sambil ujan2an? Nanti kopinya kemasukan air hujan dong. .. Hahaha
Kalau buku nikah sih, dapatnya bukan di terminal, kang. 😂😂😂

Ya ... Meski kita tak pernah tahu kapan kita akan dapat bersua, semoga doa kita terkabulkan.
Aamiin...
Hehe

Aamiin ...
Tapi jangan culik saya ya . 😂😂😂

Weleh weleh... Kasmaran to iku. Wkkkk

Asyiik...
Tenang kang Djack, akan banyak kejutan didepan yang sudah menunggu..

Semoga bukunya laris manis kang, dan semoga jga berganti jadi buku nikah ... Asik ...

Hehe...

Wih, rupanya sedang merencanakan sesuatu nihnih. :-d

Aamiin ...
Buku nikahnya untuk yang lain, kang. :>)

Oh yg kopdar sama mba Lisa waktu itu ya, btw betul tuh kata kang satrio padahal asik ngopi sambil hujan2an tapi mbak Lisanya udh buru2 pergi ya hehe :D

Selalu ikut terbawa perasaan tiap baca tentang perpisahan.
Kadang aja kalo lihat di tv atau film lihat adegan seperti itu tau2 bawaannya pengin nangis.

Pernah sih, lagi nonton bareng temen2 ada adegan perpisahan, pengun nangis tapi kutahan2 ... malu kalo sampe ketauan aku berlinang air mata 😁

Iya, kang. Coba waktu itu Mbak Lisa ndak keburu pergi. Pasti akan basah kuyup. :-d

Hahaha... Masa' sampai segitunya, kang?
Tapi memang, jika kita telah dekat dgn seseorang, baik itu kedekatan seorang sahabat maupun keluarga, saat berpisah akan meninggalkan rasa kehilangan. Dan ketika itu pula, terkadang air mata pun terjatuh tanpa kita sadari. Hikz....


EmoticonEmoticon

Untuk Melihat Semua Isi Blog
Silahkan Klik

LINK DAFTAR ISI BLOG