Dia Secuil Rembulan

Secuil Rembulan


Dia; Secuil Rembulan

Rona cahaya senja kian pudar. Redup berlalu dan samar.
Burungburung camar 'pun menghilang. Mereka telah pulang ke sarang.
Sunyi kian menerpa. Desah  samudera sesekali terdengar, gaduh riak menghantam karang 

Aku, ... Masih tetap di sini. Berdiri terpaku menatap hitamnya gelap malam.
Kerlip bintang hanya terlihat indah di kejauhan
Tak mampu kusentuh  dalam dekapan.

Dia ... 
Secuil rembulan yang datang, hanya sekejap lalu menghilang.
Aku ingin menunggu, tapi rasanya mustahil malam ini ia akan kembali datang.

Akankah rembulan itu akan kutemui di malam berikutnya?
Entahlah.




Tbn, 02/04/2017
Djacka Artub 


24 Responses to "Dia Secuil Rembulan"

  1. Percayalah rembulan itu akan hadir di esok malam. Menemani gemerlap bintang-bintang. Meski kadang timbul tenggelam. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tapi ... Adakah dapat kudekap rembulan?
      Ah, sudah lah... Haha

      Hapus
    2. Rembulan tentu tak dapat di dekap namun hanya mampu untuk dilihat. Haha

      Hapus
    3. itu bulan yang ada diTaiwan emang begitu, kalau rembulan di sunda mah malahan bisa ngomong (lagu doel sumbang)

      Hapus
    4. Hahaha, mamang kok tahu?

      Hapus
  2. 'Jika rembulan itu tak kembali datang
    Elang....
    Ajarkan aku terbang
    Aku ingin pulang
    Menemukan sayang..."

    Jeee....akhirnya bs.....

    Pekerjaan penulis puisi, sajak atau penyair sebenarnya paling sulit...karena menghadirkan realitas di dimensi absurditas adalah magi yang tak selalu terpetakan di aras logika....maka puisi tidak melulu tentang tarikan makna tp bagimana ia mengada dalam ras....bukan begitu Mas Djacka?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee.... Om John pandai berpuisi juga ternyata. Hehehe

      Benar, Om. Menulis puisi itu memang gampang2 susah.
      Mungkin kita bisa membuat puisi dengan tulisan dan bahasa yang indah. Tetapi makna yg terkandung di dalamnya terkadang sulit untuk dicerna. Bahkan hambar rasanya. Wkwkkwkwk

      Hapus
  3. Ini puisi ya mas? Bagus kok.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entahlah, mas. Saya sendiri juga bingung mau ngasih label apa. Hahaha

      Hapus
  4. Memandang rembulan memang indah! Begitulah istilah yang sering diucapkan oleh para pujangga cinta 😅
    Tapi keindahan tersebut mudah hilang jika disamping kita ada penjual kopi yg menagih kasbon hutang selama satu bulan 😂
    Untuk itu, sebelum si penjual kopi itu datang menghampiri sebaiknya sampean kabur terlebih dahulu dengan Sang rembulan tersebut 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya itu ide yg cemerlang, mas. Sebelum bertemu penjual kopi utk menagih hutang,sepertinya harus berlari mengejar rembulan yg telah pergi. Hahaha

      Hapus
  5. Secuil rembulan mampu memberi terang
    Andai kau tak datang
    Bagaimana aku memandang
    Akan roman yang terkenang
    Tentang setia yang ku pinang
    oh secuil rembulan jangan engkau menghilang
    Setiaku menunggu hingga engkau datang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cieee..... Aku jadi baper... Wkwkwkwkkw

      Hapus
    2. Eh baru tahu ternyata admin lembar jejak aksara baperan atau salah baca ya? "berperan" hehe

      Hapus
  6. Rembulan bersinar lagi.. (lagu dangdut) hehe..
    Keren kang, tapi apa iya itu puisi.. soalnya kok saya rada2 ngerti? Karena biasanya saya paling gk mudeng kalau baca puisi.. Atau memang puisi buatan kang Jek yang emang beda ya, high level gitu.. tapi entahlah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencoba bikin puisi dg genre pop, kang... Hahaha
      Kalau yg biasanya sulit dimengerti itu puisi bergenre sastra. Dan hanya orang2 yg memahami bahasa sastra saja yg mudeng dg puisi genre sastra. Wkwkwkwkk

      Hapus
  7. Rembulan Temaram

    Rembulan temaram di langit malam
    Kubias rindu antara ragu nan muram
    Angin beranjak menyentuh hati
    Senyum tertahan membungkus sunyi

    Di pelataran petang
    Aksara kurapal menunggu kau datang
    Memunggungi rembulan tanpa kata
    Sepi menimang rasa

    Rembulan separuh di langit malam
    Bertabur keindahan kerlip bintang
    Peluk lah rindu penawar sunyi
    Agar sepi tak selalu menampar hati


    Bulan separuh
    Wajah nona terlihat lusuh..

    BalasHapus
  8. seperti merindukan seseorang yang belum jelas ia juga merindukan he

    BalasHapus
  9. Bagai pungguk merindukan bulan, bungguk.. Bungguk.. Begitu bunyinya, saya takut krn kata orang itu burung hantu hehee

    BalasHapus
  10. Dia secuil terang bulan, eh salah.!! coba aku baca lagi dah.. "Dia secuil rembulan" lah ini yang benar., xixixi.

    BalasHapus
  11. kayaknya puisi ini dibuat pas lagi sendirian di rumah ya mas.

    waduh, tetap semangat aja deh, lanjutkan....

    BalasHapus
  12. Saya lebih suka menuliskan nama Bulan dengan huruf daripada menuliskannya dengan angka :D

    BalasHapus
  13. yaa!! tergantung kang jack kalau indahnya sinar rembulan...terkadang masih kalah sama keindahan sinar rondo sebelah..haahaaa!! PA

    intinya gimana susana aja .....

    BalasHapus